Sore itu, udara di dalam rumah petak kami terasa lebih pengap dari biasanya. Kipas angin kecil berdengung di sudut ruangan, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan dengan gerakan patah-patah yang menyedihkan, seolah ia pun sudah lelah memutar udara panas yang bercampur dengan bau apak dari atap tripleks yang bocor. Di luar, langit mulai berubah warna menjadi jingga keabu-abuan, menandakan matahari sebentar lagi akan tenggelam, namun hawa panas sisa siang hari masih terperangkap kuat di balik dinding-dinding batako yang tidak diplester ini.

Aku duduk bersila di atas lantai semen yang dingin, mencoba mencari sedikit kesejukan sambil mengupas bawang merah untuk bumbu tumis kangkung nanti malam. Mataku sudah perih, entah karena getah bawang atau karena debu yang beterbangan setiap kali ada angkot lewat di depan gang. Namun, keheningan sore yang monoton itu tiba-tiba terkoyak oleh suara yang sangat kubenci.

Kring... Kring...

Suara dering polifonik yang cempreng itu berasal dari sebuah telepon genggam tua yang layarnya sudah retak melintang, tergeletak pasrah di atas meja kayu beralas taplak plastik bermotif bunga matahari yang warnanya sudah memudar. Benda itu adalah peninggalan Bapak, satu-satunya barang elektronik yang masih bisa dipertahankan Ibu dari incaran para penagih utang bertahun-tahun yang lalu.

Aku menghentikan pisau di tanganku. Pandanganku beralih pada layar kecil yang berkedip-kedip, menampilkan sederet nama yang membuat dadaku mendadak sesak, seolah ada bongkahan batu besar yang tiba-tiba dijatuhkan tepat di atas ulu hatiku.

Mas Rendra.

Nama itu tertera di sana. Berkedip. Menuntut untuk diperhatikan.

Sudah berapa lama nomor itu tidak pernah muncul di layar ponsel ini? Enam bulan? Delapan bulan? Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali pria yang secara biologis adalah kakak sulungku itu berinisiatif menghubungi kami. Terakhir kali ia menelepon, yang kudengar hanyalah rentetan omelan dan cacian. Saat itu, Ibu dengan susah payah mengulek bumbu pecel kesukaan Mas Rendra, membungkusnya rapi dalam toples plastik, dan mengirimkannya lewat jasa kurir dengan ongkos kirim yang diambil dari jatah uang makan kami selama dua hari.

Bukannya ucapan terima kasih yang didapat, Mas Rendra justru menelepon dengan nada tinggi. Ia mengabarkan bahwa istrinya, Mbak Nita, marah besar karena bumbu pecel itu bocor dan mengotori karpet Persia di ruang tamu mereka. Lebih menyakitkan lagi, Mbak Nita membuang bumbu buatan Ibu itu ke tempat sampah dengan alasan baunya membuat perutnya mual dan takut tidak higienis. Aku ingat betul hari itu. Ibu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya duduk mematung di sudut dapur, menatap sisa-sisa kacang tanah di cobek batu dengan tatapan kosong, sementara air mata mengalir dalam diam membasahi pipinya yang mulai keriput.

Dan kini, nama itu kembali muncul.

Layar itu terus berkedip, seolah mengejekku. Aku melirik ke arah dapur yang hanya dipisahkan oleh selembar tirai kain lusuh yang gambarnya sudah tidak jelas lagi. Dari balik tirai itu, terdengar suara ritmis yang sangat kukenal. Srek... srek... srek... Suara sikat cuci yang beradu dengan serat kain. Ibu sedang duduk di dingklik kayu kecilnya yang reyot, tangannya yang dipenuhi urat-urat menonjol sedang sibuk menggosok pakaian di atas papan gilesan kayu. Suara air sabun yang memercik terdengar berirama, mencoba menyembunyikan napas Ibu yang sering kali tersengal-sengal jika ia terlalu lelah berjongkok.

"La..." Suara Ibu terdengar dari balik tirai. Lembut, penuh kasih, dan sedikit bergetar. "Itu HP Ibu bunyi, Nduk. Tolong diangkat sebentar ya. Tangan Ibu masih penuh busa sabun. Takutnya penting."

Penting? Hal penting apa yang bisa diharapkan dari seorang anak yang bahkan tidak ingat hari ulang tahun ibunya sendiri? Aku menelan ludah, merasakan gumpalan pahit yang tiba-tiba bersarang di tenggorokan. Rasanya aku ingin mematikan ponsel itu, membuangnya ke selokan depan rumah, dan berpura-pura tidak pernah ada panggilan masuk. Tapi aku tahu, Ibu akan terus bertanya. Harapan di hati Ibu tentang anak sulungnya terlalu besar, terlalu buta, dan terlalu menyakitkan untuk kulihat.

Aku meletakkan pisau dapur, mengelap tanganku yang bau bawang ke celana training kumal yang kukenakan, lalu melangkah gontai menuju meja kayu. Dengan perasaan enggan yang luar biasa berat, aku menggeser tombol hijau di layar retak itu dan menempelkannya ke telinga.

"Halo, Mas?" sapaku. Aku berusaha mati-matian menjaga nada suaraku agar terdengar senetral mungkin, menyembunyikan getar amarah yang mulai merayap naik ke kerongkongan.

Hening sejenak. Dari seberang sana, aku bisa mendengar suara dengung halus dari pendingin ruangan yang pasti sangat sejuk, kontras dengan keringat yang menetes di pelipisku saat ini. Lalu, terdengar suara ketukan jari di atas meja kaca, disusul oleh suara bariton yang berat dan dingin.

"Ibu mana?"

Hanya dua kata. Tidak ada basa-basi. Tidak ada sapaan hangat seperti 'Halo, Dek' atau pertanyaan standar 'Kamu lagi apa?'. Suara Mas Rendra terdengar datar, terburu-buru, dan diwarnai nada ketidaksabaran yang kental. Ia berbicara seolah sedang menanyakan keberadaan sebuah barang, bukan ibunya sendiri.

Aku mencengkeram tepi meja kayu. Ujung jariku menekan serat-serat kayunya hingga buku-buku jariku memutih. "Ibu lagi cuci baju di belakang, Mas," jawabku singkat, menahan diri agar tidak langsung memutus sambungan.

Terdengar helaan napas kasar dari seberang, seolah fakta bahwa ibunya sedang mencuci baju adalah sebuah hal yang sangat mengganggunya. "Bisa suruh berhenti dulu nggak cucinya? Panggil ke depan. Aku nggak punya banyak waktu buat nunggu. Ini lagi jam istirahat kantor, sebentar lagi ada meeting sama klien dari luar kota."

Di latar belakang, sayup-sayup aku mendengar suara langkah kaki berhak tinggi yang mendekat, disusul oleh suara lengkingan manja yang sangat kukenal dan kubenci. Suara Mbak Nita.

"Mas, jangan lupa bilangin sama Ibumu ya," suara Mbak Nita terdengar mendikte, jelas sekali ia sengaja berbicara cukup keras agar aku bisa mendengarnya. "Suruh bawa pisau daging sama celemek sendiri dari kampung. Pisau-pisau di dapur kita itu harganya jutaan, Mas. Nanti rusak atau tumpul kalau dipakai sembarangan sama orang yang nggak ngerti cara pakainya. Aku nggak mau dapurku berantakan."

Darahku mendidih seketika. Rasanya seperti ada lahar panas yang disiramkan langsung ke ubun-ubunku. Pisau daging? Celemek? Apa maksud perempuan sombong itu?

Aku memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bagian dalam pipiku hingga terasa sakit, berusaha agar makian dan sumpah serapah yang sudah berkumpul di ujung lidah tidak meluncur keluar tak terkendali. Aku harus ingat bahwa Ibu ada di ruangan sebelah. Jika aku berteriak, Ibu akan mendengarnya, dan itu hanya akan membuat hatinya hancur sebelum ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Mas Rendra bisa ngomong sama aku," ucapku dengan suara yang tertahan di tenggorokan, bergetar menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada. "Nanti aku sampaikan semuanya ke Ibu, tanpa terlewat satu kata pun."

"Beneran kamu bisa dipercaya nyampein pesannya?" Nada meremehkan itu begitu kental, membuatku semakin muak. "Ya sudahlah, daripada nunggu lama. Gini, dengerin baik-baik. Minggu besok, aku sama Nita mau bikin acara aqiqah buat Adit. Syukuran kecil-kecilan aja di rumah, ngundang tetangga perumahan sama relasi bisnis. Kasih tahu Ibu suruh datang."

Adit.

Nama itu membuat dadaku berdesir perih. Adit adalah anak pertama Mas Rendra dan Mbak Nita. Cucu pertama Ibu. Bayi laki-laki yang sejak lahir tiga bulan lalu, belum pernah sekalipun ditengok oleh Ibu. Saat Adit lahir, Ibu sudah menyiapkan tas berisi pakaian ganti, siap berangkat ke rumah sakit dengan wajah berbinar-binar. Namun, malam itu Mas Rendra menelepon dan melarang Ibu datang. Alasannya? Mbak Nita bilang rumah sakit tempatnya bersalin adalah rumah sakit VVIP, prosedur kunjungannya ketat. Ia juga beralasan bayi yang baru lahir masih sangat rentan, takut tertular kuman atau bakteri dari debu jalanan karena Ibu pasti akan datang naik angkutan umum yang kotor.

Alasan yang sangat masuk akal bagi telinga orang luar, tapi bagi kami, itu adalah tamparan keras di wajah. Ibu menangis semalaman di kamarnya, memeluk baju-baju bayi bekas Mas Rendra yang sudah ia cuci bersih dan setrika rapi, batal diberikan kepada sang cucu.

Dan sekarang, tiba-tiba Mas Rendra mengundang kami ke acara aqiqahnya?

"Aqiqah?" ulangku pelan, mencoba mencerna kata-katanya, mencari celah niat baik di balik suara dingin itu. "Mas Rendra... ngundang Ibu buat lihat Adit?"

Ada jeda yang cukup panjang di seberang sana. Suara helaan napas Mas Rendra terdengar lagi, kali ini lebih berat.

"Iya, undangan syukuran. Kalian datang aja hari Minggu. Tapi ingat, berangkatnya pagi-pagi sekali, sekalian abis subuh langsung jalan dari kampung biar nggak kena macet di jalan tol. Acaranya sih baru mulai habis zuhur, tapi kasih tahu Ibu, sampai di rumahku nanti, langsung masuk lewat pintu samping dan ke dapur belakang aja."

Keningku berkerut. Pintu samping? Dapur belakang?

"Maksudnya apa, Mas? Kenapa Ibu disuruh ke dapur belakang?"

"Kamu ini gimana sih, dibilangin kok malah banyak tanya!" Nada suara Mas Rendra mulai meninggi, menunjukkan watak aslinya yang tempramental jika dibantah. "Katering yang datang itu porsinya terbatas, cuma buat tamu-tamu VIP sama relasi bisnisku. Sisanya buat tetangga dan panitia, kita harus masak sendiri. Nita nggak mungkin sanggup kalau harus urus semuanya, dia kan baru selesai masa nifas, masih harus urus Adit. Lagian, Ibu kan biasa masak dalam porsi besar buat acara kawinan di kampung. Suruh Ibu bantu-bantu masak di belakang. Gitu aja kok repot!"

Duniaku seakan berhenti berputar selama sepersekian detik. Waktu terasa membeku. Suara kipas angin yang berdengung, suara air dari dapur, bahkan suara klakson angkot di depan gang seolah lenyap, tersedot ke dalam ruang hampa di kepalaku.

Kata-kata itu menghantam ulu hatiku seperti godam besi seberat puluhan kilogram. Katering buat tamu VIP. Masak sendiri buat sisanya. Suruh Ibu bantu-bantu di belakang.

Perutku mual seketika. "Mas," suaraku bergetar hebat. Kali ini bukan hanya karena amarah, tapi juga karena rasa sakit yang tak terperi melihat betapa rendahnya harga diri seorang ibu di mata anak kandungnya sendiri. "Ibu itu orang tuamu, Mas. Ibu yang melahirkanmu. Mas Rendra ngundang Ibu ke acara aqiqah cucunya... atau Mas cuma lagi cari tenaga pembantu gratisan buat menghemat biaya kateringmu yang mahal itu?"

"Heh, Lila! Jaga mulutmu ya!" Bentakan Mas Rendra meledak, memekakkan telingaku hingga aku harus menjauhkan sedikit ponsel itu. "Kamu itu masih anak bau kencur, anak SMA yang nggak tahu apa-apa soal susahnya cari uang, bisa nggak sih sopan dikit ngomong sama kakakmu sendiri?! Kalau bukan karena aku masih ngajeni Ibu sebagai orang tua, aku juga males ngundang orang kampung kayak kalian ke perumahanku! Nita itu udah berbaik hati mau nerima kalian masuk ke rumahnya yang bersih, nanti di sana kalian dikasih makan enak, bisa bawa pulang berkat. Malah kamu yang nyolot!"

Aku menggigil. Kemarahanku sudah mencapai titik didih tertinggi, namun aku terjebak dalam ketidakberdayaan yang menyiksa.

"Udah, aku nggak mau debat sama anak kecil!" lanjut Mas Rendra cepat, memotong setiap bantahan yang baru saja kususun di kepala. "Pokoknya kasih tahu Ibu. Kalau kalian nggak mau datang ya sudah, terserah! Berarti kalian sendiri yang mutus silaturahmi. Toh, yang rugi kalian karena nggak bakal bisa lihat Adit. Jangan nyalahin aku kalau besok-besok kalian aku coret dari daftar keluarga. Sampaikan ke Ibu!"

Klik. Tut... tut... tut...

Sambungan diputus secara sepihak dan kasar.

Aku berdiri mematung di sisi meja. Ponsel dengan layar retak itu masih tergenggam erat di telingaku, menggemakan bunyi nada putus yang berulang-ulang, terdengar seperti tawa mengejek yang menertawakan kemiskinan dan kebodohan kami.

Napasku memburu, dadaku naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Udara pengap di ruangan ini tiba-tiba terasa mencekik leherku. Matahari di luar sana telah benar-benar tenggelam, menyisakan bayang-bayang gelap yang merayap di dinding batako rumah kami, segelap perasaan yang kini menyelimuti hatiku.

Aku ingin melempar ponsel ini ke dinding. Aku ingin berteriak sejengkal dari wajah Mas Rendra, mencaci makinya karena telah berubah menjadi monster tidak berhati sejak ia menikah dengan perempuan gila harta itu. Aku ingin mengutuk kesuksesannya yang ternyata hanya membuat hatinya miskin dan busuk.

"Siapa yang telepon, La?"

Suara itu. Suara lembut yang selalu berhasil meruntuhkan setiap dinding pertahanan emosiku.

Tirai kain lusuh yang membatasi ruang tengah dan dapur tersibak perlahan. Ibu berdiri di ambang pintu, menghapus jarak di antara kami. Tangannya yang keriput, yang kulitnya mengelupas karena terlalu sering bersentuhan dengan deterjen murah yang panas, sedang sibuk diusapkan pada daster batiknya yang sudah pudar dan berlubang kecil-kecil di bagian bawahnya.

Tubuh Ibu terlihat rapuh. Bahunya melengkung turun, menanggung beban puluhan tahun membesarkan tiga anak seorang diri setelah Bapak meninggal karena sakit paru-paru. Rambutnya yang diikat asal-asalan ke belakang, kini lebih banyak didominasi warna perak kemerahan yang kusam. Wajah tuanya dipenuhi garis-garis kelelahan yang dalam, jejak dari kurang tidur dan kurang gizi yang berkepanjangan.

Namun, yang paling menghancurkan hatiku adalah matanya. Di tengah wajahnya yang lelah dan tubuhnya yang ringkih, mata cokelat jernih itu justru memancarkan binar harapan yang begitu terang, begitu murni, dan begitu menyayat hati.

"Itu Masmu, ya?" tanya Ibu lagi, kali ini suaranya terdengar lebih mendesak, penuh dengan antisipasi layaknya seorang anak kecil yang menunggu ayahnya pulang membawa mainan. Ibu melangkah mendekat. Langkahnya sedikit diseret, menandakan rematik di lutut kirinya pasti kambuh lagi karena terlalu lama berjongkok di lantai kamar mandi yang dingin.

Aku menatap Ibu dalam diam. Lidahku kelu. Kalimat-kalimat tajam Mas Rendra masih terngiang jelas di telingaku bak kaset rusak. Suruh bantu-bantu di belakang. Nggak punya waktu. Bawa pisau sendiri. Jangan nyolot.

Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin aku menatap wajah setulus ini dan mengatakan bahwa putra kebanggaannya baru saja menganggapnya tak lebih dari seorang pembantu panggilan yang tak dibayar?

"Iya, Bu," suaraku akhirnya keluar, parau dan terdengar asing di telingaku sendiri. Aku menunduk, tak sanggup menatap cahaya di mata Ibu yang sebentar lagi harus kupadamkan.

"Ya Allah... Gusti Pangeran..."

Seketika, kedua tangan Ibu yang basah dan berbau sabun itu menutup mulutnya sendiri. Tubuhnya sedikit bergetar. Dan di bawah cahaya lampu ruang tengah yang remang-remang, aku melihat setetes air mata jatuh meluncur di pipinya yang kempot. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan yang murni.

Ibu mempercepat langkahnya yang pincang, menghampiriku, dan merebut ponsel itu dari tanganku. Ia memegang ponsel butut itu dengan kedua tangannya, mengelusnya dengan sangat hati-hati, seolah benda plastik murahan itu adalah pipi anak laki-lakinya yang dirindukannya.

"Masmu bilang apa, La?" tanya Ibu dengan suara bergetar karena tangis bahagia. Senyumnya terkembang sangat lebar, memamerkan giginya yang tak lagi utuh. "Dia sehat, kan? Mbak Nita sehat? Cucu Ibu... si kecil Adit, sehat kan, Nduk? Kok nggak kamu panggilkan Ibu? Kenapa nggak kamu kasihkan ke Ibu teleponnya biar Ibu bisa dengar suaranya Rendra secara langsung?"

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur bertubi-tubi, menghujam dadaku seperti jarum-jarum kecil beracun. Ada nada kecewa yang tak disembunyikan dalam kalimat terakhirnya. Kecewa karena ia kehilangan kesempatan yang sangat langka untuk sekadar mendengar suara "Halo" dari anak sulungnya.

Aku menelan ludah dengan susah payah, merasakan asam lambungku naik ke kerongkongan. Aku harus berbohong. Aku membenci diriku sendiri karena hal ini, karena setiap kebohongan yang kuucapkan hanya akan semakin memperlebar jurang kekecewaan yang akan dihadapi Ibu nanti. Tapi, menatap wajah bahagianya saat ini, aku tidak punya pilihan lain. Aku lebih membenci kenyataan pahit yang harus kuhadapi jika aku jujur detik ini juga.

"Mas Rendra... Mas Rendra lagi sibuk banget di kantor, Bu. Lagi jam kerja, ada meeting penting sama klien," aku menyusun kebohongan dengan hati yang berdarah. "Tadi Mas Rendra buru-buru, jadi nggak sempat ngomong sama Ibu. Mas Rendra cuma mau nitip pesan lewat Lila."

"Oh, begitu..." Senyum Ibu sedikit memudar, namun kelegaan masih mendominasi wajahnya. "Syukurlah kalau Masmu sibuk. Berarti pekerjaannya lancar, kariernya bagus. Alhamdulillah. Memang anak laki-laki itu tulang punggung, harus kerja keras. Lalu, pesan apa yang dititipkan Masmu buat Ibu, La?"

Matanya kembali menatapku dengan binar penuh harap. Menunggu.

Aku menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam bola mata rentanya yang kini dipenuhi oleh cinta buta—cinta tanpa syarat yang justru menjadi senjata paling mematikan bagi dirinya sendiri.

"Minggu besok..." aku memulai kalimatku perlahan, mengeja setiap kata dengan hati-hati. "Mas Rendra sama Mbak Nita mau bikin acara aqiqah buat Adit di rumahnya."

Mata Ibu seketika membulat sempurna. Tangannya yang memegang ponsel gemetar semakin hebat.

"Dan... Mas Rendra ngundang kita, Bu. Mas Rendra minta Ibu datang ke sana hari Minggu besok."

Keheningan yang magis menyelimuti kami berdua selama beberapa detik. Ibu berdiri mematung. Napasnya seakan terhenti. Matanya menatapku tak berkedip, mencari kepastian di wajahku, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.

Lalu, tangis itu pecah.

Bukan tangis histeris, melainkan tangis tertahan dari kedalaman dada seorang ibu yang merindukan darah dagingnya. Ibu merengkuh pundakku, memelukku erat. Bau keringat, deterjen murah, dan aroma tubuh tuanya menguar, membungkusku dalam kehangatan yang menyakitkan.

"Alhamdulillah... Alhamdulillah, La..." isak Ibu di pundakku. Tubuhnya yang kurus kering berguncang-guncang. "Akhirnya, Nduk... Akhirnya Ibu bisa gendong Adit. Akhirnya Ibu bisa cium bau keringat cucu pertama Ibu. Ya Allah, Ibu senang banget, La. Doa Ibu dijawab. Masmu ternyata masih ingat sama Ibunya."

Mendengar kata-kata itu, melihat Ibu menangis tersedu-sedu karena bahagia, pertahananku akhirnya runtuh. Hatiku hancur berkeping-keping hingga tak bersisa. Aku balas memeluk tubuh ringkih itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahku di bahunya agar Ibu tidak bisa melihat air mataku yang kini mengalir deras membasahi daster batiknya.

Ibu tidak tahu. Ya Tuhan, ibuku sama sekali tidak tahu.

Ia tidak tahu bahwa undangan yang sedang ia tangisi dengan penuh rasa syukur ini bukanlah panggilan rindu dari seorang anak laki-laki yang berbakti. Undangan ini adalah sebuah perintah mutlak dari seorang majikan arogan kepada bawahannya yang tak berharga.

Di balik senyum bahagia yang merekah di wajah keriput Ibu, aku bisa melihat dengan sangat jelas bayangan mengerikan yang menanti kami di hari Minggu nanti. Aku melihat dapur mewah Mbak Nita yang dingin, lantai marmer yang mengkilap, tumpukan panci kotor sebesar baskom, piring-piring bekas makanan mewah, dan tatapan mata tajam merendahkan dari sang nyonya rumah yang akan menguliti harga diri Ibu inci demi inci.

Semua itu berputar di kepalaku seperti film horor yang terus berulang.

Dan yang paling membuatku merasa mual, putus asa, sekaligus marah pada takdir adalah kenyataan bahwa... ibuku, wanita yang paling berharga dalam hidupku ini, sedang melangkah masuk secara sukarela ke dalam jebakan penyiksaan mental itu, ke dalam neraka yang diciptakan oleh anak kandungnya sendiri, dengan hati yang penuh dengan cinta dan kerinduan yang membara.

Aku memejamkan mata dalam pelukan Ibu, menahan isak tangisku sendiri. Aku merasa undangan aqiqah ini bukanlah sekadar undangan acara keluarga biasa. Ini adalah undangan yang tak pernah tulus. Sebuah tiket menuju panggung teater, di mana ibuku akan dipaksa memainkan peran sebagai pihak yang terhina.