Aroma ribuan bunga lili Casablanca dan mawar putih yang didatangkan khusus dari Belanda itu seharusnya memabukkan, membawa nuansa romantis yang diimpikan setiap wanita. Namun bagi Arka Pratama, wangi manis yang menguar di seluruh penjuru lorong lantai VIP Hotel Ritz-Carlton itu terasa mencekik. Seperti bau bunga duka cita.

Arka berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai emas di dalam suite pengantin pria. Setelan tuksedo bespoke dari desainer ternama Italia membalut tubuh atletisnya dengan sempurna, menonjolkan garis bahunya yang tegap dan postur tubuhnya yang selalu menuntut otoritas. Wajahnya yang rahangnya tegas, dengan hidung bangir dan sepasang mata elang yang gelap, biasanya selalu memancarkan ketenangan yang mengintimidasi. Namun hari ini, di balik ketenangan itu, ada badai yang sedang meronta ingin dilepaskan.

Tiga jam menuju pemberkatan nikah. Lima jam menuju resepsi termegah dekade ini—The Wedding of the Century, begitu media menyebarkannya selama enam bulan terakhir. Pernikahan pewaris tunggal Pratama Group, kerajaan bisnis properti dan teknologi terbesar di Asia Tenggara, dengan Selena Wijaya, putri dari taipan perkapalan terkemuka.

Pintu suite diketuk dengan ritme yang tergesa-gesa, nyaris panik, sebelum terbuka tanpa menunggu jawaban.

Baskoro, asisten pribadi Arka yang selalu tampil tanpa cela, melangkah masuk dengan wajah seputih kertas. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Pria paruh baya itu bahkan lupa merapikan dasinya yang sedikit miring.

"Tuan Arka," suara Baskoro bergetar, sebuah hal yang tidak pernah terjadi selama sepuluh tahun ia mengabdi.

Arka memutar tubuhnya perlahan, memasukkan satu tangan ke dalam saku celana bahan sutranya. "Ada apa? Kenapa kau terlihat seperti baru saja melihat hantu?"

"Nona Selena..." Baskoro menelan ludah dengan susah payah, matanya melirik ke arah pintu yang terbuka, seolah takut ada yang mendengar. "Nona Selena tidak ada di kamarnya, Tuan."

Udara di dalam ruangan itu seolah tersedot habis. Rahang Arka mengeras. "Apa maksudmu tidak ada? Dia sedang di ruang tata rias? Atau di lobi VIP?"

"Tidak, Tuan." Baskoro menyerahkan secarik kertas berlogo hotel yang tampak kusut. Tangannya gemetar. "Kami menemukan gaun pengantinnya tergeletak di lantai kamar mandi. Dan surat ini... ada di atas meja riasnya. Kamera CCTV di tangga darurat menunjukkan Nona Selena pergi meninggalkan hotel lima belas menit yang lalu, mengenakan pakaian kasual dan kacamata hitam. Dia... dia kabur, Tuan."

Hening yang memekakkan telinga turun melingkupi ruangan itu. Arka merebut kertas tersebut dengan kasar. Tulisan tangan Selena yang rapi dan anggun menyapanya dengan kejam.

Maafkan aku, Arka. Aku tidak bisa melakukan ini. Aku belum siap menyerahkan kebebasanku. Tolong jangan cari aku.

Kertas itu diremas hingga hancur di dalam kepalan tangan Arka. Napasnya berubah berat, matanya memancarkan kilat kemarahan yang membeku. Di luar sana, di Grand Ballroom, ribuan tamu undangan dari kalangan menteri, duta besar, hingga konglomerat dari berbagai negara sedang menikmati sampanye dan menunggu dimulainya acara. Media dari seluruh stasiun televisi nasional dan internasional telah memasang kamera mereka di setiap sudut yang diizinkan.

Saham Pratama Group baru saja melonjak tajam minggu lalu karena ekspektasi merger raksasa melalui pernikahan ini. Jika berita ini bocor, bukan hanya harga diri keluarga yang hancur menjadi debu, tapi saham mereka akan anjlok secara brutal besok pagi.

"Kunci semua akses informasi," desis Arka, suaranya terdengar sangat rendah dan mematikan. "Jangan sampai ada satu pun wartawan yang tahu. Dimana ibu dan nenekku?"

"Nyonya Lidya sedang histeris di ruang tunggu keluarga, Tuan. Nyonya Besar... beliau sedang dalam perjalanan kemari."

Baru saja nama itu disebut, suara ketukan tongkat kayu eboni beradu dengan lantai marmer terdengar dari lorong. Rosalina Pratama—Nenek Pratama—melangkah masuk dengan keanggunan seorang ratu yang sedang menghadapi pemberontakan. Usianya sudah menginjak tujuh puluh delapan tahun, namun punggungnya tegak lurus, dan tatapan matanya setajam belati yang baru diasah. Di belakangnya, Lidya, ibu Arka, menangis tersedu-sedu sambil dipegangi oleh dua asisten.

"Arka," suara Nenek Pratama membelah keheningan ruangan. Dingin. Penuh perhitungan. "Katakan padaku bahwa kau sudah mengirim orang untuk menyeret wanita bodoh itu kembali ke sini."

"Dia sudah pergi, Nek. Menghilang di tengah lalu lintas Jakarta," rahang Arka berkedut. "Kita tidak punya cukup waktu untuk menemukannya sebelum acara dimulai."

Lidya terisak keras. "Ya Tuhan, reputasi kita! Apa kata rekan-rekan bisnismu, Arka? Apa kata keluarga Adiningrat? Keluarga Cendana? Kita akan menjadi bahan tertawaan seumur hidup! Bagaimana kita membatalkan pesta yang sudah dihadiri ribuan orang ini?!"

"Kita tidak akan membatalkannya," potong Nenek Pratama tegas. Ia menancapkan ujung tongkatnya ke lantai. "Keluarga Pratama tidak pernah mempermalukan diri mereka sendiri di depan publik. Pernikahan ini harus tetap berjalan."

Arka menatap neneknya dengan alis berkerut tajam. "Nenek sadar apa yang Nenek katakan? Pengantin wanitanya tidak ada. Aku harus menikah dengan siapa? Manekin?"

Nenek Pratama tidak menjawab. Ia membalikkan badan dan berjalan keluar menuju balkon mezzanine yang menghadap langsung ke arah lobi VIP di lantai bawah, tempat staf Event Organizer dan pegawai hotel lalu lalang memastikan semuanya sempurna. Matanya yang tua namun awas menyapu kerumunan di bawah sana, menilai, mencari solusi di tengah keputusasaan.

Dan saat itulah, tatapan Rosalina Pratama terkunci pada satu sosok.

Di sudut lobi VIP, berdiri seorang perempuan muda yang sedang berbicara dengan salah satu tamu VIP—seorang kerabat jauh keluarga yang terkenal dengan tabiat arogan. Pria itu tampak marah-marah karena masalah nomor meja, wajahnya memerah dan tangannya menunjuk-nunjuk kasar. Namun, perempuan muda itu tidak gentar sedikit pun.

Ia mengenakan seragam hitam elegan khas staf Pratama Group. Rambut hitamnya yang legam digelung rapi di tengkuk. Kulitnya kuning langsat, bersih tanpa riasan berlebih. Saat pria arogan itu membentaknya, perempuan itu hanya tersenyum tipis, menunduk dengan sopan namun pundaknya tetap tegak tak tergoyahkan. Ia berbicara dengan suara yang pelan, tenang, dan entah bagaimana, hanya dalam hitungan menit, tamu yang marah itu terdiam, mengangguk kaku, lalu berjalan pergi dengan tenang.

Perempuan itu menghela napas panjang setelah tamu itu pergi, mengusap pelipisnya sejenak, lalu kembali menatap tablet di tangannya dengan fokus yang memukau. Ia tampak lelah, namun ada kekuatan yang diam-diam memancar dari sorot matanya yang jernih.

"Siapa perempuan itu?" tanya Nenek Pratama, menunjuk ke bawah dengan tongkatnya.

Baskoro bergegas maju dan melihat ke arah yang ditunjuk. "Ah, dia... dia Nadira, Nyonya Besar. Nadira Mahesa. Staf dari Departemen Komunikasi Perusahaan. Kami menarik beberapa staf dari kantor pusat untuk membantu mengelola tamu VIP hari ini karena jumlah tamu yang membeludak."

Nenek Pratama menyipitkan matanya. Postur tubuh perempuan itu proporsional. Tinggi badannya tidak jauh berbeda dengan Selena. Dan yang paling penting, ia memiliki ketenangan yang tidak dimiliki oleh wanita seusianya.

"Bawa dia ke ruanganku. Sekarang," perintah Nenek Pratama tanpa nada keraguan.

"Nyonya Besar?" Baskoro terkesiap. "Untuk apa?"

"Lakukan saja, Baskoro!"

Lima menit kemudian, pintu ruang keluarga VIP terbuka. Nadira Mahesa melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. Ia baru saja menyelesaikan krisis nomor meja, telapak kakinya sudah lecet karena berdiri selama empat jam menggunakan sepatu hak tinggi, dan tiba-tiba saja ia diseret oleh Kepala Asisten Pribadi langsung ke sarang singa keluarga Pratama.

Nadira menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap karpet persia yang mahal di bawah sepatunya. "Permisi, Nyonya Besar. Tuan Arka. Ada yang bisa saya bantu? Apakah ada masalah dengan daftar tamu?"

Nenek Pratama duduk di sofa tunggal beralaskan beludru merah, menatap Nadira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu terasa seperti pisau bedah yang sedang menguliti Nadira hidup-hidup. Arka berdiri di dekat jendela, wajahnya terhalang bayangan, tidak bisa dibaca.

"Siapa namamu?" tanya Nenek Pratama.

"Nadira Mahesa, Nyonya Besar."

"Nadira. Aku adalah orang yang tidak suka berbasa-basi," suara tua itu menggema di ruangan yang hening. "Selena Wijaya kabur meninggalkan pernikahan ini. Tiga jam lagi, Arka harus berada di altar. Jika tidak, Pratama Group akan kehilangan triliunan rupiah besok pagi dan nama keluarga kami akan hancur."

Nadira membeku. Matanya sedikit melebar. Otaknya yang cerdas segera menangkap informasi rahasia yang sangat berbahaya itu. Mengapa mereka memberitahunya? Staf rendahan sepertinya tidak seharusnya mendengar skandal selevel ini. Sebuah firasat buruk merayap di tengkuknya.

"Saya... saya sangat menyesal mendengarnya, Nyonya Besar. Lalu, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus menyiapkan draf press release untuk pembatalan acara?" tanya Nadira hati-hati, berusaha mempertahankan suara profesionalnya.

"Tidak ada pembatalan," sahut Nenek Pratama cepat. Ia berdiri, berjalan perlahan mendekati Nadira. "Kau yang akan menggantikannya."

Ruangan itu mendadak terasa hampa udara. Nadira merasa pendengarannya baru saja rusak. Ia mengerjap, menatap wanita tua di hadapannya dengan ekspresi tidak percaya.

"M-maaf?" Nadira mundur selangkah, jantungnya mulai berdebar kencang. "Saya rasa... saya salah dengar, Nyonya Besar."

"Kau tidak salah dengar, Nona Mahesa," potong Lidya yang masih terisak di sudut ruangan, menatap Nadira dengan tatapan putus asa dan merendahkan sekaligus. "Ibu mertuaku menyuruhmu menjadi pengantin pengganti."

"Ini gila!" Nadira berseru, melupakan protokol kesopanan sejenak. Napasnya memburu. "Maafkan saya, tapi ini benar-benar tidak masuk akal. Saya hanya staf biasa! Saya bahkan tidak mengenal Tuan Arka secara pribadi. Tidak mungkin saya berjalan ke altar dengan gaun pengantin... Nyonya, Anda pasti sedang bergurau."

"Di keluarga Pratama, kami tidak pernah bergurau soal bisnis dan reputasi," Nenek Pratama menatap lurus ke dalam mata Nadira, mencari kelemahan. "Ukurannya pas. Posturmu mirip dengan Selena. Jika penata rias bekerja dengan benar dan wajahmu ditutupi veil, tamu yang duduk di barisan belakang tidak akan menyadarinya sampai pengumuman resmi dikeluarkan nanti. Kami akan mengontrol narasinya."

"Saya menolak," kata Nadira tegas, suaranya tidak lagi bergetar. Ia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke arah wanita paling berkuasa itu. "Saya bekerja untuk perusahaan Anda sebagai staf komunikasi, bukan sebagai boneka pengganti. Saya permisi."

Nadira memutar tubuhnya, bersiap meraih gagang pintu. Ia harus keluar dari kegilaan ini. Namun, sebelum tangannya menyentuh kuningan dingin itu, sebuah suara bariton yang berat dan dingin menghentikannya.

"Berhenti."

Nadira mematung. Arka melangkah keluar dari bayangan. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah pelan dan terukur, memancarkan aura dominasi yang membuat siapapun secara insting ingin menunduk. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Nadira.

Nadira mendongak, menatap mata kelam pria itu. Jarak mereka begitu dekat hingga Nadira bisa mencium aroma maskulin dari cologne mahal beraroma cedarwood dan bergamot yang menempel di tubuh Arka. Namun, mata pria itu kosong. Tidak ada cinta, tidak ada permohonan. Hanya kalkulasi bisnis yang dingin.

"Tuan Arka, tolong, saya—"

Arka menunduk sedikit, menyejajarkan tatapannya dengan wajah pias Nadira. Ia memotong ucapan wanita itu dengan nada rendah yang mutlak.

"Menikahlah denganku. Ini hanya kontrak."