Pagi itu, suasana di meja makan kediaman Aris dan Dinda tampak lebih tenang dari biasanya. Namun, bagi Aris, ketenangan ini terasa artifisial, seperti lapisan es tipis yang menutupi danau yang dalam dan dingin. Dinda duduk di hadapannya, menyesap kopi susu dengan anggun sembari menggeser-geser layar ponselnya. Di sudut ruang tamu, tas merah marun yang kemarin diklaim sebagai "titipan Jeng Sari" masih tergeletak di sana, seolah-olah menertawakan kenaifan Aris.
Aris meletakkan sendoknya. Ia menatap istrinya lekat-lekat. "Dek, tas itu kapan Jeng Sari ambil? Nggak enak kalau kelamaan di sini, apalagi kalau kamu nggak sengaja pakai atau ketumpahan sesuatu."
Dinda tidak mendongak. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, namun ia sudah menyiapkan skenario di kepalanya. "Oh, itu... Jeng Sari bilang nanti sore suaminya yang ambil, Bang. Atau mungkin aku yang anterin ke rumahnya pas arisan nanti. Tenang aja sih, Bang, nggak bakal rusak kok."
"Abang cuma nggak mau ada fitnah, Dek. Kamu tahu sendiri kan, di lingkungan kantor atau perumahan ini, orang suka sekali bicara. Abang baru saja naik jadi Manager, banyak mata yang memperhatikan kita. Abang mau kita tampil apa adanya saja, jangan terlalu mencolok dengan barang orang lain," ujar Aris dengan nada yang masih sangat lembut.
Dinda mendongak, matanya menatap Aris dengan sedikit ketajaman yang disamarkan. "Apa adanya itu maksud Abang apa? Apa adanya itu berarti aku harus pakai tas diskonan mall bawah? Bang, Abang itu Manager. Citra itu penting. Kalau Jeng Sari aja yang suaminya cuma kepala cabang bisa beli itu, harusnya Abang nggak perlu kaget kalau aku punya barang serupa."
"Tapi itu bukan punya kamu, kan?" Aris memastikan sekali lagi.
"Iya, Bang! Cerewet banget sih!" Dinda berdiri dengan kasar, membawa piring kotornya ke dapur. "Abang berangkat kerja sana, nanti telat kena potong gaji lagi."
Aris menghela napas. Ia bangkit, merapikan dasinya di depan cermin, lalu mengambil tas kerjanya. Sebelum keluar, ia sempat melirik tas merah marun itu. Ada sesuatu yang mengganjal, tapi ia segera menepisnya. Ia harus fokus pada laporan operasional bulanan yang akan dipresentasikannya siang nanti.
Begitu deru mobil Aris menghilang dari halaman, Dinda segera berlari ke ruang tamu. Ia mengambil tas itu, memeluknya dengan perasaan menang. "Titipan Jeng Sari? Hmph, ini punyaku. Dan sebentar lagi, aku bakal punya lebih banyak lagi."
Dinda segera bersiap-siap. Ia memiliki janji temu dengan kelompok arisan "sosialita" di sebuah hotel bintang lima. Ini adalah momen pembuktiannya. Ia harus terlihat paling bersinar. Namun, saat ia sedang memoles lipstik, ponselnya bergetar hebat.
Satu pesan WhatsApp masuk dari nomor tidak dikenal. “Selamat Siang Ibu Dinda Rahmawati. Dana 10 Juta sudah kami cairkan kemarin. Mengingat tenor Anda sangat singkat, kami sarankan untuk segera menyiapkan dana pelunasan agar tidak terkena denda keterlambatan harian. Terima kasih.”
Dinda berdecak kesal. "Baru juga sehari, sudah ditagih. Dasar aplikasi sampah," gumamnya. Namun, ia tidak merasa terancam. Di pikirannya, sepuluh juta adalah angka kecil. Ia yakin bisa meminta "uang dapur tambahan" pada Aris dengan alasan harga bahan pokok naik atau ada perbaikan rumah yang mendadak.
Ia berangkat ke hotel dengan penuh percaya diri. Di sana, semua mata tertuju pada tas merah marunnya. Jeng Sari, yang tahu kebenarannya tapi memilih untuk ikut dalam permainan sandiwara demi mendapatkan keuntungan sosial, terus memuji Dinda di depan teman-teman yang lain.
"Duh, Jeng Dinda... itu tas terbaru ya? Harganya kan naik lagi bulan ini. Mas Aris bener-bener manjain kamu ya," puji salah satu teman arisan, seorang istri pengusaha tekstil.
Dinda tersenyum sombong. "Yah, namanya juga suami, Jeng. Katanya ini hadiah kecil karena aku sudah sabar nemenin dia lembur terus. Harganya? Nggak seberapa kok, cuma dua puluh delapan juta. Murah kalau dibandingin kebahagiaan istri, kata Mas Aris."
Kebohongan itu meluncur begitu saja dari bibir Dinda sehalus sutra. Ia merasa mabuk oleh pujian. Ia merasa seolah-olah ia benar-benar kaya, benar-benar dicintai dengan kemewahan, padahal di balik itu semua, ada hutang yang bunganya terus berjalan setiap jam.
Sore itu, sepulang dari arisan, Dinda mampir ke butik lain. Ia melihat sepasang sepatu high heels yang serasi dengan tas barunya. Harganya lima juta rupiah. Uang di rekeningnya—hasil pinjol kemarin—masih tersisa. Tanpa pikir panjang, ia membelinya.
"Nanti kalau Abang tanya, aku bilang aja ini sepatu lama yang baru aku temuin di gudang," pikirnya enteng.
Malam harinya, Aris pulang dengan wajah yang sangat kuyu. Rapat operasional tadi sangat menguras energinya. Ada beberapa masalah distribusi di luar kota yang membuatnya harus berpikir keras untuk menekan biaya tanpa mengurangi kualitas.
Saat Aris masuk ke kamar, ia melihat sepasang sepatu baru di rak sepatu dalam kamar. Sepatu itu masih sangat mengkilap, belum ada goresan sedikit pun di solnya.
"Dek, sepatu baru lagi?" tanya Aris sambil melepas kaus kakinya.
Dinda yang sedang maskeran sambil menonton drama di tabletnya menjawab tanpa menoleh. "Bukan, Bang. Itu sepatu lama. Abang aja yang jarang perhatiin barang-barang aku. Aku baru bersihin pakai cairan pembersih, makanya kelihatan baru."
Aris mendekat, mengambil sepatu itu. Ia adalah pria yang teliti—sifat yang membawanya menjadi Manager. Ia melihat label harga yang masih tertempel tipis di bagian dalam, meski sudah coba dikelupas oleh Dinda. Di sana tertulis angka 5.200.000.
"Lama?" Aris menunjukkan sepatu itu pada Dinda. "Label harganya masih ada, Dinda. Dan ini model terbaru musim ini. Abang tahu karena Abang sering lihat katalog barang impor untuk riset logistik kantor. Berapa harga aslinya?"
Dinda tersentak. Ia merenggut sepatu itu dari tangan Aris. "Abang ini kenapa sih? Pulang-pulang kerja bukannya nanya aku sudah makan atau belum, malah sidak sepatu! Ini harganya cuma lima ratus ribu di pasar pagi! Itu labelnya salah tempel mungkin!"
"Lima ratus ribu? Jangan bohong, Dek. Di sini tertulis lima juta dua ratus. Darimana kamu dapat uangnya? Jatah bulanan yang Abang kasih kan sudah habis buat bayar listrik, air, dan belanja bulanan di supermarket minggu lalu."
"Itu uang tabungan aku sendiri! Uang dari hasil aku irit-irit uang jajan!" teriak Dinda. "Kenapa sih, setiap aku punya barang bagus, Abang selalu curiga? Apa Abang nggak suka lihat aku cantik? Apa Abang mau aku kelihatan gembel biar Abang bisa simpan uangnya buat Maya sama Rian?"
Mendengar nama adik-adiknya dibawa-bawa, amarah Aris mulai mendidih. "Jangan bawa-bawa adikku! Mereka nggak ada hubungannya sama kegilaan belanja kamu! Abang tanya baik-baik karena Abang nggak mau kita punya hutang. Kamu tahu kan, gaji Abang itu sudah dijatah?"
"Alah, Manager kok perhitungan! Malu aku kalau orang tahu Manager operasional PT Distrindo itu pelitnya minta ampun sama istri sendiri! Kalau memang banyak duit mu bang, harusnya aku kau bahagiakan! Belikan apa yang aku mau, bukan malah diinterogasi kayak narapidana!"
Dinda melemparkan sepatu itu ke lantai dan masuk ke kamar mandi, membanting pintu dengan keras.
Aris terduduk di tepi ranjang. Ia menatap sepatu mahal itu dengan pandangan kosong. Kebohongan kecil Dinda mulai menumpuk. Dari harga tas yang dikatakan titipan, hingga harga sepatu yang dimanipulasi. Aris merasa dikhianati, bukan oleh kehadiran orang ketiga, melainkan oleh kehadiran benda-benda mati yang seolah lebih dicintai Dinda daripada kejujuran dalam rumah tangga mereka.
Ia membuka laci nakas, mengambil buku tabungan mereka. Saldo di sana tidak bergerak banyak, tapi Aris tahu ada yang tidak beres. Ia mulai curiga Dinda memiliki "sumber dana" lain yang tidak diketahuinya.
Malam itu, mereka tidur saling memunggungi. Di sisi ranjang Dinda, wanita itu sedang sibuk mematikan notifikasi pesan dari aplikasi pinjol yang mulai masuk secara beruntun. Ia mulai merasa sedikit sesak, tapi egonya tetap berkata: "Besok, aku akan cari cara lain untuk menutupinya. Aris tidak boleh tahu. Aku tidak boleh kalah dari Sarah."
Dinda tidak sadar, bahwa setiap kebohongan yang ia ucapkan adalah satu benang yang menjerat lehernya sendiri. Dan Aris, pria yang masih sangat mencintainya itu, mulai merasakan oksigen dalam pernikahan mereka kian menipis.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar