Di hari kedua, aku belajar bahwa bayangan tidak punya jadwal. Mereka muncul kapan saja — di antara halaman buku, di sudut lukisan, di aroma parfum yang masih melekat di udara meskipun pemiliknya sudah lama pergi.
Pagi itu, Reyhan tidak ada di rumah. Pak Tarno menjemput aku pukul delapan untuk ke rumah sakit menjenguk Bapak. Dua jam aku di sana — Bapak masih dalam keadaan setengah sadar setelah operasi, tapi dokter bilang tanda-tanda vital semuanya baik. Bilqis memeluk aku lama. Tidur di pangkuan aku selama satu jam karena lelah menunggu semalaman.
Aku meninggalkan rumah sakit pukul sepuluh. Bilqis memaksa aku pulang — "Kakak istirahat, Bilqis yang jaga Bapak. Lagi pula Kakak harus pulang ke rumah suami Kakak. Nanti dimarahi."
Dimarahi? Aku ingin menjelaskan pada Bilqis bahwa pernikahan ini bukan jenis pernikahan yang melibatkan dimarahi atau tidak. Tapi Bilqis tidak perlu tahu. Tidak sekarang.
Aku pulang ke mansion pukul sebelas siang. Sepi. Bu Asih dan beberapa pelayan ada di dapur. Pak Tarno ke bengkel mobil. Reyhan, tentu saja, di kantor.
Aku punya seharian penuh untuk diri sendiri.
Di rumah Bapak, seharian sendirian artinya nonton TV, baca, atau ngobrol sama tetangga. Di mansion ini... aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Aku berjalan-jalan kecil mengeksplorasi rumah. Bu Asih menyetujui — "Asal Bu jangan ke wing timur." Aku mengangguk.
Ruang baca itu yang paling menarik perhatianku.
Letaknya di lantai dua wing barat, dua kamar dari kamar aku. Pintu kayu jati dengan kaca patri kecil di atasnya. Saat aku buka, aroma yang pertama menyambut adalah aroma kertas tua — bau yang aku kenal sangat baik dari perpustakaan kampus dulu, tapi dengan satu lapisan tambahan: sedikit aroma kayu dari rak buku, dan sentuhan parfum yang sudah memudar.
Ruangannya tidak terlalu besar — mungkin enam kali enam meter. Tapi setiap dinding ditutupi rak buku dari lantai sampai langit-langit. Buku-buku berjajar rapi, dengan tatanan yang terlihat seperti hasil pikiran yang teratur — bukan tatanan random.
Di tengah ruangan, satu sofa kulit cokelat tua dan satu meja bundar kecil dengan lampu baca. Di atas meja, beberapa buku yang tampaknya pernah dibaca — masih ada pembatas di tengah halaman, seperti pembaca terakhir baru berhenti sebentar dan akan kembali.
Tapi jelas — pembaca itu sudah lama tidak kembali.
Aku berjalan pelan ke rak buku. Membaca judul-judul yang terpampang.
Di rak pertama: buku-buku arsitektur. Tebal, mahal, dengan judul yang sebagian berbahasa Inggris. "The Architecture of Happiness" oleh Alain de Botton. "Pattern Language" oleh Christopher Alexander. "Light and Space" yang berbahasa Jerman.
Di rak kedua: novel klasik. Hemingway, Steinbeck, Pramoedya Ananta Toer (lengkap, tetralogi Buru). Eka Kurniawan. Dee Lestari. Beberapa buku Murakami.
Di rak ketiga: puisi. Sapardi Djoko Damono. Chairil Anwar. Goenawan Mohamad. Dan satu rak kecil khusus puisi terjemahan — Pablo Neruda, Mary Oliver, dan...
Rumi.
Aku berhenti.
Mengulurkan tangan. Mengambil buku tipis berwarna biru tua. "Cinta dan Tasawuf: Puisi-puisi Rumi" — diterjemahkan oleh entah siapa yang aku tidak kenal, tapi tampaknya edisi yang bagus.
Aku membuka secara acak.
Halaman 47. Puisi berjudul "Tamu."
Manusia adalah rumah penginapan. Setiap pagi, kedatangan baru. Sukacita, kesedihan, kekejaman, Kesadaran sesaat datang Sebagai pengunjung yang tidak diharapkan.
Sambutlah dan jamulah mereka semua! Bahkan jika mereka adalah kerumunan duka, Yang dengan kekerasan menyapu rumahmu Lalu menggemparkannya ke dasar...
Aku terhenti di kalimat terakhir.
Karena ada catatan di pinggir halaman. Tulisan tangan. Tinta biru. Tulisan yang halus, condong sedikit ke kanan, dengan sapuan yang hati-hati.
Rey, ini puisi favoritku. Dia bilang: terimalah semua tamu, bahkan duka. Karena setiap tamu — bahkan yang paling pahit — datang membawa hadiah. Aku ingat ini setiap kali aku merasa kehilangan kontrol. — A.
Aku membaca catatan itu dua kali. Lalu tiga kali.
A.
Adelia.
Catatan yang Adelia tulis untuk Reyhan. Mungkin saat Adelia membacakan puisi ini di sofa ini, di ruang baca ini, tiga atau empat tahun yang lalu, sebelum dia naik mobil ke villa Puncak dan tidak pulang lagi.
Tangan aku mulai gemetar.
Bukan karena aku takut. Tapi karena aku merasa — untuk pertama kalinya sejak kemarin — bahwa Adelia bukan hanya nama. Bukan hanya wajah di foto yang aku belum pernah lihat. Tapi seseorang dengan kepribadian, dengan suara, dengan filosofi hidup yang dia tulis di pinggir buku puisi.
Adelia adalah seseorang yang bisa membaca Rumi dan menyaring filosofinya menjadi catatan singkat untuk suami yang dia cintai.
Adelia adalah seseorang yang menggunakan kata "tamu" untuk menggambarkan duka.
Aku menutup buku. Mengembalikan ke rak. Cepat — seperti aku takut Adelia akan keluar dari halaman dan memarahi aku karena membaca pesan pribadinya.
Tapi tangan aku masih gemetar. Karena aku tidak hanya membaca catatan dari hantu. Aku juga menemukan satu kebenaran kecil yang aku tidak siap akui:
Adelia... punya selera bacaan yang sama dengan aku.
Aku punya buku puisi Rumi di rumah Bapak. Edisi yang berbeda, terjemahan yang berbeda. Tapi puisi yang sama. Halaman 47. Yang aku tandai dengan stiker bunga melati kecil dari belasan tahun yang lalu.
Aku berdiri di tengah ruang baca itu. Menatap rak yang penuh dengan buku-buku Adelia.
Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti — sebagian dari kenapa Reyhan menatapku seperti dia menatapku.
Mungkin bukan hanya wajah aku yang mirip Adelia.
Mungkin... mungkin selera aku, kebiasaan aku, cara aku berpikir — semuanya ada gemanya di Adelia.
Atau mungkin sebaliknya.
Mungkin Adelia adalah versi sebelumnya dari aku — dan aku, tanpa sadar, sedang menjadi versi sesudahnya. Bukan karena pilihan. Tapi karena... tabir antara kami begitu tipis sejak awal.
Aku duduk di sofa kulit cokelat itu. Bersandar. Menutup mata.
Mungkin ini yang Reyhan rasakan saat pertama kali melihat aku di kantor notaris.
Bukan pengakuan langsung — "oh, dia mirip Adelia!" — tapi tekanan halus, samar, seperti memori yang terus-menerus mengetuk pintu kepala beliau. Tekanan yang mungkin membuat beliau hampir pingsan saat itu.
Aku membuka mata. Menatap langit-langit ruang baca yang dihiasi dengan pola kayu yang rumit.
"Rey, ini puisi favoritku."
Adelia memanggil suaminya "Rey." Bukan "Reyhan." Bukan "Sayang." Bukan "Mas." Hanya "Rey."
Panggilan singkat. Personal. Yang hanya istri yang sangat dekat akan pakai.
Sama seperti aku — yang dulu memanggil Mama dengan "Bu" tapi memanggil Bapak dengan "Pak Hardi" karena Bapak suka dipanggil dengan nama (kebiasaan dari masa beliau jadi tentara). Setiap pasangan punya panggilan rahasia mereka sendiri. Yang menjadi tanda kepemilikan emosional.
Reyhan sudah memberikan panggilan itu pada Adelia.
Dan tidak pernah, tidak akan pernah, beliau akan memberikan panggilan apa pun pada aku.
Karena untuk Reyhan, aku bukan istri. Aku tamu. Tamu kontrak yang akan pergi setelah dua tahun.
Sama seperti puisi Rumi yang baru aku baca. Tamu yang datang membawa pengetahuan, tapi yang akhirnya akan harus pulang.
Aku berdiri dari sofa. Berjalan ke pintu.
Tapi sebelum aku keluar, aku berhenti. Mengambil satu buku lagi dari rak — buku yang berbeda. Bukan buku Adelia. Buku puisi Indonesia, "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi.
Aku akan membaca itu malam ini di kamar aku sendiri.
Karena aku perlu mengingatkan diri sendiri — aku Arini Pratiwi. Yang punya selera puisi sendiri. Yang membaca Sapardi sejak SMA. Yang menulis puisi sederhana di buku catatan biru tua yang aku bawa dari rumah.
Aku bukan Adelia.
Dan aku tidak akan pernah jadi Adelia.
Bahkan kalau itu berarti aku akan terus terlihat lebih kecil di mata Reyhan.
Sore hari, sekitar pukul empat, ada bel mansion.
Bu Asih yang menerima. Aku, yang sedang membaca "Hujan Bulan Juni" di kamar aku, mendengar suara percakapan di lobi utama. Pria. Suara yang dalam tapi ramah.
Beberapa menit kemudian, Bu Asih mengetuk pintu kamar.
"Bu Arini, ada tamu."
"Tamu? Tamu siapa, Bu Asih? Saya... saya tidak kenal siapa pun di Jakarta yang mungkin datang."
"Pak Sebastian Wibowo. Sahabat Pak Reyhan. Beliau katanya datang untuk... untuk konsultasi rutin dengan Pak. Tapi karena Pak belum pulang, beliau ingin menyapa Bu sebentar."
Sebastian Wibowo. Nama yang aku belum dengar.
Aku turun. Sebastian Wibowo berdiri di lobi — pria seusia Reyhan, mungkin tiga puluh tiga tahun. Tinggi tapi tidak setinggi Reyhan. Memakai kemeja casual yang dilengkapi vest hitam — gaya yang lebih relax dari setelan formal, tapi tetap rapi. Rambut yang sudah mulai sedikit tipis di atas dahi. Senyum yang ramah.
Sangat berbeda dari Reyhan. Sebastian terasa hangat. Mudah didekati. Pria yang kalau di pesta keluarga, akan jadi orang yang mudah ngobrol dengan siapa saja.
Saat aku turun tangga, Sebastian menatap aku.
Lalu ekspresinya berubah.
Bukan pucat seperti Reyhan kemarin. Bukan terkejut. Lebih halus dari itu — seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang dia tidak siap, tapi cukup sopan untuk menutupi reaksinya.
Mata beliau melebar selama setengah detik. Lalu kembali ke ramah.
"Bu Arini, kan?" Sebastian mengulurkan tangan. "Saya Sebastian Wibowo. Sahabat Reyhan dari kuliah."
Aku menyalami. Tangan Sebastian hangat, jabatan yang mantap tapi tidak menekan.
"Iya, Pak Sebastian. Reyhan sedang di kantor."
"Saya tahu, beliau sudah kabari saya barusan. Saya kemari memang untuk... beberapa urusan pribadi. Tapi karena saya sudah di sini, saya pikir sopan kalau saya menyapa istri beliau yang baru."
"Terima kasih, Pak."
Sebastian menatap aku dengan tatapan yang aku tidak bisa baca.
Mungkin dia berusaha untuk tidak menyebut bahwa aku mirip Adelia. Mungkin dia merasa tidak sopan. Atau mungkin dia berpikir aku belum tahu sama sekali tentang Adelia.
"Bu Arini, boleh saya... bicara sebentar dengan Bu? Di taman belakang, mungkin? Saya janji singkat saja."
Aku ragu sejenak. Tidak biasa bicara dengan tamu pria yang bukan keluarga.
Tapi Bu Asih, yang berdiri di belakang, mengangguk pelan ke arah aku — seperti memberi tahu bahwa Sebastian aman, sudah lama dikenal di rumah ini.
"Iya, Pak."
Kami berjalan ke taman belakang. Sore mulai turun. Lampu-lampu underwater di kolam renang baru saja mulai menyala. Kami duduk di gazebo kayu yang ada di sudut taman.
Sebastian memandang kolam dulu. Lama. Seperti dia berusaha mencari kata yang tepat.
Lalu beliau mulai bicara.
"Bu Arini, saya... saya akan blak-blakan, kalau Bu tidak keberatan. Karena saya psikiater, dan profesi saya membuat saya terbiasa berbicara langsung tentang hal-hal yang sulit."
Psikiater. Aku menyimpan informasi itu.
"Iya, Pak."
"Saya tahu pernikahan Bu dengan Reyhan adalah pernikahan kontrak. Reyhan menceritakan pada saya beberapa bulan lalu, sebelum beliau memutuskan mencari calon. Saya sebagai sahabat beliau dan sebagai dokter pribadinya, mengetahui semua detail."
Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan. Tidak terlalu terkejut — kalau Sebastian sahabat dekat, masuk akal beliau tahu.
"Tapi yang saya tidak siap, Bu — adalah Bu mirip Adelia. Sangat mirip. Reyhan bilang pada saya kemarin malam, lewat telepon — 'Sebas, dia mirip Adelia.' Saya pikir dia sedang... sedang relapse. Sedang masuk lagi ke fase delusi yang dulu saya rawat. Tapi sekarang saya lihat sendiri. Bu memang... memang mirip beliau."
Aku menelan ludah. "Saya... saya tidak tahu sebelumnya, Pak. Pak Sutarno tidak menjelaskan. Reyhan sendiri mengatakan saat saya tanda tangan."
"Saya tahu, Bu. Saya sudah curiga Sutarno tidak akan menjelaskan. Karena kalau Bu tahu sebelumnya, mungkin Bu akan menolak. Dan Reyhan sangat butuh menikah lagi — ada tekanan dari keluarga, ada tekanan bisnis."
Sebastian menarik napas.
"Bu Arini, saya tidak datang kemari untuk minta maaf atas Reyhan. Saya datang untuk memperingatkan Bu."
Aku menatap Sebastian.
"Memperingatkan apa, Pak?"
"Reyhan akan menggunakan kemiripan Bu — mungkin tidak sengaja, tidak sadar — untuk menyembuhkan diri beliau dari grief. Beliau akan menatap Bu dan melihat Adelia. Beliau akan minta Bu meniru kebiasaan Adelia tanpa sadar — 'Adelia juga begitu,' 'Adelia simpan di sini,' 'Adelia suka itu.' Dan kalau Bu tidak hati-hati, Bu akan kehilangan diri Bu sendiri."
"Pak Sebastian..."
"Saya tahu ini terdengar berlebihan. Tapi saya sudah merawat Reyhan secara psikologis selama tiga tahun setelah Adelia meninggal. Saya tahu pola beliau. Beliau tidak melakukan ini dengan niat jahat. Tapi beliau melakukannya dengan kebutuhan yang dalam — kebutuhan untuk mengembalikan apa yang hilang. Dan Bu, sebagai orang yang fisiknya mirip... Bu rentan."
Aku menatap kolam renang. Permukaan airnya tenang. Lampu underwater membuat air tampak biru cerah, seperti permata cair.
Sebastian benar.
Aku sudah merasakan itu, bahkan dalam dua hari pertama. Tatapan Reyhan yang menetap. Catatan di buku Rumi. Buku yang dikirim ke kamar aku — tentang grief.
Aku sudah berada di jalan untuk menjadi pengganti.
"Pak Sebastian," aku akhirnya berbicara, "saya hargai peringatan Pak. Tapi saya... saya butuh bertahan dua tahun di sini. Demi keluarga saya. Saya tidak bisa pergi."
"Saya tidak meminta Bu pergi, Bu Arini."
Sebastian mengeluarkan kartu nama dari saku vest-nya. Menyodorkan ke aku.
"Saya hanya minta — kalau suatu hari Bu butuh berbicara dengan seseorang yang bukan Reyhan, bukan keluarga beliau, bukan pelayan di rumah ini... ini kartu nama saya. Klinik saya di Kemang. Saya tidak akan billing Bu. Anggap saja sebagai sahabat istri sahabat."
Aku menerima kartu. Membaca.
Dr. Sebastian Wibowo, Sp.KJ Spesialis Kedokteran Jiwa Klinik Pratama Wibowo, Kemang.
Aku menyimpan kartu di kantong daster aku.
"Terima kasih, Pak Sebastian."
"Sama-sama, Bu Arini. Dan satu hal lagi — Reyhan tidak perlu tahu kita bicara begini hari ini. Beliau akan salah paham."
"Iya, Pak."
Sebastian mengangguk. Berdiri. "Kalau begitu saya pamit. Tolong sampaikan salam saya pada Reyhan kalau beliau pulang nanti."
Beliau pergi. Pak Tarno mengantar Sebastian sampai pintu. Aku tetap di gazebo, dengan kartu nama Sebastian di kantong, dengan kepala yang penuh.
Saat aku akhirnya berjalan kembali ke mansion, sore sudah berubah jadi senja. Langit jingga di atas pohon-pohon palem.
Bu Asih menyambut di pintu.
"Bu, Pak Sebastian baik orangnya, ya?"
"Iya, Bu Asih. Beliau... beliau sahabat Pak Reyhan dari lama, ya?"
"Iya, Bu. Sahabat dari kuliah. Tapi..." Bu Asih menelan ludah. Tampak ragu apakah dia harus melanjutkan.
"Tapi apa, Bu Asih?"
Bu Asih melihat sekeliling. Memastikan tidak ada pelayan lain. Lalu bicara dengan suara yang lebih rendah.
"Bu, ada satu hal yang Bu mungkin perlu tahu. Bukan untuk drama. Hanya supaya Bu mengerti dinamika di rumah ini."
"Apa, Bu Asih?"
"Pak Sebastian... beliau dulu hampir menikahi Bu Adelia. Sebelum Pak Reyhan datang."
Aku menahan napas.
"Apa, Bu Asih?"
"Iya, Bu. Pak Sebastian dan Bu Adelia pacaran dua tahun di kuliah. Sudah hampir tunangan. Tapi Bu Adelia akhirnya memilih Pak Reyhan. Sahabat Pak Sebastian sendiri. Yang membuat Pak Sebastian patah hati. Tapi Pak Sebastian — orangnya baik, ikhlas — tetap jadi sahabat Pak Reyhan. Bahkan jadi saksi pernikahan Pak Reyhan dan Bu Adelia."
Aku berdiri di lobi mansion. Diam.
"Setelah Bu Adelia meninggal, Pak Sebastian yang merawat Pak Reyhan secara psikologis selama tiga tahun. Beliau yang menyelamatkan Pak Reyhan dari... dari bunuh diri."
Bu Asih menelan ludah. "Bu, itu yang saya tahu. Saya tidak harus cerita. Tapi saya pikir Bu pantas tahu. Karena Pak Sebastian — meskipun beliau baik — punya sejarah dengan rumah ini yang Bu tidak boleh remehkan."
Aku menatap Bu Asih.
"Terima kasih, Bu Asih."
Beliau mengangguk. Pergi.
Aku berdiri di lobi. Lama.
Sebastian bukan hanya sahabat Reyhan.
Sebastian adalah pria yang dulu mencintai Adelia. Yang Adelia tinggalkan demi Reyhan. Yang setelah Adelia meninggal, merawat Reyhan dari grief — tindakan yang luar biasa untuk pria yang seharusnya membenci sahabatnya yang merebut cinta pertamanya.
Dan sekarang, Sebastian memperingatkan aku — istri kontrak Reyhan yang mirip Adelia — agar aku tidak kehilangan diri.
Pria seperti apa yang melakukan ini semua?
Aku tidak tahu.
Tapi aku tahu satu hal — kartu nama yang aku simpan di kantong daster aku ini, mungkin akan menjadi sumber daya yang akan aku butuhkan suatu hari.
Karena pria yang mengerti grief Reyhan sebaik Sebastian, mungkin satu-satunya yang bisa membantu aku bertahan dua tahun di rumah ini.
Tanpa kehilangan Arini Pratiwi.
Yang tetap aku, di balik wajah yang mirip dengan hantu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar