Sinopsis
Di sebuah pagi yang dingin, Maryam (57) terbangun di lantai keramik kamar mandi rumah anak sulungnya. Dahinya berdarah. Tidak ada yang datang. Sudah satu jam ia memanggil. Itu pagi terakhir Maryam tinggal di rumah anaknya — karena hari itu juga, ketiga anaknya yang ia besarkan dengan air mata dan keringat, sepakat membuangnya ke panti jompo dengan dalih "demi kebaikan Mama." Tapi Maryam tahu kebenarannya. Bukan demi kebaikannya. Tapi karena ia jadi beban yang memalukan. Di kamar sempit panti jompo yang berbau lembap, terbaring di kasur tipis tanpa sprei, Maryam mengeluarkan amplop tua yang ia simpan 25 tahun. Surat dari mendiang suaminya, Hendra, yang tidak pernah ia berani buka. Saat tangan ringkihnya akhirnya merobek amplop itu, ingatan-ingatan masa lalu mulai berhamburan — perjuangan jualan nasi uduk di subuh berhujan, cincin kawin yang dijual untuk SPP anak sulung, malam-malam memijat orang demi obat anak yang demam tifus. Dua puluh lima tahun lalu, ia bersumpah: "Apapun derita saya, asal anak-anak saya sukses." Sumpah itu terkabul. Bima jadi direktur. Sari menikahi pengusaha. Rio jadi dokter spesialis. Tapi ternyata, sukses itu tidak pernah berarti pulang. Di tengah penghinaan demi penghinaan, Maryam menemukan satu kebenaran dalam surat suaminya yang akan mengguncang seluruh keluarganya — salah satu dari tiga anaknya, ternyata bukan darah dagingnya sendiri. Rahasia yang, jika dibongkar, bisa menghancurkan ketiga anaknya... atau menjadi cermin yang akhirnya menyadarkan mereka. Kisah seorang ibu yang harus menjadi singa di usia senjanya — bukan untuk balas dendam, tapi untuk mengajari anak-anaknya tentang sebuah pelajaran yang tertinggal: air mata seorang ibu memang tidak pernah kering, tapi ia bisa berhenti menetes — saat anaknya akhirnya pulang.
Total Baca
17
Suka
0
Subscribe
1
Bab
21
0.0
dari 5