Deru baling-baling helikopter yang membawa mereka pergi perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian hutan Kalimantan yang justru terasa jauh lebih mengancam. Keheningan itu tidak benar-benar sunyi; ada suara serangga yang melengking konsisten, gesekan dahan pohon raksasa yang tertiup angin, dan suara langkah bot tentara bayaran yang mondar-mandir di sekitar kamp.

Bram berdiri mematung di depan tenda yang baru saja ditunjuk Boris sebagai "kamar" mereka. Ia mencengkeram koper hitam itu hingga buku jarinya memutih. Di sampingnya, Lia tampak seperti makhluk asing yang jatuh dari planet lain. Jaket kulitnya yang modis kini berdebu, rambutnya yang biasanya tertata rapi mulai lepek karena kelembapan udara yang mencapai hampir seratus persen, dan koper macan tutulnya tampak sangat tidak pada tempatnya di atas tanah berlumpur.

"Masuk," perintah Boris singkat sambil menepuk bahu Bram dengan keras, membuat pria berkacamata itu hampir tersungkur. "Istirahat satu jam. Setelah itu, Bos Baron mau melihat 'sihir' kalian di tenda komando. Jangan mengecewakan kami."

Begitu Boris pergi dan hanya menyisakan Jonoβ€”prajurit muda yang tampak bosanβ€”berjaga di depan pintu tenda, Bram menarik Lia masuk ke dalam. Begitu ritsleting tenda ditutup, Bram langsung merosot ke atas matras tipis yang tersedia.

"Kita mati, Lia. Kali ini benar-benar mati," bisik Bram. Suaranya bergetar hebat.

Lia tidak menjawab. Ia sibuk mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. "Bram, ini tidak mungkin. AC-nya mana? Tenda ini lebih panas daripada sauna di Jakarta Pusat. Dan lihat ini!" Ia menunjuk ujung sepatu hak tingginya yang sudah terkelupas. "Ini edisi terbatas, Bram! Sekarang sudah jadi barang rongsokan karena lumpur sialan ini!"

"Lia! Lupakan sepatu itu!" Bram setengah berteriak dengan suara tertahan. Ia menyeret koper hitam besar itu ke tengah tenda. "Kita harus tahu apa yang ada di dalam sini sebelum Baron menanyakan hal-hal yang tidak bisa kita jawab."

Dengan tangan gemetar, Bram membuka ritsleting koper itu. Begitu tutupnya terbuka, keduanya terkesiap. Jika sebelumnya di bus mereka hanya melihat sekilas, kini di bawah cahaya lampu baterai tenda yang temaram, isi koper itu terlihat jauh lebih mengerikan.

Di bagian atas, tertata rapi dua buah pistol semi-otomatis dengan peredam suara, beberapa magasin berisi peluru tajam yang berkilau dingin, dan sebuah pisau taktis berbahan karbon hitam. Di bawahnya, terdapat perangkat elektronik yang sangat asing bagi warga sipil: sebuah tablet militer dengan casing antipeluru, antena satelit portabel yang bisa dilipat, dan beberapa sensor kecil berbentuk bulat yang mirip dengan kamera pengintai.

"Bram... itu bukan mainan, kan?" tanya Lia, suaranya kini menciut. Keberanian palsunya mulai goyah melihat logam dingin senjata api itu.

Bram tidak menjawab. Ia merogoh kantong kecil di sisi koper dan menemukan sebuah dompet kulit hitam. Di dalamnya terdapat dua kartu identitas resmi dengan hologram yang tampak sangat asli.

"Agen S. Wijaya - Ahli Geospasial dan Enkripsi Satelit," baca Bram pelan. Di kartu satunya lagi tertulis: "Agen D. Putri - Spesialis Infiltrasi dan Komunikasi."

Lia merebut kartu itu. "D. Putri? Spesialis infiltrasi? Mereka pikir aku agen lapangan yang bisa menyelinap lewat ventilasi udara?!" Lia tertawa histeris, tawa yang lebih terdengar seperti tangisan yang tertahan. "Bram, aku ini influencer! Infiltrasi terbesarku hanyalah masuk ke acara fashion show tanpa undangan, bukan menyelinap ke markas musuh!"

Bram mengabaikan kepanikan Lia. Ia meraih tablet militer itu dan mencoba menyalakannya. Layarnya memunculkan logo sebuah perusahaan pertahanan internasional, diikuti dengan permintaan kata sandi yang rumit. "Ini masalahnya, Lia. Mereka mengira kita adalah orang-orang hebat ini. Mereka mengharapkan kita menemukan artefak atau apa pun itu menggunakan benda-benda ini."

Bram meletakkan tablet itu kembali dengan frustrasi. Ia menyandarkan punggungnya ke tiang tenda. "Logikanya, jika agen asli yang seharusnya membawa koper ini sekarang memegang koperku... mereka pasti sudah menyadari ada yang salah. Dan jika mereka melapor ke markas..."

"Atau jika mereka menyusul ke sini?" Lia memotong, wajahnya memucat. "Bayangkan, agen asli yang bersenjata lengkap datang ke sini dan menemukan dua orang yang sedang menangis karena patah hati memakai identitas mereka."

"Itu probabilitas yang sangat mungkin terjadi," gumam Bram. Ia memijat pelipisnya. "Tapi yang lebih mendesak adalah satu jam lagi. Baron ingin kita memberikan koordinat. Kalau kita tidak bisa memberikan hasil, Boris akan menggunakan pisau itu untuk mencari tahu siapa kita sebenarnya."

Lia terdiam. Ia menatap koper macan tutulnya sendiri yang tergeletak di pojok tenda. Tiba-tiba, ia merangkak menuju kopernya dan membukanya dengan terburu-buru.

"Apa yang kamu cari?" tanya Bram.

"Harapan, Bram! Harapan!" Lia mengeluarkan sebuah pouch kosmetik, beberapa botol vitamin, dan... sebuah powerbank kapasitas besar. "Lihat, setidaknya aku punya cadangan daya. Kalau tabletmu mati, kita bisa pakai ini."

"Lia, itu tidak akan membantu memecahkan kode enkripsi militer!"

"Tapi ini membuatku merasa lebih berguna daripada hanya duduk dan menunggu eksekusi!" Lia membela diri, matanya berkaca-kaca.

Bram menghela napas panjang. Ia meraih tangan Lia, mencoba menenangkannya. "Maaf. Aku hanya... aku terlalu takut. Aku biasanya bisa menghitung risiko dengan tepat, tapi variabel di sini terlalu banyak. Hutan, tentara bayaran, senjata api, dan... kamu."

Lia menatap Bram. "Kenapa aku?"

"Karena kamu variabel yang paling tidak bisa diprediksi. Kamu bisa meminta Wi-Fi di tengah hutan, tapi kamu juga yang membuat Boris percaya kalau penyamaran kita adalah strategi tingkat tinggi." Bram tersenyum tipis, sebuah senyum canggung yang terasa asing di tengah situasi ini. "Mungkin itu satu-satunya peluang kita. Kamu dengan kegilaanmu, dan aku dengan sisa-sisa logikaku."

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di depan tenda. Jono berdehem keras.

"Waktu habis. Bos Baron sudah menunggu di tenda komando. Bawa peralatan kalian. Sekarang!"

Bram dan Lia saling berpandangan. Ketakutan itu kembali menyergap, lebih kuat dari sebelumnya. Bram menutup koper hitam itu dengan sekali sentakan, sementara Lia menyambar kacamata hitamnya dan memakainya kembaliβ€”sebuah perisai rapuh untuk menyembunyikan matanya yang sembab.

"Ingat," bisik Bram saat mereka berjalan keluar tenda. "Jangan katakan apa pun yang tidak perlu. Biar aku yang bicara soal teknis, kamu dukung dengan istilah-istilah yang terdengar canggih."

"Aku akan mencoba," jawab Lia lirih. "Tapi kalau aku pingsan, pastikan kamu menangkapku dengan gaya yang bagus. Aku tidak mau momen terakhirku di dunia ini terlihat memalukan."

Mereka berjalan keluar, dikawal oleh Jono menuju tenda terbesar di tengah kamp. Cahaya lampu badai mulai menyala, memberikan siluet panjang yang menyeramkan pada pepohonan di sekitar. Di depan mereka, tenda komando sudah menunggu, tempat di mana sandiwara maut mereka akan diuji untuk pertama kalinya.

Bram menggenggam gagang koper lebih erat. Ia tahu, di dalam sana, ia tidak hanya akan berhadapan dengan Baron, tapi juga dengan kebohongannya sendiri yang makin membesar. Dan di tengah hutan Kalimantan yang luas ini, tidak ada tombol undo untuk kesalahan yang akan mereka buat.

Langkah mereka terhenti di depan pintu tenda komando. Jono membukakan tirainya, dan aroma asap rokok serta keringat langsung menyergap indra penciuman mereka. Baron sudah menunggu di sana, berdiri di depan meja peta, siap menagih janji yang tidak pernah bisa mereka tepati.