Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar mereka, namun suasananya terasa dingin. Aris sudah berangkat sejak pukul enam pagi—pilihan yang ia ambil bukan hanya karena tuntutan pekerjaan sebagai Manager operasional, tapi juga untuk menghindari perdebatan sia-sia di meja makan yang belakangan ini selalu berujung pada keluhan Dinda.
Dinda terbangun dengan malas. Hal pertama yang ia raih bukan segelas air putih, melainkan ponsel pintarnya yang tersambung ke pengisi daya di nakas. Jemarinya dengan lincah menari di atas layar, membuka aplikasi Instagram. Inilah ritual paginya: mengintip kehidupan orang lain untuk menentukan suasana hatinya sendiri.
Matanya seketika membelalak saat melihat postingan terbaru dari Sarah, teman kuliahnya dulu yang kini menjadi istri seorang kontraktor sukses. Di sana, Sarah berpose di depan sebuah butik mewah di Singapura, menenteng tas berwarna krem dengan logo huruf 'H' yang ikonik.
"Late birthday gift from Hubby. So blessed!" tulis Sarah dengan emotikon hati yang berderet.
Dinda merasa ulu hatinya seperti diremas. Rasa iri itu datang seketika, panas dan menyesakkan. Ia menunduk menatap daster satinnya yang mahal, lalu menatap sekeliling kamarnya yang luas. Kemarin, ia merasa kamar ini sudah cukup mewah, tapi setelah melihat foto Sarah, tiba-tiba segalanya terasa murah. Ia merasa tertinggal. Ia merasa kalah.
"Sarah saja bisa, masa aku nggak?" gumam Dinda sinis. "Suamiku kan Manager. Posisinya lebih terhormat daripada kontraktor yang kerjanya cuma di proyek debu-debuan begitu."
Ia bangkit, berdiri di depan cermin besar. Dinda memoles wajahnya, mencoba menutupi rasa tidak puasnya dengan riasan tipis namun presisi. Di kepalanya, ia mulai menyusun strategi. Ia harus memiliki sesuatu yang setara atau lebih dari apa yang dimiliki Sarah. Jika tidak, ia akan merasa malu saat reuni kecil teman-teman mereka bulan depan.
Siang harinya, Dinda bertemu dengan Jeng Sari di sebuah kafe bergaya Paris di salah satu mall ternama. Jeng Sari adalah tipikal teman yang senang memanas-manasi. Baginya, martabat seorang istri diukur dari apa yang ia kenakan di tubuhnya.
"Aduh, Jeng Dinda... kamu lihat nggak postingan Sarah?" tanya Jeng Sari sambil menyeruput latte seharga delapan puluh ribu rupiah. "Duh, tasnya itu lho. Versi terbaru. Harganya pasti di atas lima puluh juta."
Dinda memaksakan senyum, tangannya menggenggam tas kulitnya yang "hanya" seharga tujuh juta rupiah. "Oh, iya. Bagus sih, tapi aku lebih suka model yang discreet gitu, Jeng. Mas Aris sebenarnya sudah nawarin, tapi aku bilang nanti saja nunggu koleksi winter."
"Lho, jangan mau nunggu-nunggu, Jeng. Laki-laki itu kalau nggak diminta sekarang, nanti uangnya malah lari ke hobinya atau ke keluarganya. Kamu kan tahu sendiri, keluarga suami itu kadang suka 'nyedot' kalau tahu anaknya sukses," Jeng Sari mengedipkan mata, seolah memberi kode rahasia.
Kalimat itu bagai bensin yang disiram ke api dalam hati Dinda. Ia teringat kejadian kemarin di rumah Ibu Aris. Ia teringat bagaimana Aris membela adik-adiknya.
"Iya juga ya, Jeng," sahut Dinda perlahan. "Mas Aris itu terlalu royal sama keluarganya. Atap rumah Ibunya dibenerin, adik bungsunya dibeliin motor. Padahal aku sebagai istrinya harus berhemat."
"Nah, makanya! Mumpung Mas Aris lagi di posisi Manager, kamu harus 'kunci' uangnya di barang-barang bermerek. Biar kalau ada apa-apa, asetnya di kamu. Lagian, kamu itu aset tercantik Mas Aris. Malu dong kalau penampilannya kalah sama istri kontraktor," hasut Jeng Sari lagi.
Dinda terdiam. Pikirannya kalut. Ia tahu saldo rekening pribadinya hanya tersisa sedikit setelah belanja minggu lalu. Ia juga tahu Aris tidak akan memberinya uang puluhan juta dalam waktu dekat hanya untuk sebuah tas baru. Tapi gengsinya sudah di ujung tanduk. Ia tidak mau dipandang remeh oleh Sarah atau Jeng Sari.
Saat sedang berkeliling mall setelah berpisah dengan Jeng Sari, langkah Dinda terhenti di depan sebuah butik internasional. Di etalase, terpajang sebuah tas tangan berwarna merah marun yang sangat elegan. Tas itu seolah memanggil namanya.
Dinda masuk ke dalam, menyentuh kulit tas yang sangat halus itu. "Berapa harganya, Mbak?"
"Sedang diskon sepuluh persen, Bu. Jadi dua puluh delapan juta saja," jawab pelayan butik dengan ramah.
Dua puluh delapan juta. Angka itu jauh melampaui limit kartu kredit Dinda yang sudah hampir penuh. Ia bisa saja minta pada Aris, tapi ia sudah bisa membayangkan ceramah panjang suaminya tentang tabungan dan masa depan.
Dinda keluar dari butik dengan perasaan gelisah. Ia duduk di salah satu kursi panjang mall, jemarinya membuka aplikasi media sosial. Di sela-sela feed-nya, muncul sebuah iklan dengan desain mencolok: “Butuh Dana Cepat? Cair dalam 5 Menit! Tanpa Jaminan, Cukup KTP!”
Biasanya, Dinda akan melewati iklan seperti itu. Tapi hari ini, syaraf logikanya seolah tumpul oleh rasa iri. Ia berpikir, Ini kan cuma buat nambahin kekurangan dikit. Nanti kalau bonus tahunan Mas Aris cair, aku lunasin diam-diam. Dia nggak akan tahu.
Ia mengunduh aplikasi itu. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengunggah foto KTP-nya. Ia mengisi kolom data diri dengan lancar. Saat diminta mengisi kontak darurat, ia terdiam sejenak. Jika ia mengisi nomor keluarganya, mereka akan tahu. Ia butuh nomor yang aktif namun jarang ia hubungi secara pribadi. Ia memasukkan nomor kantor Aris—dengan alasan suaminya adalah penanggung jawab finansialnya—dan nomor Maya, adiknya Aris, dengan pemikiran bahwa Maya tidak akan berani bertanya padanya jika ada apa-apa.
Hanya dalam waktu singkat, sebuah notifikasi masuk: “Selamat! Pinjaman Anda sebesar 10 Juta Rupiah telah disetujui.”
Dinda tersenyum lebar. Rasanya seperti mendapat uang kaget. Ditambah dengan sisa limit kartu kreditnya, ia bisa membeli tas itu sore ini juga. Ia tidak memikirkan bunga yang mencekik. Ia tidak memikirkan tenor yang hanya dua minggu. Yang ada di pikirannya hanyalah wajah Sarah yang akan iri saat melihatnya menenteng tas baru di reuni nanti.
Malam itu, Aris pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya terlihat sangat lelah, namun ia membawakan martabak manis kesukaan Dinda sebagai tanda damai atas pertengkaran mereka kemarin.
"Dek, ini Abang bawain martabak. Kita makan bareng, yuk," ajak Aris lembut.
Dinda sedang duduk di depan televisi, menimang tas barunya yang masih terbungkus rapi di dalam dustbag. Ia menoleh sekilas, tanpa rasa antusias. "Taruh di dapur saja, Bang. Aku lagi kenyang."
Aris mendekat, matanya menangkap sebuah kotak besar berlogo butik ternama di lantai. "Itu apa, Dek? Kamu belanja lagi?"
Dinda sedikit tersentak, namun segera memasang wajah defensif. "Oh, itu... itu barang titipan Jeng Sari, Bang. Dia beli tadi pas kita di mall, tapi dia nggak enak bawa pulang ke rumahnya karena suaminya lagi ada tamu. Jadi dititip di sini dulu."
Aris menatap kotak itu cukup lama. Ada rasa curiga, tapi ia terlalu lelah untuk berdebat. "Titipan ya? Jangan sering-sering ya, Dek. Nanti kalau hilang atau rusak kita yang nggak enak."
"Iya, Bang. Bawel banget sih," sahut Dinda ketus.
Aris menghela napas, lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia tidak menyadari bahwa di dalam tas kerja Dinda, ponsel istrinya terus bergetar. Sebuah pesan masuk dari aplikasi yang baru diunduhnya: “Selamat! Dana telah dikirim ke rekening Anda. Harap lakukan pembayaran tepat waktu untuk menghindari denda harian 1%.”
Dinda segera menghapus pesan itu. Ia merasa menang. Ia merasa cerdas karena bisa mendapatkan apa yang ia mau tanpa harus mengemis pada suaminya yang "pelit".
Sambil memoles kuku kakinya, Dinda membayangkan komentar-komentar yang akan muncul di postingan fotonya besok pagi. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja membuka sebuah pintu menuju jurang yang dalam. Ia tidak tahu bahwa bunga satu persen per hari adalah api yang akan membakar seluruh kedamaian rumah tangganya dalam hitungan minggu.
Aris keluar dari kamar mandi dengan handuk di lehernya. Ia melihat Dinda tersenyum sendiri menatap ponselnya. Aris merasa istrinya makin jauh, seolah ada dinding kaca tebal yang memisahkan mereka.
"Dek, minggu depan ada acara makan malam di kantor pusat. Direktur bakal datang. Kamu siapin baju yang sopan ya, jangan terlalu berlebihan," ujar Aris sambil merebahkan diri.
"Iya, Bang. Tenang saja, aku bakal bikin Abang bangga. Aku sudah punya 'senjata' baru buat tampil berkelas," jawab Dinda dengan nada penuh arti yang tidak dimengerti Aris.
Aris memejamkan mata, berdoa dalam hati agar posisi barunya sebagai Manager benar-benar membawa berkah, bukan malah menjadi beban yang merusak kewarasan istrinya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Aris mulai merasakan firasat buruk. Sebuah firasat bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar