Aku tidak tahu berapa lama aku memejamkan mata dan menyembunyikan wajahku di balik punggung jas hujan sedingin es itu. Waktu kehilangan maknanya. Di dalam kegelapan yang kuteguk melalui kelopak mataku yang tertutup rapat, rentetan bayangan hitam tanpa wajah di pinggir jalan tadi terus berputar-putar seperti kaset rusak di dalam kepalaku. Setiap kali aku mencoba bernapas, udara pekat beraroma kapur barus dan karat darah merobek tenggorokanku, seolah-olah ruang hampa ini berusaha mensterilkan paru-paruku dari segala bentuk kehidupan.
Tubuhku bergetar begitu hebat hingga gigi-gigiku beradu, menciptakan suara gemeretak konstan di dalam helm. Aku bisa merasakan otot-otot di lenganku—yang masih melingkari pinggang beku pengemudi di depanku—mulai kram dan mati rasa. Udara dingin ini bukan lagi sekadar suhu; ia adalah entitas hidup yang menggerogoti kehangatan dari dalam sumsum tulangku.
Aku terus merapal doa tak bersuara, mengulang-ulang kalimat permohonan yang sama hingga kehilangan maknanya, berharap ini hanyalah mimpi buruk akibat kelelahan lembur. Berharap saat aku membuka mata, aku akan terbangun di meja kerjaku dengan layar monitor yang menyala.
Namun, alih-alih terbangun, perubahan itu datang melalui sensasi fisik yang sangat kasar.
Tiba-tiba, tekanan barometrik di sekitarku pecah. Perasaan berat yang sejak tadi menekan dada dan gendang telingaku lenyap seketika, digantikan oleh suara gemuruh air yang jatuh dari langit. Udara mati yang berbau kematian itu tersapu dalam sekejap, digantikan oleh hembusan angin malam yang menusuk, membawa aroma khas aspal basah, daun mangga yang rontok, dan bau tanah hujan.
Aku tersentak. Kelopak mataku terbuka dengan sendirinya, dipaksa oleh insting dasar yang menyadari adanya perubahan drastis di lingkungan sekitar.
Kegelapan absolut telah sirna. Kabut putih dan barisan bayangan hitam yang mengerikan itu menghilang tanpa jejak.
Sebagai gantinya, cahaya lampu jalan perumahan yang memancarkan pendar kuning keemasan menembus visor helmku yang berembun. Rintik hujan—meski tidak sederas badai di pusat kota tadi—kembali turun, membasahi sisa-sisa jas hujanku yang kaku.
Motor ini telah melambat drastis.
Aku mengangkat kepalaku perlahan dari punggung pengemudi itu, mengerjap-ngerjapkan mata yang terasa perih. Kulihat sekeliling dengan pandangan yang masih buram oleh air mata kepanikan.
Pagar besi bercat hitam setinggi dua meter. Pohon mangga besar yang rantingnya menjulur ke jalan. Tembok bercat krem yang mulai mengelupas di bagian bawahnya karena kelembapan. Kotak pos dari kaleng bekas yang dipaku di sebelah nomor rumah yang terbuat dari akrilik.
Nomor 42. Itu adalah pagar rumah kontrakanku.
Napasku tertahan. Paru-paruku seolah lupa bagaimana caranya memompa oksigen. Aku menatap pagar besi itu dengan rasa tidak percaya yang luar biasa dalam. Bagaimana mungkin? Kami baru saja melintasi jalan antah-berantah yang dipenuhi entitas gelap, sebuah jalan yang bahkan tidak terdeteksi oleh GPS. Aku tidak melihat adanya persimpangan. Aku tidak merasakan adanya belokan. Namun, dalam sekejap mata, motor ini seolah melompat melintasi dimensi dan memuntahkanku kembali ke dunia nyata, tepat di depan pagar rumahku.
Motor bebek tua itu berhenti sempurna di depan gerbang. Berdiri tegak di tengah guyuran rintik hujan, tanpa suara mesin, tanpa getaran sedikit pun. Sama persis seperti saat ia pertama kali muncul dari dalam lorong gelap di samping gedung kantorku.
"S-sudah... sampai...?" bisikku lirih, nyaris mengira suaraku hanyalah imajinasi.
Pengemudi berjas hujan hijau lumut di depanku tidak menjawab. Ia tidak menoleh ke belakang untuk memintaku turun. Ia tidak menagih ongkos perjalanan, mengingat aku memesan menggunakan metode pembayaran tunai karena saldo dompet digitalku sedang kosong. Ia hanya duduk mematung, kepalanya yang terbalut helm hitam usang menatap lurus ke depan, ke arah jalanan aspal kompleks yang sepi.
Aku tidak membuang waktu satu detik pun untuk menunggu reaksi manusiawi darinya. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku menarik lenganku yang kaku dari pinggangnya. Rasa sakit luar biasa menusuk persendianku saat aku memaksakan otot yang kram untuk bergerak. Aku melempar kaki kananku melewati jok, turun dengan gerakan kikuk yang nyaris membuatku tersungkur ke aspal basah. Lututku goyah, tidak mampu menopang berat badanku sendiri secara sempurna. Aku harus berpegangan pada pagar besiku agar tidak jatuh.
Aku merogoh leherku, mencari kait tali helm butut ini dengan jari-jari yang gemetar brutal. Klik. Tali itu terlepas. Aku menarik helm itu dari kepalaku, membiarkan udara malam dan gerimis langsung menerpa wajahku yang pucat pasi.
Aku mengulurkan helm itu ke depan, berniat mengembalikannya. "I-ini, Pak. Makasih... uangnya... sebentar, saya ambil dari dompet..."
Kata-kataku terputus.
Tepat saat aku menyodorkan helm itu, pengemudi tersebut tidak menoleh atau mengangkat tangannya untuk menerima. Sebagai gantinya, roda motor di depanku mulai berputar dengan sendirinya.
Srekk... srekk...
Tanpa ada gerakan mengegas, tanpa suara deru knalpot, motor itu melaju meninggalkanku. Ia meluncur dengan kecepatan lambat namun konstan, membelah genangan air di jalan kompleks perumahan. Jas hujan hijau kusamnya yang compang-camping di bagian ujung berkibar pelan, tampak semakin menyatu dengan kegelapan malam.
"Pak! Helmnya... ongkosnya..." panggilku, suaraku pecah oleh rasa takut yang kembali merayap.
Namun sosok itu terus melaju. Memasuki tikungan di ujung jalan kompleks, perlahan ditelan oleh bayangan pohon beringin besar di pertigaan, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya dari pandanganku.
Aku berdiri sendirian di bawah rintik hujan, memeluk helm butut yang basah dan bau apek ini. Keheningan kompleks perumahan di pukul satu dini hari ini terasa sangat berbeda dengan keheningan di jalan dimensi tadi. Di sini, aku masih bisa mendengar suara kodok bersahutan dari arah got, suara rintik hujan yang jatuh di atas daun pisang, dan dengungan pelan gardu listrik di tiang depan. Ini adalah suara kehidupan yang normal. Suara dunia nyata.
Namun, berada kembali di dunia nyata tidak membuatku merasa aman. Justru sebaliknya. Fakta bahwa entitas itu berhasil membawaku pulang dengan akurat, menembus batasan ruang yang logis, membuktikan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi. Benda itu tahu di mana aku tinggal.
Kepanikan kembali menendang perutku. Aku harus masuk. Sekarang juga.
Aku menjatuhkan helm butut itu begitu saja ke tanah berlumpur di samping pagar. Aku merogoh tas kerjaku dengan panik, mencari-cari kunci gembok pagar. Terdengar suara dentingan besi yang berisik saat tanganku yang bergetar berusaha memasukkan anak kunci ke dalam lubang gembok. Gagal. Kuulangi lagi, mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa mengontrol rasa takut. Pada percobaan ketiga, kunci itu masuk dan berputar.
Aku mendorong pagar besi itu, berlari melintasi teras kecil rumah kontrakanku, lalu membuka pintu kayu utama. Begitu masuk, aku langsung membanting pintu, menguncinya dari dalam, memasang slot rantai, dan memutar selot pengaman tambahan. Aku menyandarkan punggungku ke daun pintu yang dingin, merosot jatuh ke lantai keramik ruang tamu.
Aku duduk memeluk lututku, bernapas terengah-engah seperti orang yang baru saja lolos dari eksekusi mati.
Aroma ruang tamuku—kombinasi wangi pengharum ruangan rasa lavender yang sudah memudar, debu dari karpet, dan bau buku-buku lama—menyerbu indera penciumanku. Wangi yang sangat familiar ini menjadi semacam penawar untuk bau kapur barus dan kematian yang sejak tadi meracuni paru-paruku. Aku menangis. Bukan tangisan histeris, melainkan air mata kelegaan yang mengalir dalam diam, bercampur dengan air hujan yang menetes dari ujung rambutku.
Aku selamat. Aku berada di rumah. Pintunya terkunci. Tidak ada bayangan hitam. Tidak ada jalan tanpa ujung. Aku selamat.
Aku mengulangi mantra itu berkali-kali di dalam hati, membiarkan detak jantungku perlahan kembali ke ritme normalnya. Aku mulai menyadari bahwa pakaianku basah kuyup. Kardigan tipisku menempel ketat di kulit, menyalurkan rasa dingin yang membuatku kembali menggigil. Aku harus mandi air hangat. Aku harus menyeduh teh panas. Aku harus melakukan hal-hal manusiawi yang normal untuk membuktikan bahwa aku masih hidup.
Aku menopang tanganku ke lantai, berniat untuk berdiri.
Tepat pada detik itu, ponsel di dalam saku kardiganku bergetar panjang. Sebuah getaran kuat dan presisi yang memecah kesunyian ruang tamuku.
Bzzzt... bzzzt...
Gerakanku terhenti di udara. Jantungku yang baru saja akan tenang, kembali berpacu kencang. Di jam satu dini hari, siapa yang mengirimkan pesan? Teman kantorku? Atau...
Dengan gerakan ragu dan lambat, aku merogoh saku kardigan. Jari-jariku yang masih sedingin es menjepit pinggiran ponsel yang basah. Aku mengangkatnya sejajar dengan wajahku. Layar ponsel itu menyala terang dalam kegelapan ruang tamu, memancarkan cahaya kebiruan yang menyilaukan.
Bukan pesan dari grup WhatsApp kantor. Bukan notifikasi email.
Itu adalah pop-up notifikasi dari aplikasi ojek online.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Biasanya, setelah perjalanan selesai, notifikasi yang muncul berbunyi: "Bagaimana perjalanan Anda dengan [Nama Driver]? Berikan rating sekarang." atau "Terima kasih telah menggunakan layanan kami. Total biaya perjalanan adalah Rp. X.XXX."
Namun, teks yang tercetak di dalam kotak putih di layarku sama sekali tidak mengikuti format standar tersebut.
Teks itu ditulis dengan font tebal berwarna hitam pekat, menatap balik ke arahku dengan intensitas yang membuat darahku kembali membeku.
"Perjalanan selesai — Driver tidak ditemukan."
Aku mengerutkan kening. Rasa mual kembali mengaduk isi perutku. Apa maksudnya "Driver tidak ditemukan"? Bukankah perjalanan sudah selesai? Bukankah aplikasi mencatat bahwa pesanan ini diambil oleh seseorang bernama Suryo?
Aku segera membuka kunci layar. Ikon aplikasi warna hijau itu masih terbuka dari sesi terakhirku saat terjebak di jalan antah-berantah tadi. Aku menekannya dengan ibu jari yang gemetar.
Layar transisi loading muncul sejenak, lingkaran hijau berputar perlahan, sebelum akhirnya masuk ke halaman utama aplikasi. Halaman itu tampak normal. Peta digital Jakarta kembali muncul, lengkap dengan nama-nama jalan, ikon gedung, dan titik-titik biru yang mewakili lokasiku yang sekarang berada tepat di atas alamat rumah kontrakanku. Sinyal 4G-ku telah kembali penuh. Segalanya tampak seperti sistem baru saja pulih dari gangguan sementara.
Tapi aku butuh kepastian. Aku tidak mau pikiran rasional yang berusaha payah kubangun ini hancur begitu saja. Aku harus membuktikan pada sistem bahwa pesanan itu nyata. Bahwa ada rekam jejak digital dari orang bernama Suryo yang baru saja mengantarku. Jika ini hanya sekadar bug, setidaknya harus ada data yang tertinggal di server.
Aku menekan ikon garis tiga di pojok kiri atas, membuka menu, lalu memilih opsi "Riwayat Perjalanan".
Layar memuat data selama dua detik.
Daftar perjalanan terakhirku muncul. Paling atas adalah perjalananku dari rumah ke kantor kemarin pagi, menggunakan jasa ojek online biasa. Di bawahnya adalah riwayat pesanan makan siangku. Di bawahnya lagi adalah perjalanan dua hari yang lalu.
Aku mengusap layar ke bawah, me-refresh halaman tersebut secara manual. Lingkaran loading muncul di bagian atas, lalu menghilang.
Tidak ada perubahan.
Pesanan malam ini. Perjalanan dari lobi kantor menuju rumahku. Perjalanan yang memakan waktu lebih dari satu jam melintasi kegelapan absolut. Semuanya... tidak ada. Kosong.
Tidak ada catatan transaksi. Tidak ada nama Suryo. Tidak ada rute. Seolah-olah dari pukul 23.45 hingga pukul 01.10 dini hari ini, aplikasiku tidak pernah melakukan pemesanan apa-apa. Seolah-olah aku pulang ke rumah ini dengan cara berteleportasi.
"Nggak mungkin," bisikku panik. "Tadi ada namanya... Suryo. Plat nomornya... Honda Supra."
Aku menekan tombol 'Kembali', lalu mencari menu "Bantuan" atau "Laporan Perjalanan Terakhir". Terkadang, transaksi yang gagal atau bermasalah tersimpan di sana. Aku menemukan opsi "Pesanan Belum Terselesaikan". Aku menekannya dengan penuh harap.
Layar kembali memuat. Sebuah halaman profil terbuka.
Jantungku serasa melorot ke dasar perut.
Profil itu muncul di layar, namun kondisinya jauh lebih mengerikan daripada saat pertama kali aku melihatnya di lobi kantor.
Bagian atas halaman itu memuat siluet abu-abu bawaan sistem, tanda bahwa tidak ada foto profil. Namun, nama "Suryo" yang tadi kulihat dengan jelas, kini tertulis dengan deretan karakter aneh yang rusak, seperti glitch pada database: S#ry0_N*ll.
Kolom plat nomor kendaraan yang seharusnya berisi kombinasi huruf dan angka, kini hanya menampilkan tanda hubung: - - - -.
Deskripsi motor: Tidak Teridentifikasi.
Di bawahnya, sebuah pesan error sistem berwarna merah menyala berkedip-kedip perlahan, seolah mengejek kewarasanku.
Error 404: Entitas pengguna tidak terdaftar dalam database aktif. Sinkronisasi dibatalkan.
Tanganku semakin bergetar. Aku menatap layar itu dengan mata terbelalak, berusaha merekam pemandangan ini di dalam otakku. Aku tidak gila. Sistem ini benar-benar mencatat sebuah anomali. Aku harus mengambil screenshot. Aku harus punya bukti visual sebelum data ini hilang sepenuhnya.
Aku menekan tombol daya dan tombol volume bawah secara bersamaan.
Klik. Layar berkedip sebentar, menandakan screenshot berhasil diambil.
Tepat sedetik setelah layar itu berkedip, seluruh antarmuka profil glitch itu mencair. Bukan tertutup secara normal, melainkan pudar, piksel demi piksel, merosot turun ke bagian bawah layar ponselku, seolah-olah ditarik oleh gravitasi digital yang tak terlihat. Halaman itu hilang tanpa bekas, melempar antarmukaku kembali ke layar utama peta yang kosong.
Aku melempar ponsel itu ke atas sofa seolah benda itu baru saja berubah menjadi bongkahan batu bara yang menyala.
Napas terengah-engah keluar dari bibirku yang membiru. Aku menekan kedua telapak tanganku ke wajah, mengusapnya dengan kasar. Rasa dingin yang luar biasa kini bersarang menetap di dalam dadaku.
Riwayat perjalanan itu telah dihapus secara paksa dari sistem. Atau lebih buruk lagi, sistem itu sendiri menyadari bahwa ia telah memproses sesuatu yang seharusnya tidak ada dalam logika pemrograman dunia ini, dan ia menghapusnya untuk memperbaiki anomali tersebut.
Namun, pengalamanku, hawa dingin itu, bayangan hitam di jalan raya itu... semua itu nyata. Dan bau kapur barus yang menyengat itu... entah bagaimana... masih menempel kuat pada pakaian yang kukenakan sekarang.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar