Pagi itu, Komplek Rancamaya Indah tidak hanya mencium aroma roti Hani, tapi juga aroma persaingan yang kental. Haikal sudah sibuk menarik kabel listrik dari rumahnya ke tengah lapangan komplek, sementara Vernon berdiri di balkon rumahnya, memandangi rumah Soela dengan tatapan detektif yang sedang mengintai gembong narkoba.

Hani sendiri sedang duduk di teras rumahnya, menatap nanar ponselnya. Pesan dari Ardiwinata masih terpampang jelas: "Roti cokelatnya luar biasa. Tapi saya rasa pesta kebun yang dibicarakan Miguel tadi butuh asupan protein yang lebih serius. Biar saya yang urus katering dan tendanya."

"Heh, Hani! Lo lagi kesurupan apa gimana? Mata lo nggak kedip liatin HP!" teriak Haikal dari atas tangga lipat.

Hani tersentak. "Kal! Turun lo! Ini gawat. Pak Ardi... si bosnya Miguel itu, masa dia mau sponsorin pesta kita? Pakai katering segala!"

Haikal merosot turun dari tangga dengan lincah. "Lho, bagus dong! Rezeki anak sholeh nggak boleh ditolak. Berarti kita nggak usah patungan pakai uang kas yang tinggal lima puluh ribu itu."

"Masalahnya bukan di uangnya, bego!" Hani melempar sandal jepitnya ke arah Haikal (dan meleset). "Kalau dia datang, terus ketemu Miguel, terus ada Noe, terus ada Dika... ini pesta kebun atau ring tinju? Aleya mana? Gue butuh otak dia!"

Seolah dipanggil oleh semesta, Aleya muncul dari balik pagar sambil membawa papan klip. Wajahnya jutek seperti biasa, rambut kuncir kudanya sangat rapi, dan dia memakai kacamata anti-radiasi.

"Haikal, kabel itu tegangannya terlalu tinggi untuk stopkontak rumahmu. Kamu mau membakar satu RT?" Aleya bicara tanpa basa-basi.

"Eh, Ayang Aleya... ini demi lampu disko kita nanti malam minggu, Al," cengir Haikal.

Aleya mengabaikan Haikal dan menoleh ke Hani. "Terima saja tawaran Pak Ardi, Han. Secara finansial, kita untung. Secara strategis, ini adalah cara terbaik untuk melihat bagaimana Miguel bereaksi saat melihat bosnya mendekati wanita yang selama ini hanya dia anggap 'tetangga berisik'."

Hani menelan ludah. "Tapi Al, Noe juga bakal datang. Dia pasti bakal nempel terus ke Miguel."

"Bagus," jawab Aleya datar. "Biarkan Noe menunjukkan sifat posesifnya. Semakin dia menempel, semakin Miguel merasa tercekik. Dan di saat itu, Pak Ardi akan tampil sebagai pria dewasa yang memberikan kebebasan dan rasa aman. Itu namanya taktik Counter-Balance."


Sementara itu, di rumah sebelah, Soela sedang sibuk menata beberapa contoh kain untuk butiknya di teras. Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi cahayanya.

"Warna peach itu cocok untuk kulitmu, La. Tapi kalau untuk pesta malam hari, mungkin navy lebih elegan."

Soela mendongak. Dika berdiri di sana, memakai kaos polo santai yang memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk rapi hasil gym di Belanda.

"Dika... kamu nggak ada kerjaan lain selain ganggu aku?" tanya Soela lembut, tapi ada nada ketegasan yang dia paksakan.

"Kerjaanku sudah selesai. Sekarang fokusku cuma satu: memperbaiki apa yang dulu sempat rusak," jawab Dika pelan, suaranya rendah dan menggoda.

Tiba-tiba, suara deru motor sport Vernon memecah suasana. Vernon sengaja memarkir motornya tepat di depan pagar rumah Soela, membuat Dika harus bergeser.

"Bang, keran air di dapur beneran copot. Mama teriak-teriak. Buruan balik!" Vernon berbohong tanpa berkedip. Wajah datarnya benar-benar meyakinkan.

Dika menyipitkan mata. "Ver, gue tau lo bohong. Gue tadi baru dari dapur."

"Oh, berarti sekarang kamar mandi atas yang bocor. Gue nggak terima argumen. Balik sekarang, atau motor lo gue pretelin," balas Vernon nyolot.

Soela hanya bisa menghela napas. "Kalian berdua bisa nggak sih sehari aja nggak kayak Tom and Jerry?"

Vernon menoleh ke Soela. "La, gue mau kita belanja buat pesta besok. Lo temenin gue. Gue butuh selera lo buat milih daging steak. Kalau nunggu Haikal, yang dibeli pasti daging sisa pasar."

Dika tak mau kalah. "Aku ikut. Aku yang bayar."

"Nggak perlu! Pak Ardi sudah sponsorin semuanya!" teriak Hani dari seberang jalan, sengaja ingin memanasi suasana.


Hari Sabtu yang dinanti pun tiba. Komplek Rancamaya Indah berubah menjadi area festival kecil-kecilan. Tenda putih bersih berdiri tegak di lapangan tengah, lampu-lampu tumblr bergantungan dengan rapi (berkat pengawasan Aleya), dan aroma daging panggang mulai tercium.

Haikal menjadi bintang utama dalam urusan logistik. Dia mengemudikan mobil bak terbukanya yang sudah dihias jadi panggung mini. "TES, TES! SATU, DUA, TIGA! PERHATIAN WARGA RANCAMAYA, PESTA DIMULAI!"

Hani tampil beda malam itu. Dia tidak memakai daster, melainkan dress selutut berwarna kuning cerah yang membuat kulitnya terlihat segar. Tentu saja, tetap ada noda cokelat sedikit di tangannya karena dia baru saja menyelesaikan lava cake spesial.

Sekitar pukul tujuh malam, sebuah mobil sedan mewah hitam masuk ke area komplek. Ardiwinata turun, terlihat sangat berkelas dengan kemeja biru muda yang dikancingkan rapi. Di belakangnya, Miguel mengekor dengan wajah yang tampak... gelisah. Dan tentu saja, Noe ada di samping Miguel, memegang lengan pria itu seolah takut hilang.

"Selamat malam, Nona Hani," sapa Ardi dengan senyum yang membuat ibu-ibu komplek yang sedang asyik makan kerupuk langsung berhenti mengunyah.

"Malam, Pak Ardi. Makasih ya kateringnya. Bapak beneran niat banget, saya jadi nggak enak... nggak enak kalau nggak nambah maksudnya," canda Hani, mencoba menutupi kegugupannya.

Ardi tertawa kecil. "Sama-sama. Oh, hai Miguel, Noe. Kalian sudah ambil makan?"

"Belum, Pak," jawab Miguel kaku. Matanya terus melirik ke arah Hani. Dia belum pernah melihat Hani berdandan secantik ini. Biasanya Hani hanya memakai daster atau kaos oblong dengan rambut berantakan.

"Han, kamu... bagus malam ini," puji Miguel pendek.

Noe langsung mempererat genggamannya. "Iya, Hani lucu ya, Gayanya youthful banget. Cocok sama umurnya yang masih... ya, segitu."

Hani ingin membalas, tapi Ardi lebih cepat. "Hani bukan cuma lucu, Noe. Dia punya karakter yang kuat. Jarang saya ketemu perempuan yang berani bicara apa adanya tanpa filter di depan saya."

Skakmat pertama. Noe terdiam dengan wajah masam.

Di sudut lain, Vernon sedang membakar daging dengan wajah yang sangat serius, seolah-olah dia sedang menjinakkan bom. Aleya berdiri di sampingnya, bertugas memberikan bumbu.

"Ver, jangan terlalu lama dibalik. Teksturnya jadi liat. Secara kimiawi, proteinnya akan rusak," ucap Aleya.

"Gue tau, Al. Gue lagi kesel aja liat Bang Dika terus-terusan nempel ke Soela di meja depan," balas Vernon sambil melirik tajam ke arah Soela dan Dika yang sedang asyik mengobrol.

"Cemburu itu tidak logis, Vernon. Secara statistik, kemungkinan Soela kembali ke Dika adalah 65% karena faktor kenangan masa lalu dan hormon dopamin yang kembali aktif. Tapi, kemungkinan Dika melakukan kesalahan yang sama juga 40%," Aleya menjelaskan dengan nada seperti membacakan berita cuaca.

Vernon menoleh ke Aleya. "Terus solusi lo apa?"

Aleya menatap mata Vernon sejenak. "Solusinya? Berhenti jadi pengamat dan mulai jadi pemain. Tapi kalau kamu gagal, ingat... masih ada orang yang menganggap kamu lebih dari sekadar pawang Soela."

Vernon tertegun. Kalimat Aleya barusan terdengar sangat personal. Tapi sebelum dia bisa merespons, Haikal datang dengan membawa mikrofon.

"WEY! SEBELUM MAKAN BESAR, GUE MAU KITA MAIN GAMES! JUDULNYA: JUJUR ATAU JONTOR!" teriak Haikal hebring.

Semua orang berkumpul, membentuk lingkaran di bawah lampu taman. Hani, Ardi, Miguel, Noe, Soela, Dika, Vernon, dan Aleya duduk melingkar. Sebuah botol diletakkan di tengah.

"Aturannya simpel," Haikal menjelaskan. "Botol diputar, siapa yang ditunjuk harus pilih: Jujur jawab pertanyaan, atau minum ramuan 'Jontor' buatan Hani yang isinya ekstrak cabai rawit murni!"

Botol diputar. Putaran pertama berhenti tepat di depan... Miguel.

Hani menahan napas. Haikal menyeringai nakal. "Oke, Miguel! Pertanyaan dari gue: Di antara semua cewek yang ada di sini, siapa yang paling pengen lo ajak ke pelaminan sekarang juga?"

Suasana mendadak hening. Noe menatap Miguel penuh harap. Hani menunduk, meremas ujung dress-nya. Ardiwinata tetap tenang, menyesap kopinya dengan elegan.

Miguel melirik Noe, lalu melirik Hani. Dia terdiam cukup lama. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

"Gue..." Miguel menggantung kalimatnya. "Gue pilih minum ramuan Jontor."

Hani merasa hatinya seperti adonan roti yang dibanting ke meja. Segitunya ya, Miel? Lo bahkan nggak berani jujur meski cuma buat main-main?

Botol diputar lagi. Kali ini berhenti di depan Ardiwinata.

Hani yang merasa kesal karena Miguel, langsung angkat bicara. "Biar saya yang kasih pertanyaan buat Pak Bos! Pak Ardi, di umur Bapak yang sudah 'matang' ini, kenapa Bapak malah suka pesan roti di toko kecil saya tiap pagi? Padahal Bapak bisa beli bakery bintang lima?"

Ardi menatap Hani lekat. Senyum tipisnya tidak hilang. "Jawabannya sederhana. Karena roti bintang lima hanya mengenyangkan perut saya. Tapi roti buatan kamu... membuat saya merasa punya alasan untuk tersenyum di tengah jadwal kantor yang membosankan. Dan kalau kamu tanya kenapa saya di sini? Saya ingin memastikan, kalau pembuat rotinya tidak sedang menangisi pria yang salah."

BOOM!

Seluruh komplek seolah bergetar. Ibu-ibu di belakang langsung bersorak "Cieee!" tanpa malu. Miguel langsung berdiri, wajahnya merah padam antara marah atau malu. Vernon tersenyum puas melihat Miguel tersudut.

Namun, drama belum berakhir. Botol kembali diputar dan berhenti di depan Vernon.

Dika, sang abang, langsung mengambil alih. "Ver, pertanyaan dari gue: Sejak kapan lo mulai suka sama Soela, dan kenapa lo pikir lo lebih baik dari gue buat dia?"

Vernon menatap kakaknya tanpa rasa takut. "Gue nggak perlu nunggu waktu lama buat tau siapa yang gue sayang. Dan gue lebih baik dari lo karena gue nggak pernah ninggalin dia buat alasan apa pun. Gue selalu ada di sebelah rumahnya, jagain dia saat dia nangis gara-gara lo."

Soela menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. Suasana pesta yang tadinya penuh tawa kini berubah menjadi medan pengakuan dosa.

Aleya hanya bisa mencatat di dalam kepalanya: Eksperimen pesta kebun berhasil. Kekacauan total terkonfirmasi.

Malam itu, di bawah langit Rancamaya Indah, rahasia-rahasia mulai terkelupas. Hani baru menyadari bahwa dia mungkin selama ini mengejar bayangan (Miguel), sementara ada gunung kokoh yang siap melindunginya (Ardi). Vernon dan Dika resmi menyatakan perang. Dan Aleya... dia tetap diam, menyimpan rasa sakitnya sendiri di balik wajah juteknya yang misterius.

"Pesta belum selesai, kawan-kawan!" teriak Haikal mencoba mencairkan suasana. "Siapa mau lava cake Hani? Gratis, asal jangan dimakan bareng mantan!"

Hani tertawa getir, tapi saat dia melihat Ardiwinata menatapnya intens, dia merasa... mungkin, babak baru hidupnya baru saja dimulai.