Kata 'kontrak' itu menggantung di udara seperti palu hakim yang bersiap dijatuhkan.

Nadira menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti menelan pasir. "Kontrak?" ulangnya, suaranya nyaris berupa bisikan.

Arka mundur selangkah, memasukkan kembali tangannya ke dalam saku. Sikap tubuhnya kembali menjadi CEO yang sedang berada di ruang rapat board of directors. Dingin, tak tersentuh, dan penuh otoritas.

"Reputasi keluarga Pratama tidak boleh ternoda, dan aku tidak punya waktu untuk mencari wanita dari kalangan sosialita yang akan menuntut lebih dari yang bisa kuberikan," Arka menjelaskan dengan nada datar, seolah ia sedang membahas proyek pembangunan jalan tol, bukan pernikahan seumur hidupnya. "Jika kau bersedia membantuku mengatasi krisis ini, aku akan memastikan kehidupanmu terjamin."

"Ini bukan soal uang, Tuan Arka," Nadira membalas, rasa harga dirinya mulai tersengat. "Pernikahan bukan transaksi jual beli. Saya punya kehidupan saya sendiri. Saya punya keluarga."

"Keluarga?" Nenek Pratama menyela dari belakang. "Maksudmu ibumu yang saat ini terbaring di ruang ICU Rumah Sakit Medika karena gagal ginjal kronis? Dan biaya perawatannya yang menunggak selama tiga bulan karena gajimu sebagai staf biasa tidak cukup untuk menutupinya?"

Tubuh Nadira menegang seketika. Darah seolah terkuras habis dari wajahnya. Ia menatap Nenek Pratama dengan horor. "Bagaimana... bagaimana Anda tahu?"

"Aku tahu segala hal tentang orang-orang yang bekerja di bawah atap perusahaanku," Nenek Pratama tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Dan aku juga tahu bahwa utang peninggalan almarhum ayahmu ke rentenir akan segera jatuh tempo minggu depan. Kau sedang berada di ujung tanduk, Nona Mahesa. Jangan berpura-pura menjadi pahlawan moral di saat kau sedang tenggelam."

Nadira mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh, kuku-kukunya memutih karena menekan telapak tangannya sendiri. Kenyataan yang dilemparkan ke wajahnya itu telak menghantam ulu hatinya. Benar. Ia sedang hancur. Gaji bulanannya habis tidak bersisa, dan ancaman rentenir yang meneror rumah kecilnya setiap malam sudah membuatnya nyaris gila.

Arka memperhatikan perubahan di wajah Nadira—dari penolakan keras menjadi keputusasaan yang tertahan. Pria itu mengambil sebuah map kulit dari atas meja, lalu melemparkannya ke hadapan Nadira.

"Satu tahun," kata Arka tegas. "Kontrak itu hanya berlaku satu tahun. Kau akan berperan sebagai istriku di depan publik. Tunduk pada aturan keluarga Pratama, tutup mulutmu, dan jangan pernah mencari masalah. Sebagai gantinya, seluruh biaya rumah sakit ibumu, hutang keluargamu, dan dana jaminan masa depanmu sebesar lima miliar rupiah akan ditransfer ke rekeningmu hari ini juga. Setelah satu tahun, kita bercerai dengan alasan ketidakcocokan, dan kau bisa pergi menjalani hidupmu dengan tenang."

Lima miliar. Biaya rumah sakit. Kebebasan dari kejaran rentenir.

Kepala Nadira berputar. Angka itu adalah jumlah yang mustahil dikumpulkannya seumur hidup, meskipun ia bekerja hingga tulangnya patah. Ia menatap map di atas meja itu seolah map itu adalah ular berbisa yang menawarkan apel emas.

Jika ia menolak, ibunya bisa mati karena tidak mendapatkan jadwal cuci darah. Jika ia setuju, ia menjual kebebasan dan harga dirinya kepada keluarga konglomerat ini. Masuk ke dalam sangkar emas tanpa tahu bahaya apa yang menantinya di dalam sana.

"Kenapa harus saya?" suara Nadira bergetar, pertahanannya mulai runtuh. "Ada ratusan wanita di luar sana yang akan bersujud untuk posisi ini."

"Karena kau ada di sini. Saat ini," jawab Arka lugas. "Dan dari catatan kepegawaianmu, kau adalah wanita yang logis, tidak banyak menuntut, dan yang terpenting... aku tidak memiliki perasaan apa pun padamu, begitu pula sebaliknya. Ini murni bisnis."

Mata Nadira terasa panas, tapi ia menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk menahan air mata yang mendesak keluar. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan orang-orang ini. Ia memikirkan wajah ibunya yang pucat di ranjang rumah sakit. Napas ibunya yang dibantu mesin.

Dengan gerakan lambat yang terasa seperti mencabut nyawanya sendiri, Nadira mengambil pena emas yang tergeletak di samping map. Tangannya bergetar hebat saat ia membaca barisan pasal-pasal yang tercetak rapi di sana. Pihak Kedua tidak berhak menuntut harta gono-gini... Pihak Kedua dilarang memiliki hubungan asmara dengan pihak lain... Pihak Kedua harus bersedia tampil di media kapan pun dibutuhkan.

Tidak ada cinta. Tanpa pilihan.

Nadira menggoreskan tanda tangannya di atas materai. Tinta hitam itu menyegel takdirnya.

"Bagus," Nenek Pratama mengangguk puas. "Lidya, panggil penata rias. Kita hanya punya waktu satu jam untuk merombak penampilannya."

Dalam sekejap, dunia Nadira berubah menjadi pusaran badai. Ia diseret ke dalam ruang ganti raksasa. Tiga orang penata rias profesional, yang terlihat kebingungan namun terlalu takut untuk bertanya, langsung mengerumuninya. Seragam kerjanya dilepas paksa, digantikan oleh gaun sutra putih bertahtakan ribuan kristal Swarovski karya Vera Wang. Gaun itu terasa berat, korsetnya mencekik pinggangnya dengan menyakitkan, membuat Nadira kesulitan bernapas.

Rambutnya disanggul ulang dengan gaya elegan klasik, dihiasi tiara berlian warisan keluarga Pratama yang nilainya bisa membeli satu kompleks perumahan. Wajah lelahnya ditutupi dengan lapisan makeup flawless, menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya.

Saat penata rias memasangkan veil panjang berbahan tulle yang menutupi separuh wajahnya, Nadira menatap pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat luar biasa cantik, sangat memukau, seperti putri dari negeri dongeng. Namun mata di balik cermin itu tampak mati. Itu bukan dirinya. Itu adalah boneka porselen milik keluarga Pratama.

"Kita tidak akan melakukan pemberkatan di Ballroom," suara Baskoro menyela dari ambang pintu, memberi instruksi cepat. "Tuan Arka memutuskan pemberkatan akan dilakukan secara tertutup di kapel kecil hotel khusus untuk keluarga inti. Kita akan beralasan bahwa Nona Selena... maksud saya, pengantin wanita sedang tidak enak badan sehingga acara dibuat tertutup demi kekhidmatan. Setelah sah, baru pengumuman akan dirilis perlahan."

Nadira dituntun berjalan keluar. Kakinya gemetar di atas sepatu hak tinggi berhias mutiara.

Di dalam kapel kecil bernuansa kayu eboni yang remang-remang, Arka sudah menunggu di depan altar bersama seorang pendeta. Tidak ada senyum bahagia, tidak ada tatapan haru. Saat Nadira berdiri di samping Arka, pria itu bahkan tidak menoleh padanya. Udara di antara mereka sedingin es.

Janji suci yang seharusnya diucapkan dengan penuh cinta, keluar dari mulut Arka seperti hafalan naskah pidato perusahaan. Rata, datar, tanpa emosi.

"Saya, Arka Pratama, menerima engkau, Nadira Mahesa, sebagai istri saya..."

Nadira merasakan air mata menitik jatuh dari sudut matanya, tertahan oleh lapisan tebal veil-nya saat giliran ia yang harus mengucapkan janji itu. Suaranya nyaris pecah, namun ia memaksakan setiap kata keluar. Demi ibunya. Hanya demi ibunya.

Cincin berlian raksasa disematkan secara kasar ke jari manis Nadira. Terasa dingin dan kebesaran, karena cincin itu diukur untuk jari Selena.

"Kalian resmi menjadi suami istri," ucap pendeta, menutup buku tebalnya.

Tidak ada ciuman. Arka hanya memutar tubuhnya menghadap Nadira, menatap lurus melewati bahu wanita itu. "Sudah selesai. Bersiaplah, sebentar lagi kita harus menghadapi para tamu," bisiknya tajam.

Nadira hanya bisa mengangguk pelan, kepalanya terasa pusing. Ia resmi menjadi istri seorang pewaris miliarder. Istri bayangan. Istri cadangan.

Mereka berdua dikawal kembali menuju ruang tunggu sebelum menghadapi badai di Ballroom. Namun, baru saja pintu ruangan tertutup di belakang mereka, Baskoro menerobos masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Ponsel di tangannya bergetar hebat.

"Tuan Arka... Nyonya Besar..." Baskoro tergagap, keringat membasahi kerahnya. "Ki-kita kecolongan."

Arka membalikkan tubuhnya dengan kilat amarah di matanya. "Apa maksudmu kecolongan?"

"Ada staf hotel atau kerabat yang menyusup ke kapel. Seseorang memotret prosesi pemberkatan tadi." Baskoro menyodorkan layar ponselnya yang menyala dengan tangan gemetar.

Nadira merasa jantungnya berhenti berdetak saat melihat layar itu.

Di sana, di platform media sosial terbesar, sebuah foto amatir namun jelas menunjukkan profil samping Arka yang sedang menyematkan cincin ke jari Nadira. Veil Nadira sedikit tersingkap, memperlihatkan separuh wajahnya yang jelas bukan Selena Wijaya. Foto itu telah dibagikan puluhan ribu kali dalam hitungan menit.

Di bawah foto itu, terpampang tajuk berita dari portal gosip terkemuka dengan huruf kapital tebal yang terasa seperti lonceng kematian: