Malam itu, sisa ketegangan dari pertengkaran di meja makan masih terasa pekat di udara kamar mereka. Aris merebahkan tubuhnya yang penat di tepi ranjang king size mereka yang dilapisi sprei sutra—salah satu barang yang dipaksa beli oleh Dinda bulan lalu karena katanya "seorang Manager harus tidur di atas serat terbaik". Namun bagi Aris, sprei semahal apa pun tidak bisa memberikan kenyamanan jika suasana hatinya separah ini.

Dinda duduk di depan meja riasnya yang penuh dengan lampu-lampu estetik, sibuk mengoleskan berbagai macam serum ke wajahnya. Ia tidak menoleh sedikit pun saat Aris masuk.

"Dek," panggil Aris lembut. Ia mencoba menurunkan egonya. Sebagai suami, ia masih ingin memperbaiki keadaan. "Abang tadi bicara serius soal tabungan. Kita ini sudah punya rumah, sudah punya mobil. Bukankah lebih baik sisa gaji Abang kita simpan untuk cadangan? Kita belum tahu tahun depan ekonomi seperti apa."

Dinda meletakkan botol serumnya dengan bunyi 'tuk' yang cukup keras. Ia menatap pantulan Aris melalui cermin. "Abang itu selalu bicara soal 'nanti' dan 'cadangan'. Kapan Abang bicara soal 'sekarang'? Sekarang ini jabatan Abang sudah Manager. Teman-temanku di grup WhatsApp sudah mulai tanya, kapan kita open house atau minimal makan-makan cantik di hotel. Mereka tahu Abang naik jabatan."

"Makan-makan di hotel itu bisa habis lima sampai tujuh juta sekali datang, Dinda. Itu gaji satu orang staf operasional Abang sebulan," Aris mencoba memberi rasionalisasi.

"Ya itu kan gaji staf, bukan gaji Manager!" sergah Dinda cepat. Ia memutar kursi riasnya, menatap Aris langsung. "Abang itu harusnya bangga punya istri yang mau menjaga citra suami. Kalau aku tampil kusam, pakai baju tahun lalu, yang malu itu siapa? Abang juga, kan? Orang bakal mikir, 'Oh, Manager operasional tapi istrinya kayak nggak terurus'. Apa Abang mau dikasihani orang?"

Aris memijat pangkal hidungnya. Logika Dinda selalu berputar di sekitar pandangan orang lain. Seolah-olah hidup mereka adalah sebuah panggung sandiwara yang penontonnya harus selalu bertepuk tangan.

"Abang lebih memilih dikasihani orang karena hidup sederhana daripada dikasihani bank karena cicilan yang menumpuk," gumam Aris lirih, namun cukup keras untuk didengar Dinda.

Dinda berdiri, matanya berkilat marah. "Maksud Abang apa? Jadi Abang menyesal belikan aku tas kemarin? Atau Abang mau bilang kalau aku ini beban? Kalau memang banyak duit mu bang, harusnya aku kau bahagiakan! Jangan setiap aku beli barang sedikit saja, ceramahmu lebih panjang dari khotbah Jumat!"

Aris memilih diam. Ia tahu jika ia membalas, perdebatan ini akan berlangsung sampai subuh dan ia harus memimpin rapat besar besok pagi jam delapan. Ia menarik selimut, memunggungi Dinda, mencoba memejamkan mata meski hatinya terasa nyeri.


Keesokan harinya adalah hari Minggu, waktu yang biasanya digunakan keluarga besar Aris untuk berkumpul di rumah Ibu. Aris sebenarnya ingin istirahat di rumah, tapi Dinda bersikeras ikut karena ia ingin memamerkan perhiasan barunya di depan Maya dan Rian—adik-adik Aris.

Sesampainya di rumah Ibu yang sederhana namun asri, Dinda tampak canggung. Ia berulang kali mengelap kursi kayu jati di teras dengan tisu basah sebelum duduk.

"Aduh, Ibu... udaranya panas ya di sini. Kenapa nggak pasang AC saja di ruang tamu? Aris kan sudah jadi Manager, harusnya dia bisa kasih Ibu fasilitas lebih," ujar Dinda sambil mengipasi wajahnya dengan tangan yang dihiasi cincin berlian kecil.

Maya yang sedang membawa nampan berisi teh manis terhenti di ambang pintu. Ia menatap kakak iparnya dengan tatapan dingin. "Mas Aris sudah tawarkan, Mbak. Tapi Ibu nggak mau. Ibu lebih suka udara alami, lagian listriknya mahal. Mas Aris juga sudah banyak bantu renovasi atap dan kirim uang bulanan buat obat Ibu."

"Yah, kalau cuma obat sih receh buat Aris sekarang, May," Dinda tertawa kecil, nada yang terdengar meremehkan bagi telinga Maya. "Harusnya Ibu itu diajak jalan-jalan ke luar negeri, atau minimal belanja ke mall. Biar nggak di rumah terus."

Rian, yang baru saja keluar dari dalam rumah, langsung menyahut, "Ibu itu bahagianya kalau lihat anak-anaknya tenang, Mbak. Bukan kalau diajak pamer ke mall. Mas Aris itu tiap hari kerja lembur sampai malam, mukanya makin kuyu. Mbak Dinda sebagai istri harusnya ingetin Mas Aris buat istirahat, bukan malah disuruh cari uang terus buat beli barang-barang nggak jelas."

Suasana mendadak kaku. Aris yang baru saja selesai membantu Ibunya di dapur keluar dan merasakan ketegangan itu.

"Ada apa ini?" tanya Aris.

"Ini lho, Mas. Mbak Dinda bilang Ibu harusnya pasang AC. Aku bilang Ibu nggak butuh. Eh, Mbak Dinda malah bilang uang Mas Aris banyak," jawab Rian dengan nada ketus.

Aris menatap Dinda yang tampak tidak merasa bersalah. "Dek, sudah... jangan bahas soal itu di sini. Kita ke sini mau jenguk Ibu."

"Lho, aku kan kasih saran bagus, Bang! Supaya Ibu nyaman," bela Dinda.

Sepanjang acara makan siang, Dinda tidak berhenti membicarakan rencana liburannya ke Bali atau daftar belanjaan yang ingin ia beli di flash sale akhir bulan nanti. Ia bercerita dengan sangat antusias, tanpa menyadari bahwa Maya dan Rian saling bertukar pandang penuh rasa muak.

Ibu Aris hanya tersenyum tipis, lebih banyak diam. Sebagai orang tua, beliau bisa melihat guratan beban yang sangat dalam di pundak putranya setiap kali Dinda menyebutkan nominal harga barang atau rencana kemewahan lainnya.

"Ris," panggil Ibu saat Aris sedang di dapur sendirian mengambil air minum. "Kamu sehat, Nak?"

Aris tertegun. Ia menatap mata Ibunya yang teduh. "Sehat, Bu. Kenapa Ibu tanya begitu?"

"Kerja itu jangan terlalu diforsir. Ibu nggak butuh uang banyak, yang penting kamu bahagia. Kalau ada masalah rumah tangga, selesaikan dengan kepala dingin. Tapi ingat, jangan sampai kamu mengorbankan dirimu sendiri hanya untuk sesuatu yang tidak kekal."

Aris menunduk. Ia merasa Ibunya tahu segalanya tanpa perlu ia jelaskan. "Iya, Bu. Aris usahakan."


Sore harinya, saat dalam perjalanan pulang, Dinda justru marah-marah di dalam mobil.

"Adik-adikmu itu kenapa sih, Bang? Sinis banget sama aku. Apalagi si Maya, kayaknya sirik banget lihat aku pakai tas baru," keluh Dinda sambil berkaca di spion mobil.

"Mereka nggak sirik, Dinda. Mereka cuma peduli sama Abang. Mereka lihat Abang capek," jawab Aris tetap fokus menyetir.

"Capek itu risiko kerja! Semua orang juga capek. Tapi kalau capeknya menghasilkan uang, ya harus dinikmati istrinya dong. Kamu itu jangan terlalu dengerin mereka, mereka itu cuma takut jatah bulanan dari kamu berkurang kalau aku belanja."

"Dinda! Jaga bicaramu!" Aris membentak, membuat Dinda terdiam seketika. "Mereka itu adik-adikku. Mereka nggak pernah minta uang sama Abang kalau nggak darurat. Jangan pernah kamu tuduh mereka seperti itu!"

Dinda mendengus keras, memalingkan wajah ke arah jendela. "Terserahlah. Yang jelas, besok aku mau ke mall sama Jeng Sari. Aku butuh heels baru buat acara makan malam kantor kamu minggu depan. Jangan bilang nggak ada uang, karena aku tahu bonus jabatan kamu harusnya sudah cair."

Aris mencengkeram kemudi dengan sangat kuat. Di kepalanya, ia menghitung sisa saldo di rekeningnya yang kian menipis karena cicilan rumah dan kartu kredit Dinda bulan lalu. Ia mulai merasa, cinta yang selama ini ia agungkan, kini perlahan-lahan mulai terkikis oleh rasa lelah yang tak berujung.

Dinda sama sekali tidak sadar, di balik ketenangan Aris, ada sebuah gunung es yang siap runtuh kapan saja. Di pikirannya, Aris adalah "mesin uang" yang akan selalu ada untuk memenuhi setiap keinginannya, apa pun taruhannya.