Dapur darurat kelompok Naga Hitam bukanlah tempat yang ideal untuk seseorang yang terbiasa memesan makanan lewat aplikasi ojek online dengan rating bintang lima. Ruangan itu berbau apek, dinding kayunya menghitam karena jelaga, dan yang paling mengerikan: ada seekor biawak kecil yang melintas santai di bawah meja potong.

"Bram, aku bersumpah, kalau kita selamat dari sini, aku tidak akan pernah komplain lagi kalau pesanan salatku telat sepuluh menit," bisik Lia sambil memegang pisau dapur yang tumpul dengan ujung jarinya, seolah-olah benda itu mengandung virus mematikan.

Bram tidak menjawab. Ia sedang sibuk menatap sebuah kuali raksasa berisi air mendidih. Di sampingnya ada karung berisi umbi-umbian yang bentuknya mirip talas, tapi warnanya ungu kecokelatan. Sebagai pria yang hobi membaca manual book, Bram mencoba mengingat-ingat bab "Tumbuhan Hutan yang Bisa Dimakan" dari buku yang pernah ia baca sekilas di toko buku setahun lalu.

"Oke, Lia. Rencana kita adalah: Buat mereka kenyang, buat mereka mengantuk, lalu kita curi jip mereka," kata Bram sambil melemparkan potongan umbi ke dalam kuali. "Aku butuh bumbu. Cari apa saja yang baunya tajam."

Lia menggeledah rak kayu yang rapuh. Ia menemukan botol kaca tanpa label berisi cairan kental berwarna hitam, sebungkus bubuk kuning yang baunya mirip kunyit tapi lebih menyengat, dan sekantong kecil cabai kering yang warnanya sudah hampir hitam.

"Ini ada cairan hitam, kecap atau oli mesin?" tanya Lia sambil menyodorkan botol itu.

Bram mencicipinya sedikit dengan ujung jari. Wajahnya langsung mengkerut. "Asin. Sangat asin. Sepertinya ini kecap ikan yang sudah fermentasi terlalu lama. Masukkan saja! Semuanya!"

Lia menuangkan botol itu ke dalam kuali. Aroma menyengat langsung memenuhi ruangan. "Bram, ini baunya seperti kaus kaki yang direndam di air laut selama sebulan. Apa mereka mau makan ini?"

"Orang lapar tidak akan protes, Lia. Apalagi kalau kita bilang ini 'Resep Rahasia Unit Selatan'. Tambahkan cabai kering itu. Semuanya. Kita buat lidah mereka mati rasa supaya mereka tidak sadar kalau umbi ini sebenarnya belum matang sempurna."

Selama tiga puluh menit berikutnya, dapur itu berubah menjadi medan tempur kuliner. Bram mengaduk kuali dengan kekuatan penuh, sementara Lia bertugas mencuci piring-piring seng yang kotornya minta ampun menggunakan sisa face mist miliknya yang terakhirβ€”karena menurutnya air di ember pojok ruangan terlalu mencurigakan.

Tiba-tiba, pintu tenda dapur tersibak. Seorang pria tinggi besar dengan baret merah dan kacamata hitam masuk. Di pundaknya tertempel lencana "Kapten".

"Mana makanannya? Jenderal sudah marah-marah!" bentak si Kapten. Matanya menyipit menatap Lia yang masih memakai kacamata hitam di dalam ruangan. "Kenapa asistenmu pakai kacamata hitam saat masak?"

Lia tersentak, lalu dengan cepat berpose ala koki profesional. "Ini... kacamata pelindung uap bawang, Kapten! Uap dari masakan koki Bram sangat korosif karena kandungan rempah langkanya. Jika mata saya terkena, saya bisa buta sementara dan tidak bisa menyajikan makanan dengan estetis!"

Si Kapten tampak bingung, tapi aroma tajam dari kuali Bram sepertinya meyakinkannya. "Baunya... kuat sekali. Apa ini?"

"Sup Ignition Sektor Selatan," jawab Bram mantap, meski tangannya gemetar di balik spatula. "Dirancang untuk meningkatkan adrenalin dan fokus sebelum pertempuran. Silakan bawa ke meja Jenderal."

Dua anak buah Kapten segera mengangkat kuali itu. Bram dan Lia dipaksa ikut untuk menyajikannya di meja utama yang berada di tengah kamp. Di sana, duduk seorang pria tua dengan seragam militer yang rapiβ€”Jenderal Naga Hitam. Di sekelilingnya, para pengawal berdiri dengan senjata siap tembak.

"Sajikan," perintah sang Jenderal dingin.

Bram menyendokkan kuah berwarna cokelat gelap itu ke piring Jenderal. Lia menyajikannya dengan gerakan tangan yang biasa ia gunakan saat me-review restoran mewah di Instagramβ€”sedikit centil tapi tetap elegan.

Jenderal itu mencicipi satu sendok kecil.

Hening.

Semua orang di ruangan itu menahan napas. Bram sudah membayangkan peluru menembus dahinya. Lia memejamkan mata, berdoa semoga setidaknya foto jenazahnya nanti tidak terlihat terlalu buruk.

Tiba-tiba, Jenderal itu memukul meja. "DAHSYAT!" teriaknya. Matanya melotot, wajahnya memerah karena pedasnya cabai kering yang dimasukkan Lia semua tadi. "Ini... ini adalah rasa penderitaan yang membakar semangat! Siapa koki ini?"

"Bram, Jenderal. Pindahan dari unit logistik darurat," jawab Bram, hampir tidak percaya dia masih hidup.

"Bagus! Semua prajurit, makan sekarang! Kita butuh api ini di perut kita sebelum menghancurkan kelompok Baron sore ini!"

Suasana kamp mendadak riuh. Para prajurit berebut mengambil sup keramat buatan Bram. Di tengah kekacauan orang-orang yang mulai berkeringat dan kepedasan itu, Bram menyenggol lengan Lia.

"Sekarang," bisik Bram. "Cari jip yang kuncinya masih menggantung."

Mereka menyelinap keluar dari tenda utama saat semua orang sibuk mencari air minum untuk meredakan rasa pedas di lidah mereka. Di parkiran belakang, terdapat tiga buah jip jangkung. Beruntung bagi mereka, prajurit yang bertugas menjaga kendaraan juga sedang asyik menyeruput sup di dekat posnya.

"Yang itu! Kuncinya ada di dasbor!" tunjuk Lia pada jip paling ujung.

Mereka berlari secepat mungkin, melompat masuk, dan Bram segera memutar kunci kontak. Mesin jip menderu keras.

"Woy! Mau ke mana kalian?!" teriak penjaga yang baru sadar kendaraannya dibajak.

Bram menginjak gas sedalam mungkin. Jip itu melompat maju, menabrak pagar bambu kamp, dan melesat masuk kembali ke jalan setapak hutan. Di belakang mereka, suara tembakan peringatan mulai terdengar.

"Bram! Mereka menembak!" teriak Lia sambil menunduk di bawah dasbor.

"Pegang yang kuat, Lia! Analisis risikoku mengatakan kalau kita berhenti sekarang, risikonya adalah menjadi sup sungguhan buat mereka!"

Jip itu berguncang hebat menembus semak-semak, membawa dua "agen gadungan" itu menjauh dari kamp Naga Hitam, menuju bagian hutan yang lebih dalam dan lebih gelap.