Hari itu, hari ketiga aku di mansion, adalah hari pertama Reyhan benar-benar pulang ke rumah.

Bu Asih memberitahu saat siang. "Pak Reyhan akan pulang malam ini, Bu. Pukul tujuh untuk makan malam. Tolong Bu bersiap."

Aku mengangguk. Tapi di dalam, sesuatu terasa berputar — semacam campuran cemas dan tidak siap. Karena dua hari ini tanpa Reyhan adalah dua hari aku terbiasa dengan kosongnya rumah ini, dengan ritme aku sendiri. Sekarang, ritme itu akan terganggu. Atau mungkin, aku yang harus menyesuaikan.

Aku menghabiskan sore di kamar. Membaca "Selasa Bersama Morrie" — buku yang Reyhan kirim. Cuma sampai bab tiga. Karena setiap kali aku membaca tentang seseorang yang sekarat, aku terus terpikir pada Bapak. Yang baru kemarin keluar dari ruang ICU, sekarang sudah pindah ke kamar perawatan biasa. Tapi tetap masih sangat lemah.

Bilqis mengirim pesan beberapa kali sehari. Update kondisi Bapak. Foto Bapak makan bubur. Foto Bapak tertawa kecil saat Bilqis bercerita tentang sesuatu yang konyol di rumah.

Kak, Bapak nanya, "Si Arini sehat kan, di rumah suami baru? Dia tidak terlalu kaku, kan, sama Bapak mertua kamu yang barunya itu?"

Aku tertawa pelan saat membaca itu. Bapak Mertua. Reyhan tidak pernah membahas keluarga besarnya — aku belum bertemu Pak dan Bu Adiprawira Senior secara langsung, hanya foto-foto yang aku lihat di internet. Mereka tinggal di Bali sebagian besar tahun, datang ke Jakarta sesekali untuk acara keluarga.

Aku membalas Bilqis:

Bilang ke Bapak, Bapak Mertua belum ketemu. Suami baru juga... kaku, dik. Tapi baik. Jangan khawatirkan Kakak.

Aku mengirim. Lalu menatap kalimat yang baru aku tulis.

"Kaku, dik. Tapi baik."

Apakah Reyhan baik?

Aku belum tahu. Beliau memberi aku buku. Beliau mengirim sopir untuk Bapak. Beliau menanyakan kondisi Bapak ke kantor Bu Asih. Itu... itu baik dalam definisi formal. Seperti seorang manajer yang baik memperhatikan karyawan barunya.

Tapi apakah itu baik dalam definisi yang lebih dalam? Aku belum tahu.


Pukul tujuh malam, aku turun ke ruang makan. Memakai blus krem sederhana dan rok hitam — pakaian yang aku pilih dari lemari, yang paling tidak terlihat seperti "pakaian istri konglomerat."

Reyhan sudah duduk. Setelan jas yang sama yang dia pakai saat berangkat tadi pagi — abu-abu gelap. Tapi dasi sudah dilepas. Dua kancing teratas kemeja sudah dibuka. Tampak lelah.

"Selamat malam, Pak."

Beliau menoleh. Lalu — untuk pertama kalinya sejak tatapan singkat di sarapan kemarin — menatap aku langsung.

Tapi tatapan ini berbeda. Bukan tatapan dingin profesional. Bukan tatapan yang menetap karena kemiripan dengan Adelia. Lebih halus. Lebih lelah.

"Selamat malam, Bu Arini. Mari makan."

Aku duduk. Bu Asih menyajikan makan malam — tongseng kambing untuk Reyhan, sup ayam dan nasi untuk aku. Bu Asih sudah belajar — aku tidak suka makanan terlalu berat di malam hari.

Kami makan dalam hening. Sepuluh menit. Lima belas menit.

Lalu Reyhan, tanpa menatap aku, bertanya pelan:

"Bapak Bu... bagaimana?"

Aku mendongak. Terkejut. Bukan karena pertanyaannya — tapi karena nada yang Reyhan pakai. Bukan nada formal. Lebih halus. Hampir... tertarik.

"Sudah keluar dari ICU pagi tadi, Pak. Sudah pindah ke kamar perawatan biasa. Dokter bilang pemulihan terlihat baik. Adik saya ada di sana sekarang."

"Hmm." Reyhan mengangguk pelan. "Bagus."

Hening lagi.

Lalu — dengan nada yang sama pelan, beliau menambahkan: "Kalau Bu butuh ke rumah sakit kapan saja, beritahu Pak Tarno. Jangan tunggu sampai pagi."

"Iya, Pak. Terima kasih."

Hening.

Aku melanjutkan makan. Reyhan juga. Tapi aku bisa merasakan — ada sesuatu yang berbeda di malam ini. Reyhan tidak terlalu tegang. Atau mungkin, dia terlalu lelah untuk memasang topeng dingin yang biasa.

Setelah makan, beliau bangkit. "Saya naik dulu, Bu. Selamat istirahat."

"Iya, Pak."

Beliau pergi.

Aku makan beberapa menit lagi. Lalu juga naik ke kamar.


Pukul sepuluh malam.

Aku sudah berganti baju tidur. Daster panjang berwarna pastel — bukan yang dari rumah, daster baru yang Bu Asih berikan tadi pagi karena melihat aku terus pakai daster lama. "Bu, ini ada beberapa daster baru dari brand yang Pak Reyhan berlangganan. Coba pakai."

Daster yang lebih halus, dari bahan katun premium. Tapi tetap daster. Bukan lingerie yang aku takutkan akan ada di lemari.

Aku duduk di tepi tempat tidur. Membaca "Hujan Bulan Juni". Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi yang membuat aku merasa pulang ke diri aku sendiri.

Ketukan di pintu.

Aku menahan napas.

Tiga ketukan. Pelan tapi jelas. Bukan Bu Asih — Bu Asih biasa mengetuk lebih hati-hati, lebih lembut.

"Bu Arini?"

Suara Reyhan.

Hatiku langsung berdetak — bukan jenis berdetak yang baper. Jenis berdetak yang panik.

Karena ini malam pertama Reyhan benar-benar di rumah. Karena ini malam ketiga setelah pernikahan. Karena... karena meskipun kontrak menyatakan tidak ada tuntutan fisik, tetap saja, ada kebiasaan tradisional di Indonesia yang mungkin Reyhan ingin penuhi sebagai formalitas.

Aku menelan ludah. Berdiri. Berjalan ke pintu pelan.

Membuka.

Reyhan berdiri di sana.

Tapi bukan Reyhan yang aku bayangkan akan datang.

Pria yang berdiri di hadapanku adalah pria yang... patah.

Setelan jas sudah dilepas total. Hanya kemeja putih yang sudah kusut, lengan dilipat ke siku. Rambut yang biasa rapi sekarang sedikit berantakan — seperti dia baru saja menjalankan tangan ke rambutnya berulang-ulang.

Dan matanya...

Mata coklat tua yang biasa dingin dan profesional, sekarang merah. Berkaca-kaca. Seperti orang yang baru menangis, atau yang sedang menahan tangisan dengan kekuatan terakhirnya.

"Pak Reyhan?"

Suara aku keluar pelan, hampir berbisik.

Reyhan menatap aku. Lama.

Lalu beliau berkata — dengan suara yang serak, seperti baru saja berteriak atau menangis lama — "Boleh saya... duduk sebentar di kamar ini?"

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Karena permintaan beliau begitu sederhana, begitu tidak berbahaya, sehingga aku tidak punya alasan untuk menolak. Tapi juga begitu aneh, begitu tidak biasa, sehingga setiap insting di tubuh aku berkata ini bukan sekadar duduk.

"Iya, Pak."

Aku mundur. Memberi jalan. Reyhan masuk.

Beliau tidak melihat ke ranjang aku. Tidak melihat ke aku. Beliau berjalan langsung ke kursi sofa kecil di sudut kamar — kursi tunggal yang menghadap jendela. Duduk di sana.

Aku berdiri di tengah kamar. Tidak yakin harus apa. Akhirnya, aku duduk di tepi tempat tidur. Memegang buku Sapardi yang aku belum sempat letakkan.

Hening.

Reyhan menatap luar jendela. Pemandangan taman belakang yang gelap, hanya disinari lampu underwater kolam.

Lima menit. Sepuluh menit.

Aku tidak berani bicara. Tidak berani bergerak. Hanya... menunggu.

Lalu, pelan-pelan, aku mendengarnya.

Suara isakan.

Pelan. Tertahan. Seperti orang yang sudah berusaha menahan sepanjang malam dan akhirnya tidak sanggup lagi.

Reyhan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya gemetar.

"Pak Reyhan..."

Beliau tidak menjawab. Hanya menggelengkan kepala. Seperti dia tidak ingin aku mendekat. Tapi juga tidak menyuruh aku pergi.

Aku duduk di sana, merasa bingung. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak kenal pria ini. Aku tidak tahu apa yang membuat dia menangis. Aku tidak tahu apakah aku boleh mendekat, atau menjauh, atau pura-pura tidak melihat.

Tapi sesuatu di dalam aku — yang lebih dalam dari logika, yang lebih dalam dari kontrak — bergerak.

Aku berdiri pelan. Berjalan ke arah Reyhan. Berlutut di hadapan kursi beliau. Tanpa berkata apa pun, aku mengulurkan tangan, dan menyentuh tangan beliau yang masih menutup wajah.

Reyhan menahan napas.

Untuk beberapa detik, beliau tidak bergerak.

Lalu — dengan tangan yang gemetar — beliau melepas tangan dari wajahnya. Menatap aku. Wajah yang basah. Mata yang merah dan bengkak. Bibir yang gemetar.

Dan untuk pertama kalinya, beliau benar-benar menatap aku — bukan Adelia. Bukan bayangan. Tapi aku, Arini, yang berlutut di hadapan beliau dengan daster pastel dan rambut yang dijepit asal-asalan.

"Maafkan saya," beliau bergumam. "Maafkan saya. Anda... Anda terlalu mirip dia."

Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan. Mungkin saya. Mungkin beliau.

Tapi tiba-tiba, aku sudah memeluk beliau. Bukan pelukan istri ke suami. Bukan pelukan romantis. Tapi pelukan manusia ke manusia yang sedang hancur. Kepala beliau di bahu aku. Tangan beliau menggenggam erat di belakang pinggang aku.

Dan beliau menangis.

Bukan menangis pelan lagi. Menangis seperti orang yang sudah tiga tahun menahan, dan akhirnya membiarkan dam itu jebol.

Aku mengusap punggung beliau pelan. Tidak berkata apa pun. Karena aku tahu — kata-kata akan terasa kosong di momen ini. Hanya kehadiran. Hanya pelukan. Itu yang beliau butuhkan.

Aku tidak tahu berapa lama.

Mungkin dua puluh menit. Mungkin lebih.

Tapi akhirnya, isakan Reyhan mereda. Napas beliau mulai stabil. Pelukan beliau melonggar.

Beliau melepaskan diri pelan. Mundur sedikit. Mengusap wajahnya dengan tangan.

"Maafkan saya, Bu Arini." Suara beliau masih serak. "Saya tidak seharusnya..."

"Tidak apa-apa, Pak."

"Bukan, ini tidak adil bagi Anda. Anda... Anda baru tiga hari di sini. Tidak seharusnya Anda menanggung..."

Aku menggelengkan kepala pelan.

"Pak Reyhan, kalau Bapak butuh seseorang untuk menangis, saya... saya tidak keberatan. Itu manusiawi."

Reyhan menatap aku. Lama.

Dan untuk satu detik, aku melihat sesuatu di mata beliau yang aku tidak siap melihat — sesuatu yang lebih dalam dari rasa terima kasih, lebih dalam dari rasa malu. Sesuatu yang... menyerupai pengakuan.

Pengakuan bahwa aku, Arini, baru saja melihat beliau di kondisi paling rentan. Dan pengakuan bahwa beliau, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, membiarkan seseorang melihat.

"Terima kasih, Bu Arini."

"Sama-sama, Pak."

Reyhan berdiri. Mengusap wajahnya sekali lagi. Berjalan ke pintu.

Tapi beliau berhenti sebelum keluar.

"Bu Arini."

"Iya?"

"Bisakah... bisakah Anda lupakan ini? Apa yang baru saja terjadi?"

Aku menatap beliau.

"Tidak bisa, Pak. Tapi saya berjanji — saya tidak akan menyebut ini di depan siapa pun. Bahkan tidak di depan Anda. Kalau Anda mau, kita bisa bersikap seakan-akan ini tidak pernah terjadi."

Reyhan menutup mata. Mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Beliau keluar. Pintu tertutup di belakangnya.

Aku berdiri di tengah kamar. Daster aku masih basah di bahu — dari air mata Reyhan yang tadi mengalir. Buku Sapardi tergeletak di lantai, jatuh dari tangan aku entah kapan tadi.

Aku duduk di tempat tidur. Menatap pintu yang baru saja tertutup.

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari satu hal yang berbahaya.

Aku sudah peduli.

Bukan dalam tingkat formal. Bukan dalam tingkat kontrak. Tapi dalam tingkat yang lebih dalam — yang membuat aku, Arini, ingin mengusap punggung pria asing yang baru menjadi suami kontrak aku, untuk waktu sebanyak yang dia butuhkan.

Aku sudah peduli.

Dan ini, aku tahu, adalah pintu pertama menuju semua yang seharusnya tidak aku rasakan.


👁 [POV: REYHAN]

Aku berjalan dari kamar Arini ke kamar tamu kecil di ujung wing barat — kamar yang aku pakai sejak Adelia meninggal, karena aku tidak bisa lagi tidur di kamar utama wing timur.

Pintu kamar tamu aku tutup. Sandar.

Tangan aku masih gemetar. Dari semua hal yang aku tidak duga akan terjadi malam ini, menangis di pelukan istri kontrak tidak ada di daftar.

Aku berjalan ke tempat tidur. Duduk di tepi. Menutup wajah dengan tangan.

Apa yang baru saja aku lakukan?

Aku — Reyhan Adiprawira, CEO yang dikenal seluruh Indonesia karena bisa menutup negosiasi triliunan rupiah tanpa berkedip — baru saja menangis di pelukan wanita yang baru aku kenal tiga hari. Wanita yang hanya menjadi istri aku karena kontrak. Wanita yang seharusnya tidak aku libatkan dalam kerentanan apa pun.

Tapi malam ini...

Malam ini aku pulang dari kantor dengan kepala yang sudah hampir meledak. Hari ini hari peringatan. Tanggal 15 Maret. Tiga tahun tepat sejak Adelia meninggal.

Aku tidak memberi tahu siapa pun. Bahkan tidak Sebastian. Karena Sebastian — yang sudah merawat aku selama tiga tahun — pasti akan mendesak aku ke kliniknya, akan memaksa aku terapi tambahan.

Aku tidak ingin terapi.

Aku hanya ingin hari ini lewat dengan diam.

Tapi hari tidak lewat dengan diam. Hari berlalu dengan setiap menit yang menusuk — pukul sepuluh pagi adalah jam Adelia berangkat dari mansion ke villa Puncak. Pukul satu siang adalah jam Adelia tiba dan menelepon aku, "Rey, sudah sampai. Cuaca bagus. Aku istirahat sebentar lalu pulang." Pukul lima sore adalah jam Adelia mulai menyetir kembali. Pukul tujuh malam adalah jam terakhir aku menerima pesannya — "Macet sedikit. Mungkin telat sampai."

Pukul sepuluh malam. Adelia tidak sampai-sampai.

Pukul sebelas malam, telepon dari rumah sakit.

Tiga tahun.

Setiap menit hari ini, aku merasakan ulang setiap menit hari itu.

Aku pulang ke mansion pukul tujuh malam. Makan malam dengan Arini. Mencoba — sekuat mungkin — untuk tidak menunjukkan apa-apa. Tapi setelah Arini naik ke kamarnya, dan aku ke kamar aku sendiri, semua dam yang aku jaga sepanjang hari mulai retak.

Aku duduk di kamar tamu aku. Mencoba tidur. Tidak bisa. Mencoba minum air. Tangan terlalu gemetar untuk pegang gelas. Mencoba membaca. Mata terlalu kabur.

Akhirnya, aku berdiri. Berjalan ke wing timur. Mau masuk ke kamar Adelia. Mau menangis di sana — seperti tiga tahun ini, kalau aku perlu meledak, aku selalu meledak di hadapan barang-barang Adelia.

Tapi sebelum aku sampai ke pintu wing timur, aku berhenti di tengah koridor.

Karena aku ingat — Arini ada di rumah ini sekarang.

Bukan karena aku khawatir Arini akan tahu. Tapi karena, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ada saksi hidup di rumah ini. Manusia hidup. Bukan barang-barang. Bukan foto-foto. Manusia yang bernapas, yang berjalan, yang punya mata yang melihat.

Dan aku tiba-tiba sadar — aku tidak mau menangis sendirian malam ini.

Aku mau ada seseorang yang melihat.

Bukan untuk dikasihani. Bukan untuk diberi nasihat. Hanya untuk... ada.

Maka aku berjalan ke kamar Arini.

Mengetuk pintu. Tanpa rencana. Tanpa kata-kata yang aku siapkan.

Saat Arini membuka, dan aku melihat wajahnya — wajah yang mirip Adelia — aku tahu ini akan jadi salah. Tapi aku sudah tidak bisa berhenti.

Aku duduk di kursi di sudut kamar. Mencoba menahan diri. Lima menit. Sepuluh menit. Tapi seperti dam yang sudah retak, akhirnya pecah.

Dan saat aku menangis, Arini berlutut di hadapan aku. Memegang tangan aku.

Dia tidak berkata, "Kasihan Bapak." Dia tidak berkata, "Apa yang terjadi?" Dia tidak berkata, "Tidak apa-apa, Pak."

Dia hanya... hadir.

Lalu memeluk aku saat aku sudah tidak bisa menahan diri.

Dan di pelukan itu, ada satu detik aneh — satu detik yang aku akan bantah ada — di mana aku merasakan sesuatu yang BUKAN tentang Adelia.

Aku merasakan tentang Arini.

Tentang gadis ini, yang baru tiga hari di rumah aku, yang jelas-jelas takut tapi tetap memberi pelukan. Tentang ketulusan yang tidak aku kenali — karena Adelia, meskipun aku cintai, adalah wanita kuat yang jarang menunjukkan kelembutan seperti ini.

Arini lembut dengan cara yang berbeda. Cara yang... aku belum pernah rasakan.

Dan di detik itu, aku tahu — aku sudah berbuat salah malam ini.

Bukan karena menangis. Bukan karena meminta pelukan.

Tapi karena malam ini, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku merasakan sesuatu pada wanita lain selain Adelia.

Sesuatu yang sangat-sangat kecil. Hanya satu detik.

Tapi cukup untuk mengkhianati Adelia, mengkhianati grief aku, mengkhianati semua yang aku jaga selama tiga tahun.

Aku berdiri dari tempat tidur. Berjalan ke kamar mandi. Membasuh wajah dengan air dingin. Menatap diri di cermin.

Reyhan Adiprawira. Apa yang kamu lakukan?

Aku tidak punya jawaban.

Yang aku tahu hanya satu — besok pagi, dan setiap hari setelah itu, aku harus lebih hati-hati. Jaga jarak. Jangan ulang malam ini.

Karena Arini — gadis lembut yang berlutut di hadapan aku malam ini — tidak pantas menanggung beban grief seorang pria yang masih mencintai wanita yang sudah meninggal.

Dan aku — pria yang masih mencintai wanita yang sudah meninggal — tidak pantas membiarkan diri merasa apa pun pada wanita yang baru aku kenal tiga hari.

Aku tidur malam itu — atau setidaknya, mencoba.

Tapi di belakang kelopak mata aku, bukan wajah Adelia yang muncul.

Wajah Arini. Berlutut di hadapan aku. Dengan mata yang penuh empati yang tidak aku layak.


[POV: ARINI]

Pagi hari, aku bangun.

Reyhan sudah berangkat ke kantor — Pak Tarno mengabari Bu Asih, yang kemudian mengabari aku.

Di nakas, ada satu lembar catatan tulisan tangan. Tinta hitam. Tulisan yang aku sudah kenali.

Maafkan saya untuk semalam. Itu tidak akan terulang. — R.

Aku membaca catatan itu. Sekali. Dua kali.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku pindah ke mansion ini, aku merasa sesuatu yang aku tidak siap merasakan.

Bukan iba.

Bukan empati.

Tapi kekecewaan.

Karena pria itu — yang malam tadi memeluk aku dengan rentan, yang membiarkan aku melihat dia hancur — sekarang menutup pintu itu kembali. Mengunci. Berkata, "Itu tidak akan terulang."

Mungkin ini bagus untuk aku. Mungkin ini melindungi aku dari jatuh lebih dalam.

Tapi entah kenapa, kekecewaan ini terasa lebih sakit dari yang seharusnya.

Aku melipat catatan itu. Memasukkan ke dalam buku Sapardi yang aku baca semalam — antara halaman puisi "Aku Ingin". Halaman yang berbicara tentang cinta yang sederhana, cinta yang tidak diumumkan, cinta yang hanya ada di antara dua orang yang mengerti.

Mungkin cinta seperti yang aku belum berani aku akui mulai tumbuh, di kamar yang asing, untuk pria yang akan terus berusaha tidak membiarkan aku mendekat.

Dua tahun.

Aku tarik napas pelan.

Dua tahun, Arini.

Tapi mantra itu, untuk pertama kalinya, terasa seperti bohong.