Suara detak jam dinding di kamar utama terasa berdentum seirama dengan pacu jantung Dinda. Cahaya ring light yang biasanya terasa hangat membelai wajahnya, kini terasa membakar. Ia duduk mematung di depan meja rias yang penuh sesak oleh botol-botol skincare impor dan kotak-kotak kosmetik kelas atas—barang-barang yang sebagian besar ia beli menggunakan sisa limit kartu kreditnya minggu lalu, demi konten "Morning Routine" yang estetik.

Ponselnya, yang diletakkan di atas tumpukan baju bermerek yang belum sempat masuk lemari, tidak berhenti bergetar. Notifikasi pesan masuk bertubi-tubi, memecah kesunyian kamar.

“Peringatan Terakhir! Ibu Dinda Rahmawati, dana sebesar 10 Juta Rupiah dari aplikasi 'Cair Kilat' sudah JATUH TEMPO hari ini. Segera lakukan pelunasan penuh sebelum pukul 12.00 WIB untuk menghindari denda keterlambatan harian dan pelaporan ke BI Checking.”

Satu pesan lagi masuk dari nomor berbeda, nadanya lebih mengancam.

“Kami tahu alamat kantor suami Anda, Bapak Aris. Jika tidak ada itikad baik untuk membayar dalam satu jam, tim lapangan kami akan melakukan penagihan langsung ke kantor PT Distrindo. Jangan permalukan keluarga Anda!”

Dinda mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku jarinya memutih. Nafasnya memburu, memburu, memburu. Sepuluh juta rupiah. Angka yang biasanya ia anggap "kecil" saat menggesek kartu kredit untuk tas impian, kini terasa setinggi gunung yang siap runtuh menimpanya. Di rekening pribadinya hanya tersisa seratus ribu rupiah. Jatah bulanan dari Aris? Sudah lunas terpakai untuk menutupi cicilan kartu kredit bulan lalu yang membeludak dan membayar uang arisan sosialita demi menjaga gengsi.

“Gimana ini? Kalau mereka benar-benar telepon kantor Abang, tamat riwayatku,” gumam Dinda, suaranya bergetar hebat.

Pikirannya buntu. Ia tidak berani meminta pada Aris. Pertengkaran hebat soal sepatu seharga lima juta dua ratus ribu dua hari lalu masih menyisakan kecanggungan yang pekat di antara mereka. Aris menjadi lebih diam, dingin, dan tatapannya penuh selidik. Dinda tahu, jika ia mengaku sekarang, Aris tidak hanya akan marah, tapi mungkin akan benar-benar meninggikannya.

Dinda membuka kembali toko aplikasi di ponselnya. Jari-jarinya mengetikkan kata kunci dengan putus asa, gerakannya kacau: Pinjaman Online Langsung Cair, Pinjol Tanpa KTP, Cepat Cair Cukup KTP.

Ratusan aplikasi muncul dengan nama-nama yang menggiurkan. 'Uang Kaget', 'Dompet Kilat', 'Dana Melimpah', 'Kredit Express'. Semuanya menawarkan kemudahan luar biasa, proses lima menit, bunga "rendah". Dinda tidak lagi peduli pada bunga yang tertulis kecil di bagian paling bawah syarat dan ketentuan. Ia tidak peduli pada ulasan pengguna yang mengeluhkan cara penagihan yang tidak manusiawi. Yang ia butuhkan hanyalah uang sepuluh juta rupiah, sekarang juga, untuk menutup mulut penagih dari 'Cair Kilat'.

Ia mengunduh aplikasi 'Dompet Kilat'. Dengan tangan gemetar, ia mengulang proses yang sama seperti minggu lalu. Swafoto memegang KTP, mengisi data diri yang kali ini ia buat sedikit lebih dramatis—menaikkan sedikit nominal gaji Aris di kolom data penanggung jawab, demi mendapatkan limit lebih besar.

Saat diminta mengisi kontak darurat, Dinda terdiam. Ia tidak bisa memakai nomor kantor Aris lagi. Itu terlalu berisiko. Ia juga tidak bisa memakai nomor Maya. Maya terlalu pintar dan sinis, pasti akan langsung menaruh curiga jika ada nomor asing menelepon.

Matanya tertuju pada sebuah kotak kecil di sudut laci meja riasnya. Di sana ada kartu SIM lama yang sudah tidak ia pakai, tapi ia tahu kartunya masih aktif karena pernah ia gunakan untuk mendaftar akun belanja online palsu. Ia memasukkannya ke ponsel cadangan yang layarnya sudah retak. “Ini akan jadi kontak daruratku,” pikirnya konyol, merasa cerdas karena bisa menipu sistem. Padahal, ia tidak tahu bahwa aplikasi-aplikasi ini sudah memiliki teknologi canggih untuk menyedot seluruh data kontak di buku teleponnya begitu ia memberikan izin akses.

Proses pengajuan selesai. Menit-menit penantian terasa bagai siksaan api neraka. Pukul sebelas empat puluh lima. Ponsel Dinda kembali bergetar dari nomor penagih 'Cair Kilat'.

“Waktu Anda hampir habis, Ibu Dinda. Tim lapangan kami sudah bersiap menuju kantor PT Distrindo. Pikirkan karir suami Anda.”

Dinda berteriak kecil, menutup wajahnya dengan tangan, air mata frustrasi mulai menetes. Ia hampir saja menyerah dan menelepon Aris, ketika sebuah notifikasi lain muncul dari aplikasi 'Dompet Kilat'.

“Selamat! Pinjaman Anda sebesar 15 Juta Rupiah telah disetujui dan telah dikirim ke rekening Anda. Harap lakukan pembayaran tepat waktu untuk menghindari denda harian 1.5%.”

Dinda langsung terduduk lemas di lantai karpet bulu kamarnya, air mata lega menetes, bercampur dengan sisa maskara yang luntur. Lima belas juta. Lebih dari cukup. Ia segera membuka aplikasi m-banking-nya, mengabaikan denda satu setengah persen per hari yang mengerikan itu, dan mentransfer sepuluh juta rupiah ke nomor virtual account aplikasi 'Cair Kilat'.

"Selesai. Satu lubang tertutup," gumam Dinda, menyeka air matanya dengan kasar, mencoba menenangkan diri.

Sisa lima juta rupiah. Dinda menatap saldo itu di layar ponselnya. Binar mata yang sempat redup kini kembali hidup. Rasa takutnya menguap dalam sekejap, digantikan oleh rasa berdaya yang semu. Lima juta. Ia merasa seolah-olah baru saja mendapatkan uang kaget yang membebaskannya dari segala masalah.


Malam harinya, Aris pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya yang tampan terlihat sangat kuyu, guratan lelah tercetak jelas di bawah matanya. Proyek operasional di luar kota sedang bermasalah besar, dan ia harus berpikir keras untuk menekan biaya distribusi tanpa mengurangi kualitas layanan perusahaan. Tekanan sebagai Manager operasional di usia muda benar-benar menguras energinya.

Saat Aris masuk ke kamar, ia melihat Dinda sedang asyik maskeran sambil menonton drama Korea di tabletnya, tampak santai seolah tidak ada beban.

Aris mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas panjang, mencoba menurunkan egonya. Sebagai suami yang masih sangat mencintai istrinya, ia ingin memperbaiki keadaan yang canggung sejak pertengkaran soal sepatu.

"Dek," panggil Aris lembut.

Dinda meletakkan tabletnya. Wajahnya yang tertutup masker lumpur berwarna abu-abu tampak datar. Ia tidak menoleh sedikit pun ke arah Aris. "Hm? Apa, Bang?"

"Abang tadi bicara serius sama bagian keuangan kantor soal tabungan kita," ujar Aris hati-hati. "Abang pikir, kita ini sudah punya rumah yang bagus, sudah punya mobil. Bukankah lebih baik sisa gaji Abang yang tidak seberapa itu kita simpan benar-benar untuk cadangan masa depan? Kita belum tahu tahun depan ekonomi seperti apa, dan cicilan rumah ini masih panjang, Dek."

Dinda menghela napas keras, membuat masker di wajahnya sedikit retak. "Bang, Abang itu selalu bicara soal 'nanti', 'cadangan', 'masa depan'. Kapan Abang bicara soal 'sekarang'?"

"Sekarang?" Aris bingung.

"Iya, sekarang! Sekarang ini jabatan Abang sudah Manager. Level Abang sudah tinggi di PT Distrindo. Teman-temanku di grup WhatsApp sudah mulai tanya, kapan kita open house atau minimal makan-makan cantik di hotel. Mereka tahu Abang naik jabatan."

"Makan-makan cantik di hotel itu bisa habis lima sampai tujuh juta sekali datang, Dinda. Itu gaji satu orang staf operasional Abang sebulan," Aris mencoba memberi rasionalisasi.

"Ya itu kan gaji staf, bukan gaji Manager! Suami Jeng Sari aja yang cuma kepala cabang bisa beli ini-itu," sergah Dinda cepat. Ia memutar kursi riasnya, menatap Aris langsung. "Abang itu harusnya bangga punya istri yang mau menjaga citra suami. Kalau aku tampil kusam, pakai baju tahun lalu, yang malu itu siapa? Abang juga, kan? Orang bakal mikir, 'Oh, Manager operasional tapi istrinya kayak nggak terurus'."

Aris memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Dinda, Abang lebih memilih orang mengasihani kita karena hidup sederhana daripada orang mengasihani kita karena bank menyita rumah ini gara-gara cicilan yang menumpuk. Abang mau kita punya aset yang nyata, bukan aset penampilan semata."

"Alah, Manager kok perhitungan! Malu aku kalau orang tahu Manager operasional PT Distrindo itu pelitnya minta ampun sama istri sendiri! Kalau memang banyak duit mu bang, harusnya aku kau bahagiakan! Belikan apa yang aku mau, bukan malah diinterogasi kayak narapidana!"

Mendengar kalimat itu lagi, Aris merasa dadanya sesak. Ketidakbersyukuran Dinda terasa seperti pisau yang mengiris-iris sabarnya. "Cukup, Dinda! Abang bukan pelit. Abang hanya ingin kita realistis. Kamu tahu saldo tabungan kita nggak bergerak banyak gara-gara pengeluaran kartu kreditmu yang selalu meledak. Abang mulai curiga, Dinda. Kamu... kamu punya sumber uang lain?"

Mendengar kata "curiga", jantung Dinda berdegup kencang. Ia buru-buru berdiri, masker abu-abunya retak di sana-sini. "S-sumber uang apa? Abang jangan sembarangan tuduh ya! Aku ini istri Manager, bukan istri buruh pabrik yang harus cari sampingan haram!"

Dinda melemparkan masker wajahnya ke tempat sampah dengan kasar dan masuk ke kamar mandi, membanting pintu dengan keras.

Aris terduduk di tepi ranjang. Ia menatap sprei sutra mereka yang mahal dengan pandangan kosong. Kebohongan kecil Dinda mulai menumpuk. Dari harga tas yang dikatakan titipan Jeng Sari, hingga harga sepatu yang dimanipulasi. Aris merasa dikhianati, bukan oleh kehadiran orang ketiga, melainkan oleh kehadiran benda-benda mati yang seolah lebih dicintai Dinda daripada kejujuran dan ketenangan dalam rumah tangga mereka.

Ia membuka laci nakas, mengambil buku tabungan mereka. Saldo di sana tidak bergerak banyak, tapi Aris tahu ada yang tidak beres. Ia mulai curiga Dinda memiliki "sumber dana" lain yang tidak diketahuinya, sebuah sumber dana yang mungkin akan menghancurkan mereka semua.


Esok harinya, Dinda bangun dengan semangat baru. Sisa lima juta rupiah di rekeningnya terasa seperti piala kemenangan yang harus dirayakan. Rasa takutnya kemarin menguap, digantikan oleh rasa berdaya yang semu. Ia merasa berhak mendapatkan "hadiah" atas keberhasilannya melewati hari kemarin.

Ia menelepon Jeng Sari.

"Jeng? Iya, ini Dinda. Anu... aku mau tanya, kemarin yang di mall itu... tas yang model discreet gitu... harganya berapa ya yang diskon? Iya, yang warna merah marun kemarin."

Hasutan Jeng Sari di Bab 3 tentang "kunci uang suami di barang bermerek" kembali terngiang di kepalanya. Di pikirannya, sisa lima juta ini bisa ia jadikan uang muka untuk tas yang lebih mahal lagi dengan sistem cicilan yang ditawarkan toko. Ia yakin, Aris pasti akan melunasinya nanti, entah bagaimana caranya.

Dinda berangkat ke mall dengan penuh percaya diri, mengenakan salah satu daster satin mahalnya yang ia padukan dengan blazer branded. Ia tidak memikirkan bahwa dalam dua minggu, ia harus melunasi pinjaman lima belas juta rupiah ke 'Dompet Kilat'. Ia tidak memikirkan bunga satu setengah persen per hari yang mengerikan itu. Ia tidak memikirkan bahwa lubang yang baru saja ia gali untuk menutup lubang lama, kini justru lebih dalam, lebih gelap, dan lebih lebar.

Dinda berjalan dengan anggun di koridor mall mewah, menenteng tas lamanya—sebuah tas kulit biasa yang dulu ia beli dengan rasa bangga bersama Aris saat gaji Aris masih staf lapangan—tapi matanya tertuju pada sebuah tas di etalase toko mewah dengan logo huruf 'C' yang ikonik. Di sana, ia melihat bayangan dirinya: cantik, glamor, dan "kaya", persis seperti Sarah di Instagram.

Ia tidak sadar, bahwa di bawah kakinya, lubang yang ia gali sendiri sudah mulai retak, siap menelannya utuh, bersama dengan seluruh kebahagiaan semu yang selama ini ia agungkan