Pesta kebun di Komplek Rancamaya Indah berakhir bukan dengan kembang api, melainkan dengan kecanggungan yang bisa dipotong dengan pisau roti. Sisa-sisa daging panggang masih ada di piring, tapi selera makan semua orang sudah menguap sejak pengakuan blak-blakan Ardiwinata dan pernyataan perang Vernon.

Pagi harinya, komplek itu terasa seperti kota mati. Hani terbangun dengan kepala berdenyut. Dia baru saja bermimpi dikejar-kejar oleh raksasa berbentuk donat yang wajahnya mirip Miguel, tapi diselamatkan oleh ksatria berkuda yang memakai kemeja Ardiwinata.

"Duh, otak gue beneran korslet," gumam Hani sambil mengikat rambutnya asal-asalan.

Dia turun ke dapur, niatnya ingin membuat bubur instan. Namun, pemandangan di teras rumah depanβ€”rumah Aleyaβ€”membuatnya urung. Haikal sedang panik, lari bolak-balik dari rumahnya ke rumah Aleya sambil membawa baskom air dan handuk kecil.

Hani segera lari keluar. "Kal! Ada apa? Kebakaran lagi?"

"Bukan, Han! Ayang Aleya... dia pingsan! Badannya panas banget kayak knalpot truk gue habis narik ke Surabaya!" Haikal berteriak dengan wajah yang benar-benar pucat.

Hani langsung masuk ke rumah Aleya. Di kamar yang serba rapi dan penuh buku itu, Aleya terbaring lemah. Wajahnya yang biasanya putih pucat kini kemerahan karena demam. Bahkan dalam kondisi sakit pun, dahinya masih berkerut, seolah otaknya masih sibuk menghitung algoritma meski matanya terpejam.

"Ini pasti gara-gara dia begadang nyiapin rundown pesta kemarin. Si paling perfeksionis emang," desah Hani sambil menyentuh kening Aleya. "Panas banget, Kal. Lo udah kasih obat?"

"Udah gue kasih parasetamol, tapi dia malah ngigo soal 'efisiensi logistik'. Gue takut dia makin parah, Han," ucap Haikal pelan. Sisi "hebring"-nya hilang total, digantikan oleh tatapan tulus yang sangat jarang diperlihatkan.

"Ya udah, lo jagain di sini. Gue bikinin bubur beneran, jangan dikasih bubur instan, nggak sehat buat dia," perintah Hani.

Saat Hani kembali ke rumahnya untuk mengambil beras, sebuah mobil mewah yang sudah sangat dia kenal berhenti di depan pagarnya. Ardiwinata turun, kali ini tidak memakai jas, hanya kaos polo santai namun tetap terlihat sangat mahal.

"Pagi, Hani. Saya mampir mau mengembalikan wadah makanan semalam," ucap Ardi dengan suara bariton yang menenangkan.

Hani mendadak gagap. "Eh, Pak Ardi... anu, taruh aja di teras Pak. Saya lagi repot, Aleya sakit."

Ardi melihat raut cemas di wajah Hani. Dia tidak pergi, justru masuk ke halaman rumah Hani. "Sakit apa? Perlu saya panggilkan dokter pribadi saya?"

"Cuma demam sih Pak, kecapekan kayaknya."

Belum sempat Ardi menjawab, sebuah motor sport berhenti di belakang mobil Ardi. Miguel turun dengan wajah masam, tangannya membawa sekotak buah-buahan.

"Han, aku dengar Aleya sakit. Ini ada buah..." Miguel terhenti saat melihat Ardi ada di sana. "Lho, Pak Ardi? Bapak sepagi ini sudah di sini?"

Ardi tersenyum tipis, tipe senyum yang membuat Miguel merasa seperti karyawan magang yang ketahuan telat. "Saya hanya mengurus urusan yang perlu saya urus, Miguel. Kamu sendiri? Bukannya hari ini ada laporan yang harus diselesaikan?"

"Itu... bisa nanti Pak. Saya khawatir sama Hani, maksud saya, Aleya," Miguel meralat ucapannya dengan canggung.

Hani yang berdiri di antara dua pria itu merasa seperti sedang berada di tengah-tengah kutub utara dan gurun sahara. Dingin dan panas sekaligus.

"Aduh, udah-udah! Ini kenapa jadi pada kumpul di sini sih? Miguel, lo kasih aja buahnya ke Haikal di dalam. Pak Ardi, makasih ya wadahnya, tapi saya beneran nggak bisa nemuin sekarang," usir Hani halus.


Di dalam kamar Aleya, suasana tak kalah drama. Vernon muncul dengan membawa termometer digital yang paling canggih hasil belinya di mal tadi subuh.

"Minggir, Kal. Lo cuma bakal bikin dia makin gerah dengan kepanikan lo," Vernon menggeser Haikal.

"Heh, Bule! Gue yang dari tadi di sini! Lo mending urusin tuh Bang Dika yang lagi ngerayu Lala di depan!" balas Haikal tak terima.

Aleya membuka matanya sedikit. Dia melihat kedua sahabatnya itu berdebat. Dengan suara serak, dia bergumam, "Secara statistik... perdebatan kalian hanya meningkatkan suhu ruangan sebanyak 0,5 derajat Celsius. Diam atau keluar."

Haikal dan Vernon langsung bungkam.

"Al, makan ya? Hani lagi bikin bubur," ucap Haikal lembut.

Aleya menatap Haikal. "Haikal... kenapa kamu masih di sini? Kamu kan ada jadwal narik barang hari ini."

"Gue batalin semua, Al. Truk bisa nunggu, tapi lo nggak bisa," jawab Haikal mantap.

Aleya terdiam. Dia memalingkan wajahnya yang merona, entah karena demam atau karena ucapan Haikal. Vernon yang melihat itu hanya bisa mendengus, lalu keluar kamar karena merasa dirinya jadi orang ketiga.


Di teras depan, Soela sedang duduk bersama Dika. Dika sedang bercerita tentang kehidupannya di Belanda, tentang betapa dia merindukan masakan Soela.

"La, aku tahu aku salah dulu. Tapi aku pulang bukan tanpa rencana. Aku mau buka cabang perusahaan arsitekturku di sini, dan aku mau kamu yang desain interiornya," ucap Dika sambil mencoba meraih tangan Soela.

Soela menarik tangannya perlahan. "Dika, itu tawaran profesional yang bagus. Tapi kalau tujuannya untuk 'membeli' masa lalu, aku rasa aku nggak bisa."

Vernon yang baru keluar dari rumah Aleya langsung berdiri di antara mereka lagi. "Bang, keran airnya beneran copot sekarang. Gue nggak bohong. Air udah banjir di dapur Mama!"

Dika berdiri dengan kesal. "Vernon! Gue tau ini trik lo lagi!"

"Cek aja sendiri. Gue nggak pernah bercanda soal kerusakan fasilitas rumah," jawab Vernon datar.

Begitu Dika lari masuk ke rumah, Vernon menatap Soela. "La, lo jangan mau diajak kerja bareng. Itu cuma jebakan biar dia bisa berduaan sama lo terus."

"Vernon, kenapa sih kamu sinis banget sama kakak kamu sendiri?" tanya Soela bingung.

"Karena gue tau dia, La. Dia itu kayak ombak. Datang besar, bikin berantakan, terus pergi lagi ke tengah laut. Gue nggak mau liat lo hanyut lagi," ucap Vernon dengan nada yang sangat dalam.

Soela tertegun. Dia melihat Vernon bukan lagi sebagai adik kecil yang sering dia beri permen cokelat, tapi sebagai pria yang punya luka di matanya.


Kembali ke dapur Hani. Bubur sudah matang. Namun, Hani justru terjebak dalam pembicaraan serius dengan Ardiwinata di meja makan, sementara Miguel pura-pura sibuk mencuci buah di wastafel sambil memasang telinga lebar-lebar.

"Hani, saya serius soal tawaran kemarin. Bukan cuma soal roti. Saya ingin membantu kamu mengembangkan usahamu. Kamu punya bakat, tapi kamu butuh manajemen yang benar," Ardi memulai strateginya.

"Tapi Pak, saya jualan cuma kalau mood aja. Kalau dipaksa jadi besar, nanti rasanya jadi rasa tertekan, bukan rasa cinta," jawab Hani jujur.

Ardi terkekeh. "Itulah kenapa saya suka kamu. Kamu jujur. Tapi, bagaimana kalau saya bilang, saya tidak hanya tertarik pada rotinya, tapi pada... pembuatnya?"

PRANG!

Miguel menjatuhkan pisau buah ke wastafel. "Aduh, maaf Pak, licin."

Hani melotot ke arah Miguel, lalu kembali ke Ardi. "Pak Ardi, Bapak nggak lagi bercanda kan? Saya ini... berantakan Pak. Bapak liat kan daster saya saja ada gambar ayam jagonya."

Ardi berdiri, melangkah mendekat ke arah Hani. Dia mengabaikan keberadaan Miguel yang sudah seperti patung bernapas. "Hani, di dunia saya, semua orang memakai topeng. Tapi kamu... kamu adalah satu-satunya orang yang berani menunjukkan daster ayam jago itu dengan bangga di depan saya. Itu jauh lebih berharga daripada gaun desainer mana pun."

Ardi lalu menoleh ke Miguel. "Miguel, sepertinya kamu sudah selesai dengan buahnya. Mari kembali ke kantor. Ada banyak hal yang harus kita bahas... termasuk performa kerjamu yang menurun sejak sering melamun di meja."

Miguel hanya bisa pasrah. Dia memberikan kotak buah itu ke Hani dengan tatapan memelas. "Han, aku balik dulu ya. Nanti malam aku telepon."

"Nggak usah, Miel. Kasihan Noe kalau lo teleponan sama gue terus. Mending lo urusin TTM lo yang nggak kelar-kelar itu," balas Hani telak, membuat Ardiwinata tersenyum puas.


Malam harinya, suhu tubuh Aleya mulai turun. Dia duduk bersandarkan bantal, sementara Haikal masih setia duduk di kursi kayu di samping tempat tidurnya, tertidur sambil memegang kompresan yang sudah mengering.

Aleya menatap wajah Haikal yang sedang mendengkur halus. Dia mengambil ponselnya, mengetik sesuatu di aplikasi catatan pribadinya:

Data terbaru: Keandalan Haikal saat situasi kritis mencapai 98%. Efek dopamin meningkat saat dia berada di dekatku. Kesimpulan: Logika mungkin tidak bisa menjelaskan kenapa aku merasa nyaman, tapi secara empiris, dia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkanku sendirian saat aku lemah.

Aleya tersenyum tipisβ€”senyum yang sangat langka. Dia menarik selimutnya, menutupi bahu Haikal yang kedinginan, lalu kembali memejamkan mata dengan perasaan yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.

Di luar, lampu-lampu Komplek Rancamaya Indah berpijar redup, menyimpan seribu satu drama yang akan berlanjut esok hari.