Nika tidak bermaksud mencarinya lagi.


Sungguh.


Setelah insiden pagi itu, ia sudah membulatkan tekad untuk duduk diam di mejanya, mengerjakan tugasnya, dan tidak membuat drama apapun untuk sisa hari pertamanya. Rencana yang sangat masuk akal dan sangat dewasa.


Sayangnya, saat jam makan siang ia mengambil jalur yang sedikit berbeda menuju pantry — bukan karena sengaja, bukan karena sudah mengamati bahwa orang-orang dari lantai delapan biasanya menggunakan tangga darurat dekat lift tengah sekitar jam dua belas lebih lima belas — dan ia berpapasan langsung dengannya di depan mesin kopi.


Raditya sedang berdiri dengan punggung menghadap ke arahnya, menekan tombol mesin kopi dengan satu tangan sambil membaca sesuatu di ponselnya dengan tangan yang lain. Ia sudah mengganti kemejanya — atau mungkin kemeja yang tadi memang terlihat seperti itu karena lampu darurat yang oranye — dan sekarang dalam pencahayaan pantry yang terang dan normal, Nika bisa melihat dengan lebih jelas bahwa pria ini memiliki proporsi bahu yang seharusnya ilegal untuk diperlihatkan di lingkungan kerja.


Nika hampir berbalik. Hampir.


Tapi kemudian mesin kopinya berbunyi selesai, Raditya mengambil cangkirnya, berbalik, dan melihat Nika yang berdiri dua meter darinya dengan ekspresi seseorang yang baru ketahuan sedang melakukan sesuatu yang meragukan.


"Kamu mengikuti saya?" tanyanya. Datar. Tidak ada nada tuduhan, tapi tidak ada nada bercanda juga — berada tepat di tengah-tengah sehingga Nika tidak bisa membaca maksudnya.


"Tidak," kata Nika cepat. Terlalu cepat. "Saya mau ambil makan siang."


"Pantry di lantai tujuh sedang direnovasi." Ia menyeruput kopinya. "Kamu tidak tahu?"


Nika tidak tahu. Tentu saja ia tidak tahu, ini hari pertamanya. Tapi mengatakannya sekarang hanya akan terdengar seperti alasan. "Saya tahu sekarang."


"Hmm." Raditya menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa Nika baca — bukan tidak ramah, bukan juga ramah, lebih seperti seseorang yang sedang mengamati sesuatu yang menarik perhatiannya tanpa ia mengerti sepenuhnya mengapa. "Server sudah benar-benar stabil. Kamu tidak merusaknya lagi?"


"Sudah saya periksa tiga kali."


"Dua kali cukup."


"Saya tidak yakin dengan diri saya sendiri hari ini."


Lagi-lagi sudut bibirnya naik. Masih tipis. Masih ambigu. "Setidaknya kamu jujur." Ia menaruh cangkirnya ke tempat cuci. "Analisis tadi pagi sebenarnya bagus. Kamu hanya panik."


Nika tidak menyangka akan mendengar itu. Ia mengira ia akan mendapat ceramah, atau paling tidak satu kalimat yang cukup memalukan untuk diingat sebelum tidur selama seminggu ke depan. Bukan ini.


"...Makasih," katanya, sedikit canggung.


"Jangan senang dulu." Ia mengambil ponselnya yang sempat ia taruh di counter. "Besok kamu harus bisa handle situasi seperti tadi sendiri. Saya tidak selalu ada di kantor." Ia mulai berjalan ke arah pintu, lalu berhenti sebentar tanpa berbalik. "Dan lain kali, kalau mau ambil makan siang di pantry lantai delapan, tidak perlu berpura-pura tidak sengaja. Cukup masuk saja."


Nika membuka mulutnya.


Menutupnya kembali.


Raditya sudah keluar dari pantry, suara langkahnya menghilang di ujung koridor.


Nika berdiri sendirian di antara mesin kopi dan kulkas pantry, menatap titik di mana pria itu baru saja berdiri, dengan perasaan seperti baru saja kalah main catur tapi tidak tahu di langkah yang mana ia mulai kalah.


Ia menarik napas panjang.


Lalu mengambil kotak bekalnya dari kulkas — yang memang sudah ia titipkan tadi pagi — dan berjalan kembali ke mejanya di lantai tujuh dengan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya:


*Orang macam apa yang bisa membuat seseorang merasa malu dan senang pada saat yang bersamaan?*


---


Malam itu, Nika berbaring di kasurnya dengan ponsel di atas wajah, membuka grup chat lamanya dengan teman-teman kuliah yang sudah jarang aktif.


*Nika: hari pertama kerja seru banget*

*Nika: seru dalam artian saya hampir bikin perusahaan collapse*

*Nika: tapi ada senior manager yang bantuin*

*Nika: dia... menarik*


Tidak ada yang membalas. Jam sudah hampir tengah malam dan semua orang sudah tidur.


Nika menurunkan ponselnya ke dada.


Di luar jendela, Jakarta masih bersuara — klakson yang jauh, suara motor, sesuatu yang terdengar seperti kucing bertengkar di atap sebelah. Tapi di dalam kamarnya yang kecil di kos lantai tiga itu, Nika merasa ada sesuatu yang berubah dari pagi ke malam ini, sesuatu yang kecil dan belum punya nama, seperti benih yang baru jatuh ke tanah dan belum ada yang tahu apakah ia akan tumbuh atau tidak.


Ia memejamkan matanya.


*Raditya.*


Ia mengulang nama itu sekali lagi sebelum tidur.