Reyhan sudah duduk di meja makan ketika aku turun pukul tujuh pagi.
Setelan berbeda dari kemarin — kali ini abu-abu gelap, dengan kemeja putih yang tampak baru saja disetrika. Rambutnya disisir rapi. Dia membaca koran cetak — bukan tablet, bukan ponsel, koran fisik. Detail kecil yang entah kenapa membuatku heran. Aku pikir CEO modern sudah tidak baca koran cetak lagi.
Aku berhenti di ambang pintu.
Tidak yakin harus bagaimana. Apakah harus mengetuk meja? Memberitahu kehadiran? Atau langsung duduk?
Reyhan, tanpa mengangkat wajah dari koran, berbicara.
"Duduk, Bu Arini."
Suara yang sama dengan kemarin. Datar. Sopan. Tapi tidak ada kehangatan apa pun.
Aku duduk di kursi yang kemarin malam aku duduki — kursi sebelah kanan kepala meja. Reyhan ada di kursi kepala meja itu sendiri.
Bu Asih masuk membawa nampan. Menyajikan sarapan untuk aku — roti panggang, telur dadar, buah potong, segelas susu hangat. Untuk Reyhan, sudah ada di hadapannya — bubur ayam dengan taburan bawang goreng dan kecap, secangkir kopi hitam.
"Terima kasih, Bu Asih."
Bu Asih membungkuk pelan. Pergi.
Hening.
Reyhan masih membaca koran. Aku mulai sarapan dengan hati-hati, takut suara peralatan makan yang aku gunakan akan terlalu keras.
Lima menit berlalu. Tidak ada yang bicara.
Akhirnya, Reyhan menutup koran. Melipatnya rapi. Meletakkan di sebelah piring.
"Bu Arini."
Aku mendongak. "Iya, Pak."
"Kita perlu bicara aturan."
Aku menelan suapan terakhir. Meletakkan sendok. Mengangguk.
"Ada beberapa hal yang Pak Sutarno mungkin sudah sampaikan, tapi saya ingin sampaikan langsung. Supaya tidak ada miskomunikasi."
"Iya, Pak."
Reyhan memandangku — tapi pandangan beliau tidak menetap di mata aku. Lebih ke arah dahi atau pipi. Seperti dia berusaha bicara tanpa benar-benar melihat aku sebagai aku.
"Pertama. Sarapan bersama tiga kali seminggu. Senin, Rabu, Jumat. Pukul tujuh pagi tepat. Hari lain Bu boleh sarapan kapan saja."
"Iya."
"Kedua. Makan malam bersama setiap hari. Pukul tujuh malam. Kalau saya tidak bisa pulang tepat waktu, saya akan kabari. Bu boleh makan duluan, tapi tunggu saya pulang sebelum Bu kembali ke kamar."
Aku mengernyitkan dahi sedikit. Tunggu beliau pulang sebelum kembali ke kamar? Itu... aturan yang aneh.
Reyhan tampak menyadari ekspresi aku. Untuk pertama kalinya, beliau menjelaskan tanpa diminta.
"Saya butuh ada seseorang di ruang utama saat saya pulang. Bukan untuk menyambut. Bukan untuk drama. Hanya... ada."
Aku tidak bertanya lebih jauh. Aku mengangguk.
"Ketiga. Acara keluarga. Saya akan kabari Bu satu minggu sebelumnya. Bu wajib hadir. Pakaian akan disiapkan. Dandanan akan disiapkan. Yang Bu lakukan — hadir, tersenyum, sapa keluarga saya. Kalau ada pertanyaan tentang pernikahan kita, jawab dengan singkat. 'Ya, kami baru menikah enam bulan yang lalu.' 'Ya, kami bahagia.' 'Ya, mungkin akan ada anak suatu hari.' Begitu saja. Jangan masuk ke detail."
"Iya."
"Keempat. Wing timur."
Reyhan berhenti. Menatap ke arah jendela ruang makan, ke arah taman luar, seperti dia perlu mengambil napas sebelum melanjutkan.
"Wing timur tidak boleh dimasuki. Tidak pernah. Tidak oleh Bu, tidak oleh pelayan, tidak oleh siapa pun. Kecuali saya. Pintu di koridor lantai dua selalu terkunci. Saya yang punya kuncinya."
"Iya, Pak."
"Kelima — yang paling penting. Tidak boleh ada pertanyaan tentang masa lalu saya. Bu mungkin akan dengar gosip dari keluarga, dari pelayan, dari berita lama. Apa pun yang Bu dengar, jangan tanya saya untuk konfirmasi. Jangan kembangkan. Jangan diskusikan. Setuju?"
Aku menatap Reyhan.
Mata coklat tuanya — masih dingin, masih jauh — tapi ada sesuatu di sudut matanya yang tampak lebih lelah daripada kemarin sore. Seperti seseorang yang baru saja menangis sepanjang malam, lalu memakai lapisan profesional ekstra di pagi hari untuk menutupi.
Aku ingat suara isakan di balik pintu wing timur.
Aku ingat panggilan "Adel" yang berulang-ulang.
"Setuju, Pak."
Reyhan mengangguk pelan. Mengangkat cangkir kopinya. Menyesap.
"Bagus."
Hening lagi. Aku melanjutkan makan dengan canggung. Roti panggang yang sudah dingin terasa lebih sulit dikunyah dari yang seharusnya.
Lalu, secara tiba-tiba — Reyhan bicara lagi. Suara yang berbeda. Lebih pelan.
"Anda... benar-benar mirip dia."
Sendok di tangan aku berhenti.
Aku mendongak. Reyhan menatap aku — tapi kali ini, benar-benar menatap. Bukan ke dahi. Bukan ke pipi. Tapi ke mata aku. Untuk pertama kalinya sejak kemarin.
Mata coklat tua yang penuh dengan sesuatu yang aku tidak bisa beri nama. Bukan kebencian. Bukan keinginan. Sesuatu yang lebih kompleks. Mungkin... pengakuan.
"Mirip siapa, Pak?" tanya aku, meskipun aku sudah tahu jawabannya.
Reyhan menelan ludah. Aku bisa lihat jakun beliau bergerak naik turun. Tangan beliau yang memegang cangkir kopi sedikit gemetar — tidak banyak, tapi cukup untuk aku tangkap karena aku sudah memperhatikan dengan seksama.
"Istri saya," akhirnya beliau berkata. Pelan. "Yang sudah meninggal."
Hening.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Maaf? Itu terasa kosong. Saya turut berduka cita? Tiga tahun sudah lewat — apakah masih pantas? Saya bukan dia? Itu mungkin yang Reyhan butuh dengar — tapi juga yang akan menyakitinya lebih dari yang dia siap.
Aku memilih diam.
Hanya menatap balik. Memberi izin pada Reyhan untuk melihat aku tanpa berusaha menjelaskan sesuatu.
Lima detik. Sepuluh detik.
Akhirnya, Reyhan memutus tatapan duluan. Meletakkan cangkir kopinya. Berdiri.
"Saya berangkat ke kantor."
"Iya, Pak."
Beliau berjalan ke pintu ruang makan. Lalu berhenti sebelum keluar.
Tanpa menoleh, beliau bicara lagi: "Bu Arini, satu hal lagi."
"Iya?"
"Nama istri pertama saya... Adelia. Adelia Hartanto. Beliau meninggal tiga tahun lalu di kecelakaan mobil di tikungan Puncak. Bu mungkin akan dengar nama itu beberapa kali di rumah ini, dari pelayan atau keluarga. Saya hanya ingin Bu... jangan terkejut. Adelia adalah bagian dari rumah ini. Akan selalu jadi bagian. Saya tidak akan menyangkalnya."
Aku menelan ludah. "Iya, Pak. Saya... saya turut berduka."
Reyhan diam beberapa detik. Lalu menjawab dengan suara yang aku tidak duga — suara yang lebih hangat dari semua yang beliau ucapkan sejak kemarin.
"Terima kasih, Bu Arini. Itu... itu bagus untuk didengar dari seseorang yang tidak diwajibkan untuk merasakannya."
Beliau keluar.
Aku mendengar langkah beliau menjauh di koridor. Suara pintu mansion yang dibuka oleh Pak Tarno. Mesin Mercedes yang menyala di pelataran.
Aku duduk diam.
Roti panggang aku sudah dingin. Telur dadar aku setengah dimakan. Susu sudah membentuk kulit tipis di permukaan.
Dan di kepalaku, satu kalimat Reyhan yang terus berulang:
"Itu bagus untuk didengar dari seseorang yang tidak diwajibkan untuk merasakannya."
Pria itu — yang aku kira tidak akan menunjukkan kerentanan apa pun — baru saja mengakui bahwa dia tahu pernikahan kami adalah kontrak. Dia tahu aku tidak diwajibkan untuk merasakan apa pun untuk istri pertamanya.
Tapi dia berterima kasih ketika aku tetap merasakan.
Dan untuk satu detik kecil — satu detik yang aku akan sangkali sepanjang hari nanti — aku merasa sesuatu yang aku takut nama-i.
Aku merasa... terlihat.
Bukan sebagai pengganti Adelia.
Bukan sebagai istri kontrak.
Tapi sebagai Arini.
Pukul sebelas pagi, ponsel aku bergetar.
Bilqis.
Kak, Bapak udah masuk OR. Operasi mulai jam sebelas tepat. Dokter bilang sekitar enam jam. Kakak doain ya.
Aku menarik napas pelan. Mengetik balasan.
Iya, dik. Kakak doain. Kalau ada apa-apa, kabari Kakak ya.
Iya kak. Sayang, kak.
Sayang.
Aku menutup chat. Menatap luar jendela kamar.
Bapak sedang dioperasi. Jantung baru sedang dipasang. Hidup baru sedang dibangun untuk Bapak.
Sementara aku — di rumah orang lain, dengan suami yang bukan suami, dengan kehidupan yang bukan kehidupan — sedang menjalani versi diri aku yang aku belum kenal.
Aku berbaring di tempat tidur. Menatap langit-langit yang tinggi.
Ingin menangis. Tapi tidak ada air mata yang keluar.
Mungkin karena aku sudah menangis terlalu banyak dalam tiga bulan terakhir — sejak vonis Bapak, sejak hilangnya rumah kami, sejak munculnya Pak Sutarno dengan kontrak gila yang akhirnya aku tanda tangani.
Air mata, ternyata, juga bisa habis.
Sore hari, sekitar pukul empat, ada ketukan di pintu kamar.
"Bu Arini."
Bu Asih.
"Iya, Bu Asih?"
Aku duduk. Bu Asih masuk membawa nampan teh.
"Bu, ada paket dari rumah sakit."
Hatiku mencelos. "Bapak..."
"Operasi berhasil, Bu. Dokter baru saja menelepon ke kantor Pak Reyhan. Pak yang minta saya kabari Bu segera."
Aku menutup mulut dengan tangan. Air mata yang katanya sudah habis, ternyata masih ada cadangannya. Mengalir tanpa peringatan.
"Bapak baik-baik saja?"
"Iya, Bu. Beliau di ruang ICU sekarang. Bilqis menunggu di luar. Pak Reyhan bilang Pak akan kirim Pak Tarno besok pagi untuk antar Bu menjenguk."
"Pak Reyhan... yang minta?"
"Iya, Bu."
Aku menatap Bu Asih.
Pria yang katanya tidak akan menyentuh aku, tidak akan peduli aku, hanya menggunakan aku sebagai 'istri formal' — pria itu yang menghubungi rumah sakit untuk update kondisi Bapak aku. Pria itu yang minta Pak Tarno mengantar aku menjenguk besok.
Mungkin untuk Reyhan, ini hanya formalitas. Investasi. Keuangan. Kontrak menyatakan dia "bertanggung jawab atas kesehatan keluarga inti istri kontrak" — itu ada di pasal kedua belas.
Tapi untuk aku, ini lebih dari itu.
Karena Reyhan tidak harus minta update segera. Tidak harus minta sopir mengantar besok. Bisa saja beliau menyerahkan ke staf, ke pengacara, ke siapa pun yang biasa mengurus hal-hal kecil.
Tapi beliau yang menelepon Bu Asih sendiri.
"Terima kasih, Bu Asih."
"Sama-sama, Bu. Bu mau saya ambilkan sesuatu? Cemilan? Susu hangat?"
"Tidak, Bu Asih. Saya... saya butuh waktu sebentar. Untuk... berdoa untuk Bapak."
Bu Asih mengangguk hormat. Pamit.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Menyatukan kedua tangan. Menundukkan kepala.
"Ya Allah, terima kasih sudah menyelamatkan Bapak. Berikan beliau kekuatan untuk pulih. Berikan saya kekuatan untuk menjalani dua tahun ini. Dan, ya Allah, berikan Reyhan... kekuatan untuk pulih dari kesedihannya. Karena pria itu — meskipun saya baru kenal dua hari — sudah cukup baik untuk peduli pada Bapak saya. Dan setiap orang yang masih bisa peduli, pantas mendapat keringanan dari Engkau."
Aku menutup doa. Mengusap air mata.
Saat aku membuka mata, aku melihat sesuatu di nakas yang sebelumnya tidak ada.
Buku.
Buku yang Bu Asih pasti tinggalkan diam-diam — atau Reyhan yang minta Bu Asih taruh di kamar aku.
Aku mengambil buku itu. Membaca judul.
"Selasa Bersama Morrie" oleh Mitch Albom.
Buku tentang seseorang yang menerima kematian dengan damai. Yang mengajari sahabatnya tentang hidup di hari-hari terakhir.
Aku membuka halaman pertama.
Ada catatan tulisan tangan di pojok atas. Tulisan tangan Reyhan yang sudah aku kenali dari surat kemarin.
Untuk Bu Arini.
Saya tidak yakin Bu suka membaca apa. Tapi saya ingat — Pak Sutarno bilang Bu menulis puisi di waktu luang. Saya pikir Bu mungkin suka prosa juga.
Buku ini saya beli setahun setelah Adelia meninggal. Membantu saya melewati tahap pertama grief. Kalau Bu mau pinjam, jaga baik-baik. Kalau Bu tidak suka, taruh di nakas saja.
— R.
Aku menutup buku. Menatap dinding kamar yang tinggi dan kosong.
Pria itu...
Pria yang baru kemarin menjadi suami aku, yang tidak menatap aku saat tanda tangan, yang sudah masuk ke kamar istri pertamanya tengah malam — pria itu juga adalah pria yang ingat detail kecil tentang aku (bahwa aku menulis puisi), yang membeli buku untuk membantu istri kontraknya melewati hari pertama jauh dari keluarga.
Aku bersandar ke kepala tempat tidur. Membuka buku itu di halaman pertama. Mulai membaca.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku pindah ke mansion ini — meskipun aku masih sendirian di kamar yang asing, di rumah yang dingin, dengan suami yang tidak akan pulang sampai larut malam — aku merasa sedikit lebih hangat.
Karena seseorang, di suatu tempat, sedang berusaha menjadikan aku ada.
Bukan sebagai pengganti.
Bukan sebagai bayangan.
Tapi sebagai Arini, yang menulis puisi di waktu luang, yang mungkin akan suka prosa.
Aku menarik napas pelan. Membuka halaman kedua.
Dua tahun, Arini. Dua tahun.
Tapi mantra itu, untuk pertama kalinya, terasa lebih ringan diucapkan.
Bukan karena dua tahun terasa lebih singkat.
Tapi karena, mungkin — mungkin sekali — dua tahun di rumah ini tidak akan sekosong yang aku takutkan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar