Suara baling-baling helikopter memekakkan telinga, menciptakan badai debu yang mengaburkan pandangan. Bram merasa jantungnya tertinggal di dermaga saat heli itu lepas landas menuju hamparan hijau yang tak berujung di bawah sana. Kalimantan dari ketinggian tampak seperti karpet raksasa yang menelan segala bentuk peradaban.
"Cantik sekali kalau dilihat dari atas," teriak Lia di telinga Bram, mencoba mengalahkan deru mesin. "Bagus buat konten drone view!"
"Jangan pikirkan konten! Pikirkan bagaimana kalau kita harus terjun payung!" balas Bram dengan wajah pucat pasi.
Lia melihat ke bawah dan segera menarik kata-katanya. Hutan di bawah mereka tampak sangat rapat, gelap, dan mengancam. Tidak ada kafe, tidak ada sinyal 4G, hanya ada kehidupan liar yang menunggu untuk mengunyah mereka.
Tiga puluh menit kemudian, helikopter mendarat di sebuah clearing sempit di tengah hutan. Di sana, sudah berdiri beberapa tenda militer dan sebuah meja besar yang dipenuhi peta. Seorang pria paruh baya dengan pakaian safari lengkap dan topi lebar menyambut mereka. Dialah Baron, pemimpin ekspedisi ini.
"Selamat datang," kata Baron dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Saya sudah menunggu tim teknis dari Jakarta. Saya dengar kalian membawa enkripsi terbaru untuk melacak sinyal artefak itu."
Baron menatap Bram, lalu beralih ke Lia yang sedang berusaha menjaga keseimbangan karena sepatu hak tingginya (yang ia bawa di tas jinjing) terus ambles ke dalam tanah berlumpur.
"Anda terlihat... sangat bergaya untuk seorang agen lapangan, Nona?" tanya Baron curiga.
Lia berdehem, memperbaiki letak tas branded-nya. "Ini adalah teknik kamuflase urban. Di dunia intelijen modern, kita harus terlihat seperti turis bodoh agar tidak dicurigai satelit musuh."
Bram hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar bualan Lia. Namun, entah bagaimana, Baron tampak terkesan. "Masuk akal. Musuh kita, kelompok Naga Hitam, juga memantau pergerakan dari udara. Penyamaran yang cerdas."
Baron membawa mereka ke tenda utama. Di sana, sebuah peta kuno berdampingan dengan monitor canggih. "Masalahnya begini. Sinyal dari artefak 'Garuda Emas' itu terputus-putus. Saya butuh kalian menggunakan tablet itu untuk menstabilkan frekuensinya."
Baron menunjuk koper hitam milik Bram. Bram merasa dunianya seakan berhenti berputar. Ia tidak tahu apa-apa tentang frekuensi, selain frekuensi radio yang ia dengarkan di kantor.
"Ehm, tentu. Tapi ini... ini butuh waktu," kata Bram mencoba mengulur waktu. "Sinyal di sini sangat... terdistorsi oleh ionisasi pohon-pohon besar."
"Berapa lama?" desak Baron.
"Minimal... tiga hari?" jawab Bram asal.
"Dua hari," putus Baron tegas. "Jika dalam dua hari kalian tidak bisa menemukan titik koordinatnya, kalian tidak ada gunanya lagi bagi saya. Dan saya tidak suka menyimpan barang tidak berguna di hutan ini."
Setelah Baron pergi, Bram dan Lia dibiarkan di dalam tenda dengan penjagaan ketat di luar. Bram segera membuka tablet itu, jarinya gemetar saat menyentuh layar. Muncul berbagai grafik rumit yang terlihat seperti bahasa alien baginya.
"Kita mati, Lia. Kita benar-benar mati kali ini," gumam Bram sambil membenamkan wajah di tangannya.
Lia duduk di tumpukan peti kayu, tampak lesu. "Jangan menyerah dulu. Tadi kamu bilang kamu analis risiko, kan? Analisis dong!"
"Risikonya 100%, Lia! Kita membohongi tentara bayaran di tengah hutan tanpa ada cara untuk menghubungi dunia luar!"
Lia terdiam sejenak, lalu matanya berbinar. "Tunggu. Coba lihat peta digital itu. Itu mirip dengan antarmuka aplikasi edit foto yang sering kupakai. Ada layer-layernya, kan?"
Bram mengangkat kepala. "Ini peta topografi, bukan filter Instagram."
"Tapi logikanya sama! Lihat, ada titik-titik cahaya yang berkedip. Mungkin itu sinyalnya. Kalau kita geser slider ini..." Lia mencoba menyentuh layar.
"Jangan sentuhβ!"
BIP!
Layar tablet itu tiba-tiba berubah warna menjadi merah terang dan mengeluarkan suara peringatan kecil. Titik merah di peta mulai bergerak cepat.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Bram panik.
"Aku cuma mau mencerahkan warnanya!"
Tiba-tiba pintu tenda terbuka. Boris masuk dengan wajah tegang. "Baron bilang ada pergerakan sinyal. Kalian menemukannya?"
Bram melihat ke layar, lalu melihat ke Boris. Ia menarik napas panjang, mencoba memanggil sisa-sisa keberaniannya. "Ya. Sinyalnya... sedang bermigrasi karena aktivitas tektonik bawah tanah. Kami butuh masuk lebih dalam ke sektor barat." Bram menunjuk area acak di peta yang terlihat paling jauh dari kamp ini, berharap mereka bisa melarikan diri di tengah jalan.
Boris mengangguk puas. "Bagus. Siapkan diri kalian. Besok pagi kita bergerak. Hutan barat sangat berbahaya, banyak binatang buas dan jebakan suku pedalaman. Tapi kalian agen ahli, kan? Pasti sudah biasa."
Saat Boris pergi, Lia menatap Bram dengan ngeri. "Sektor barat? Kamu tahu apa yang ada di sana?"
"Tidak tahu," jawab Bram jujur. "Tapi setidaknya di sana tidak ada Baron. Dan siapa tahu, mungkin di sana ada sinyal Wi-Fi atau keajaiban yang bisa membawa kita pulang."
Malam itu, di tengah suara jangkrik hutan yang memekakkan telinga, dua orang paling tidak kompeten di dunia intelijen itu meringkuk di sudut tenda, menyadari bahwa besok, petualangan maut mereka yang sebenarnya baru saja dimulai. Tanpa filter, tanpa manual book, hanya bermodalkan nekat dan kebohongan yang makin membesar
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar