Butuh Nika tepat tiga hari untuk menemukan pola.


Raditya tiba di kantor antara pukul 08.15 sampai 08.30, selalu dari pintu lift sebelah kanan, selalu mampir ke pantry lantai delapan sebelum naik ke mejanya, dan selalu memesan americano dari mesin kopi dengan satu tambahan — ia menekan tombol *less water* sekali, sesuatu yang Nika perhatikan karena pada hari ketiga ia iseng berdiri di belakangnya di antrean mesin kopi dan memperhatikan tangannya.


Ini bukan stalking. Ini... observasi. Di lingkungan kerja. Yang kebetulan melibatkan subjek yang sama selama tiga hari berturut-turut.


Pada hari keempat, Nika tiba di pantry lantai delapan pukul 08.10 dan sudah menyiapkan dua cangkir americano di meja panjang sebelah jendela ketika Raditya masuk.


Ia berhenti di ambang pintu. Menatap Nika. Menatap dua cangkir kopi. Kembali menatap Nika.


"Kamu mau minum kopi dua sekaligus?"


"Yang satu untuk kamu," kata Nika. Ia sudah berlatih kalimat ini. Santai. Tidak terlalu antusias. Hanya kolega yang kebetulan snbaik. "Saya tebak kamu pasti mau ke sini, jadi saya pesankan."


Raditya mendekati meja. Ia mengambil salah satu cangkir, melihat ke dalamnya, menyeruput sedikit.


"Less water?" tanyanya.


"Ya."


"Kamu memperhatikan cara saya memesan kopi?"


Nika hendak berkata *tidak*, tapi ada sesuatu di cara Raditya menatapnya yang membuat ia tahu bahwa jawaban itu tidak akan dipercaya. Ia mengubah haluan. "Saya perhatikan banyak hal. Itu bagian dari pekerjaan saya."


"Kamu di divisi IT, bukan divisi intelijen."


"Keahlian yang transferable."


Raditya menatapnya selama dua detik. Kemudian ia mengambil kursi di seberang Nika dan duduk — sesuatu yang tidak Nika antisipasi, karena ia membayangkan pria ini akan mengambil kopinya lalu pergi seperti biasa.


"Kamu mau apa?" tanyanya langsung. Bukan dengan nada curiga, tapi dengan nada seseorang yang sudah cukup sering berurusan dengan manusia untuk tahu bahwa orang tidak menyiapkan kopi untuk orang lain tanpa alasan.


"Tidak mau apa-apa," kata Nika. "Cuma mau balas budi."


"Soal kemarin?"


"Soal hari pertama."


Raditya menyeruput kopinya lagi. Matanya menatap ke luar jendela sebentar — dari lantai delapan, gedung-gedung di sekitarnya terlihat seperti balok-balok abu-abu yang bersisian rapat, dan di antara celah-celahnya sesekali ada potongan langit biru yang kelihatan terjepit. "Tidak perlu," katanya akhirnya. "Itu bagian dari pekerjaan saya juga."


"Membantu orang yang menghancurkan jaringan kantor di hari pertama mereka?"


"Memastikan tim IT berfungsi." Ia menatap Nika kembali. "Kamu masuk tim IT."


Nika menahan senyum. Ini bukan basa-basi, ia tahu itu — pria ini tidak terlihat seperti tipe yang pandai basa-basi. Tapi ada sesuatu dalam cara ia merumuskan kalimat yang terasa seperti caranya sendiri untuk mengatakan *tidak apa-apa*.


Mereka duduk diam selama beberapa menit. Tidak canggung — atau setidaknya, Nika berusaha tidak terlihat canggung, meskipun di dalam kepalanya ada satu suara kecil yang terus berteriak *bicara sesuatu, bicara sesuatu, jangan hanya duduk diam seperti ini.*


"Kamu dari mana?" tanya Raditya tiba-tiba.


"Bandung. Tapi tinggal di sini sejak kuliah."


"Kuliah di mana?"


"Universitas Indonesia. Ilmu Komputer."


Ia mengangguk pelan, seperti menerima informasi itu sebagai data yang ia simpan di suatu tempat. "Kenapa IT?"


Nika berpikir sebentar. Ini bukan pertanyaan yang biasa ia jawab dengan serius — biasanya orang bertanya sebagai basa-basi dan puas dengan jawaban pendek. Tapi ada sesuatu dalam cara Raditya bertanya yang terasa seperti ia benar-benar ingin tahu. "Karena komputer tidak punya perasaan yang harus saya jaga," kata Nika. "Kalau saya salah, komputer bilang error. Jelas. Tidak ada yang perlu ditebak-tebak."


Raditya terdiam sebentar. "Menarik."


"Kenapa?"


"Kebanyakan orang masuk IT karena suka tantangannya, atau karena prospek kerjanya bagus." Ia menaruh cangkirnya. "Kamu masuk karena takut salah baca perasaan orang."


Nika terdiam.


Bukan karena tersinggung — tapi karena itu benar dengan cara yang tidak ia sadari sendiri sampai tadi ia mengatakannya.


"Saya tidak bilang takut," kata Nika akhirnya.


"Kamu tidak perlu bilang." Raditya berdiri, mengambil cangkirnya untuk dibawa, lalu berhenti di samping meja Nika. "Terima kasih kopinya." Satu detik jeda. "Besok saya yang giliran."


Dan ia pergi.


Nika menatap punggungnya sampai lenyap di balik pintu, lalu perlahan menatap cangkirnya sendiri yang masih setengah penuh, dengan ekspresi seseorang yang baru saja sadar bahwa ia telah membuka diri sedikit lebih jauh dari yang ia rencanakan kepada seseorang yang baru ia kenal empat hari yang lalu.