Angin pagi yang dingin seolah menertawakan kami yang berjalan gontai menyusuri gang sempit di sisi kiri rumah megah itu. Lorong setapak ini diapit oleh dinding pembatas setinggi tiga meter yang ditumbuhi tanaman rambat di satu sisi, dan dinding luar rumah Mas Rendra yang dicat abu-abu gelap di sisi lainnya. Cahaya matahari pagi terhalang oleh tingginya bangunan, membuat lorong ini terasa lembap, suram, dan terasing.

Aku berjalan di belakang Ibu, menatap nanar punggungnya yang melengkung turun. Langkahnya diseret pelan, sangat berhati-hati agar lututnya yang meradang tidak semakin nyeri. Di tangannya, tas plastik berisi selimut seharga tiga puluh delapan ribu rupiah itu masih didekap erat, seolah benda mati tersebut adalah sisa-sisa harga diri yang sedang ia pertahankan mati-matian agar tidak direbut oleh kejamnya kenyataan.

Kami tiba di ujung lorong. Sesuai instruksi yang dilontarkan Mbak Nita beberapa saat lalu, sebuah pintu besi berwarna cokelat tua berdiri di sana. Tidak ada bel, tidak ada keset bertuliskan 'Welcome'. Ini adalah akses khusus untuk para asisten rumah tangga, tukang kebun, atau tukang galon air. Dan hari ini, pintu ini adalah akses untuk ibu kandung sang pemilik rumah.

Aku mendorong pintu besi itu. Suara engselnya yang berderit kasar memecah kesunyian, membawa kami masuk ke area belakang rumah.

Sebuah dapur kotor atau dapur basah yang berukuran cukup luas menyambut kami. Meskipun disebut dapur kotor, tempat ini jauh lebih bagus dan mewah daripada ruang tamu di rumah petak kami. Lantainya berlapis keramik putih yang bersih, meja dapurnya terbuat dari coran semen berlapis keramik hitam, dan kitchen sink-nya terbuat dari stainless steel yang mengkilap. Sebuah kulkas dua pintu berukuran besar berdiri angkuh di sudut ruangan.

Namun, bukan kemewahan itu yang membuat langkahku terhenti, melainkan pemandangan di atas meja keramik hitam tersebut.

Mataku terbelalak lebar. Perutku mendadak mual melihat tumpukan bahan makanan yang menggunung seolah menantang kami. Ada dua karung kecil berisi kentang yang masih berlumur tanah. Tiga baskom raksasa berwarna merah berisi puluhan potong ayam mentah yang masih berdarah dan belum dibersihkan. Kantong-kantong plastik besar berisi cabai merah, bawang merah, bawang putih, dan tomat yang belum dipetik tangkainya. Belum lagi tumpukan panci raksasa, wajan penggorengan berukuran jumbo, dan keranjang-keranjang berisi sayuran yang berserakan di lantai.

Ini bukan sekadar "bantu-bantu di belakang" seperti yang dikatakan Mas Rendra di telepon. Ini adalah pekerjaan memasak untuk porsi hajatan besar yang dibebankan sepenuhnya kepada kami berdua!

"Masya Allah..." gumam Ibu pelan. Matanya yang rabun mengerjap beberapa kali, mencoba memproses jumlah pekerjaan yang ada di depan matanya. Tangannya yang memegang kresek hitam perlahan turun ke sisi tubuhnya.

"Bu," suaraku bergetar hebat. Amarah yang sedari tadi kutahan kini meledak di dadaku. "Ini gila! Ini nggak masuk akal! Mereka nyuruh kita masak sebanyak ini cuma berdua? Ini mah porsi buat orang katering sekampung, Bu! Kita nggak akan sanggup!"

"Sst, pelan-pelan suaranya, La. Jangan teriak-teriak," Ibu segera meletakkan tas kadonya di atas sebuah kursi plastik kecil di sudut ruangan. Ia bergegas membuka kresek hitamnya, mengeluarkan celemek kain bermotif batik pudar miliknya dan langsung mengalungkannya ke leher. "Ini kan buat tamu-tamunya Mas Rendra. Wajar kalau masaknya banyak. Udah, jangan banyak mengeluh. Mending kita cepat mulai, keburu siang."

"Tapi Bu—"

"Eh, udah masuk toh?"

Sebuah suara melengking memotong kalimatku. Kami berdua serentak menoleh.

Dari balik pintu geser kaca buram yang membatasi dapur kotor ini dengan area dapur bersih di dalam rumah utama, berdirilah Mbak Nita. Ia baru saja membukanya sedikit, seolah enggan udara dari dapur kotor ini mencemari udara dingin ber-AC di dalam rumahnya.

Ia masih mengenakan gaun tidur sutra peach-nya yang mewah. Di tangannya terdapat sebuah mug keramik cantik berisi minuman hangat yang uapnya mengepul pelan. Wajahnya terlihat segar dan santai, kontras sekali dengan wajah kami yang kusam, lelah, dan kedinginan akibat perjalanan subuh.

"Mbak Nita," sapa Ibu lagi, kali ini dengan senyum yang dipaksakan semakin lebar. Tubuh tuanya sedikit membungkuk hormat. "Iya, Mbak, ini kami baru mau mulai. Banyak juga ya, Mbak, yang mau dimasak. Alhamdulillah, tamunya pasti banyak."

Mbak Nita tidak membalas senyuman itu. Ia menyesap minumannya sesaat, lalu menatap tumpukan bahan makanan di meja dengan tatapan menilai.

"Iya, soalnya relasi bisnis Mas Rendra yang datang lumayan banyak. Belum lagi tetangga satu cluster ini," jawab Mbak Nita dengan nada datar yang terkesan meremehkan. Matanya kemudian beralih menatap tajam ke arah Ibu.

Dan tanpa aba-aba, rentetan perintah itu meluncur dari mulutnya layaknya peluru senapan mesin yang ditembakkan bertubi-tubi.

"Dengerin ya, Ibu. Itu kentang dua karung tolong... eh, maksudku, itu kentangnya dikupas semua sampai bersih, dipotong dadu kecil-kecil, terus digoreng buat dibikin sambal goreng ati. Ati ampelanya ada di kulkas bawah, nanti dicuci pakai jeruk nipis biar nggak amis. Ayamnya itu ada sekitar delapan puluh potong, dicuci bersih, diungkep dulu pakai bumbu kuning, baru digoreng kering. Bumbu kuningnya udah aku beliin yang jadi di pasar, tinggal campur aja biar Ibu nggak usah ngulek lagi. Oh ya, cabainya digiling halus ya buat bumbu balado."

Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Tidak ada kata "tolong". Tidak ada kata "maaf merepotkan". Kalimatnya murni instruksi seorang majikan kepada jongosnya.

"Iya, Mbak. Siap. Ibu kerjain sekarang," jawab Ibu dengan sangat patuh. Tangannya yang gemetar mulai merapikan barang-barang di atas meja.

"Satu lagi," tambah Mbak Nita, nadanya kini terdengar mengancam. "Goreng ikan dan ayamnya jangan di dapur bersih di dalam ya. Pokoknya semua proses masak, mau itu motong, ngungkep, atau goreng, wajib dilakukan di dapur luar ini. Aku nggak mau bau amis, bau bumbu, atau asap minyaknya masuk ke ruang tengah. Hari ini mau ada fotografer yang photoshoot buat Adit, nanti bajuku sama karpet di dalam bau masakan kampung. Paham ya?"

Mataku memanas. "Bau masakan kampung?" kataku tanpa sadar, suaraku tajam dan sarat akan kemarahan.

Mbak Nita menatapku dengan sebelah alis terangkat, menantang. "Iya. Kenapa? Ada masalah? Kalau kalian nggak mau ngerjain ini, ya udah tinggalin aja. Biar aku buang semua bahannya, gampang. Mas Rendra juga nggak akan peduli."

"La, sudah! Diam!" Ibu menyentuh lenganku dengan kasar, memperingatkan. Wajahnya terlihat sangat panik, takut kalau kemarahanku akan membuat Mbak Nita mengusir kami dan menghilangkan kesempatannya melihat sang cucu.

"Mbak Nita... maaf," kataku sambil menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca. Aku berusaha keras mengendalikan suaraku. "Lila cuma mau tanya... Mas Rendra di mana? Ini kan acara anaknya, masa ibunya datang jauh-jauh malah disuruh langsung ke belakang. Mas Rendra nggak turun buat salim sama Ibu?"

Mbak Nita mendengus meremehkan. "Mas Rendra masih tidur di atas. Semalam dia pulang larut habis meeting sama klien penting dari luar negeri. Dia kecapekan banget. Udah, jangan dibangunin, kasihan suamiku butuh istirahat. Nanti siang pas acara mulai juga kalian bakal lihat. Lagian, ngapain sih nungguin salim segala? Kayak yang nggak pernah ketemu aja."

Nggak pernah ketemu selama delapan bulan dan dia pikir itu biasa saja? batinku menjerit.

"Oh, iya Mbak, nggak apa-apa," sela Ibu cepat, mencoba menetralisir ketegangan. "Biar Mas Rendra istirahat saja. Kasihan anak lanang Ibu pasti capek kerja keras buat keluarga. Nanti Ibu masak yang enak buat Mas Rendra."

"Ya bagus kalau Ibu ngerti," sahut Mbak Nita ketus. Ia memutar tubuhnya, bersiap menutup pintu geser itu. "Kerjain yang cepat ya. Jam sebelas katering VIP datang buat set up meja, jadi masakan kalian jam setengah sebelas udah harus rapi dipindah ke chafing dish di ruang makan belakang. Jangan sampai lelet."

Tanpa menunggu jawaban, Mbak Nita melangkah masuk dan menutup pintu geser kaca buram itu dengan rapat. Bunyi klik dari kunci yang diputar terdengar jelas. Kami dikunci dari luar. Benar-benar dipisahkan secara fisik dan derajat dari kehidupan mewah di dalam sana.

Kesunyian yang mencekam turun menyelimuti dapur kotor itu. Hanya terdengar suara tetesan air dari keran sink yang tidak tertutup rapat.

Aku menatap pintu kaca buram itu dengan dada yang naik turun dengan cepat. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku menoleh ke arah Ibu.

Ibu tidak membuang waktu sedetik pun. Ia segera mengeluarkan pisau daging pudar miliknya dari kresek hitam, mengambil sebuah dingklik kayu kecil dari sudut ruangan, dan duduk di depan karung kentang. Tangannya yang keriput dan sedikit gemetar karena kedinginan mulai mengambil sebutir kentang berlumpur dan mengupasnya. Kulit kentang berjatuhan ke lantai bersamaan dengan sisa tanah.

Srek... srek... srek...

Suara pisau yang beradu dengan daging kentang itu terdengar sangat menyayat hati.

"La," panggil Ibu lembut, tanpa menoleh. "Jangan berdiri saja. Ayo bantu Ibu potongin ujung cabainya. Ingat pesannya Mbak Nita, jam setengah sebelas sudah harus matang semua."

Aku jatuh terduduk di kursi plastik di seberang Ibu. Tenagaku seolah terkuras habis hanya dengan berdiri dan menyaksikan semua penghinaan ini. Mataku menatap lurus pada sosok ringkih yang sedang menunduk di depanku.

Setiap sayatan pisau di tangan Ibu terasa seperti sayatan tipis di jantungku. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa seorang anak laki-laki yang dulu disusui, dibesarkan, dan disekolahkan dengan darah dan keringat ibunya, kini membiarkan perempuan lain menginjak-injak ibunya seperti sampah?

Aku menatap tumpukan ayam mentah, tumpukan kentang, dan bumbu-bumbu yang berserakan. Semuanya terlihat mengerikan. Ini bukan lagi sekadar undangan yang tak tulus. Ini adalah sebuah bentuk perbudakan modern yang dilegalkan oleh ikatan darah.

Di dalam rumah sana, Mas Rendra sedang tidur di atas kasur empuk yang hangat, tak peduli pada ibunya yang kedinginan. Di dalam sana, Mbak Nita sedang bersantai menanti kedatangan tamu-tamu VIP-nya. Dan di sini, di dapur luar yang lembap dan dingin ini, wanita tua yang telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk membesarkan mereka, sedang dikurung dan dipaksa bekerja layaknya mesin tanpa bayaran.

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat hingga terasa rasa amis darah di lidahku. Aku mulai sadar. Harapan bahwa kami akan diperlakukan sebagai manusia di rumah ini telah musnah tak bersisa.

Ibu bukanlah tamu. Ibu bukanlah nenek yang diundang untuk menggendong cucunya. Di mata mereka berdua, di mata anak sulungnya sendiri, Ibu tidak lebih dari sekadar seonggok tenaga kerja gratisan yang bisa diperintah, dihardik, dan dibuang di dapur belakang.

Dan luka di hatiku kini mulai berubah bentuk. Kesedihan itu perlahan menguap, digantikan oleh magma kemarahan yang mendidih. Aku berjanji dalam hati, aku tidak akan melupakan setiap detik penghinaan yang terjadi di ruangan ini.