Bunyi mesin bus tua itu menderu konstan, menciptakan getaran yang merambat dari lantai bus hingga ke gigi Bram yang gemertak. Di luar jendela, pemandangan gedung pencakar langit Jakarta perlahan digantikan oleh hamparan sawah dan pohon kelapa yang berkelebat cepat. Namun, perhatian Bram sama sekali tidak tertuju pada pemandangan. Matanya terpaku pada isi koper hitam di pangkuannya.
"Ini bukan kemeja flanelku," bisik Bram. Suaranya hampir tenggelam oleh suara musik rock metal yang diputar supir di depan.
Lia, yang tadi sibuk mencari sudut pencahayaan terbaik untuk selfie sedihnya, kini membeku. Ia menatap benda-benda logam dingin di dalam koper itu. Ada sebuah alat yang tampak seperti peluncur sinyal, beberapa magasin peluru, dan sebuah tablet militer dengan casing antipeluru.
"Bram... itu bukan hairdryer kan?" tanya Lia pelan, menunjuk salah satu benda berbentuk pistol.
"Ini Glock 17, Lia. Aku tahu dari mainan sepupuku, tapi yang ini... yang ini beratnya beda. Ini asli," balas Bram dengan keringat dingin yang mulai membasahi kacamata minusnya. Ia segera menutup ritsleting koper itu dengan tangan gemetar. "Kita harus turun. Sekarang. Aku akan bilang ke supir kalau kita salah bus."
Bram mencoba berdiri, tapi tepat saat itu, bus mengerem mendadak. Tubuh Bram terjerembap ke kursi di depannya. Seorang pria berbadan raksasa dengan tato kalajengking di lehernya menoleh ke belakang. Matanya tajam, menyelidik.
"Ada masalah, Agen?" suara pria itu berat dan serak.
Bram menelan ludah. Kata 'Agen' terasa seperti vonis mati. "Ehm, tidak. Saya cuma... kram perut. Ya, efek samping dari... persidangan intelijen yang melelahkan?"
Pria bertato itu menyeringai, memperlihatkan satu gigi emas. "Biasakan diri, kawan. Di hutan nanti, perutmu akan mencerna lebih dari sekadar stres. Aku Boris. Senang tim ahli pusat mengirim orang-orang yang... unik." Boris melirik Lia yang masih memegang botol setting spray seolah-olah itu adalah senjata kimia.
Lia langsung memasang wajah "influencer sombong"-nya. "Tentu saja unik. Kami adalah unit penyamaran tingkat tinggi. Penampilan kami memang dibuat tidak mencurigakan, kan Bram?"
Bram hanya bisa mengangguk kaku seperti robot rusak. Boris tampak puas dan kembali menghadap ke depan, bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik membandingkan ketajaman pisau komando.
"Apa yang kamu lakukan?!" desis Bram setelah Boris berbalik.
"Menyelamatkan nyawa kita!" balas Lia dengan bisikan tajam. "Kamu lihat mereka? Mereka semua punya otot sebesar kepala kita. Kalau kita bilang kita cuma orang patah hati yang salah naik bus, mereka bakal membuang kita di jalan tol atau lebih buruk lagi, dijadikan sasaran latihan tembak!"
Bram menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang panas. Logikanya mencoba mencari jalan keluar. Probabilitas bertahan hidup jika mengaku: 5%. Probabilitas bertahan hidup jika berpura-pura: 15%. Masih rendah, tapi setidaknya ada harapan.
"Lalu koperku di mana?" gumam Bram.
Di saat yang sama, di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, seorang pria misterius berpakaian serba hitam membuka sebuah koper yang tertukar. Matanya menyipit saat melihat isinya: sebuah buku panduan "Cara Cepat Melupakan Mantan", tiga bungkus mie instan rasa soto, dan sebuah boneka beruang kecil dengan tulisan 'I Love You'. Pria itu menggeram, "Siapa yang berani menukar peralatan kita dengan sampah emosional ini?"
Kembali ke bus, suasana makin mencekam saat mereka memasuki pelabuhan. Bus masuk ke dalam lambung kapal feri yang akan membawa mereka menuju Kalimantan. Bram dan Lia dilarang keluar dari bus oleh Boris dengan alasan "keamanan operasional".
Selama berjam-jam di dalam bus yang pengap di dalam dek kapal, mereka terpaksa mengenal satu sama lain lebih dalam karena rasa takut yang sama.
"Aku seharusnya sudah di Bali sekarang," keluh Lia sambil mencoba memperbaiki riasan wajahnya menggunakan pantulan layar tablet militer. "Minum kelapa muda, foto dengan bikini di pantai privat, dan membuat mantanku menyesal karena sudah selingkuh."
"Aku seharusnya di penginapan pegunungan yang tenang," sahut Bram. "Membaca buku tentang manajemen risiko dan mencoba menghapus memori tentang dekorasi pernikahan yang sudah kupesan."
Lia menatap Bram. "Kamu terlalu kaku, Bram. Bahkan saat mau mati pun kamu masih bicara soal manajemen risiko. Mungkin itu alasan tunanganmu pergi?"
Kata-kata itu menusuk Bram lebih dalam dari ancaman pisau Boris. "Mungkin. Tapi setidaknya aku punya rencana. Kamu? Kamu bahkan tidak bisa membedakan mana bus wisata dan bus tentara bayaran."
"Hei! Kamu juga naik bus ini!"
Perdebatan mereka terhenti saat pintu bus dibuka. Udara lembap dan panas khas pelabuhan menyapa mereka. Boris berdiri di pintu. "Kita sudah sampai di dermaga transit. Sebentar lagi helikopter akan menjemput kita untuk masuk ke jantung Kalimantan. Siapkan peralatan kalian, 'Ahli'."
Bram dan Lia saling berpandangan. Jantung mereka berdegup kencang. Mereka bukan lagi sekadar orang asing yang patah hati; mereka sekarang adalah rekan dalam sebuah sandiwara maut yang tidak memiliki naskah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar