Raditya tidak lupa.
Ini hal pertama yang Nika pelajari tentang pria itu: ia tidak pernah lupa hal-hal yang ia katakan. Kecil atau besar.
Keesokan harinya, jam 08.20, Raditya meletakkan secangkir kopi di meja Nika di lantai tujuh — bukan di pantry, tapi langsung di mejanya, yang berarti ia turun dari lantai delapan khusus untuk itu — lalu berkata "Giliran saya," dan berbalik pergi sebelum Nika sempat mengucapkan terima kasih.
Nika menatap cangkir itu selama hampir satu menit sebelum ia sadar bahwa kalau terus begini ia akan terlambat mulai kerja.
Tapi hal itu bukan akhirnya.
Pada hari yang sama, menjelang sore, Raditya muncul di depan meja Nika dengan ekspresi yang — setelah hampir seminggu mengamatinya — Nika mulai belajar mengartikan. Datar di permukaan, tapi ada sesuatu di ujung matanya yang menandakan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang menurutnya menarik.
"Nika."
"Kak Radit." Nika memutar kursinya menghadap ke arahnya. "Ada apa?"
"Kamu tidak ada meeting sore ini?"
"Tidak."
"Bagus." Ia menyerahkan sebuah sticky note. Di atasnya tertulis nama kedai kopi dan pesanan dengan tulisan tangan yang rapi dan kecil-kecil. "Tolong ambilkan ini sebelum jam empat. Lokasinya tiga blok dari sini."
Nika membaca sticky note-nya. Latte oat milk, satu shot espresso, tanpa gula. Untuk dua orang — ada dua nama di bagian bawah, salah satunya Raditya, satunya lagi nama yang tidak Nika kenal. "Ini... kamu minta saya pergi ke sana sekarang?"
"Tiga blok tidak jauh."
"Saya sedang kerja, Kak."
"Kamu sudah selesai dengan tiket yang tadi?"
Nika hendak membantah, tapi ia memang sudah selesai lima belas menit yang lalu. "Sudah."
"Jadi kamu punya waktu."
Nika menatap sticky note itu. Menatap Raditya. Mencoba mencari tanda-tanda bahwa ia sedang bercanda atau menguji kesabaran Nika sebagai yunior baru. Tidak ada. Wajahnya seserius biasanya — yang sayangnya selalu terlihat sama seriusnya dengan semua ekspresi lainnya.
"Oke," kata Nika akhirnya. "Tapi ini di luar job desk saya."
"Saya tahu."
"Kamu tidak berterima kasih dulu?"
Sudut bibirnya naik. Satu sentimeter. "Ambil dulu kopinya, baru saya pertimbangkan."
---
Tiga blok ternyata lebih jauh dari yang terdengar ketika udaranya panas dan trotoarnya penuh orang. Nika tiba di kedai kopi dengan kemeja yang sedikit lembap di punggungnya dan mood yang sudah turun satu tingkat dari ketika ia keluar kantor tadi. Ia mengantre, memesan, menunggu dua belas menit, lalu berjalan kembali dengan hati-hati memegang dua cangkir panas yang dimasukkan ke dalam paper bag.
Ketika ia tiba kembali di meja Raditya di lantai delapan, pria itu sedang on call — satu AirPod di telinga, menatap layar, jari-jari bergerak di keyboard. Ia mendongak sebentar saat Nika meletakkan paper bag di mejanya, mengangguk singkat sebagai tanda terima kasih, lalu kembali fokus ke layarnya.
Nika berbalik hendak kembali ke lantai tujuh.
"Nika."
Ia berhenti.
Raditya meletakkan sesuatu di sudut mejanya tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. Sebuah paper bag kecil dari convenience store di gedung sebelah — Nika tidak tahu kapan ia membelinya. Di dalamnya ada satu bungkus potato chips rasa keju dan satu botol teh dingin.
"Upah," kata Raditya, masih berbicara ke AirPod-nya untuk orang lain. Tapi kalimat itu jelas ditujukan ke Nika.
Nika menatap paper bag itu. Menatap Raditya yang sudah tidak memerhatikannya lagi. Mengambil paper bag itu dengan perasaan yang sangat sulit ia deskripsikan secara akurat — campuran antara geli, hangat di dada, dan sedikit jengkel karena geli dan hangat di dada itu muncul hanya karena seseorang membelikannya potato chips.
Ia menuruni tangga kembali ke lantai tujuh.
Membuka bungkus chipsnya di mejanya.
Memakannya sambil menatap layar yang tidak benar-benar ia baca.
Yuni lewat di belakangnya, menengok sebentar ke bungkus chips dan teh dingin di mejanya. "Dari mana?"
"Upah," kata Nika.
Yuni mengerutkan kening. "Upah dari apa?"
"Disuruh beli kopi tiga blok dari sini."
"Sama siapa?"
"Kak Radit."
Yuni menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa Nika baca, lalu tertawa kecil dan melanjutkan jalannya tanpa berkata apa-apa.
Nika memutuskan bahwa ia tidak perlu tahu artinya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar