Malam telah merangkak turun, menyelimuti rumah petak kami dengan kegelapan pekat yang hanya bisa diusir oleh pendar cahaya kekuningan dari lampu pijar lima watt di ruang tengah. Hawa dingin dari luar mulai menyusup kurang ajar melewati celah-celah dinding bilik bambu di bagian belakang rumah, membawa serta nyanyian jangkrik yang bersahut-sahutan dari kebun pisang di sebelah gang. Sesekali, terdengar suara tikus berlarian di atas atap asbes, menimbulkan bunyi berderit yang mengganggu konsentrasi.
Aku duduk bersila di atas selembar kasur tipis bermotif kapuk yang tergelar seadanya di lantai semen. Di hadapanku, sebuah buku cetak pelajaran Biologi setebal bantal terbuka lebar, menampakkan gambar struktur sel yang rumit. Namun, sudah hampir setengah jam berlalu, dan mataku masih terpaku pada paragraf pertama. Huruf-huruf di buku itu seakan menari-nari tak jelas, melebur menjadi bayang-bayang wajah Mas Rendra dan suara melengking Mbak Nita yang terus berputar-putar di dalam kepalaku bagai kaset rusak.
Konsentrasiku hancur lebur. Percakapan telepon tadi sore telah menguras habis energiku, menyisakan sebuah lubang hitam berisi kemarahan dan keputusasaan di tengah dadaku.
Aku mengangkat wajah, memutar pandangan ke arah seberang ruangan.
Di bawah cahaya lampu kuning yang berkedip redup seolah kekurangan daya listrik itu, Ibu sedang duduk bersimpuh di atas sehelai tikar pandan yang anyamannya sudah banyak terkelupas. Punggungnya yang melengkung terlihat sangat ringkih, bagai ranting kering yang bisa patah tertiup angin kapan saja. Ia telah selesai mandi, mengenakan daster bersih yang warnanya tak kalah pudar dari daster yang ia pakai sore tadi. Aroma sabun mandi batangan murahan menguar samar dari tubuhnya.
Di atas pangkuan Ibu, terdapat sebuah benda yang sangat kukenal. Sebuah dompet kulit imitasi berwarna cokelat tua yang permukaannya sudah retak-retak. Resletingnya sudah rusak sejak bertahun-tahun yang lalu, sehingga Ibu harus mengikatnya dengan dua lapis karet gelang tebal agar isinyaβyang nyaris tak pernah penuh ituβtidak berceceran ke luar.
Dengan gerakan tangan yang sangat lambat dan berhati-hati, tangan yang masih sedikit gemetar akibat kelelahan fisik yang terakumulasi seharian menggosok ratusan helai pakaian di papan penggilasan, Ibu membuka ikatan karet gelang itu. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dalamnya.
Mataku menyipit, mencoba melihat apa yang sedang Ibu lakukan di tengah malam begini.
Lembaran uang kertas itu terlihat sangat menyedihkan. Lusuh, lecek, dan beberapa di antaranya sudah nyaris terbelah dua jika saja tidak direkatkan secara kasar dengan selotip bening. Ibu meletakkan lembaran itu satu per satu di atas pahanya. Ada beberapa lembar uang dua ribuan yang warnanya sudah nyaris abu-abu, beberapa lembar lima ribuan yang lecek parah, dan satu lembar sepuluh ribuan yang kondisinya paling bagus di antara yang lain.
Ibu menyusun uang itu dengan tingkat kehati-hatian yang menyerupai seseorang yang sedang menangani artefak berharga peninggalan zaman purba. Jari-jarinya yang kasar meratakan bagian tepi uang yang terlipat dengan usapan pelan berulang-ulang, sementara bibirnya bergerak tanpa suara, bergumam pelan menghitung jumlah harta karun kecilnya itu.
"Dua puluh... dua puluh lima... dua puluh tujuh..." gumaman Ibu nyaris tak terdengar, tenggelam oleh suara angin malam di luar sana.
Pemandangan itu menohok dadaku dengan kekuatan penuh. Napasku tercekat. Aku tahu persis dari mana uang itu berasal.
Sebulan yang lalu, aku secara tidak sengaja memergoki Ibu sedang memanggul sebuah keranjang plastik besar berisi tumpukan baju kotor di sebuah gang yang jaraknya cukup jauh dari rumah kami. Ketika kuinterogasi dengan keras, barulah Ibu mengaku sambil menangis bahwa ia mengambil pekerjaan tambahan sebagai buruh cuci panggilan untuk tetangga-tetangga di perumahan sebelah, karena penghasilan dari membuat gorengan titipan di warung Bu Tini tak lagi cukup untuk menutupi biaya spp sekolahku yang terus menunggak. Dan kini, melihat hasil keringat darah Ibu yang ditukar dengan rasa sakit di sekujur persendiannya itu disebar di atas pangkuan, hatiku terasa seperti diiris dengan sembilu karatan.
"Bu," panggilku tiba-tiba. Suaraku memecah keheningan ruangan, terdengar lebih keras dan serak dari yang kuduga. Aku tak sanggup lagi menahan gejolak emosi yang mendidih di dalam dada.
Ibu sedikit tersentak, bahunya melonjak kaget. Ia segera menoleh ke arahku, senyum lembut andalannya langsung terkembang di wajah tuanya yang lelah. "Iya, La? Kenapa, Nduk? Belajarnya sudah selesai? Jangan dipaksakan kalau sudah mengantuk, jangan malam-malam belajarnya. Nanti matamu rusak, besok di sekolah ngantuk."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Aku tidak merespons perhatiannya tentang pelajaranku. Tanganku bergerak secara otomatis, menutup buku Biologi setebal bantal itu dengan kasar. Brak! Suara dentuman buku yang membentur lantai semen terdengar nyaring, membuat Ibu kembali terkesiap.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku beranjak dari posisiku, merangkak mendekatinya melintasi tikar, dan berhenti tepat di hadapannya. Mataku tertuju lurus pada tumpukan uang lecek di atas daster Ibu.
"Itu uang buat apa, Bu?" tanyaku lambat-lambat, menuntut penjelasan, meskipun sebetulnya aku sudah bisa menebak jawabannya dengan sangat presisi. Firasatku mengatakan ini ada hubungannya dengan panggilan telepon keparat tadi sore.
Ibu terlihat sedikit salah tingkah. Ia buru-buru mengumpulkan kembali uang kertas itu, mengusapnya sekali lagi dengan penuh kasih sayang sebelum menjawab.
"Ini..." Ibu menatap tumpukan uang itu dengan mata berbinar-binar. Senyum di bibirnya perlahan melebar, menampilkan deretan gigi yang tak lagi utuh. "Ibu lagi kumpulin uang buat beli kado untuk Adit, La."
Dhuar! Rasanya ada petir yang menyambar tepat di ruang tengah rumah kami.
"Kado?" ulangku, suaraku nyaris tak terdengar karena tenggorokanku mendadak kering kerontang.
"Iya, kado buat cucu Ibu," jawab Ibu antusias, tidak menyadari perubahan drastis pada raut wajahku. "Masa iya kita datang ke acara aqiqah cucu pertama Ibu, anak pertamanya Mas Rendra, dengan tangan kosong? Malu rasanya, La. Ibu ingat, minggu lalu waktu Ibu jalan ke pasar buat beli sabun cuci kiloan, Ibu lihat di toko perlengkapan bayi yang besar itu ada selimut rajut halus yang bagus banget. Warnanya biru muda, ada gambar beruangnya. Ibu pegang bahannya lembut sekali, pasti nyaman kalau dipakai Adit buat tidur."
Ibu terdiam sejenak, menatap uang di tangannya dengan sedikit ragu, lalu melanjutkan dengan nada yang agak menurun namun masih dipenuhi harapan. "Harganya lumayan, lima puluh ribu. Ini uang celengan Ibu baru kumpul tiga puluh delapan ribu. Berarti kurang dua belas ribu lagi."
Tiga puluh delapan ribu rupiah.
Angka itu berdenging di kepalaku. Untuk mengumpulkan uang sebanyak itu dari hasil buruh cuci, Ibu harus berjongkok selama berjam-jam, menggosok kain-kain kotor milik orang asing hingga jari-jarinya keriput dan pinggangnya terasa mau patah. Lima puluh ribu adalah uang makan kami selama empat hari dengan menu tahu dan tempe. Dan Ibu, yang untuk makan sehari-hari saja rela hanya makan nasi berlauk sisa kuah sayur kemarin yang dihangatkan kembali, yang rela kakinya lecet karena terus memakai sandal jepit putus yang disambung dengan peniti, berencana menghabiskan seluruh sisa keringatnya demi sebuah selimut beruang biru?
"Besok pagi-pagi sekali," sambung Ibu dengan nada riang, seolah ia sedang membicarakan rencana liburan yang menyenangkan. "Ibu mau ambil cucian ekstra dari Bu Tini. Cuciannya lumayan banyak, habis hajatan. Kalau Ibu kerjakan semua sampai siang, lumayan dapat upah lima belas ribu. Pas buat nambahin beli selimut besok sore. Jadi hari Minggu pagi kita sudah siap berangkat bawa kado."
Duniaku serasa runtuh. Udara di dalam ruangan kecil ini tiba-tiba terasa tersedot habis keluar, membuatku kesulitan untuk menarik napas panjang. Aku menatap mata Ibu, menatap kerutan di sudut matanya, menatap rambut peraknya, dan menatap kebaikan hatinya yang begitu luas namun disalahgunakan.
"Nggak usah, Bu," suaraku serak, menahan tangis yang mendesak naik ke pangkal tenggorokan. "Nggak usah beli kado apa-apa."
"Loh, kok ngomongnya gitu?" Ibu mengerutkan keningnya, tampak bingung dengan reaksiku yang dingin. "Ini cucu pertama Ibu, La. Darah daging Masmu, darah daging keluarga kita. Ibu pengin kasih sesuatu yang berarti buat dia. Sesuatu yang bisa dia pakai sehari-hari, yang bikin dia merasa hangat."
"Mbak Nita nggak akan mau pakai selimut murah dari pasar loakan, Bu!"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku, tajam, menusuk, dan tanpa filter. Emosiku sudah mencapai ambang batas kesabaran. Aku tidak peduli jika kata-kataku terdengar kasar. Ibu harus disadarkan.
Ibu terdiam kaku. Tangannya yang masih memegang uang tiga puluh delapan ribu itu seketika berhenti di udara, seolah waktu tiba-tiba berhenti berdetak. Sorot matanya yang tadi berbinar cerah perlahan meredup, redup dengan sangat cepat, digantikan oleh awan mendung kesedihan yang gelap gulita. Awan mendung itu selalu berhasil membuatku merasa menjadi anak paling durhaka dan paling jahat di dunia karena telah melukainya.
"Ibu tahu," ucap Ibu pelan, suaranya kini nyaris seperti bisikan angin malam yang lirih. Tangannya turun perlahan ke pangkuannya. "Ibu tahu, La. Ibu tahu Mbak Nita pasti punya barang-barang perlengkapan bayi yang harganya jutaan, jauh lebih bagus dari ini. Selimut mahal dari luar negeri, baju bermerek... Ibu sadar kita ini siapa. Tapi..."
Ibu menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca menatapku. "Tapi ini dari Neneknya, La. Dari Ibu kandung suaminya. Mungkin... mungkin nanti kalau malam udaranya dingin, atau kalau AC di kamar mereka kelewat dingin dan selimut mahal mereka sedang dicuci, selimut murah dari Neneknya ini bisa dipakai buat bikin Adit hangat. Ibu cuma mau ngasih tahu Masmu, kalau Ibu sayang sama mereka. Ibu sayang sama cucu Ibu, meskipun Ibu miskin."
Aku menggelengkan kepala dengan frustrasi. Napasku menderu cepat. Air mata yang sejak sore mati-matian kutahan akhirnya tumpah juga, mengalir deras membasahi kedua pipiku tanpa bisa kuhentikan. Aku mencondongkan tubuh ke depan, meraih kedua tangan Ibu yang kasar, kapalan, dan berbau sisa deterjen itu, lalu menggenggamnya erat-erat di depan dadaku.
"Ibu nggak ngerti!" isakku, membiarkan dinding pertahanan emosiku runtuh sepenuhnya. "Ibu selalu saja begini! Ibu selalu mengalah dan mencari alasan buat mereka!"
"Lila, sayang..." Ibu mencoba melepaskan tangannya dengan lembut, namun aku menahannya dengan sekuat tenaga. Aku ingin menyalurkan semua keputusasaan dan kemarahanku melalui genggaman ini.
"Mas Rendra ngundang kita besok bukan karena dia kangen sama Ibu!" teriakku tertahan, membiarkan kebenaran yang kejam itu keluar dari mulutku, merobek ilusi indah yang telah dibangun Ibu sejak sore tadi. "Dia ngundang Ibu bukan supaya Ibu bisa duduk di kursi tamu, senyum-senyum sambil gendong Adit di acara itu!"
Keheningan yang mencekam turun menyelimuti ruangan. Suara jangkrik di luar rumah pun seakan berhenti berderik, terkejut mendengar ledakan amarahku. Ibu menatapku dengan mata terbelalak, mencerna setiap kata yang baru saja kumuntahkan. Aku bisa melihat keterkejutan yang luar biasa tergambar jelas di wajah tuanya. Bibir Ibu bergetar hebat, terbuka sedikit, namun tidak ada satu patah kata pun yang berhasil keluar dari sana.
"Mas Rendra suruh kita datang pagi-pagi buta sebelum subuh, Bu!" Aku melanjutkan dengan suara meninggi, memecah kesunyian malam, tidak peduli lagi apakah tetangga sebelah akan mendengarnya. "Dia sengaja nyuruh kita masuk lewat pintu samping! Dia suruh Ibu langsung masuk ke dapur belakang, jangan sampai kelihatan sama tamu-tamunya! Dia nyuruh Ibu masak dari pagi sampai sore buat acara syukurannya, karena Mbak Nita nggak mau repot, karena katering mahal mereka cuma disediakan khusus buat tamu-tamu kaya relasi bisnisnya!"
Aku menarik napas panjang di sela isak tangisku. "Mereka cuma mau jadiin Ibu pembantu gratisan, Bu! Ibu cuma dimanfaatkan tenaganya! Mereka nggak peduli Ibu punya uang buat beli kado atau nggak, mereka cuma peduli makanan di acara itu siap dan mereka nggak perlu keluar uang ekstra buat bayar tukang masak!"
Lengkap sudah. Semua bisa kumuntahkan. Semua rahasia busuk di balik undangan itu telah kulemparkan ke wajah ibuku sendiri.
Aku merasa sangat berdosa. Demi Tuhan, aku merasa seperti monster jahat yang baru saja mencekik satu-satunya harapan hidup ibuku. Tapi ini harus dihentikan. Semua kebodohan ini harus diakhiri. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah rela membiarkan Ibuku terus menerus merangkak, mengemis cinta dari orang-orang yang terus menginjak-injak harga dirinya hingga hancur lebur.
Ibu masih mematung. Matanya menatap kosong ke arah tanganku yang menggenggam tangannya. Tidak ada air mata yang jatuh, dan justru itulah yang paling mengerikan. Keterkejutan di wajahnya perlahan berubah menjadi sebuah penderitaan yang bisu, sebuah luka tak berdarah yang menembus hingga ke dasar jiwanya. Bahunya melorot tajam, seolah sisa tulang punggung yang menopang tubuhnya baru saja dipatahkan secara paksa.
"Kita nggak usah datang ya, Bu," pintaku memohon. Kemarahanku menguap seketika, digantikan oleh rasa putus asa yang dalam. Suaraku melemah menjadi rintihan yang menyedihkan. Aku menundukkan kepalaku hingga dahiku menyentuh punggung tangan Ibu yang kasar.
"Lila mohon sama Ibu... kita nggak usah datang," isakku, membasahi tangannya dengan air mataku. "Lila nggak mau lihat Ibu dihina sama Mbak Nita. Lila nggak sanggup lihat Ibu disuruh kerja rodi, jongkok seharian di dapur cuci piring bekas makan mereka, sementara orang-orang kaya itu duduk-duduk enak di ruang tamu ber-AC, makan enak, ketawa-ketawa tanpa tahu penderitaan Ibu. Kita di rumah aja besok ya, Bu? Uang tiga puluh delapan ribu itu mending kita belikan beras sama ayam, kita masak enak berdua di rumah. Nggak usah pedulikan mereka. Tolong, Bu..."
Suasana hening kembali merajai ruangan. Hanya suara isak tangisku yang terdengar memilukan.
Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik berlalu.
Lalu, kurasakan pergerakan pelan dari tangan Ibu. Dengan sangat perlahan, ia menarik tangannya dari genggamanku. Bukan sentakan kasar karena marah, melainkan tarikan halus namun penuh penolakan. Ibu membetulkan posisi duduknya, menunduk, dan dengan gerakan mekanis yang sangat lambat, ia kembali menyusun uang kertasnya, memasukkannya satu per satu ke dalam dompet kulit imitasi yang rusak itu, lalu mengikatnya kembali dengan karet gelang dengan teliti.
"La," suara Ibu akhirnya terdengar.
Aku mengangkat wajahku, bersiap menerima kemarahannya. Namun yang kudengar bukanlah nada tinggi atau makian. Suara Ibu terdengar aneh, sangat tenang, mendatar, seolah tidak ada emosi di sana. Tidak ada kemarahan, namun ada sebuah kepasrahan yang begitu mendalam, sebentuk keikhlasan tingkat tinggi yang justru terasa ribuan kali lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan di pipi.
"Ibu ini orang tua."
"Tapi mereka nggak bertingkah seperti anak, Bu!" bantahku sengit, tak terima dengan argumen klisenya.
"Bagaimanapun sifat Rendra sekarang, La..." Ibu mengangkat wajahnya perlahan. Kini, matanya kembali dipenuhi oleh genangan air mata yang siap tumpah kapan saja. "Bagaimanapun kasarnya perlakuan Nita sama Ibu, bagaimanapun sombongnya mereka sekarang... Rendra itu tetap anak laki-laki Ibu."
Aku menggeleng kuat-kuat. "Dia monster, Bu! Dia bukan Mas Rendra yang dulu!"
Ibu tersenyum pedih. "Dulu... belasan tahun yang lalu waktu Bapakmu baru meninggal, waktu Rendra masih seumur kamu sekarang, dia yang tiap hari subuh bangun untuk bantuin Ibu bikin adonan gorengan. Dia yang rela nggak ikut ekstrakurikuler di sekolah demi bisa bonceng Ibu ke pasar jam tiga pagi pakai sepeda ontel butut yang rantainya sering putus. Dia yang nangis waktu Ibu pingsan karena kecapekan jualan."
Air mata mulai mengalir deras membasahi pipi keriputnya, namun senyumnya tak hilang.
"Rendra yang kamu lihat sekarang mungkin keras. Mungkin dia terpengaruh lingkungan, mungkin dia egois karena tuntutan hidup orang kaya, atau mungkin dia terlalu nurut sama istrinya sampai lupa sama ibunya sendiri. Tapi di dalam sana, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tetap anak laki-laki kecil Ibu yang dulu pernah rela lapar demi ngasih jatah makannya buat Ibu."
Aku terisak hebat. Memoriku terlempar ke masa lalu. Ya, aku ingat masa-masa itu. Masa di mana kami sangat miskin tapi masih menjadi sebuah keluarga yang hangat, utuh, dan saling menyayangi. Masa sebelum kesuksesan finansial, ijazah sarjana tinggi, dan harta benda mengubah kakak-kakakku menjadi orang asing yang kejam dan tak punya hati.
"Kalau sekarang, di saat dia sedang merayakan kelahiran anaknya, Rendra butuh tenaga Ibu buat bantu-bantu masak di dapur belakang..." Ibu mengusap air matanya sendiri dengan ujung lengan dasternya. "Ya tidak apa-apa, Nduk. Sama sekali tidak apa-apa. Ibu masih kuat, kok. Ibu masih sanggup masak besar. Toh, yang Ibu masak itu untuk acara syukuran cucu Ibu sendiri. Ibu niatkan untuk sedekah tenaga buat darah daging Ibu. Insya Allah dapat pahala besar, La."
"Bu... Ibu nggak bisa terus-terusan mengorbankan harga diri Ibu kayak gini," bisikku lirih, kehabisan argumen menghadapi cinta butanya yang tak tertembus logika.
"Harga diri orang tua itu ada pada kebahagiaan anak-anaknya, La," jawab Ibu lembut. "Nggak apa-apa kalau Mbak Nita nggak suka sama Ibu. Nggak apa-apa kalau Ibu nggak boleh duduk di depan, di ruang tamu bergabung sama tamu-tamu penting mereka. Asal Ibu bisa ada di rumah itu besok... Asal Ibu bisa dengar suara tangis cucu Ibu dari jauh meski hanya dari balik pintu dapur... Asal Ibu bisa sekilas lihat wajah Masmu sehat dan bahagia sama keluarga kecilnya... Ibu sudah sangat bersyukur, Ibu sudah sangat senang."
Ibu mencondongkan tubuhnya ke depan, mengangkat tangannya dan mengusap sisa air mata di pipiku dengan ibu jarinya yang kasar. Sentuhannya terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan kerasnya kenyataan yang harus kami hadapi.
"Kita tetap berangkat besok pagi ya, Nduk? Janji sama Ibu." Mata rentanya menatapku memohon. "Temani Ibu ke rumah Masmu. Kita jalan pelan-pelan ke sana. Ya?"
Aku menatap lekat ke dalam mata Ibu. Aku mencari secercah keraguan di sana, secercah keinginan untuk melawan ketidakadilan ini. Namun yang kutemukan hanyalah keteguhan. Keteguhan dalam pandangannya itu layaknya dinding karang raksasa di tengah lautan yang tidak akan pernah bisa kuhancurkan, sekeras apa pun ombak argumenku menghantamnya.
Cintanya kepada Mas Rendra, dan mungkin juga kepada Mbak Maya, telah lama membutakan logika Ibu. Bagi Ibu, anak-anaknya adalah dewa kecil yang tak pernah berbuat salah, sementara ia adalah abdi yang siap dikorbankan kapan saja.
Di bawah cahaya lampu kuning yang terus berkedip, melihat sosok ringkih ibuku yang dengan ikhlas bersiap menyerahkan jiwanya untuk kembali diinjak-injak di hadapan publik esok hari, sesuatu di dalam relung hatiku yang paling dalam patah dan berubah wujud. Keputusasaan dan kelemahan yang tadinya menguasai hatiku perlahan-lahan membeku, mengkristal menjadi sebuah tekad yang luar biasa dingin, keras, dan tajam.
Jika Ibu memilih untuk menjadi tameng tak berdaya yang terus-terusan menerima pukulan demi melindungi anak-anak durhakanya, maka harus ada seseorang yang berdiri di depan Ibu untuk membalas pukulan itu. Dan satu-satunya orang itu adalah aku.
"Iya, Bu," bisikku pada akhirnya, suaraku terdengar pelan namun sarat akan ketegasan yang tak biasa. "Kita berangkat besok pagi sebelum subuh."
Mendengar jawabanku, senyum kelegaan terpancar kuat di wajah Ibu. Seolah sebuah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Ia mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang, membisikkan kata 'Terima kasih, anakku sayang', sebelum akhirnya ia berdiri dengan susah payah, mengeluh pelan karena lututnya yang nyeri, lalu berjalan tertatih menuju kamar tidurnya yang sempit untuk menyiapkan daster terbaiknyaβyang mana tetap saja terlihat kumalβuntuk acara esok hari.
Aku masih duduk bersila di atas kasur tipis di ruang tengah. Aku memalingkan wajah, menatap ke arah luar jendela kayu yang tidak berkaca, hanya dilapisi kawat nyamuk yang sudah robek di sana-sini. Di luar sana, kegelapan malam begitu pekat, sepekat hari esok yang menanti kami di ujung jalan sana.
Tanganku perlahan mengepal di atas paha. Kuku-kukuku menancap dalam ke telapak tangan hingga terasa perih, namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan rasa sakit di dalam dadaku.
Aku akan ikut, Bu, batinku bersumpah dalam keheningan malam, disaksikan oleh nyanyian jangkrik dan embusan angin dingin.
Aku akan ikut bukan untuk membantumu mencuci piring kotor di dapur. Aku ikut bukan untuk menurut pada perintah gila Mas Rendra. Aku ikut untuk berdiri sebagai perisai di depanmu. Kalau besok, ada satu saja... satu saja kata merendahkan dari mulut Mas Rendra, atau satu saja tatapan menghina dari perempuan sombong itu yang ditujukan kepadamu, aku tidak akan lagi diam dan menangis di pojokan seperti dulu.
Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan udara malam yang dingin.
Besok, perjalanan panjang menuju rumah mewah di perumahan elite itu bukanlah perjalanan keluarga bagi kami. Itu bukan ajang silaturahmi. Itu adalah langkah awal pertempuran yang tak terhindarkan. Aku akan melindungi kehormatan ibuku, apa pun taruhannya. Dan aku bersumpah demi Tuhan, aku akan memastikan mereka mengerti bahwa kesabaran Ibuku bukanlah sebuah kelemahan yang bisa terus mereka eksploitasi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar