Kepala pelayan paruh baya bernama Bi Asri, yang wajahnya sedatar tembok dan seirit bicara mungkin, mengantar Nadira melewati lorong panjang di lantai tiga. Lantai ini adalah wilayah terlarang bagi sebagian besar pelayan dan anggota keluarga lainnya—zona eksklusif milik Arka Pratama.

Langkah Nadira terasa semakin berat saat ia menyusuri karpet tebal yang meredam suara sepatunya. Dinding lorong dihiasi lukisan abstrak bernuansa monokromatik dan pencahayaan yang temaram, menciptakan kesan maskulin, elegan, namun sangat sepi. Di ujung lorong, terdapat pintu ganda berwarna hitam matte dengan sistem penguncian biometrik.

Bi Asri menempelkan kartu aksesnya, dan pintu itu terbuka dengan desisan pelan.

"Ini kamar utama, Nyonya," kata Bi Asri dengan nada formal yang kaku, bahkan enggan menyebut nama Nadira. "Pakaian dan barang-barang pribadi Anda yang dibawa dari rumah sewaan Anda sudah diatur di dalam walk-in closet. Jika butuh sesuatu, tekan tombol interkom."

Tanpa menunggu jawaban, Bi Asri menunduk singkat lalu berbalik pergi, meninggalkan Nadira sendirian di ambang pintu.

Nadira menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu melangkah masuk. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia terdiam terpaku.

Kamar ini lebih pantas disebut sebagai penthouse mewah daripada sekadar kamar tidur. Luasnya mungkin lima kali lipat dari ukuran seluruh rumah petaknya di pinggiran Jakarta. Interiornya didominasi warna abu-abu gelap, hitam, dan sentuhan krom. Sebuah ranjang berukuran super king-size dengan kanopi minimalis berdiri kokoh di tengah ruangan, menghadap ke dinding kaca raksasa yang menyajikan pemandangan kelap-kelip lampu kota Jakarta dari kejauhan.

Namun, bukan kemewahannya yang membuat Nadira merasa sesak. Melainkan betapa dingin, presisi, dan tidak bernyawanya ruangan ini. Tidak ada foto, tidak ada barang berserakan, tidak ada kehangatan. Persis seperti pemiliknya.

Di sudut ruangan terdapat area duduk dengan sofa kulit Italia berwarna hitam. Nadira berjalan terseok-seok ke arah sofa itu. Kakinya yang sedari tadi disiksa oleh hak tinggi akhirnya menyerah. Ia melepaskan sepatu itu secara paksa dan membiarkannya tergeletak di atas karpet. Sambil memejamkan mata, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, membiarkan kelelahan fisik dan mental yang telah menumpuk sejak siang tadi menghantamnya sekaligus.

Bayangan ibunya yang terbaring lemah dengan selang-selang medis berkelebat di benaknya. Air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan akhirnya lolos dari sudut matanya, mengalir dalam diam membasahi pipinya. Ia memeluk kedua lengannya sendiri, merasa begitu kecil dan sendirian di dalam sangkar raksasa ini.

Entah berapa lama ia terdiam dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya kota dari luar jendela. Suara ketukan keypad biometrik disusul bunyi klik pelan menyentaknya kembali ke alam sadar.

Nadira buru-buru menghapus sisa air matanya dan duduk tegak. Lampu ruangan mendadak menyala terang benderang.

Arka melangkah masuk. Jasnya sudah dilepas dan disampirkan di lengan kirinya. Dasinya ditarik longgar, dan dua kancing kemeja teratasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya. Pria itu tampak sangat kelelahan; ada bayangan gelap di bawah matanya, dan rahangnya dipenuhi bayangan tipis jambang yang belum dicukur. Namun, tatapannya tetap setajam silet.

Arka berhenti melangkah saat matanya menangkap sosok Nadira yang duduk kaku di atas sofanya. Pandangannya turun ke arah sepasang sepatu hak tinggi yang tergeletak berantakan di atas karpet mahal miliknya. Alisnya berkerut tipis, menunjukkan ketidaksukaannya pada ketidakteraturan, tapi ia tidak berkomentar.

Pria itu berjalan menuju meja nakas, meletakkan jam tangan Patek Philippe-nya dengan bunyi denting pelan, lalu berbalik menghadap Nadira. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.

"Kita perlu memperjelas beberapa hal, Nona Mahesa," suara Arka memecah keheningan, berat dan menggetarkan udara di sekitarnya. "Kontrak yang kau tanda tangani di bawah adalah kesepakatan tertulis untuk publik dan pengacara. Di dalam kamar ini, ada aturan lain yang harus kau patuhi."

Nadira berdiri. Meski ia harus mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka, ia berusaha menatap langsung ke mata Arka tanpa gentar. "Saya mendengarkan."

"Aturan pertama," Arka memulai, melangkah perlahan mengitari ujung ranjang. "Ini adalah zona pribadiku. Aku sangat menghargai privasi. Kau boleh menggunakan setengah dari walk-in closet dan kamar mandi, tapi jangan pernah menyentuh barang-barangku, meja kerjaku, atau mengubah posisi apa pun di dalam ruangan ini."

Nadira mengangguk kaku. "Dimengerti."

"Aturan kedua," Arka menunjuk ke arah ranjang besar di tengah ruangan. "Demi menjaga narasi yang sempurna di depan para pelayan dan ibuku yang pasti akan mencari celah sekecil apa pun, kita harus berbagi kamar. Tidak ada alasan bagi pasangan pengantin baru untuk tidur terpisah." Pria itu menatap Nadira dengan tatapan menilai yang membuat Nadira merasa seolah sedang dipindai dengan sinar-X. "Namun, aku tidak punya ketertarikan fisik sedikit pun padamu. Ranah kita di tempat tidur sangat jelas. Aku tidur di sisi kanan, kau di kiri. Jangan pernah melewati batas tengah. Jika kau merasa tidak nyaman, kau bisa menggunakan selimut terpisah atau tidur di sofa panjang itu, asalkan ranjang ini terlihat ditiduri oleh dua orang setiap pagi."

Wajah Nadira memanas mendengar penegasan pria itu tentang 'tidak ada ketertarikan fisik'. Harga dirinya kembali tersenggol, tapi ia menelannya bulat-bulat. "Jangan khawatir, Tuan Arka. Saya juga tidak memiliki minat untuk menyentuh Anda atau melewati batas apa pun."

Sudut bibir Arka berkedut samar, nyaris tak terlihat, membentuk sebuah seringai sinis. "Bagus. Aturan ketiga. Saat kita berada di luar kamar ini—di depan keluargaku, kolega bisnis, atau media—kau harus memainkan peranmu sebagai istri yang suportif dengan sempurna. Tersenyum saat diperlukan, diam saat tidak ditanya. Jangan berdebat dengan ibuku di depan umum seperti tadi malam. Aku tidak butuh drama tambahan."

"Saya hanya membela diri dari tuduhan yang tidak berdasar," Nadira membantah pelan, suaranya sarat akan rasa frustrasi yang tertahan.

Arka melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya tersisa satu meter. Aura dominan pria itu terasa mengintimidasi, memaksa Nadira untuk tidak mundur meski tubuhnya ingin melakukannya.

"Di dunia ini, kebenaran tidak penting, Nadira. Yang penting adalah apa yang terlihat oleh publik," desis Arka dingin. "Dan aturan terakhir... yang paling penting. Uang jaminan, biaya rumah sakit ibumu, dan pelunasan hutang keluargamu sedang diproses oleh Baskoro malam ini. Semua akan selesai besok pagi."

Mata hitam Arka menyipit, mengunci tatapan Nadira dengan kecurigaan yang tebal. "Jangan serakah. Jangan pernah mencoba memanfaatkan posisimu saat ini untuk meminta lebih, atau mencoba memeras keluargaku di masa depan. Aku sudah menghadapi banyak lintah darat berkedok wanita polos. Jika kau mencoba mempermainkanku, aku akan menghancurkanmu tanpa ragu sedikit pun."

Udara di antara mereka membeku. Dada Nadira naik turun dengan napas yang memburu. Kata 'lintah darat' dan 'wanita polos' itu merobek kesabarannya.

"Anda tidak perlu mengancam saya, Tuan Arka," Nadira membalas, suaranya bergetar namun matanya menyala penuh determinasi. "Saya menyetujui kontrak gila ini murni karena saya terdesak untuk menyelamatkan nyawa ibu saya. Tidak lebih. Uang jaminan lima miliar yang Anda janjikan di akhir kontrak bahkan tidak akan saya sentuh jika ibu saya sudah sembuh nanti. Saya punya pekerjaan, saya bisa menghidupi diri saya sendiri. Saya di sini bukan untuk merampok harta keluarga Anda. Saya di sini hanya sebagai tameng untuk menyelamatkan muka Anda. Jadi, simpan kecurigaan Anda, karena saya lebih ingin keluar dari rumah ini secepatnya daripada Anda."

Keheningan yang tegang menyusul ledakan Nadira. Arka menatap wanita di depannya dengan intensitas baru. Selama ini, wanita yang mendekatinya selalu menunduk patuh, mencari muka, atau memohon belas kasihan. Tidak ada yang berani menatap matanya dan membalas argumennya dengan amarah murni seperti ini. Terutama wanita dari kelas sosial bawah.

Selama beberapa detik, Arka hanya diam mengamati wajah Nadira yang memerah. Kemudian, ia memalingkan wajah, melepaskan ikatan dasinya sepenuhnya.

"Kita lihat saja nanti, Nona Mahesa. Waktu yang akan membuktikan apakah kau berbeda dari yang lainnya," ucap Arka datar, lalu melangkah melewati Nadira menuju kamar mandi. "Bersihkan dirimu dan tidurlah. Besok pagi, pertunjukan sesungguhnya baru akan dimulai."

Pintu kamar mandi tertutup, meninggalkan Nadira yang berdiri gemetar di tengah ruangan raksasa itu. Rasa sepi mendadak menyerangnya dengan kekuatan penuh. Ia sadar, mulai malam ini, ia benar-benar sendirian di medan perang.

Keesokan paginya, sinar matahari menerobos melalui celah tirai otomatis yang terbuka perlahan. Nadira membuka mata, merasakan pegal di sekujur punggungnya. Sesuai janjinya semalam, ia tidak tidur di ranjang besar itu. Ia memilih meringkuk di atas sofa dengan selimut tipis yang ia temukan di lemari, sementara Arka tidur memunggunginya di sisi kanan ranjang raksasa tersebut.

Saat Nadira bangkit untuk duduk, ia menyadari Arka sudah tidak ada. Ranjang di sisi kanan sudah dirapikan dengan sempurna seolah tak pernah disentuh. Pria itu sudah pergi.

Nadira berjalan ke arah jendela kaca, menatap hamparan taman luas dengan air mancur dan kolam renang di bawah sana. Para tukang kebun berseragam sibuk memangkas semak-semak, sementara beberapa pelayan berlalu lalang membawa nampan perak. Ia menghela napas panjang, menempelkan telapak tangannya ke kaca yang dingin. Ini adalah kehidupan barunya sekarang. Sebuah penjara emas dengan aturan tak kasat mata di setiap sudutnya.

Di saat yang sama, di lantai dasar, tepatnya di dalam ruang kerja utama yang berdinding buku-buku antik, Arka sedang berdiri menghadap jendela, memegang cangkir kopi hitamnya. Jasnya sudah rapi, siap untuk berangkat ke kantor pusat guna menghadapi dewan direksi yang pasti akan menuntut penjelasan atas kekacauan semalam.

Pintu ruang kerja diketuk sebelum terbuka. Baskoro masuk dengan langkah cepat dan wajah yang tegang. Ia membawa sebuah tablet di tangannya.

"Tuan Arka, ada berita mendesak," lapor Baskoro tanpa basa-basi.

Arka menyesap kopinya dengan tenang. "Direksi sudah mulai berulah?"

"Bukan soal direksi, Tuan. Ini soal Nona Selena."

Tangan Arka yang memegang cangkir seketika berhenti di udara. Rahangnya mengeras. "Apa lagi yang dia lakukan?"

Baskoro meletakkan tablet tersebut di atas meja kerja Arka, menampilkan sebuah foto hasil tangkapan paparazi yang buram namun sangat jelas sosoknya.

Di dalam foto tersebut, terlihat seorang wanita anggun mengenakan mantel trench coat desainer berwarna beige dan kacamata hitam berbingkai besar. Ia sedang berjalan di area kedatangan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, dikawal oleh dua pengawal pribadi. Wajahnya tertunduk, menghindari kamera, namun tidak ada yang bisa salah mengenali siluet itu.

"Ini foto yang diambil subuh tadi, Tuan," suara Baskoro terdengar penuh kekhawatiran. "Nona Selena... tidak jadi terbang ke Eropa. Dia telah kembali ke Jakarta."