Gerbang raksasa berwarna hitam pekat dengan ornamen tembaga yang menjulang tinggi itu akhirnya berada tepat di depan kami. Tulisan "Cluster Emerald Residence" terpampang angkuh di atasnya, diterangi lampu sorot yang menyilaukan mata.

Aku menghentikan laju motor tua kami tepat di depan portal penjagaan. Suara mesin Astrea Grand yang bergetar kasar terdengar sangat sumbang di tengah keheningan pagi kawasan elite ini. Dua orang petugas keamanan berseragam safari gelap lengkap dengan HT di bahu segera keluar dari pos jaga. Tatapan mereka memindai kami dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sorot mata mereka tajam, penuh dengan selidik dan kecurigaan yang tak ditutup-tutupi.

Wajar saja mereka curiga. Di antara deretan mobil mewah yang mungkin sering berlalu lalang di gerbang ini, kehadiran sebuah sepeda motor butut berasap, ditumpangi oleh seorang remaja berjaket rajut lusuh dan seorang wanita paruh baya berkebaya pudar yang membawa kresek hitam, jelas terlihat seperti noda kotor di atas kanvas putih yang mahal.

"Maaf, mau ke mana sepagi ini, Bu?" tanya salah satu satpam dengan nada tegas, sama sekali tidak menyembunyikan gestur tubuhnya yang menghalangi jalan kami.

Ibu segera turun dari boncengan. Dengan susah payah ia meluruskan kakinya yang kaku, menahan ringisan sakit, lalu berjalan mendekati satpam itu. Tubuhnya sedikit membungkuk, menampilkan gestur sopan santun khas orang kampung yang justru membuatku merasa terhina.

"Selamat pagi, Pak," sapa Ibu dengan senyum ramahnya yang tulus. "Kami mau ke rumah anak saya, Pak. Namanya Rendra, di blok C nomor delapan."

Satpam itu mengerutkan kening, saling pandang dengan temannya. "Pak Rendra yang direktur itu? Ibu ini siapanya?"

"Saya ibunya, Pak. Hari ini kan ada acara syukuran aqiqah cucu saya di rumahnya, jadi saya disuruh datang pagi-pagi untuk bantu-bantu siapin di dapur," jelas Ibu polos, sama sekali tidak menyadari bahwa kata-katanya baru saja merendahkan derajatnya sendiri dari seorang 'tamu kehormatan' menjadi 'bantuan dapur'.

Wajah satpam itu sedikit mengendur, meski sisa-sisa kecurigaan masih ada. Ia mencatat sesuatu di buku tamunya, lalu membuka portal dengan perlahan. "Oh, keluarga Pak Rendra. Silakan masuk, Bu. Lurus saja, nanti di pertigaan kedua belok kiri. Rumahnya yang pagar abu-abu paling besar di sudut jalan."

"Terima kasih banyak, Pak. Semoga Bapak sehat selalu ya," doa Ibu tulus sebelum kembali menaiki boncengan motor.

Aku memacu motor melewati portal dengan perasaan campur aduk. Rasa malu, marah, dan sakit hati melebur menjadi satu. Aku benci melihat Ibuku harus merendah dan membungkuk-bungkuk hanya untuk masuk ke rumah anaknya sendiri.

Kami menyusuri jalanan aspal paving block yang tertata rapi. Kiri kanan jalan dihiasi oleh rumah-rumah gedongan dengan arsitektur Eropa klasik atau modern minimalis yang megah. Tak ada pagar di antara rumah-rumah itu, hanya hamparan rumput hijau yang dipotong sempurna.

Setelah berbelok ke kiri di pertigaan kedua, bangunan itu langsung menyita pandanganku. Blok C Nomor Delapan. Sebuah rumah berlantai dua yang berdiri paling megah di sudut jalan. Dindingnya dicat dengan warna putih tulang dan abu-abu gelap. Jendela-jendela kacanya menjulang tinggi dari lantai hingga ke langit-langit. Di halaman depannya yang luas, terparkir sebuah mobil SUV hitam mengkilap yang mencerminkan kesuksesan finansial sang pemilik.

Aku mematikan mesin motor. Kesunyian seketika menyergap kami, hanya terdengar suara kicauan burung pagi dari atas pohon mangga yang rindang di sudut taman rumah.

Kami turun dari motor. Aku menuntun rongsokan tua itu dan memarkirkannya di trotoar luar halaman, di bawah bayang-bayang pagar tembok samping yang tinggi, agar tidak 'merusak' pemandangan rumah mewah tersebut.

Ibu berdiri terpaku di depan pilar teras yang menjulang. Matanya menyapu keseluruhan bangunan besar itu dengan kekaguman yang tak bersuara. Tangannya mendekap erat tas kado dan kresek hitam di dadanya.

"Masya Allah, La... rumah Masmu besar banget, ya?" bisiknya dengan suara bergetar. Sebuah senyum bangga perlahan mengembang di bibirnya. "Kerja keras Bapakmu dulu nggak sia-sia. Rendra udah jadi orang sukses sekarang. Ibu bangga banget sama Masmu."

Aku mengabaikan komentarnya. Kebanggaan Ibu adalah pedang bermata dua yang selalu menusuk dadaku. Aku melangkah menaiki tiga anak tangga teras yang terbuat dari marmer hitam dingin, menuju pintu kayu jati ganda yang berukuran sangat besar. Kucari-cari bel pintu dan menemukannya menyala biru di samping kusen.

Ting-tong... Ting-tong...

Suara bel bergema halus dari dalam rumah. Aku melangkah mundur, berdiri di samping Ibu. Kami menunggu. Angin pagi yang dingin kembali bertiup, membawa serta embun dari hamparan rumput taman yang menusuk tulang. Ibu merapatkan selendangnya. Aku bisa melihat bibirnya mulai memucat, dan kakinya sedikit gemetar menahan bobot tubuhnya dan udara dingin.

Satu menit berlalu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam.

Tiga menit. Lima menit.

"Mungkin mereka belum bangun, La. Ini kan masih jam enam kurang," kata Ibu, mencoba mencari alasan pembenar. "Tadi Masmu bilangnya disuruh sampai sini habis subuh. Mungkin maksudnya agak siangan dikit."

Aku mendecak kesal. "Tadi malam Mas Rendra bilangnya berangkat habis subuh langsung. Dia kan tahu jarak dari rumah kita ke sini berapa jam, Bu. Harusnya dia udah bangun nungguin ibunya datang."

Ting-tong... Ting-tong... Aku menekan bel itu lagi, kali ini sedikit lebih panjang.

Kembali, hanya keheningan yang menjawab.

Menit demi menit merangkak dengan sangat lambat dan menyiksa. Udara pagi bukannya menghangat, malah terasa semakin menggigit tulang. Kami berdiri di teras marmer itu seperti pengemis yang sedang menunggu sedekah dari tuan rumah. Setiap kali angin bertiup, Ibu akan menggigil kecil, namun ia dengan cepat berusaha menutupinya dengan membetulkan letak tasnya.

Melihat Ibu mulai kepayahan berdiri, aku tak tahan lagi. "Lila telepon Mas Rendra aja ya, Bu? Suruh dia turun bukain pintu. Kasihan Ibu kedinginan nunggu di luar begini." Aku merogoh saku jaketku, mengambil ponsel retak milik Ibu.

"Eh, jangan, La! Jangan ditelepon!" Ibu tiba-tiba meraih tanganku, mencegahku dengan panik. Matanya membulat memperingatkan. "Mbak Nita kan baru punya bayi, bayinya pasti sering begadang. Kalau kamu telepon sekarang, nanti suara HP-nya ngebangunin mereka. Kasihan menantu Ibu, dia pasti lagi capek banget butuh istirahat. Nanti kalau Mbak Nita kebangun dan mood-nya jelek, dia bisa marah seharian. Kita tunggu aja dulu."

Aku menggeram tertahan. "Terus Ibu mau berdiri di sini sampai jam berapa? Sampai kaki Ibu copot karena rematik?!" suaraku meninggi tak terkendali. Emosiku sudah di ubun-ubun.

"Sst, pelan-pelan suaranya, La. Nggak enak didengar tetangga. Nggak apa-apa, Ibu masih kuat berdiri kok. Kita tunggu sebentar lagi ya," bujuknya dengan senyum memelas yang justru membuat hatiku semakin perih.

Tiga puluh menit berlalu dalam penderitaan fisik dan mental. Aku mondar-mandir di teras, sementara Ibu akhirnya bersandar pada pilar besar rumah itu karena kakinya sudah tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Wajahnya semakin pucat, napasnya sedikit pendek-pendek.

Baru saja aku memutuskan untuk mengabaikan larangan Ibu dan menelepon Mas Rendra detik itu juga, terdengar bunyi klik dari arah dalam. Suara gerendel besi yang ditarik, disusul oleh suara kenop pintu yang diputar.

Pintu kayu jati raksasa itu berderit pelan, terbuka ke dalam.

Sebentuk kehangatan buatan dari mesin pendingin udara sentral yang disetel pada suhu nyaman segera menguar keluar, menabrak udara pagi yang dingin. Bersamaan dengan itu, semerbak aroma parfum mahal yang sangat wangi—perpaduan antara bunga lavender dan vanilla—menggelitik hidung kami, menutupi bau keringat dan asap knalpot yang menempel di tubuh kami.

Di ambang pintu, berdirilah Mbak Nita.

Ia mengenakan gaun tidur berbahan sutra berwarna peach yang terlihat sangat mahal dan jatuh sempurna di lekuk tubuhnya yang mulai kembali langsing pasca melahirkan. Sebuah robe atau jubah mandi berbahan beludru tipis membalut tubuh bagian luarnya. Rambut panjangnya yang direbonding tergerai rapi, tidak menunjukkan tanda-tanda orang yang baru bangun tidur. Wajahnya bersih, bersinar, tanpa setitik pun noda.

Mbak Nita berdiri di sana dengan tangan bersedekap di dada. Alih-alih senyum ramah atau sapaan hangat untuk menyambut mertuanya yang sudah menempuh perjalanan jauh di subuh yang dingin, yang kudapatkan hanyalah tatapan datar yang sedingin es batu.

Matanya yang dihiasi eyelash extension itu memindai kami dari atas ke bawah. Tatapannya berhenti sejenak pada jaket usangku, lalu turun ke arah kebaya pudar Ibu, dan berakhir pada tas plastik anyaman serta kresek hitam yang digenggam Ibu. Ada sedikit kerutan jijik di pangkal hidungnya yang mancung. Ia menatap kami persis seperti seseorang yang tak sengaja menemukan dua ekor kucing kampung kudisan yang tersesat di teras rumahnya yang bersih.

"Eh... Mbak Nita. Assalamualaikum, Mbak," sapa Ibu lebih dulu. Suaranya terdengar sedikit gemetar. Ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri tegak, menjauh dari pilar tempatnya bersandar. Senyum lebar dipaksakan terukir di wajah pucatnya. "Gimana kabarnya, Mbak? Adit sehat?"

Mbak Nita tidak membalas salam itu. Ia mendesah pelan, sebuah desahan panjang yang sarat akan rasa muak dan ketidaknyamanan.

"Kalian ini dari jam berapa di depan?" tanyanya tanpa basa-basi, suaranya ketus dan datar. "Kok nggak telepon Rendra kalau udah sampai? Tadi aku dengar suara bel, tapi aku pikir orang iseng. Ini kan masih jam setengah tujuh, acara mulainya nanti jam satu siang."

Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Orang iseng? Tiga puluh menit bel ditekan dan dia pikir orang iseng?

"Anu, Mbak... tadi malam Mas Rendra bilangnya disuruh sampai sini habis subuh, biar nggak kena macet," Ibu mencoba menjelaskan dengan nada memelas. "Ibu nggak mau nelpon karena takut ngebangunin Mbak Nita sama Adit. Nggak apa-apa kok Mbak kami nunggu di luar, kami... kami udah biasa nunggu."

Mbak Nita memutar bola matanya malas. "Ya udah, terserah deh. Lagian, ngapain sih repot-repot bawa tas plastik merah segala? Bikin sempit dapur aja," keluhnya sambil menunjuk tas kado Ibu dengan dagunya.

"Ini... ini kado buat Adit, Mbak. Selimut buat cucu Ibu," jawab Ibu cepat, matanya berbinar penuh harap, menyodorkan tas itu sedikit ke depan.

Mbak Nita bahkan tidak meliriknya. Ia hanya mendengus meremehkan. "Nanti aja ditaruh di keranjang kado di pojokan. Adit udah punya selimut khusus hypoallergenic, nggak bisa pakai barang sembarangan dari pasar, takut kulitnya merah-merah. Oh ya..." pandangannya kini beralih pada kresek hitam di tangan kiri Ibu. "Pisau sama celemek yang aku suruh bawa, dibawa kan?"

"Bawa, Mbak. Ini, Ibu bawa di kresek hitam. Talenan kayunya juga Ibu bawa sekalian," Ibu mengangkat kresek itu dengan patuh.

"Bagus," tukas Mbak Nita singkat.

Ia kemudian mundur selangkah, namun tangannya tetap memegang gagang pintu, tidak berniat membukanya lebih lebar untuk mempersilakan kami masuk.

"Dengerin ya, Ibu, Lila," kata Mbak Nita dengan nada memerintah layaknya seorang mandor kepada buruh kasarnya. "Itu di ruang tamu lagi ada orang decor yang baru mulai setting bunga sama balon, karpetnya juga baru di-vacuum bersih. Kalau kalian masuk lewat pintu depan, takutnya kotor kena debu dari sepatu sama baju kalian. Lagian bau asep knalpotnya nyengat banget."

Mataku membelalak. Dadaku terasa seperti dihantam balok beton. Penghinaan itu dilontarkan secara terang-terangan di depan wajah ibuku, tanpa tedeng aling-aling.

Mbak Nita mengangkat tangannya, menunjuk ke arah gang kecil sempit di samping rumah yang memisahkan garasi dengan dinding pembatas tetangga.

"Kalian lewat samping aja. Di situ ada pintu besi warna cokelat, didorong aja nggak dikunci. Itu langsung tembus ke dapur kotor di belakang. Di meja island udah ada bahan-bahan masakannya: ayam empat puluh potong, kentang dua karung kecil buat dibikin sambal goreng, sama bumbu-bumbu yang harus dikupas. Mulai dikerjain aja dari sekarang biar jam sebelas udah beres semua. Aku mau naik ke atas lagi, nyusuin Adit."

Tanpa memberikan kesempatan bagi kami untuk merespons, apalagi menanyakan apakah Ibu boleh duduk sebentar, meminum segelas air hangat, atau sekadar melihat wajah cucunya, Mbak Nita langsung menarik pintu ke dalam.

Brak!

Pintu kayu jati itu ditutup dengan keras tepat di depan wajah kami. Bunyi klik gerendel yang dikunci kembali terdengar menggema di telingaku.

Aku berdiri membeku. Darahku mendidih hebat hingga pandanganku terasa buram. Tanganku terkepal begitu kuat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tanganku sendiri, meneteskan setitik darah dari sana. Emosiku meluap, rasa marah, hina, dan jijik bercampur aduk mengoyak kewarasanku.

Aku menoleh ke arah Ibu.

Ibu masih berdiri di posisi yang sama. Senyum canggung yang dipaksakannya perlahan-lahan luntur dari wajah keriputnya. Matanya yang rabun menatap kosong ke arah pintu kayu tertutup yang baru saja dibanting di hadapannya. Tangannya yang keriput dan gemetar masih memegang tas berisi selimut seharga tiga puluh delapan ribu hasil buruh cuci itu, mendekapnya erat-erat seolah benda mati itu adalah satu-satunya pelindung yang bisa menyelamatkannya dari hancurnya harga diri.

Aku bisa melihat dada Ibu naik turun. Ia menelan ludah dengan susah payah. Namun, dengan sisa-sisa kewarasan yang entah terbuat dari apa, Ibu membalikkan badannya menghadapku. Ia mencoba tersenyum, meski matanya jelas menyiratkan rasa sakit yang luar biasa dalam.

"Ayo, La," bisiknya parau, suaranya nyaris pecah. "Kita lewat samping. Kasihan ayamnya kalau nggak cepat dibersihkan, nanti keburu siang."

Menyaksikan ibuku sendiri menundukkan kepala dan berjalan dengan langkah terseret menuju gang kecil tempat para pelayan dan asisten rumah tangga biasa berlalu lalang, pertahananku benar-benar hancur.

Ini bukanlah rumah dari darah dagingnya. Rumah raksasa yang berdiri megah ini tak lagi memiliki sekat keramahan bagi wanita yang telah melahirkan pemiliknya. Realitas menghantamku dengan sangat brutal detik itu juga.

Kami tidak pernah dianggap sebagai tamu di sini, apalagi sebagai keluarga. Kami hanyalah babu yang tak dibayar, pengganggu kelas bawah yang tenaganya dikuras namun keberadaannya disembunyikan di balik kemewahan mereka. Dan luka ini, baru saja dimulai.