Dua hari yang lalu, aku tidak tahu siapa Reyhan Adiprawira. Hari ini, aku sudah jadi istrinya.
Mungkin itu yang paling absurd dari hidup. Kamu bisa menghabiskan dua puluh enam tahun tanpa menyentuh nama seseorang, lalu dalam empat puluh delapan jam, nama itu sudah tertulis di belakang namamu sendiri di kartu identitas. Sah secara hukum. Sah secara agama. Tidak sah secara apa pun yang penting.
Ruangan notaris itu kecil. Lampu kuning di langit-langit, jenis lampu yang membuat semua orang tampak lebih lelah daripada sebenarnya. Dinding berwarna krem yang sudah memudar. Satu jendela di sudut yang menghadap parkiran — aku bisa melihat Mercedes hitam yang akan menjemputku setelah ini, sopir yang sudah menunggu di luar, tampak bosan.
Aku menggenggam tepi rok. Setelan ini bukan milikku. Mbak Lestari, asisten Pak Sutarno, yang membelikan kemarin. "Pak Reyhan tidak suka kalau istri beliau berpenampilan biasa. Kami sudah siapkan semuanya, Bu Arini."
Bu Arini. Kata itu terdengar asing. Selama ini, aku Bu Arini di sekolah TK Permata Bangsa — anak-anak usia tiga sampai lima tahun yang memanggilku dengan suara yang melengking sambil menyodorkan gambar-gambar berantakan. "Bu Aliniii, aku bikin kupu-kupu!" — dengan kupu-kupu yang lebih mirip telur dadar.
Tapi Bu Arini di sini, di kantor notaris pinggir Sudirman, terdengar berbeda. Lebih dingin. Lebih jauh.
"Bu Arini, silakan tanda tangan di sini."
Pak Sutarno, pengacara berusia akhir lima puluhan, mendorong dokumen ke arahku. Sopan. Profesional. Tapi tatapannya tidak menemui mataku — yang aku syukuri, karena aku tidak yakin aku sanggup menatap balik siapa pun saat ini.
Aku membaca dokumen itu satu kali lagi. Bukan karena aku belum pernah membacanya — kemarin malam aku sudah membacanya tiga kali sampai semua kalimat berputar di kepalaku seperti lirik lagu yang tidak bisa hilang.
Kontrak Pernikahan antara Reyhan Adiprawira dan Arini Pratiwi. Jangka waktu: dua tahun, terhitung sejak tanggal ijab kabul. Kompensasi total: Rp 5.000.000.000 (lima miliar rupiah), dibayar dalam dua termin. Termin pertama: Rp 2.500.000.000, dibayar tunai pada hari pernikahan. Termin kedua: Rp 2.500.000.000, dibayar pada hari perceraian damai.
Lima miliar rupiah. Untuk dua tahun hidupku.
Aku pernah menghitung — gaji guru TK satu juta lima ratus ribu rupiah per bulan. Untuk mendapatkan lima miliar dengan gaji itu, aku harus mengajar selama dua ratus tujuh puluh delapan tahun. Lebih lama dari tiga generasi.
Tapi yang lebih penting — lima miliar rupiah cukup untuk transplantasi jantung Bapak. Plus sisa untuk hidup tenang. Plus kuliah Bilqis sampai S2. Plus, mungkin, satu mimpi kecil yang sudah lama aku kubur — buka kelas sastra anak di kampung halaman.
Lima miliar rupiah.
Untuk dua tahun.
"Bu Arini?"
Suara Pak Sutarno membuyarkan lamunanku. Aku menatap pulpen di tanganku. Pulpen Mont Blanc — pulpen Reyhan, yang dia titipkan via Pak Sutarno "untuk dipakai istri saya saat tanda tangan." Detail kecil yang seharusnya tidak berarti, tapi entah kenapa membuat tanganku gemetar lebih dari sebelumnya.
Aku menarik napas. Menulis namaku di tempat yang ditunjuk.
Arini Pratiwi.
Tinta hitam mengering di atas kertas mahal. Tanda tangan yang akan mengikat dua tahun hidupku ke pria yang belum pernah aku temui.
"Selesai," kata Pak Sutarno dengan nada yang lega.
Aku mengangguk. Meletakkan pulpen di atas meja. Berusaha tidak tampak terburu-buru.
Pintu ruangan terbuka.
Aku tidak menoleh. Aku tahu siapa.
"Pak Reyhan," sapa Pak Sutarno, langsung berdiri dengan hormat. "Bu Arini sudah menandatangani."
Langkah masuk. Sepatu kulit yang berderap pelan tapi pasti. Aroma — kayu cendana, samar, mahal. Bukan parfum yang menusuk. Hanya... hadir.
Aku mengangkat wajah pelan.
Reyhan Adiprawira berdiri di sebelah Pak Sutarno. Tinggi, lebih tinggi dari yang aku bayangkan dari foto. Setelan hitam yang dijahit pas, kemeja putih, dasi abu-abu. Rambut hitam pendek yang disisir rapi. Jam tangan yang aku tidak akan tahu mereknya tapi pasti mahal.
Wajahnya — wajah yang aku sudah lihat di internet kemarin, saat aku panik dan mencari tahu siapa pria yang akan jadi suamiku. CEO Adiprawira Pharmaceutical Group. Berusia 33 tahun. Lulusan MBA Harvard. Duda — istri pertama meninggal dalam kecelakaan tiga tahun lalu.
Tapi gambar-gambar di internet tidak menyiapkanku untuk satu hal: matanya.
Mata coklat tua yang dingin. Bukan dingin marah. Dingin... kosong. Seperti ruangan yang sudah lama tidak ditinggali.
Dia tidak menatapku.
"Sudah selesai?" suaranya datar, ditujukan pada Pak Sutarno.
"Sudah, Pak. Tinggal tanda tangan dari Bapak."
Reyhan mengangguk. Berjalan ke meja. Mengambil pulpen yang baru saja aku letakkan. Tanpa melihat siapa yang habis memakai pulpen itu, dia menulis namanya di tempat yang ditunjuk. Tanda tangan yang elegan, panjang, dengan ekor yang melayang.
Reyhan Adiprawira.
Selesai. Sah. Empat puluh lima detik untuk menutup dua tahun hidupku.
"Selamat, Pak Reyhan, Bu Arini," kata Pak Sutarno. "Pernikahan resmi tercatat akan diselesaikan minggu depan di KUA. Tapi secara legal kontrak sudah berlaku sejak..."
"Saya tahu, Sutarno," potong Reyhan. Suaranya halus tapi membawa otoritas yang tidak bisa dibantah. "Kita selesai di sini?"
"Iya, Pak."
Reyhan mengangguk. Berbalik. Akan keluar.
Lalu dia berhenti.
Aku tidak tahu kenapa. Tapi sesuatu — sesuatu yang aku tidak bisa baca — membuat dia berbalik lagi. Dan untuk pertama kalinya sejak dia masuk ruangan, dia menatapku.
Benar-benar menatap. Bukan pandangan sepintas. Bukan pandangan formal. Tatapan yang... tertahan. Seperti orang yang tiba-tiba lupa kenapa dia berdiri di tempat itu.
Aku menelan ludah. Mengangkat wajah dengan canggung. Mungkin dia ingin menyalami? Mungkin protokol?
Tapi tidak.
Wajah Reyhan berubah pucat.
Detik demi detik. Putih, lebih putih, sampai bibirnya tampak seperti garis tanpa warna. Tangan kanannya, yang tadi menggenggam pulpen Mont Blanc, sekarang gemetar. Dia melepaskan pulpen — pulpen itu berdenting di atas meja, suara kecil yang dalam ruangan kecil ini terdengar seperti tembakan.
"Sutarno," ujarnya. Suara yang tadi datar, sekarang serak. "Kenapa kamu tidak bilang... dia mirip Adelia."
Pak Sutarno membeku.
Aku membeku.
Adelia.
Nama itu — aku pernah dengar. Di mana? Internet kemarin. Adelia Hartanto. Istri pertama Reyhan Adiprawira. Meninggal dalam kecelakaan mobil tiga tahun lalu di tikungan turun Puncak.
Aku... mirip dengannya?
"Pak Reyhan—" Pak Sutarno mulai bicara, panik.
Tapi Reyhan sudah berbalik. Cepat. Berjalan keluar ruangan tanpa menoleh sekali pun. Pintu ditutup dengan suara yang lebih keras dari yang sopan.
Aku duduk diam di kursi. Pulpen Mont Blanc masih bergulir pelan di meja, mengayun ke kanan, ke kiri, lalu berhenti.
Pak Sutarno menelan ludah. Menatapku dengan tatapan yang aku tidak bisa baca — campuran rasa bersalah, malu, dan satu hal lagi yang mungkin... kasihan.
"Bu Arini, saya minta maaf. Pak Reyhan sedang... sedang dalam masa yang sulit."
"Tidak apa-apa, Pak."
Suaraku terdengar lebih tenang dari yang aku rasakan.
"Tapi Bu, ada satu hal yang Pak Reyhan minta saya sampaikan pada Bu. Kami menunggu sampai setelah tanda tangan, supaya tidak mempengaruhi keputusan Bu. Tapi sekarang, sudah selesai, jadi..."
Aku mengangguk. Menunggu.
Pak Sutarno menarik napas. Mengeluarkan amplop kecil dari sakunya. Meletakkan di meja, di hadapanku.
"Pak Reyhan minta Bu Arini berjanji satu hal."
"Apa, Pak?"
"Jangan pernah, sekali pun, mencoba menjadi istri pertama beliau."
Aku menatap amplop itu. Menatap Pak Sutarno.
"Maksudnya?"
"Maksudnya, Bu — Pak Reyhan tahu Anda mirip dengan istri pertamanya. Beliau akan berusaha menerima. Tapi beliau minta Anda tidak meniru. Tidak meniru cara berpakaian. Tidak meniru cara bicara. Tidak meniru kebiasaan. Tidak ada hal apapun. Anda harus tetap menjadi Anda, Bu Arini. Bukan dia."
Aku membuka amplop pelan.
Di dalamnya, satu lembar kertas. Tulisan tangan. Tinta hitam. Tulisan yang elegan dan tegas — pasti tulisan tangan Reyhan.
Bu Arini.
Maafkan saya untuk reaksi saya tadi. Itu tidak profesional. Saya akan berusaha lebih baik.
Tapi saya minta satu hal — selama dua tahun ke depan, jadilah Arini. Bukan Adelia. Saya tahu wajah Anda mirip dengan beliau. Saya tidak bisa mengubah itu. Tapi tolong, jangan biarkan kemiripan itu menjadi sesuatu yang lebih dari fisik. Karena kalau sampai itu terjadi, saya tidak akan bisa membedakan kapan saya melihat Anda, dan kapan saya melihat hantu.
Dan saya tidak ingin menyakiti Anda dengan ketidakmampuan saya membedakan.
— R.
Aku membaca surat itu tiga kali.
Kalimat terakhir — "Saya tidak ingin menyakiti Anda dengan ketidakmampuan saya membedakan." — terasa seperti satu-satunya kalimat jujur yang pria itu tulis.
Pria yang baru aku temui selama empat puluh lima detik. Yang menatapku selama lima detik. Yang sudah meninggalkan ruangan tanpa pamit. Pria itu — entah dari mana — sudah cukup jujur untuk mengakui bahwa dia tidak siap menjadi suami yang baik. Bahkan dalam pernikahan yang hanya kontrak.
Aku melipat surat itu pelan. Memasukkan ke dalam tas tanganku.
"Pak Sutarno."
"Iya, Bu?"
"Kapan saya pindah ke rumah Pak Reyhan?"
Pak Sutarno menatapku. Mungkin dia mengira aku akan menangis. Mungkin dia mengira aku akan membatalkan kontrak. Tapi aku tidak bisa membatalkan — tidak setelah uang dua koma lima miliar sudah masuk ke rekening rumah sakit untuk operasi Bapak besok pagi.
"Sopir akan mengantar Bu Arini sekarang. Barang-barang Bu sudah dikirim ke kamar Bu di mansion."
"Baik."
Aku berdiri. Mengambil tas tanganku. Berjalan keluar ruangan dengan langkah yang aku usahakan tampak tenang.
Mercedes hitam masih menunggu di parkiran. Sopir, melihatku keluar, langsung membuka pintu belakang.
"Bu Arini."
"Pak..."
"Pak Tarno, Bu. Sopir pribadi Pak Reyhan."
"Iya, Pak Tarno. Terima kasih."
Aku masuk ke mobil. Sopir menutup pintu pelan. Berjalan ke kursi pengemudi. Mesin mobil menyala.
Aku menatap luar jendela. Sore Sudirman. Macet seperti biasa. Lampu-lampu mulai menyala. Para pekerja kantoran berjalan ke arah halte busway, mengecek ponsel sambil berjalan.
Mereka semua punya hidup biasa. Pulang ke rumah biasa. Suami atau istri biasa. Mungkin makan malam biasa.
Aku — sedang dibawa ke mansion seseorang yang baru menjadi suamiku empat puluh lima menit yang lalu, yang tidak akan pernah aku panggil "suami" kecuali di hadapan kamera, yang sudah meminta aku berjanji untuk tidak menjadi bayangan istri pertamanya.
Pernikahan. Tapi bukan pernikahan.
Suami. Tapi bukan suami.
Aku Arini. Tapi sebentar lagi, aku tidak yakin lagi siapa.
Aku mengeluarkan ponsel dari tas. Membuka kontak Bapak.
Pak, Arini sudah selesai tanda tangan. Uangnya sudah ditransfer ke rumah sakit. Bapak siapkan diri untuk operasi besok. Arini sehat. Jangan khawatir.
Aku kirim. Tidak menambahkan emoji. Tidak menambahkan kata sayang. Bapak akan tahu Arini tidak baik-baik saja kalau aku berusaha terlalu keras membuktikan baik-baik saja.
Pesan terkirim. Status berubah jadi terbaca lima detik kemudian.
Bapak membalas:
Nak, Bapak bangga. Tapi Bapak juga... maaf. Maaf karena Bapak yang sakit, dan kamu yang harus berkorban. Bapak akan kuat. Untuk kamu. Untuk Bilqis. Untuk Mama yang sedang lihat dari atas. Sayang, Nak.
Aku menutup ponsel. Menatap luar jendela.
Mobil melaju. Memasuki jalan tol menuju Pondok Indah.
Senja Jakarta. Langit jingga. Awan-awan yang berarak pelan.
Dan di kepalaku, satu kalimat yang Reyhan tulis di surat — kalimat yang seharusnya membuatku takut, tapi anehnya membuatku merasa... iba — terus bergema:
"Saya tidak ingin menyakiti Anda dengan ketidakmampuan saya membedakan."
Pria yang tidak bisa membedakan istri yang hidup dari hantu yang sudah pergi.
Pria yang baru aku akui sebagai suami.
Pria yang akan berbagi rumah denganku selama dua tahun ke depan.
Aku menatap bayanganku di kaca jendela mobil. Wajahku — yang mereka bilang mirip Adelia. Wajah yang sebentar lagi akan menjadi pengingat seseorang yang sudah mati setiap kali pria itu memandangku.
Aku menarik napas.
Pelan.
Dua tahun. Aku bisa melewati dua tahun. Untuk Bapak. Untuk Bilqis. Untuk hidup yang akan datang setelah ini selesai.
Aku hanya perlu satu hal — tidak boleh jatuh cinta.
Tidak pada pria itu. Tidak pada kehidupan ini. Tidak pada apapun yang akan membuat aku menetap lebih lama dari kontrak.
Karena aku tahu — meskipun aku belum kenal pria itu — pria yang mencari hantu di wajah istri yang masih hidup, adalah pria yang tidak akan pernah bisa benar-benar mencintai.
Dan aku, Arini Pratiwi, sudah cukup terluka dalam hidup tanpa harus menambah satu lagi.
Dua tahun. Itu saja.
Lalu aku akan pulang ke rumah Bapak. Mengajar TK lagi. Menulis puisi lagi. Hidup biasa lagi.
Mobil melaju memasuki kompleks Pondok Indah. Gerbang besar. Pohon-pohon palem. Rumah-rumah mewah.
Dan di ujung jalan utama — mansion bercat putih, tiga lantai, pagar besi tinggi yang sudah dibuka oleh penjaga.
Mansion Adiprawira.
Rumah baruku. Untuk dua tahun.
Sopir membuka pintu.
Aku turun. Mengangkat dagu. Berjalan ke arah pintu utama.
Dua tahun, Arini. Dua tahun.
Pintu mansion terbuka. Seorang wanita berusia akhir empat puluhan menyambutku. Setelan baju pelayan yang rapi, rambut disanggul, ekspresi sopan tapi jaga jarak.
"Selamat sore, Bu Arini. Saya Bu Asih, kepala pelayan rumah ini. Selamat datang."
Aku mengangguk. Tersenyum. Senyum yang aku usahakan hangat.
"Terima kasih, Bu Asih."
Aku masuk.
Dan saat pintu mansion menutup di belakangku, aku merasa — meskipun aku tidak tahu kenapa — bahwa kontrak yang baru saja aku tanda tangani tadi sore, akan menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dari hanya dua tahun.
Karena rumah ini — dengan dingin yang menjalar dari lantai marmer ke kaki, dengan diam yang terasa lebih berat dari suara — adalah rumah yang masih dihuni hantu.
Dan aku, tanpa bisa memilih, baru saja menjadi pengganti yang harus berbagi tempat tinggal dengannya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar