Kepanikan mengambil alih sistem sarafku layaknya ledakan bom. Rasionalitas menguap. Dinding penyangkalan yang susah payah kubangun sejak dari lobi gedung kini runtuh tak bersisa, hancur menjadi serpihan debu.

Aku terperangkap. Di atas sebuah kendaraan bermesin mati yang melaju tanpa suara, menembus dimensi kegelapan yang bahkan tidak dikenali oleh satelit bumi.

"Pak, berhenti!" teriakku, suaraku melengking, memecahkan batas toleransi akustik di dalam helm half-face yang kukenakan. "BERHENTI SEKARANG JUGA!"

Aku tidak peduli lagi apakah dia perampok, penculik, atau orang gila. Insting bertahan hidupku menjeritkan satu perintah absolut: turun dari motor ini apa pun yang terjadi.

Namun, sosok berjas hujan hijau lumut di depanku tidak memberikan reaksi sedikit pun. Ia tidak menekan tuas rem. Ia tidak menoleh. Bahunya tidak berjengit kaget mendengar teriakanku. Kecepatan motor ini tetap konstan, meluncur di atas aspal yang tidak rata tanpa menghasilkan suara gesekan ban.

Tanganku yang bebas dari memegang ponsel langsung melesat ke depan. Aku memukul bahu kirinya dengan kepalan tangan.

Bukk!

Sensasi yang menjalar dari buku-buku jariku saat menghantam bahunya membuat napasku kembali tercekat. Itu bukan sensasi memukul daging dan otot manusia yang terbalut jas hujan. Bahu itu terasa luar biasa keras, dingin, dan padat. Rasanya seperti meninju sebongkah batu es yang dipahat menyerupai tubuh manusia. Tidak ada kelenturan. Tidak ada reaksi refleks dari tubuh yang kupukul. Sosok itu hanya... membatu.

"Pak! Budek ya?! Saya bilang berhenti! Ini bukan jalan pulang! Berhenti di sini!" Aku berteriak lebih keras, memukul bahunya berkali-kali. Bukk! Bukk! Tanganku mulai terasa nyeri, namun kepanikan membutakan rasa sakit itu.

Aku mencondongkan tubuhku ke kiri, berniat meraih stang kemudi dan membelokkannya paksa agar motor ini terjatuh. Tapi saat tanganku terulur ke depan, hawa dingin yang memancar dari tubuhnya tiba-tiba meningkat berkali-kali lipat. Rasa dingin itu menyerang lenganku seperti ribuan jarum kasat mata yang menusuk masuk ke pori-pori, membuat otot-otot di lenganku lumpuh seketika. Tanganku terjatuh lemas ke sisi paha.

Aku menatap aspal jalanan di bawahku yang tersorot remang oleh lampu depan motor. Kecepatannya terlalu tinggi. Jika aku nekat melompat sekarang, dengan posisi aspal kasar dan gelap gulita, minimal kepalaku akan pecah terbentur jalan, atau leherku patah berguling di atas tanah. Tapi bertahan di sini berarti menyerahkan nyawaku pada sesuatu yang sama sekali tidak bisa kupahami.

Aku menggeser pantatku ke ujung belakang jok, menjauhkan diriku sejauh mungkin dari sosok batu es di depanku, mencari pijakan pada footstep motor, bersiap untuk mengorbankan tubuhku sendiri ke aspal.

Namun, sebelum aku sempat meloncat, anomali lainnya terjadi.

Motor tua ini tiba-tiba melambat. Sangat drastis, namun tanpa ada sentakan kejut. Tidak ada suara rem yang berdecit. Tidak ada gerakan kaki pengemudi yang turun untuk menahan laju. Kendaraan ini hanya... kehilangan momentumnya secara perlahan, seolah-olah ia beroperasi di luar hukum inersia.

Kecepatannya turun dari enam puluh, menjadi empat puluh, dua puluh, dan akhirnya... motor ini berhenti total.

Berhenti tepat di tengah-tengah jalan aspal yang membelah kegelapan pekat.

Posisinya tidak menepi. Berdiri tegak sempurna di tengah garis marka jalan yang sudah memudar.

Pengemudi berjas hujan itu tetap diam. Tangannya masih mencengkeram stang, kepalanya menatap lurus ke depan, ke arah sorot lampu motor yang menembus kabut tebal.

Aku diam membeku. Tanganku yang tadinya bersiap menopang tubuh untuk melompat kini mencengkeram keras besi belakang jok.

Tiba-tiba, aku menyadari ada perubahan lain.

Hujan telah berhenti. Bukan mereda secara bertahap, melainkan benar-benar berhenti secara instan. Tidak ada lagi suara rintik air yang menghantam helmku. Tidak ada angin yang bertiup. Keheningan di tempat ini jauh lebih pekat dan menindas daripada keheningan saat berada di lobi kantorku. Ini adalah keheningan mutlak. Keheningan ruang hampa.

Suasana di sekeliling kami benar-benar gelap gulita. Tidak ada langit malam. Tidak ada bintang atau bulan yang mampu menembus awan tebal di atas sana. Satu-satunya sumber cahaya di seluruh alam semesta ini sepertinya hanya berasal dari lampu kuning redup di bagian depan motor ini, yang menyoroti kabut putih tipis yang mulai merayap naik dari permukaan aspal.

Bau udara juga berubah lagi. Aroma lumpur dan selokan yang tadi tercium kini telah digantikan oleh bau yang jauh lebih spesifik, bau yang secara naluriah mengirimkan sinyal teror ke bagian otak paling primitif.

Bau kapur barus yang menyengat, bercampur dengan aroma melati yang layu, dan bau karat darah yang mengering. Bau kematian.

Paru-paruku terasa kecil, aku harus mengambil napas pendek-pendek melalui mulut. Turun. Turun sekarang, Maya, otakku memerintah dengan putus asa.

Aku menurunkan kaki kiriku dari footstep, berniat mencari pijakan di aspal.

Namun, kakiku menolak bergerak. Bukan karena lumpuh oleh hawa dingin seperti lenganku tadi, melainkan karena mataku menangkap sesuatu di batas pandanganku.

Di luar jangkauan cahaya lampu motor. Di pinggiran aspal yang berbatasan langsung dengan kegelapan absolut.

Ada yang berdiri di sana.

Awalnya, kupikir itu hanyalah ilusi dari kabut yang menggumpal. Tapi seiring dengan mataku yang perlahan menyesuaikan diri dengan sisa-sisa cahaya, siluet itu mulai terbentuk dengan jelas.

Itu bukan pohon. Bukan tiang listrik.

Itu adalah bayangan manusia. Tinggi, kurus, berdiri dengan postur yang salah. Lengannya menjuntai terlalu panjang hingga menyentuh lutut, bahunya miring sebelah dengan sudut patahan yang mengerikan. Bayangan hitam pekat itu berdiri diam, tanpa wajah, tanpa detail pakaian, menghadap langsung ke arah kami.

Aku menahan napas, menutupi mulutku dengan tangan yang gemetar hebat agar tidak mengeluarkan suara jeritan.

Lalu, mataku menangkap pergerakan lain.

Sekitar lima meter di belakang bayangan pertama, muncul bayangan kedua. Berdiri di sisi jalan yang sama. Posturnya berbeda, tubuhnya lebih pendek dan membulat, kepalanya tertunduk miring hingga nyaris menyentuh bahunya sendiri, seolah lehernya tidak lagi memiliki tulang.

Dan di seberang jalan, di sisi kiriku, bayangan ketiga muncul. Lalu yang keempat. Kelima.

Mereka berbaris di sepanjang pinggiran jalan gelap ini, berjarak tak beraturan satu sama lain, namun semuanya memiliki satu kesamaan: mereka berdiri diam di dalam batas kegelapan, menghadap ke tengah jalan, ke arah motor ini, ke arahku.

Mereka tidak bergerak. Mereka tidak bersuara. Mereka hanya... menonton. Seolah-olah mereka adalah penonton diam dalam sebuah prosesi ritual yang baru saja dimulai.

Air mata panas akhirnya tumpah dari pelupuk mataku, membasahi pipiku yang dingin. "Tuhan... tolong aku... Tuhan..." ratapku dalam bisikan yang hancur, memohon pada entitas apa pun yang bersedia mendengarkan.

Tubuhku bergetar begitu hebat hingga motor ini ikut berguncang pelan. Aku harus keluar dari sini. Jika aku harus merangkak menembus aspal kasar ini, akan kulakukan. Aku mengumpulkan seluruh sisa tekad dan tenaga yang kumiliki, memaksa otot pahaku bekerja, mengangkat pantatku dari jok motor untuk turun ke arah belakang.

Tapi tepat pada detik pantatku terangkat, suara gesekan ban dengan aspal kembali terdengar.

Srekk.

Tanpa ada gerakan dari pengemudinya, tanpa suara mesin, motor ini melesat maju dengan kecepatan yang seketika maksimal. Hentakan daya dorong yang luar biasa kasar itu menghantam tubuhku, membuatku kehilangan keseimbangan.

"AAA!" Aku menjerit keras, tubuhku terlempar ke belakang, nyaris terhempas ke jalan.

Secara refleks, tanganku memeluk pinggang pengemudi di depanku agar tidak jatuh. Detik ketika lenganku melingkari tubuh berbalut jas hujan basah itu, aku menyesalinya seumur hidup. Di balik jas hujan itu, aku tidak merasakan tulang rusuk atau kehangatan tubuh manusia. Aku merasakan kekakuan yang identik dengan daging yang telah membusuk dan membeku, sebuah bentuk padat yang sepenuhnya mati.

Motor melaju kencang, menembus barisan bayangan hitam yang berdiri di sisi jalan. Mereka melesat melewati sudut pandangku seperti bayangan pepohonan di luar jendela kereta api, tidak bereaksi sedikit pun terhadap kepergian kami.

Hawa dingin kembali menyerbu, kali ini membawa hawa kelembapan yang membuat gigiku bergemeretak keras. Aku tidak melepaskan pelukanku, bukan karena aku ingin, tapi karena tanganku sudah membeku dan mengunci di posisinya. Aku membenamkan wajahku ke punggung dingin pengemudi itu, memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan diriku ditelan oleh kegelapan dan keputusasaan.

Aku sadar sekarang. Dengan kejernihan yang menyakitkan.

Sistem tidak error. GPS tidak rusak. Notifikasi itu tidak salah.

Aku tidak sedang diantar pulang ke rumahku. Perjalanan aneh ini, motor tanpa suara ini, dan jalan gelap tanpa ujung ini... ini adalah rute satu arah. Dan pengemudi tanpa wajah yang duduk di depanku ini sedang mengantarkanku dengan tepat ke tujuan yang sudah ia persiapkan.

Ke tempat di mana ia berasal.