Perjalanan dari Hotel Ritz-Carlton menuju kediaman utama keluarga Pratama terasa seperti rute menuju tiang eksekusi bagi Nadira.
Di dalam kabin belakang limusin Maybach yang kedap suara, keheningan membentang begitu tebal dan menyesakkan. Kaca jendela yang gelap memisahkan mereka dari kilatan blitz kamera puluhan wartawan yang sempat mengerumuni lobi hotel bagai sekawanan hyena kelaparan. Tim keamanan Pratama Group harus membuat barikade manusia hanya untuk mengeluarkan Arka dan Nadira dari gedung itu.
Nadira duduk kaku di sudut jok kulit nappa yang mewah, kedua tangannya bertaut erat di atas pangkuannya. Ia sudah berganti pakaian, meninggalkan gaun pengantin seberat belasan kilogram itu dan kini mengenakan gaun sutra selutut berwarna navy yang dipilihkan secara asal oleh salah satu penata gaya. Pakaian itu jelas terlalu mahal untuknya, namun terasa dingin menyentuh kulitnya.
Di seberangnya, Arka duduk dengan postur tegak, seolah tulang punggungnya terbuat dari baja. Matanya terpaku pada layar tablet yang menyala di tangannya, jari-jarinya bergerak cepat, menggulir laporan demi laporan. Garis rahang pria itu mengeras. Sesekali, ia memberikan instruksi singkat bernada memerintah melalui earpiece nirkabelnya kepada tim Public Relations di kantor pusat, mengendalikan narasi media yang sedang meledak di luar sana.
Tidak sekalipun Arka menoleh ke arahnya. Bagi pria itu, Nadira seolah tidak ada. Ia hanyalah sebuah manekin hidup yang kebetulan menempati ruang kosong di dalam mobilnya.
Ketika mobil akhirnya berbelok memasuki gerbang besi tempa raksasa setinggi empat meter, napas Nadira tertahan. Kediaman keluarga Pratama bukanlah sekadar rumah besar. Itu adalah sebuah istana modern yang berdiri angkuh di atas lahan berhektar-hektar di kawasan elite Menteng. Pepohonan ek dan beringin tua yang dijaga presisi membingkai jalan masuk berbatu kerikil putih. Bangunan utamanya bergaya neoklasik dengan pilar-pilar marmer menjulang tinggi, seolah dirancang untuk mengerdilkan siapa pun yang berani melangkah masuk.
Pintu mobil dibukakan oleh seorang pria berseragam hitam. Arka keluar lebih dulu, mengancingkan jasnya dengan satu gerakan efisien, lalu berjalan masuk tanpa menunggunya. Nadira bergegas menyusul, langkahnya sedikit terseok di atas sepatu hak tinggi yang ujungnya mulai membuat jari kakinya lecet.
Begitu melewati pintu ganda dari kayu jati berukir, Nadira disambut oleh udara sejuk dari pendingin ruangan sentral yang entah mengapa terasa membekukan tulang. Di foyer yang luasnya menyamai lobi hotel bintang lima, belasan pelayan berseragam menunduk hormat. Namun, Nadira bisa merasakan curi-curi pandang mereka. Tatapan penuh tanda tanya, penilaian, dan cemoohan yang disembunyikan di balik sikap profesional.
"Bawa dia ke ruang makan utama," suara Nenek Pratama menggema dari arah lorong, memecah kesunyian. Wanita tua itu berdiri dengan tongkatnya, posturnya tak tergoyahkan. "Kita harus menyelesaikan makan malam keluarga ini, apa pun yang terjadi."
Ruang makan itu adalah perwujudan intimidasi. Sebuah meja mahoni panjang yang bisa menampung tiga puluh orang membentang di tengah ruangan, diterangi oleh lampu gantung kristal Baccarat yang menyilaukan. Dindingnya dihiasi lukisan potret leluhur keluarga Pratama yang menatap turun dengan ekspresi angkuh yang seragam.
Anggota keluarga inti sudah berkumpul. Paman, bibi, dan beberapa sepupu Arka duduk di kursi masing-masing. Begitu Nadira melangkah masuk di belakang Arka, seluruh percakapan terhenti seketika. Suara denting garpu yang menyentuh piring porselen lenyap, digantikan oleh keheningan yang mematikan. Belasan pasang mata menoleh padanya, menelanjangi asal-usulnya, menghakimi eksistensinya.
Lidya, ibu Arka, duduk di sebelah kanan kursi utama. Wajah cantiknya yang dirawat dengan botox dan perawatan ratusan juta rupiah kini menegang, bibirnya ditarik membentuk garis tipis yang memancarkan kebencian murni. Matanya yang tajam menatap Nadira seolah perempuan itu adalah serangga pembawa wabah penyakit yang menyusup ke dalam istananya.
"Duduk," perintah Nenek Pratama sambil menempati kursi utama di ujung meja.
Arka menarik kursi di sebelah kiri Neneknya dan duduk dalam diam. Pelayan dengan sigap menarik kursi di sebelah Arka untuk Nadira. Dengan gerakan kaku layaknya robot, Nadira duduk, menundukkan pandangannya pada piring kosong berlapis emas di hadapannya.
"Jadi," suara tawa sumbang dan sarkastis memecah keheningan. Itu berasal dari Tante Rini, adik dari ayah Arka yang telah meninggal. Wanita paruh baya dengan perhiasan berlian bertumpuk di leher dan pergelangannya itu menatap Nadira dengan jijik. "Ini wanita yang fotonya sedang dibicarakan oleh seluruh negeri? Staf rendahan dari divisimu sendiri, Arka? Benar-benar sebuah upgrade yang luar biasa dari Selena Wijaya."
"Jaga bicaramu, Rini," tegur Nenek Pratama dingin, memotong tawa beberapa sepupu Arka yang baru saja akan meledak. "Pernikahan ini sah di mata hukum dan agama. Dia sekarang membawa nama Pratama."
Lidya meletakkan serbet sutranya ke atas meja dengan bantingan pelan yang disengaja. Napasnya naik turun. "Ibu tidak bisa berharap aku menerima ini begitu saja. Selena adalah putri keluarga Wijaya. Gadis ini... siapa dia? Dari lubang mana Baskoro menemukannya? Dan yang lebih penting, bagaimana bisa foto pernikahan yang seharusnya tertutup itu bocor?!"
Lidya tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan, menudingkan jari telunjuknya yang dihiasi cincin zamrud langsung ke wajah Nadira. "Kau yang merencanakannya, bukan? Kau yang menyuruh salah satu teman kampunganmu untuk menyusup dan mengambil foto itu, lalu menjualnya ke media agar kami tidak bisa membatalkan pernikahan ini! Kau ingin memastikan posisimu aman di keluarga ini!"
Tuduhan itu menghantam Nadira seperti tamparan fisik. Ia tersentak, refleks mengangkat wajahnya. Rasa panas menjalar di lehernya, sementara jantungnya berdetak kencang memompa adrenalin. Ia mungkin miskin, tapi ia tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak dengan fitnah keji semacam itu.
"Saya tidak melakukannya, Nyonya Lidya," jawab Nadira. Suaranya tidak keras, namun cukup jelas untuk terdengar di seluruh ruangan. Tidak ada getaran ketakutan di sana, hanya ketegasan. "Saya bahkan tidak diizinkan membawa ponsel saya sejak saya digiring ke ruang rias. Jika Anda mencari kambing hitam atas kebocoran keamanan keluarga Anda, Anda mencari di tempat yang salah."
Mata Lidya membelalak, terkejut melihat perlawanan dari wanita yang ia anggap tak lebih dari debu di telapak sepatunya. "Beraninya kau menjawabku! Kau—"
"Cukup, Ma," suara Arka memotong tajam. Tidak tinggi, tapi sarat akan peringatan yang membuat Lidya menutup mulutnya seketika.
Arka menatap ibunya dengan ekspresi datar yang membekukan. "Tim IT sedang melacak IP address pengunggah foto itu. Kita akan segera tahu siapa pelakunya. Sampai saat itu tiba, aku tidak ingin mendengar spekulasi atau keributan di rumah ini. Kepalaku sudah cukup pusing mengurus anjloknya saham kita di bursa Eropa malam ini."
"Kau membelanya?" desis Lidya, tidak percaya.
"Aku membela kewarasanku sendiri," balas Arka dingin. Ia menoleh perlahan, menatap Nadira dari sudut matanya. "Dan kau. Berhentilah memancing emosi ibuku. Makan makananmu dalam diam."
Nadira menggigit bagian dalam pipinya hingga terasa anyir darah. Ia menunduk kembali. Arka tidak sedang membelanya; pria itu hanya menganggapnya sebagai sumber kebisingan yang mengganggu pekerjaannya.
Hidangan demi hidangan mewah disajikan oleh barisan pelayan yang bergerak tanpa suara. Sup truffle, foie gras, hingga daging sapi Wagyu A5 yang meleleh di mulut. Namun bagi Nadira, semua makanan berharga jutaan rupiah itu terasa seperti serbuk gergaji. Ia memaksakan diri menelan setiap suapan di bawah rentetan komentar pasif-agresif yang terus mengalir dari kerabat Arka.
Mereka membahas tentang liburan ke Swiss, koleksi tas Hermès terbaru, dan aliansi bisnis yang terancam gagal karena ketidakhadiran keluarga Wijaya—semua dilakukan dengan penekanan kata yang dirancang untuk mengingatkan Nadira betapa ia tidak pantas berada di meja itu. Nadira memblokir suara mereka, memfokuskan pikirannya pada satu hal: ibunya.
Hanya satu tahun, batin Nadira berulang-ulang, merapal mantra pertahanannya. Satu tahun. Ibu akan sembuh. Hutang lunas. Bertahanlah, Nadira.
Makan malam yang terasa seperti penyiksaan selama satu abad itu akhirnya selesai. Anggota keluarga mulai bubar menuju sayap rumah masing-masing. Arka dipanggil oleh Nenek Pratama ke ruang kerjanya untuk rapat darurat bersama direksi melalui panggilan video.
Nadira dibiarkan berdiri sendirian di foyer, tidak tahu kemana ia harus melangkah di dalam rumah raksasa yang membingungkan ini. Saat ia berbalik mencari pelayan yang mungkin bisa mengarahkannya, langkah kakinya terhenti.
Lidya berdiri hanya dua meter di depannya. Tidak ada lagi kerabat lain di sekitar mereka. Mata wanita paruh baya itu menatap Nadira dengan kebencian yang telanjang, tanpa repot-repot ditutupi oleh tata krama sosial.
Lidya melangkah maju perlahan. Bau parfum mewahnya yang berat menusuk hidung Nadira.
"Kau pikir kau sudah menang?" Lidya berbisik, suaranya mendesis seperti ular yang siap mematuk. Matanya menyapu Nadira dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Kau pikir karena kau sudah menandatangani selembar kertas dan memakai cincin anakku, kau telah menjadi bagian dari kami?"
Nadira menelan ludah, menahan napas. "Saya tidak pernah berpikir demikian, Nyonya."
Lidya tersenyum sinis. "Bagus kalau kau sadar diri. Dengar baik-baik, Nona Mahesa. Kau hanyalah perban kotor yang kami gunakan untuk menutupi luka sementara. Jangan pernah bermimpi untuk menempati posisi Selena di hati anakku, atau di rumah ini." Lidya mencondongkan tubuhnya lebih dekat, matanya berkilat penuh ancaman. "Aku akan terus mengawasimu. Sekali saja kau membuat kesalahan... aku sendiri yang akan memastikan kau dilempar keluar dari rumah ini seperti sampah. Aku akan membuatmu pergi, dan aku pastikan hidupmu setelah ini akan menjadi neraka."
Lidya berbalik dan melangkah pergi, diiringi suara ketukan stiletto-nya yang menggema tajam di atas lantai marmer, meninggalkan Nadira yang berdiri membeku dalam dinginnya rumah keluarga Pratama.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar