Arunika tiba di kantor pukul 07.47 pagi.
Tiga belas menit lebih awal dari jadwal. Ini bukan karena ia terlalu bersemangat — meskipun secara teknis ia memang bersemangat — tapi karena semalam ia sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan teliti: baju kerja dilipat rapi di atas kursi kamar, tas sudah dikemas sejak pukul sembilan malam, alarm disetel di tiga waktu berbeda dengan interval delapan menit. Ia bahkan sudah menyiapkan kalimat perkenalan di depan cermin.
*"Halo, nama saya Arunika. Tapi panggil saja Nika. Senang bergabung dengan tim."*
Kalimat itu terdengar profesional. Dewasa. Tidak berlebihan.
Yang tidak ia antisipasi adalah bahwa ketika ia masuk ke ruangan IT di lantai tujuh, lampu darurat sedang berkedip-kedip oranye, dua orang teknisi berlarian dengan ekspresi panik, dan seorang perempuan dengan headset di telinga sedang berteriak ke dalam telepon: *"Saya tidak peduli jam berapa di sana, kalau servernya tidak balik dalam sepuluh menit kita kehilangan semua data transaksi pagi ini!"*
Nika berdiri di ambang pintu dengan tas ransel di punggung dan ekspresi yang mungkin mirip rusa yang baru melihat lampu mobil.
"Kamu siapa?" Perempuan dengan headset itu berbalik dan menatapnya.
"A—Arunika. Hari ini hari pertama sa—"
"Bisa pakai Linux?"
Nika berkedip. "Bisa."
"SSH ke server?"
"Bisa."
"Masuk." Perempuan itu sudah kembali berbicara ke telepon sebelum Nika sempat menyelesaikan langkahnya masuk ke ruangan. "Duduk di meja pojok, buka terminal, cek log error-nya. Kamu fresh graduate?"
"Dua tahun pengalaman, Kak."
"Bagus. Nama saya Yuni, Supervisor kamu. Kenalan nanti saja."
Dan begitulah hari pertama Arunika dimulai — bukan dengan kalimat perkenalan yang sudah ia latih semalam, melainkan dengan jari-jarinya yang terbang di atas keyboard sambil mencoba memahami arsitektur server perusahaan yang baru pertama kali ia lihat.
Selama tiga puluh menit pertama, Nika berhasil mengidentifikasi bahwa masalahnya ada pada konfigurasi database yang corrupt setelah update otomatis tadi malam. Ia sudah tahu caranya. Ia sudah hampir yakin. Tapi sebelum ia sempat mengetikkan perintah yang benar, jari-jarinya sedikit terpeleset — kombinasi antara nervos dan layar laptop yang sedikit berembun karena AC — dan ia menekan *Enter* satu detik terlalu cepat.
Layar monitor di seluruh ruangan IT menjadi hitam secara bersamaan.
Ada keheningan selama tiga detik penuh.
Kemudian Yuni mengangkat kepalanya. Menatap Nika. Menatap layar. Kembali menatap Nika.
"Apa yang baru kamu lakukan?"
"Saya—" Nika menatap layarnya yang hitam. Tenggorokannya terasa seperti ada batu. "Saya tidak sengaja."
"Kamu baru saja mematikan seluruh jaringan internal."
"Saya tahu."
"Di hari pertama kamu masuk."
"Saya tahu."
"Jam delapan pagi."
"Yuni—" Nika menelan ludah. "Saya tahu."
Ruangan itu kembali hening. Beberapa kepala menengok ke arahnya. Seorang teknisi muda di sudut ruangan perlahan-lahan memindahkan kursinya menjauh, seolah tidak ingin dikaitkan dengan bencana ini.
Nika memejamkan mata. Dalam kepalanya, ia sudah bisa membayangkan resepsionis di lantai bawah yang kebingungan, manajer-manajer yang tidak bisa membuka email, dan kemungkinan besar namanya akan menjadi cerita yang diingat selama bertahun-tahun di kantor ini — tapi untuk alasan yang sangat salah.
*Hari pertama. Hari. Pertama.*
"Sudah selesai dramanya?"
Suara itu datang dari arah pintu. Tenang. Tidak terburu-buru. Dengan aksen yang terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat situasi seperti ini dan memutuskan bahwa panik adalah reaksi yang tidak efisien.
Nika membuka matanya.
Seorang pria berdiri di ambang pintu ruangan IT. Tinggi, kemeja putih lengan panjang yang lengannya digulung sampai siku, rambut hitam yang — Nika tidak tahu kenapa ini yang pertama kali ia perhatikan — tertata tapi tidak berlebihan, seperti seseorang yang tidak berusaha terlihat rapi tapi entah bagaimana selalu berhasil terlihat rapi. Ia memegang sebuah laptop di tangan kiri dan secangkir kopi di tangan kanan.
Usia sekitar tiga puluhan. Wajahnya datar tapi ada sesuatu di sudut matanya — semacam amusement yang ia sembunyikan dengan cukup baik tapi tidak cukup sempurna.
"Radit," kata Yuni, dan nada suaranya berubah menjadi campuran antara lega dan sedikit malu. "Kamu dengar?"
"Seluruh lantai delapan dengar," kata pria itu — Radit — sambil melangkah masuk. Ia menaruh kopinya di meja kosong terdekat, membuka laptopnya, dan duduk di kursi Nika yang masih ditempati Nika. Yang membuat Nika melompat berdiri dengan canggung.
"Oh, maaf—"
"Tidak apa-apa." Ia sudah mengetik sesuatu. "Kamu sudah cek log-nya di mana?"
"Di — di `/var/log/mysql/`."
"Dan kamu lihat error apa?"
Nika menelan ludah. "InnoDB: corruption pada tablespace. Saya mau jalankan `innodb_force_recovery` level dua, tapi—"
"Tapi kamu salah tekan dan malah matikan jaringannya."
"Ya."
Ia tidak menghentikan ketikannya. Tidak menengok ke arah Nika. Jari-jarinya bergerak dengan kecepatan yang membuat Nika sedikit iri — bukan terburu-buru, tapi efisien, seperti seseorang yang sudah hafal jalan pulang ke rumahnya bahkan dalam gelap.
Dua menit kemudian, layar di ruangan mulai menyala satu per satu.
Yuni menghela napas panjang. "Astaga. Makasih, Dit."
"Konfigurasi backup-nya perlu dibenahi," kata Radit, masih menatap layarnya. "Itu bukan salah analisanya — diagnosisnya benar. Hanya eksekusinya yang perlu latihan." Ia menutup laptopnya dan akhirnya menengok ke arah Nika. Satu detik. Dua detik. "Kamu baru mulai hari ini?"
"Ya." Nika mencoba terlihat profesional. Ia tidak yakin berhasil. "Maaf soal tadi."
"Jangan minta maaf ke saya." Ia mengambil kopinya kembali. "Minta maaf ke server."
Nika berkedip. "Ke... server?"
"Kalau kamu memperlakukan server dengan respek, ia tidak akan membalas dendam." Satu sudut bibirnya naik tipis — bukan senyum penuh, tapi cukup untuk membuat Nika tidak yakin apakah ia sedang diejek atau tidak. "Selamat datang di tim."
Dan ia pergi.
Begitu saja.
Nika masih berdiri di tempat yang sama, menatap punggung kemeja putih itu sampai lenyap di balik pintu, dengan perasaan yang ia tidak tahu harus dinamakan apa — campuran antara malu, lega, dan sesuatu yang aneh di dada yang terasa seperti ada sesuatu yang baru saja mulai bergerak.
"Itu Raditya," kata Yuni dari belakangnya, nada suaranya sudah kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa. "Senior Manager. Dia duduk di lantai delapan tapi sering turun ke sini. Kamu beruntung dia ada hari ini."
Nika mengangguk pelan.
*Raditya.*
Ia mengulang nama itu dalam kepalanya satu kali. Dua kali.
Kemudian ia menatap servernya lagi, menarik napas panjang, dan memutuskan bahwa hari pertama kerja yang dimulai dengan memadamkan seluruh jaringan kantor mungkin tidak seburuk yang ia kira.
Tergantung bagaimana sudut pandangnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar