Mansion itu lebih besar dari sekolah tempatku mengajar. Tapi dingin yang ada di dalamnya lebih besar dari ukurannya.
Bu Asih membawaku melewati lobi utama — lantai marmer berwarna krem yang dipoles sampai bisa memantulkan langit-langit, lampu kristal yang tergantung tinggi seperti bintang yang lupa cara jatuh, satu set sofa kulit putih yang terlihat seperti tidak pernah didudukin oleh manusia. Ada satu lukisan besar di dinding utama — pemandangan pantai yang aku tidak yakin di mana, tapi catnya terlihat mahal.
"Ini ruang tamu utama, Bu Arini," Bu Asih menjelaskan sambil berjalan. "Biasanya dipakai kalau ada tamu bisnis Pak Reyhan. Bu jarang akan masuk ke sini, kecuali ada acara."
"Iya, Bu."
Aku menatap dinding-dinding tinggi. Ada beberapa frame foto — semuanya foto pemandangan, tidak ada satu pun foto keluarga. Tidak ada foto pernikahan. Tidak ada foto Reyhan dengan siapa pun.
Mungkin foto-foto itu dulu ada. Lalu disingkirkan.
"Mari saya tunjukkan ke wing barat, Bu."
Bu Asih berjalan ke koridor sebelah kanan. Aku mengikuti. Sepatu hak tinggi pinjaman ini sudah mulai membuat tumitku perih, tapi aku tidak berani melepasnya. Bukan karena aturan — karena aku belum cukup kenal rumah ini untuk merasa bebas berjalan tanpa alas kaki.
Koridor wing barat panjang. Karpet tebal di lantai meredam suara langkah kami. Lampu dinding yang berbentuk lilin elektrik. Beberapa pintu di kiri dan kanan, semuanya tertutup.
"Kamar tamu, kamar tamu, ruang baca, kamar tamu lagi," Bu Asih menjelaskan sambil menunjuk pintu satu per satu, sampai kami berhenti di pintu di ujung koridor.
"Dan ini... kamar Bu Arini."
Beliau membuka pintu.
Aku menahan napas.
Kamar itu — bukan, suite itu — lebih besar dari rumah Bapak. Tempat tidur king size dengan kelambu sutra putih. Lemari pakaian yang membentang dari satu sisi tembok ke sisi lainnya. Meja rias dengan cermin lipat tiga. Sofa kecil di sudut menghadap jendela besar yang membentang dari lantai sampai langit-langit. Dan di sebelahnya — pintu kaca yang menuju balkon pribadi.
"Pakaian Bu sudah disusun di lemari. Pak Reyhan memesan beberapa pakaian baru juga, sesuai ukuran yang Pak Sutarno kirim dari Bu. Kalau tidak cocok, Bu bisa minta saya panggilkan penjahit pribadi."
Aku berjalan pelan ke lemari. Membuka.
Pakaian-pakaian yang tergantung rapi — gaun, blus, celana kerja, kebaya. Semuanya dengan label brand yang aku tidak akan tahu cara membaca. Sepatu — dua belas pasang. Tas — tujuh atau delapan. Perhiasan di kotak akrilik — kalung, anting, gelang.
Lebih banyak pakaian dari yang aku miliki sepanjang hidupku.
Tapi yang membuat dadaku terasa sesak — bukan karena terharu — adalah karena semua pakaian itu tidak akan pernah jadi pilihan aku sendiri. Disusun untuk aku. Dipilih untuk aku. Dipakai untuk aku.
Aku tidak punya pilihan apa pun di rumah ini.
"Bu Arini?"
Aku berbalik. Bu Asih menatapku dengan tatapan yang sopan tapi jaga jarak.
"Iya, Bu Asih?"
"Ada beberapa hal yang Pak Reyhan minta saya sampaikan."
Aku menunggu.
"Pertama, makan pagi disajikan pukul tujuh di ruang makan utama. Pak Reyhan biasanya sarapan sendiri, tapi tiga kali seminggu — Senin, Rabu, Jumat — Pak meminta Bu untuk hadir."
"Iya."
"Kedua, makan malam pukul tujuh. Pak Reyhan biasanya pulang antara pukul enam sampai delapan malam. Kalau Pak terlambat, Bu boleh makan duluan."
"Iya."
"Ketiga, kalau Bu mau keluar dari mansion — entah ke mana — Bu mohon beritahu Pak Tarno terlebih dahulu. Beliau akan mengantar."
Aku mengernyitkan dahi sedikit. "Saya... saya tidak boleh keluar sendiri?"
Bu Asih menelan ludah. "Bukan tidak boleh, Bu. Tapi keamanan rumah ini... Pak Reyhan punya beberapa pertimbangan."
"Pertimbangan apa, Bu?"
Bu Asih ragu sejenak. Lalu menjawab dengan kalimat yang lebih dipilih dengan hati-hati: "Pak Reyhan tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu, Bu."
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Karena aku sudah tahu — masa lalu itu adalah Adelia. Dan kesalahan itu adalah membiarkan Adelia keluar sendiri ke villa Puncak hari dia meninggal.
"Saya mengerti, Bu Asih."
Beliau mengangguk. Tapi belum selesai.
"Dan satu hal terakhir. Yang paling penting."
"Iya?"
"Sebaiknya Bu tidak masuk ke wing timur. Tidak pernah."
Aku menatap Bu Asih.
Wing timur. Sisi mansion yang berlawanan dengan kamar aku. Sisi yang Reyhan sebut di kontrak sebagai "area pribadi yang tidak boleh dimasuki tanpa izin tertulis."
"Apa ada di sana, Bu?"
Bu Asih tidak menjawab langsung. Hanya menatap aku dengan tatapan yang penuh — bukan rahasia, tapi peringatan.
"Sesuatu yang Pak Reyhan jaga, Bu. Itu saja yang boleh saya katakan."
Beliau membungkuk sedikit. "Saya permisi. Kalau Bu butuh apa pun, tekan tombol di nakas. Saya akan datang."
Pintu kamar tertutup.
Aku berdiri di tengah ruangan. Dengan setelan pinjaman yang sudah mulai membuat aku sesak. Dengan sepatu yang terus menggesek tumit. Dengan kamar mewah yang terasa lebih asing daripada hotel mana pun.
Aku berjalan ke jendela. Membuka tirai. Pemandangan ke taman belakang mansion — kolam renang yang berkilau dengan lampu underwater, pohon-pohon palem yang dipangkas rapi, gazebo kecil di sudut.
Indah.
Tapi indah yang... mati.
Tidak ada anak kecil yang berenang di kolam itu. Tidak ada keluarga yang ngumpul di gazebo. Tidak ada bunga liar yang tumbuh di antara pot-pot mahal yang ditanam dengan rapi.
Hanya keindahan yang dirawat oleh tangan orang lain.
Aku menutup tirai. Berjalan ke kamar mandi. Membuka kran. Membasuh wajah dengan air dingin. Menatap diriku di cermin.
Bu Arini Adiprawira.
Wajah yang sama yang lima jam yang lalu masih berdiri di kantor notaris dengan tangan gemetar. Tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda di mata — sesuatu yang aku tidak bisa beri nama. Lelah, mungkin. Atau pasrah.
Aku melepas setelan pinjaman. Memakai daster sederhana yang aku bawa dari rumah — satu-satunya pakaian milik aku sendiri yang sempat aku masukkan ke koper kecil. Daster bunga-bunga warna pastel, sudah luntur di beberapa bagian. Bukan pakaian yang pantas untuk kamar mewah ini.
Tapi aku merasa lebih nyaman.
Pukul tujuh malam, aku turun ke ruang makan utama.
Meja makan itu — astaghfirullah, panjangnya. Dua belas kursi. Dua belas. Aku tidak pernah menghitung berapa kursi di rumah Bapak — mungkin empat. Cukup untuk Bapak, Mama (sebelum beliau pergi), aku, dan Bilqis.
Tapi di ruang makan ini, dua belas kursi dengan kursi kepala meja di kedua ujungnya. Disusun rapi. Taplak putih. Bunga lili putih segar di vas kristal di tengah.
Hanya satu tempat yang sudah disiapkan dengan piring dan peralatan makan.
Tempat duduk di kursi sebelah kanan kepala meja.
Bu Asih menyajikan makan malam. Sup krim jagung dengan udang. Steak salmon dengan asparagus. Salad caesar. Roti bakar dengan mentega yang di-cetak berbentuk mawar.
Makanan yang aku tidak biasa makan. Yang aku tidak yakin cara memakannya dengan benar.
"Pak Reyhan pulang malam ini, Bu Asih?"
"Maaf, Bu. Pak Reyhan menelepon tadi sore. Pak ada rapat darurat di kantor sampai larut. Beliau mungkin tidak pulang malam ini."
"Oh."
Aku mencoba tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Bukan karena aku berharap Reyhan pulang. Sebaliknya — sebagian kecil dari hatiku merasa lega tidak harus menghadapi pria itu di malam pertama. Tapi sebagian lain — yang aku tidak berani akui — merasa bahwa pria itu sengaja menghindari aku.
Bu Asih menambahkan: "Kalau Bu mau, saya bisa minta dapur menyediakan makanan yang lebih sederhana. Pak Reyhan tidak akan keberatan."
"Tidak apa-apa, Bu Asih. Ini... ini sudah cukup."
Aku duduk. Mulai makan. Sup krim jagung itu... enak. Dengan tekstur yang halus, hangat, dan rasa udang yang segar. Aku makan satu sendok kecil, lalu satu sendok lagi.
Tapi satu hal yang aku sadari saat makan — terlalu sepi.
Di rumah Bapak, makan malam selalu ramai. Bilqis berceloteh tentang teman-temannya di sekolah. Bapak berkomentar soal berita di TV yang selalu menyala saat makan. Aku menengahi kalau Bilqis dan Bapak berdebat soal hal-hal tidak penting.
Di sini — hanya bunyi sendok yang menyentuh piring. Bunyi gelas yang aku letakkan pelan di meja. Bunyi nafas aku sendiri.
Sepi yang besar.
Setelah makan, aku berdiri. "Terima kasih, Bu Asih. Saya kembali ke kamar."
"Iya, Bu. Selamat istirahat."
Aku naik kembali ke wing barat. Ke kamarku.
Saat aku berjalan di koridor, aku melirik ke arah berlawanan. Ke koridor menuju wing timur.
Pintu pembatas wing timur — pintu kayu jati besar dengan ukiran indah — tertutup rapat. Dan di gagang pintu, ada gembok kecil. Bukan gembok berat. Hanya gembok simbolis. Tapi cukup untuk mengingatkan siapa pun yang lewat — jangan masuk.
Aku menatap pintu itu beberapa detik. Lalu memutar kepala. Berjalan ke kamarku.
Aku tidak bisa tidur.
Bukan karena kamar tidak nyaman — kasur ini mungkin yang paling nyaman yang pernah aku tiduri seumur hidup. Tapi karena ada terlalu banyak hal yang tidak familiar.
Aroma yang berbeda — wangi linen mewah yang tidak seperti detergen di rumah Bapak. Suara AC yang terlalu tenang — di rumah Bapak, AC kami berdengung kasar setiap kali menyala. Cahaya di luar jendela — Pondok Indah ternyata punya lampu jalan yang lebih terang dari kompleks aku, jadi ada sedikit cahaya yang masuk meskipun tirai sudah ditutup.
Pukul satu pagi, aku akhirnya menyerah berusaha tidur.
Aku duduk di tepi kasur. Mengambil ponsel di nakas. Membuka kontak Bilqis.
Dik, Kakak udah sampai. Rumahnya gede banget. Tapi sepi. Kamu di rumah ya. Jaga Bapak baik-baik. Kakak akan kabari setiap hari.
Bilqis online. Membalas dalam dua puluh detik.
Kakak udah ketemu sama suami baru? Ganteng nggak? Kayak di sinetron-sinetron itu nggak?
Aku tertawa pelan. Adik aku. Tujuh belas tahun, tapi pikirannya masih tujuh tahun kalau sudah soal romansa.
Udah, dik. Ganteng. Tapi tatapan beliau dingin. Jangan berharap kayak sinetron. Ini bukan sinetron, ini kontrak.
Hu hu. Yaudah, kakak baik-baik aja kan?
Baik. Sayang, dek.
Sayang, kak.
Aku menutup chat. Meletakkan ponsel kembali di nakas.
Lalu — saat aku berbaring lagi mencoba tidur — aku mendengarnya.
Suara langkah.
Di koridor.
Pelan, hati-hati. Tapi cukup untuk telinga aku yang sudah waspada untuk menangkap.
Aku menahan napas.
Langkah itu mendekat. Lewat di depan kamar aku. Berhenti beberapa detik.
Lalu lanjut. Menjauh.
Aku duduk pelan. Dengan jantung yang berdetak tidak karuan.
Apakah... Reyhan? Dia akhirnya pulang? Tapi kenapa larut malam, dan kenapa dia berhenti di depan kamar aku?
Aku berdiri. Tanpa membuat suara, berjalan ke pintu. Mengintip lewat lubang kecil di pintu kamar aku.
Dari sudut pandang yang sempit, aku bisa melihat punggung pria yang sedang berjalan di koridor. Setelan jas hitam yang sama. Bahu yang lebar. Rambut yang masih disisir rapi meskipun jam segini.
Reyhan.
Dia berjalan ke arah pintu wing timur.
Aku memperhatikan dengan mata yang melebar. Reyhan mengeluarkan kunci dari saku. Membuka gembok kecil di gagang pintu wing timur. Membuka pintu jati besar.
Lalu dia masuk.
Dan menutup pintu di belakangnya.
Aku mendengar bunyi gembok dikunci kembali dari dalam.
Aku berdiri di balik pintu kamar aku. Tidak bergerak. Mungkin sepuluh menit. Mungkin lebih.
Lalu aku membuka pintu kamar pelan-pelan. Berjalan ke koridor dengan kaki telanjang yang tidak membuat suara.
Aku berdiri di depan pintu wing timur.
Dari balik pintu, samar, aku bisa mendengar suara. Tidak jelas. Tapi pasti suara Reyhan. Suara seseorang yang sedang berbicara — dengan siapa, aku tidak tahu. Atau mungkin pada dirinya sendiri.
Aku mendekatkan telinga ke pintu.
Dan untuk satu detik, satu detik penuh, aku mendengarnya dengan jelas:
"Maafkan saya, Adel. Saya tahu seharusnya saya tidak, tapi... saya butuh."
Suara Reyhan. Pelan. Patah.
Lalu hening.
Lalu — aku tidak yakin, tapi sepertinya — suara Reyhan menangis. Tidak keras. Hanya isakan tertahan yang aku tangkap karena pintu jati ini, meskipun tebal, masih bisa membocorkan suara emosi.
Aku mundur.
Pelan-pelan.
Berjalan kembali ke kamar aku tanpa membuat suara.
Menutup pintu kamar.
Bersandar di pintu.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku menandatangani kontrak siang tadi, aku merasakan sesuatu yang tidak aku duga.
Bukan ketakutan. Bukan kecemasan. Bukan bahkan kesepian.
Tapi iba.
Pria yang baru menjadi suami aku — pria yang tidak menatap aku saat tanda tangan, yang meminta aku tidak menjadi bayangan istri pertamanya, yang sudah meninggalkan ruangan tanpa pamit — adalah pria yang malam ini, pukul satu pagi, masuk ke kamar istri pertamanya yang sudah meninggal tiga tahun lalu, untuk minta maaf karena dia "butuh."
Butuh apa? Butuh melihat barang-barangnya? Butuh merasakan kehadirannya? Butuh berbicara dengan hantu?
Aku tidak tahu.
Tapi aku tahu satu hal — pria itu jauh lebih hancur daripada yang aku kira.
Dan aku, Arini Pratiwi, baru menjadi istri kontraknya selama tujuh jam, sudah merasakan sesuatu yang kontrak itu sebenarnya melarang aku rasakan.
Aku merasakan iba.
Iba yang berbahaya.
Karena iba — aku pelajari dari pengalaman hidup — adalah pintu pertama menuju cinta. Dan cinta, untuk pria seperti Reyhan Adiprawira, akan menjadi luka yang lebih dalam dari kontrak apa pun yang sudah aku tanda tangani.
Aku berbaring di tempat tidur. Memejamkan mata.
Dua tahun, Arini. Dua tahun. Jangan jatuh.
Aku mengulang kalimat itu seperti mantra. Sampai akhirnya, entah pukul berapa, aku tertidur.
Pagi hari, ketika matahari mulai masuk lewat celah tirai yang aku lupa rapatkan kemarin malam, aku terbangun dengan satu kesadaran yang menggantung di kepala — seperti pesan dari mimpi yang aku lupa.
Aku ingat suara Reyhan menangis di balik pintu wing timur.
Dan aku ingat — meskipun aku tidak ingin ingat — bahwa di antara isakan-isakan itu, ada satu nama yang dia panggil berulang-ulang.
Bukan Adelia.
Tapi Adel.
Panggilan sayang. Yang hanya orang yang sangat dekat yang akan pakai.
Aku duduk di tepi kasur. Menatap lantai marmer dingin di kaki aku.
Pria itu masih sangat-sangat mencintai istri pertamanya. Setelah tiga tahun. Setelah pernikahan kontrak. Setelah aku duduk di rumah ini sebagai "istri" yang baru.
Dan aku — yang kemarin bertekad tidak akan jatuh cinta — sudah salah dengan keputusanku malam ini.
Karena aku tidak hanya tidak akan jatuh cinta.
Aku juga harus belajar tidak akan peduli.
Karena peduli pada pria yang masih mencintai hantu, sama dengan menjadi sukarelawan untuk patah hati yang sudah dijadwalkan dari awal.
Aku berdiri. Berjalan ke kamar mandi. Membuka kran air panas.
Mandi yang lama.
Karena hari ini, hari pertama aku sebagai Bu Arini Adiprawira di mansion ini, akan menjadi hari pertama dari tujuh ratus tiga puluh hari.
Dan aku perlu kuat.
Untuk Bapak yang akan dioperasi pagi ini.
Untuk Bilqis yang akan kuliah dua tahun lagi.
Untuk Mama yang sudah mengawasi dari atas.
Untuk Arini sendiri, yang harus pulang dari rumah ini suatu hari nanti — utuh, atau setidaknya, masih bisa mengenali wajahnya sendiri di cermin.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar