Lantai lima puluh Gedung Pratama Tower adalah pusat saraf dari seluruh kerajaan bisnis keluarga Pratama. Di sinilah keputusan-keputusan bernilai triliunan rupiah diketuk, dan di sinilah Nadira sekarang mendapati dirinya terperangkap.

Sesuai titah Nenek Pratama pagi ini, Nadira tidak lagi diizinkan kembali ke meja kerjanya di Departemen Komunikasi Perusahaan yang berada di lantai belasan. Statusnya sebagai 'istri' Arka mengharuskannya berada di bawah pengawasan langsung. Meja kerja baru berbahan kayu walnut telah disiapkan untuknya, terletak tepat di sudut ruang kerja Arka yang luasnya menyamai sebuah lapangan tenis indoor.

Alasannya sederhana: narasi publik. Jika ada staf atau petinggi perusahaan yang masuk, mereka harus melihat pasangan pengantin baru ini tidak terpisahkan.

Nadira duduk diam di kursinya, jemarinya mengetik draf pidato amal yang ditugaskan kepadanya. Namun, pikirannya melayang. Suara ketukan keyboard mekanik dari meja Arka di seberang ruangan terdengar konstan, dingin, dan berjarak. Sejak berita kedatangan Selena di Jakarta dilaporkan oleh Baskoro tadi pagi, Arka berubah menjadi patung es. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya. Aura di dalam ruangan itu begitu berat hingga terasa mencekik.

Tepat pukul dua siang, keheningan yang tegang itu pecah berkeping-keping.

Terdengar suara keributan dari arah luar, menembus pintu ganda kayu ek yang tebal. Suara hak tinggi yang dihentakkan dengan kasar beradu dengan suara panik para sekretaris yang berusaha mencegah seseorang masuk.

"Maaf, Nona! Anda tidak bisa masuk tanpa jadwal—"

"Minggir! Aku tidak butuh jadwal untuk menemui calon suamiku!"

Pintu ganda itu menjeblak terbuka dengan paksa, membentur stopper di dinding dengan suara keras.

Di ambang pintu, berdiri Selena Wijaya.

Wanita itu tampak seperti baru saja melangkah keluar dari sampul majalah Vogue. Mantel trench berbahan kasmir membalut tubuh rampingnya, rambut cokelat bergelombangnya ditata sempurna membingkai wajah oval yang luar biasa cantik. Mata bulatnya yang biasanya memancarkan arogansi, kini tampak sembab dan merah. Jejak air mata yang dirancang sedemikian rupa membuat riasannya terlihat tragis namun tetap memukau. Aroma parfum Baccarat Rouge yang kuat seketika menginvasi ruangan, menyingkirkan wangi cedarwood maskulin milik Arka.

Di belakang Selena, dua sekretaris berdiri dengan wajah pucat pasi, menatap Arka dengan tatapan memohon ampun.

Arka perlahan mengangkat wajahnya dari layar monitor. Garis rahangnya mengetat sedemikian rupa hingga otot-otot di pelipisnya menonjol. Ia mengangkat satu tangan, memberi isyarat tajam kepada para sekretarisnya. "Kalian boleh keluar. Tutup pintunya."

Begitu pintu tertutup, isak tangis Selena pecah. Wanita itu berlari menyeberangi ruangan luas tersebut, mengabaikan segala keanggunannya, dan menubrukkan dirinya ke atas meja kerja Arka. Tangannya yang dihiasi manicure sempurna terulur, berusaha meraih tangan Arka.

"Arka... Arka, maafkan aku," isaknya dengan suara serak yang menyayat hati. "Aku bodoh. Aku sangat bodoh."

Arka tidak bergerak inci pun. Ia membiarkan tangan Selena menggantung di udara. Matanya yang gelap menatap wanita yang nyaris menjadi istrinya itu dengan kedinginan yang membekukan darah. "Apa yang kau lakukan di sini, Selena?"

"Aku kembali untukmu!" Selena mendongak, air mata membasahi pipinya yang mulus. "Aku mengalami panic attack di hotel. Pikiranku kacau. Tekanan dari media, dari keluargaku, dari semua orang... aku merasa tidak bisa bernapas. Aku hanya ingin lari sejenak, menenangkan diri. Tapi begitu pesawatku mendarat di Singapura, aku sadar aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Arka. Aku mencintaimu!"

Nadira, yang duduk terpaku di sudut ruangan, merasa napasnya tertahan. Ia seperti penonton tak kasatmata di tengah drama panggung yang intens. Ia bisa melihat betapa pandainya Selena merangkai kata, menggunakan air mata sebagai senjata utamanya.

Arka bersandar di kursinya, melipat kedua lengan di depan dada. "Kau menyadari kau mencintaiku saat kau tiba di Singapura? Lalu kenapa kau bersembunyi selama tiga hari dan membiarkan keluargaku menjadi bahan tertawaan publik?"

"Aku takut!" Selena terisak semakin keras. "Aku takut menghadapi kemarahanmu. Aku takut Nenek Pratama akan membunuhku. Tapi saat aku melihat berita... saat aku melihat foto pernikahan itu..."

Suara Selena terputus oleh isakan yang tertahan. Ia menatap Arka dengan sorot mata penuh pengkhianatan yang dipalsukan. "Bagaimana kau bisa, Arka? Hanya dalam hitungan jam, kau menggantikanku? Kau menikahi wanita antah berantah itu? Apakah pernikahan kita, cinta kita selama tiga tahun ini, tidak ada artinya sama sekali bagimu?"

Sebuah tawa sinis, pendek dan tanpa humor, lolos dari bibir Arka. "Jangan memutarbalikkan fakta, Selena. Kau yang meninggalkan gaunmu di lantai dan lari seperti pengecut. Di dunia bisnis, ketika satu vendor gagal memenuhi kewajibannya, kita mencari pengganti untuk menyelamatkan proyek. Itulah yang kulakukan."

Mata Selena melebar. Kata 'vendor' dan 'proyek' itu menampar harga dirinya. Ia bukan sekadar kesepakatan bisnis; ia adalah putri mahkota keluarga Wijaya!

Dan tepat pada detik itu, pandangan Selena yang berkaca-kaca menyapu ke sekeliling ruangan dan akhirnya membentur sosok Nadira.

Nadira tidak menunduk. Ia duduk tegak, mengenakan blus sutra sederhana berwarna krem, menatap lurus ke arah Selena dengan ketenangan yang aneh.

Tangis Selena berhenti seketika, seolah ada yang menekan tombol pause di tenggorokannya. Air mata yang tadi mengalir deras tiba-tiba mengering, digantikan oleh kilat kebencian yang murni dan beracun. Postur tubuhnya yang rapuh mendadak tegak, memancarkan arogansi bawaannya.

Ia melangkah menjauhi meja Arka, berjalan perlahan mendekati meja Nadira. Suara hak sepatunya mengetuk lantai marmer seperti hitungan mundur bom waktu.

"Jadi... ini dia," desis Selena. Suaranya tidak lagi serak, melainkan tajam dan merendahkan. Ia berhenti tepat di depan meja Nadira, menatap perempuan itu dari atas ke bawah seolah menatap gumpalan lumpur di sepatunya. "Staf rendahan yang fotonya tersebar di mana-mana. Kudengar dari Baskoro kau dari Departemen Komunikasi? Berapa gajimu sebulan? Lima juta? Sepuluh juta?"

"Selena. Cukup," suara bariton Arka menggema sebagai peringatan.

Namun Selena mengabaikannya. Ia mencondongkan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja Nadira. "Kau pikir kau menang? Kau pikir dengan memakai sisa gaunku dan berdiri di altar, kau bisa menjadi Nyonya Pratama? Kau hanya alat, wanita miskin. Pion yang dipakai Arka untuk menutupi kesalahanku."

Nadira menatap sepasang mata cokelat yang menyala-nyala di hadapannya. Jantungnya berdebar kencang, tapi ia teringat pada saldo rekening rumah sakit ibunya yang sudah terbayar lunas pagi ini. Pengorbanannya punya tujuan, dan ia tidak akan membiarkan wanita manja ini menginjak-injak sisa harga dirinya.

"Saya tahu posisi saya dengan sangat baik, Nona Selena," jawab Nadira pelan, artikulasinya sangat jelas. Suaranya tidak bergetar sama sekali. "Saya memang pengganti. Tapi setidaknya, saya adalah pengganti yang tidak melarikan diri dari tanggung jawab."

Wajah Selena memerah padam. Tamparan verbal itu begitu telak. Napasnya memburu, jari-jarinya mencengkeram tepi meja Nadira hingga buku-bukunya memutih. Ia mengangkat tangannya, seolah ingin mendaratkan tamparan fisik ke pipi Nadira.

"Selena!"

Suara langkah kaki Arka yang lebar dan cepat terdengar, lalu cengkeraman kuat pria itu menahan lengan Selena di udara. Arka menarik tubuh Selena menjauh dari meja Nadira. Wajah Arka sedingin badai salju.

"Keluar dari ruanganku," perintah Arka, suaranya sangat pelan, yang justru membuatnya terdengar jauh lebih mematikan. "Keamanan akan mengantarmu ke lobi. Jangan pernah menginjakkan kaki di gedung ini lagi tanpa izin tertulis dariku."

Selena merenggut lengannya dari cengkeraman Arka. Dada wanita itu naik turun dengan cepat. Ia menatap Arka yang berdiri melindungi ruang pribadi Nadira, sesuatu yang terasa asing dan menyakitkan. Lalu, ia kembali menatap Nadira dengan seringai yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Kau akan menyesali ini, Arka," bisik Selena, suaranya bergetar karena amarah yang tak tertahankan. Ia memperbaiki kerah mantelnya, kembali memancarkan kebanggaan keluarga Wijaya.

Sebelum berbalik menuju pintu, Selena menatap tepat ke arah Nadira. Mata cokelatnya berkilat penuh ancaman.

"Kau belum memenangkan apa pun, Nona Mahesa. Nikmati saja mahkotamu yang rapuh itu, karena aku berjanji padamu..." Selena tersenyum miring, sebuah senyuman iblis yang menjanjikan kehancuran. "Aku akan merebut Arka kembali, dan aku akan memastikan kau hancur hingga tak bersisa."

Pintu kayu ek itu dibanting tertutup, meninggalkan keheningan yang menyiksa di udara.