Udara pukul setengah empat pagi di kota kecil kami selalu terasa seperti jarum-jarum es yang tak kasat mata, menusuk langsung ke pori-pori kulit hingga ke sumsum tulang. Di jam-jam seperti ini, langit masih berupa hamparan terpal hitam legam tanpa bintang. Kabut tipis merayap di atas jalanan aspal yang berlubang, sementara ayam-ayam jago tetangga pun belum berani berkokok untuk memecah keheningan malam yang membeku.

Aku terbangun bukan karena bunyi alarm, melainkan karena suara batuk tertahan dari arah dapur. Mataku yang masih berat terbuka perlahan. Di bawah pendar lampu neon lima watt yang sudah berkedip-kedip minta diganti, aku tidak menemukan sosok Ibu di atas kasur tipis di sebelahku. Selimut motif kotak-kotak yang sudah tipis karena terlalu sering dicuci terlipat rapi di sudut.

Aku segera bangkit, merapatkan jaket rajut usangku, dan berjalan menuju dapur. Pemandangan yang menyambutku membuat dadaku seketika terasa nyeri, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku dari dalam.

Ibu sedang duduk di dingklik kayunya. Ia mengenakan kebaya kutu baru berwarna cokelat pudar yang dipadukan dengan kain jarik yang sudah diwiru rapi—pakaian terbaik yang ia miliki, yang hanya dikeluarkan dari lemari kamper jika ada hajatan penting. Di lehernya melingkar sehelai selendang tipis bermotif batik untuk menahan dingin.

Namun, bukan pakaiannya yang membuatku terpaku. Tangannya yang keriput sedang sibuk membalurkan balsem otot berwarna hijau pekat ke kedua lututnya. Bau menyengat dari balsem murahan itu langsung memenuhi seisi dapur, mengalahkan aroma udara pagi. Aku bisa melihat wajah Ibu meringis pelan setiap kali ia menekan persendian lututnya. Rematiknya kumat. Semalaman suntuk bekerja keras mencuci tumpukan baju tetangga, ditambah udara subuh yang sedingin es ini, adalah kombinasi mematikan bagi tulang-tulang tuanya.

Di atas meja dapur, sudah tergeletak sebuah tas anyaman plastik berwarna mencolok. Dari celah anyamannya, aku bisa melihat bingkisan kado yang dibungkus kertas kado murah bermotif kartun yang sepertinya sisa dari tahun lalu, diikat dengan pita plastik seadanya. Di sebelahnya, ada sebuah kantong kresek hitam yang terlihat berat.

"Bu," panggilku pelan, tak ingin mengejutkannya.

Ibu menoleh, senyumnya langsung terkembang menutupi ringisan kesakitannya. Ia buru-buru menurunkan kain jariknya untuk menutupi lututnya, lalu menyeka sisa balsem di tangannya ke sehelai lap kotor.

"Loh, kamu sudah bangun, La? Ibu baru mau bangunin kamu. Cepat mandi sana, airnya sudah Ibu panaskan sedikit di panci biar kamu nggak kedinginan. Habis itu kita langsung berangkat. Takut kesiangan sampai sana." Suaranya terdengar riang, sangat kontras dengan sisa ringisan di sudut bibirnya.

Aku berjalan mendekat, mataku tertuju pada kresek hitam di atas meja. "Kresek hitam ini isinya apa, Bu?" tanyaku penuh curiga.

Ibu menepuk kresek itu dengan pelan. "Oh, ini. Ini pisau daging punya kita, celemek, sama sikat panci, La. Kemarin kan Masmu pesan lewat kamu, Mbak Nita minta Ibu bawa alat-alat sendiri biar nggak merusak barang mahal di dapur mereka. Ibu juga bawa talenan kayu kita sekalian, takutnya di sana nggak ada talenan yang kuat buat motong daging besar."

Darahku kembali mendidih. Gigiku bergemeretak menahan amarah yang kembali tersulut. Ibu benar-benar melakukannya. Ia menuruti perintah merendahkan itu tanpa sedikit pun merasa dihina. Ia membawa peralatan tempurnya sendiri dari gubuk reyot ini ke istana mereka, seolah membenarkan posisinya sebagai babu rendahan yang tak pantas menyentuh barang-barang majikan.

"Ibu ngapain sih repot-repot bawa beginian?" suaraku meninggi, tak bisa lagi menyembunyikan kekesalanku. "Kalau mereka nggak mau barangnya dipakai, ya suruh aja mereka potong dagingnya sendiri! Kenapa Ibu harus yang ngalah sampai bawa-bawa pisau dari rumah? Kita ini mau datang ke aqiqah cucu Ibu, bukan mau melamar kerja jadi asisten rumah tangga!"

"Ssst... La, jangan mulai lagi ah. Masih pagi ini, pamali marah-marah," tegur Ibu lembut namun tegas. Ia berdiri dengan sedikit tertatih, bertumpu pada pinggiran meja. "Ibu bawa ini supaya Mbak Nita tenang. Orang hamil dan menyusui itu bawaannya sensitif, kita yang waras harus ngalah. Lagian, Ibu lebih nyaman pakai pisau sendiri, lebih tajam dan udah pas di tangan Ibu. Udah, sana mandi. Nanti Masmu nungguin."

Aku membuang napas kasar melalui hidung, menahan segala makian yang ingin kulemparkan kepada dunia. Percuma berdebat dengan Ibu. Cinta membutakannya hingga ke titik di mana ia tak lagi bisa membedakan antara pengorbanan dan penghinaan.

Setengah jam kemudian, kami sudah berada di halaman depan rumah. Angin subuh berembus kencang, menembus jaketku hingga membuat bulu kudukku berdiri. Di depanku, berdiri sebuah sepeda motor Astrea Grand keluaran tahun sembilan puluhan, harta warisan satu-satunya dari almarhum Bapak yang masih tersisa. Cat hitamnya sudah mengelupas di banyak bagian, knalpotnya keropos, dan joknya ditambal dengan lakban hitam tebal.

Aku menaiki motor itu dan mulai menginjak pedal sela—karena starter elektriknya sudah mati entah sejak kapan. Sekali, dua kali, tiga kali. Mesin tua itu hanya terbatuk-batuk kecil sebelum kembali mati. Keringat dingin mulai bermunculan di dahiku meskipun udara sangat dingin. Tenagaku yang belum terisi sarapan terasa cepat terkuras.

Di belakangku, Ibu berdiri menenteng tas anyaman plastik itu. Ia merapatkan selendang batiknya, tubuh ringkihnya sedikit gemetar menahan dingin. Namun, tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya. Matanya justru menatap ke depan, menembus kegelapan jalanan gang, seolah ia sudah bisa melihat wajah cucunya di ujung jalan sana.

"Ayo, motor kesayangan Bapak, bangun dong," gumamku frustrasi sambil menginjak pedal kuat-kuat untuk yang kesepuluh kalinya.

Brum... brum... pet. Mati lagi.

"Pelan-pelan, La. Jangan emosi. Diajak ngomong motornya, kayak Bapakmu dulu," sahut Ibu dari belakang.

Aku mendecak kesal. Di saat seperti ini Ibu masih bisa mengaitkan rongsokan ini dengan kenangan romantis masa lalunya. Dengan sisa tenaga, aku mengatur napas, memutar gas perlahan, dan menginjak pedal sela dengan hentakan penuh.

Brumm... Tar-tar-tar-tar...

Akhirnya, mesin tua itu menyala, mengeluarkan asap putih tipis dari knalpotnya yang bising, memecah kesunyian subuh.

"Alhamdulillah," ucap Ibu lega. Ia kemudian memanjat jok belakang motor dengan hati-hati. Gerakannya sangat lambat, dan aku bisa mendengar tarikan napas tertahannya saat ia harus menekuk lutut kanannya untuk naik.

"Ibu pegangan yang kuat ya," pesanku sambil memasukkan gigi satu. Terdengar bunyi klak yang kasar dari kotak mesin. "Jalannya masih gelap."

"Iya, Nduk. Bismillah. Hati-hati bawanya."

Motor tua kami pun melaju membelah kegelapan subuh. Lampu depannya yang redup dan berwarna kekuningan hanya mampu menerangi jalan sejauh tiga meter ke depan, membuatku harus ekstra waspada menghindari lubang-lubang aspal yang sering menjadi jebakan mematikan di jalanan pinggiran kota.

Angin pagi menghantam wajahku seperti tamparan es. Aku menundukkan kepala sedikit ke balik speedometer yang sudah tak berfungsi, mencoba mencari perlindungan dari angin. Di belakangku, aku bisa merasakan tubuh Ibu menempel erat. Tangan kanannya melingkar di pinggangku, dan tangan kirinya mendekap erat tas anyaman plastik berisi kado dan perlengkapan "babunya" ke dadanya, melindunginya seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.

"Dingin ya, La?" teriak Ibu melawan suara angin dan bising knalpot.

"Lumayan, Bu!" balasku. "Ibu nggak apa-apa? Kalau kedinginan bilang, kita berhenti dulu cari warung kopi yang buka."

"Nggak usah, La! Ibu hangat kok di belakangmu!" jawabnya.

Bohong. Lewat jaket tipisku, aku bisa merasakan tubuh Ibu yang gemetar hebat. Giginya pasti saling bergemeretak saat ini. Telapak tangannya yang melingkar di pinggangku—telapak tangan yang dipenuhi kapalan tebal karena puluhan tahun memeras cucian dan memegang pisau dapur—terasa sedingin esok balok. Hawa dingin udara subuh ini tanpa ampun menusuk tulang-tulang tuanya yang sedang meradang. Aku bahkan bisa merasakan embusan napas Ibu yang terputus-putus di tengkukku.

Namun, alih-alih mengeluh tentang rasa sakit yang menggerogoti persendiannya, Ibu justru mulai bercerita di sepanjang jalan yang sepi ini. Suaranya sedikit bergetar, tapi nada antusiasmenya tidak bisa disembunyikan.

"Kamu tahu, La... dulu, waktu Bapakmu masih hidup dan Mas Rendra baru masuk SD, kami sering boncengan bertiga pakai motor ini jam segini," cerita Ibu, suaranya mengalun terbawa angin. "Bapakmu di depan, Rendra duduk di tangki depan, Ibu di belakang bawa keranjang isi gorengan. Kami mau ke pasar subuh. Waktu itu udaranya juga dingin banget, persis kayak gini. Terus Masmu itu, saking kedinginannya, dia suka masukin tangan kecilnya ke dalam kantong jaket Bapakmu."

Aku hanya diam mendengarkan, mataku tetap fokus ke jalanan yang gelap.

"Ibu masih ingat betul," lanjut Ibu dengan tawa kecil yang terdengar lebih mirip isakan. "Waktu itu Rendra pernah bilang, 'Bu, nanti kalau Rendra udah besar, udah jadi orang kaya, Rendra mau beli mobil yang ada AC angetnya. Nanti Ibu sama Bapak duduk di dalam, biar nggak usah kedinginan lagi kalau pagi-pagi'. Rendra itu hatinya lembut, La. Dari kecil dia itu selalu mikirin Ibu."

Dadaku sesak seketika. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk mataku, mengaburkan pandanganku pada jalanan di depan. Aku harus mengerjap beberapa kali agar air mata itu tersapu oleh angin.

Rendra yang hatinya lembut itu sudah mati, Bu, jeritku dalam hati. Dia sudah dikubur dalam-dalam di bawah tumpukan uang, kesombongan, dan keegoisan istrinya. Yang ada sekarang hanyalah pria tak punya hati yang menganggap ibunya lebih rendah dari keset di depan rumahnya.

"Mas Rendra udah nepatin janjinya ya, Bu," balasku pada akhirnya, suaraku terdengar pahit. "Sekarang dia udah punya mobil mewah, udah punya rumah besar ber-AC. Tapi kenapa sekarang di subuh yang dingin ini, yang bawa Ibu pakai motor butut ini cuma Lila? Kenapa bukan dia yang jemput Ibu pakai mobil hangatnya itu?"

Kata-kataku seketika mematikan pembicaraan. Tawa kecil Ibu menghilang, digantikan oleh keheningan yang panjang dan menyesakkan. Hanya terdengar raungan mesin Astrea Grand tua yang terus memaksa dirinya membelah angin.

Aku merasa sangat bersalah karena telah mengatakan itu, merusak kebahagiaan kecilnya. Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku muak melihat Ibuku terus-terusan meromantisasi kenangan masa lalu untuk menutupi kebusukan sikap kakakkku di masa sekarang.

Perjalanan yang memakan waktu hampir satu setengah jam itu terasa seperti siksaan tanpa akhir. Langit mulai berubah warna. Semburat ungu dan merah muda perlahan menggantikan pekatnya malam di ufuk timur, pertanda matahari bersiap untuk menampakkan diri. Bangunan-bangunan di sekitar kami mulai berubah. Dari deretan rumah petak kumuh yang saling berhimpitan, kini berubah menjadi deretan ruko-ruko besar, lalu berubah lagi menjadi hamparan tanah lapang dengan pohon-pohon palem yang tertata rapi.

Kami telah memasuki kawasan perumahan elite di pinggiran ibu kota tempat Mas Rendra tinggal. Aspal di sini terasa sangat mulus, tanpa lubang sedikit pun. Lampu-lampu jalan yang berdiri tegak memancarkan cahaya putih yang terang benderang. Perbedaan kasta ini begitu nyata, memukul wajah kami yang kusam dengan kemewahan yang tak tersentuh.

Aku menurunkan kecepatan motor. Tanganku yang sedari tadi mencengkeram stang terasa kebas kedinginan, namun hatiku jauh lebih dingin. Di belakangku, pegangan Ibu di pinggangku semakin mengerat. Kudengar ia menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang penuh dengan harap dan antisipasi.

"Kita udah dekat, La," bisik Ibu di telingaku. "Nanti kalau masuk kompleksnya, berhentinya di depan satpam aja ya. Kita lapor dulu baik-baik. Jangan lupa kasih senyum."

Aku hanya mengangguk kaku. Mataku menatap lurus ke depan, ke arah gerbang raksasa berwarna keemasan yang menjulang tinggi di ujung jalan sana. Gerbang itu dijaga oleh beberapa satpam berseragam rapi, menyerupai benteng istana yang menolak siapa pun yang tak selevel dengan mereka.

Udara pagi perlahan menghangat seiring munculnya matahari, namun tak sedikit pun kehangatan itu mampu mencairkan gumpalan es di dalam dadaku. Kontras emosional di dalam diriku terjadi dengan begitu hebat. Di satu sisi, aku merasakan hangatnya cinta Ibu yang tak bersyarat, memelukku dari belakang di atas motor reyot ini. Namun di sisi lain, aku merasakan dinginnya kenyataan yang menanti kami di balik gerbang emas itu.

Tanganku mengepal di handle gas. Aku menarik napas dalam-dalam. Hatiku berteriak memperingatkan. Aku sadar sepenuhnya, perjalanan ini bukanlah perjalanan silaturahmi sebuah keluarga bahagia.

Ini adalah perjalanan menjemput luka. Ini adalah langkah pertama dari serangkaian penghinaan yang telah disiapkan secara saksama oleh darah daging Ibu sendiri. Dan aku, dengan tangan gemetar dan hati yang hancur, sedang mengantarkan Ibuku menuju ke dalam lubang penyiksaan itu.