Lulu adalah teman baik yang buruk untuk dimintai nasihat soal cinta, tapi sangat baik untuk dimintai pendapat tentang strategi.
Ini perbedaan yang Nika pelajari dari tiga tahun persahabatan — Lulu akan mendengarkan seluruh ceritamu, bersimpatilah dengan sungguh-sungguh, lalu menyarankan sesuatu yang terdengar masuk akal di permukaan tapi di lapangan memiliki kemungkinan bencana yang cukup signifikan.
Tapi malam itu, duduk di warung sate langganan mereka dekat kos, dengan dua gelas es teh di atas meja dan suara pengunjung lain yang bercampur dengan musik dari speaker portable yang agak kencang, Nika membutuhkan seseorang untuk bercerita. Dan Lulu adalah satu-satunya pilihan yang tersedia dan tidak akan menghakiminya.
"Jadi," kata Lulu, menyusun sate ayamnya dengan penuh konsentrasi seperti orang yang sedang menata puzzle. "Dia senior manager."
"Ya."
"Beda lima tahun."
"Ya."
"Dan kamu sudah dua minggu stalking jadwal kopinya."
"Observasi. Bukan stalking."
"Nika." Lulu meletakkan satenya. "Kamu hafal dia menekan tombol *less water* di mesin kopi."
"Itu detail yang—"
"Detail yang sangat spesifik untuk sesuatu yang kamu sebut 'bukan stalking'." Lulu minum es tehnya. "Oke. Lanjut. Terus gimana?"
Nika menceritakan semuanya — insiden hari pertama, pertemuan di pantry, kopi yang dua kali bergantian, sticky note dan potato chips. Lulu mendengarkan dengan tekun, kadang mengangguk, kadang mengangkat alis, tidak menyela.
Ketika Nika selesai, Lulu diam selama beberapa detik sambil mengunyah satenya.
"Dia tertarik," kata Lulu akhirnya.
Nika merasakan jantungnya melakukan sesuatu yang tidak profesional. "Kamu tidak tahu itu."
"Orang yang tidak tertarik tidak turun satu lantai untuk menaruh kopi di meja orang."
"Mungkin dia memang ramah."
"Mungkin." Lulu mengangkat bahu. "Tapi orang yang ramah ke semua orang tidak mengingat bahwa kamu suka teh dingin."
"Dia tidak tahu saya suka teh dingin. Itu pilihan acak."
"Nika. Teh dingin. Di hari yang panas. Setelah kamu berjalan tiga blok." Lulu menatapnya datar. "Dia perhatian. Entah disadari atau tidak."
Nika menggigit bibir bawahnya. Di dalam dadanya ada pertarungan kecil antara bagian yang ingin percaya dan bagian yang sudah cukup sering melihat temannya — termasuk dirinya sendiri — salah membaca situasi.
"Jadi menurut kamu saya harus gimana?"
Lulu menarik napas panjang dengan ekspresi seorang jenderal yang sedang memetakan strategi perang. "Pertahankan konsistensinya. Jangan terlalu banyak sekaligus — kamu tidak mau terlihat berlebihan. Tapi jangan juga terlalu sedikit. Yang penting: jadilah tidak tergantikan di rutinitasnya."
"Itu terdengar seperti nasihat dari buku psikologi manipulatif."
"Ini bukan manipulasi. Ini *presence*." Lulu menunjuk Nika dengan tusuk satenya. "Jadilah seseorang yang kalau tidak ada, terasa ada yang kurang. Kamu sudah mulai — kopi pagi itu langkah yang bagus. Sekarang tinggal konsisten."
Nika menatap gelas es tehnya.
"Dan satu hal lagi," tambah Lulu, nada suaranya turun sedikit menjadi lebih serius. "Pastikan kamu tidak hanya jatuh cinta sama *idenya* dia."
"Maksudnya?"
"Maksudnya — kamu baru kenal dua minggu. Kamu tahu dia rapi, dia pintar, dia tidak panik dalam krisis, dan dia ingat detail kecil. Itu semua bagus." Lulu mengangkat bahunya. "Tapi pastikan kamu juga mau tahu bagian yang tidak semenarik itu. Orang yang kelihatan sempurna dari jauh biasanya punya sesuatu yang tidak terlihat dari jauh."
Nika diam sebentar.
Ini adalah bagian dari Lulu yang ia hargai — di antara semua teori lapangan dan saran strategisnya yang kadang meragukan, sesekali ia mengatakan sesuatu yang benar-benar tepat.
"Saya tahu," kata Nika pelan.
"Bagus." Lulu kembali ke satenya. "Sekarang makan. Kamu sudah cerita dari tadi dan sate kita hampir dingin."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar