Pagi di Komplek Rancamaya Indah dimulai dengan suara klakson Haikal yang ritmenya mirip lagu "Abang Tukang Bakso". Hani terbangun dengan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi, namun otaknya langsung berputar mengingat kontrak "tiga kali lipat" dengan si duda keren, Ardiwinata.
"Hani! Bangun! Itu roti pesanan Pak Bos sudah matang belum? Jangan sampai Miguel kena semprot gara-gara lo telat!" teriak Vernon dari balik pagar rumahnya yang menempel dengan rumah Hani.
Hani menyibak gorden kamar, rambutnya mekar seperti singa habis kesetrum. "Berisik, Bule! Ini baru jam enam! Bilang sama bos lo, roti enak butuh fermentasi, bukan sulap!"
"Bos gue bukan Ardi, gue kerja freestyle! Tapi Miguel itu sobat gue, jangan lo bikin dia susah!" balas Vernon sambil memanaskan mesin motor sport-nya yang suaranya menggelegar.
Hani mendengus, tapi tetap lari ke dapur. Pagi ini dia membuat menu khusus: Smoked Beef and Cheese Brioche. Wanginya langsung menguasai udara Rancamaya Indah, mengalahkan bau parfum mahal Dika yang baru saja keluar rumah untuk lari pagi.
Satu jam kemudian, Hani sudah sampai di gedung perkantoran mewah di kawasan Sudirman. Dengan jaket jin yang kebesaran, celana kargo banyak kantong, dan kotak rotinya, dia terlihat seperti kurir nyasar di antara mbak-mbak kantoran yang bajunya licin tanpa cela.
"Permisi, mau ketemu Pak Ardiwinata. Saya Hani, tukang rotinya," ucap Hani di meja resepsionis dengan nada menantang, seolah-olah dia sedang menagih hutang.
"Sudah ada janji, Mbak?" resepsionis cantik itu bertanya sambil menahan senyum melihat noda selai stroberi di kerah jaket Hani.
"Tanya aja dia, katanya mau makan roti saya jam sembilan teng. Telat sedetik, rotinya saya kasih ke Satpam depan," jawab Hani ketus.
Belum sempat resepsionis itu menjawab, pintu lift terbuka. Keluarlah Miguel bersama seorang wanita bertubuh semampai, rambutnya bob rapi, dan memakai blazer berwarna nude yang sangat elegan.
Itu Noe. Teman Tapi Mesra-nya Miguel yang sudah lima tahun menggantung harapan Hani.
"Hani? Kamu benar-benar datang?" Miguel menghampiri dengan wajah cemas.
"Ya iyalah, demi cuan! Eh, hai Noe," sapa Hani, berusaha tetap terlihat keren meski hatinya agak perih melihat Noe sedang membetulkan dasi Miguel yang sedikit miring.
Noe tersenyum manisβtipe senyum yang menurut Hani sangat palsu. "Hai Hani. Kamu makin rajin ya jualan rotinya. Kasihan loh kalau harus jauh-jauh ke sini tiap pagi, mending Miguel yang ambilkan di komplek kalau sore."
"Nggak usah repot, Noe. Pak Ardi yang minta saya antar langsung. Katanya butuh 'sentuhan personal' biar rotinya lebih kerasa," balas Hani dengan penekanan pada kata 'personal'.
Miguel berdehem canggung. "Pak Ardi sudah menunggu di ruangannya, Han. Mari, aku antar."
Di dalam lift yang berdinding kaca, suasana sangat kaku. Noe terus-terusan membahas jadwal rapat Miguel, sengaja menunjukkan betapa dia sangat mengenal dunia kerja pria itu. Hani hanya bisa memelintir ujung plastiknya sambil menahan diri untuk tidak menjejalkan donat ke mulut Noe.
Pintu ruangan CEO terbuka. Ardiwinata sedang berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota dari jendela lantai 40. Begitu mendengar langkah kaki, dia berbalik. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung.
"Tepat waktu, Nona Hani," sapa Ardi dengan suara baritonnya yang tenang.
"Ini Pak, rotinya. Masih anget, jangan ditiup kelamaan nanti dia baper," ucap Hani sambil meletakkan kotak di meja jati Ardi.
Ardi mendekat, mengabaikan kehadiran Miguel dan Noe di belakang Hani. Dia justru fokus pada wajah Hani yang terlihat berkeringat. "Kamu naik apa ke sini?"
"Naik motor matic Pak. Macetnya Jakarta kan nggak pandang bulu," jawab Hani jujur.
Ardi mengambil selembar tisu dari mejanya, lalu tanpa diduga, dia mengusap dahi Hani dengan lembut. "Ada keringat. Dan sedikit... tepung?"
Hani membeku. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena cintaβlebih ke arah kaget karena jarak mereka sangat dekat sampai dia bisa mencium aroma kayu manis dan parfum high-end dari tubuh Ardi.
Miguel dan Noe melongo di ambang pintu.
"Pak Ardi, rapat akan dimulai sepuluh menit lagi," Noe menyela dengan nada sedikit tinggi, wajahnya tak lagi tersenyum.
"Saya tahu, Noe. Terima kasih," balas Ardi tanpa menoleh. "Hani, besok bawakan yang rasa cokelat pahit. Saya kurang suka yang terlalu manis, kecuali orang yang membawanya."
Hani hampir tersedak ludahnya sendiri. Ini bapak-bapak beneran duda keren atau baru belajar gombal dari internet? pikirnya.
"E-eh, iya Pak. Besok saya bawain arang sekalian kalau Bapak mau yang pahit. Saya permisi!" Hani langsung ngacir keluar ruangan, melewati Miguel yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Kembali ke Komplek Rancamaya Indah, drama lain sedang terjadi.
Soela sedang berusaha membuka pintu butiknya yang macet saat Dika tiba-tiba muncul di belakangnya. "Mau dibantu, La?"
Soela terlonjak. "Dika! Kamu... bikin kaget saja."
"Kamu masih pakai gantungan kunci menara Eiffel itu? Itu kan pemberianku pas kita perpisahan di bandara dulu," Dika tersenyum tipis, matanya menatap lekat ke arah Soela.
Tangan Soela bergetar. Dia ingin marah, tapi pesona Dika memang sulit dilawan. Tepat sebelum suasana menjadi terlalu romantis, sebuah motor sport berhenti di depan mereka dengan suara menderu kencang.
Vernon turun, masih memakai helmnya. Dia langsung berdiri di antara Dika dan Soela. "Bang Dika, Mama nyariin. Katanya suruh bantuin benerin keran air yang bocor. Buruan."
"Keran air bisa nanti, Ver. Gue lagi..."
"Sekarang, Bang. Atau gue bocorin ban mobil lo," Vernon berkata dengan nada datar namun mengancam. Argumennya nyolot, tak terbantahkan.
Dika menghela napas, menatap Soela sejenak sebelum akhirnya mengalah. "Nanti kita lanjut ya, La."
Setelah Dika pergi, Vernon menoleh ke Soela. "La, dia itu cuma mau main-main. Jangan gampang luluh."
Soela mendesah. "Vernon, aku sudah dewasa. Aku bisa jaga diri."
"Nggak, La. Di mata gue, lo itu... terlalu baik buat disakitin dua kali sama orang yang sama," ucap Vernon, suaranya sedikit melunak sebelum dia kembali naik ke motornya dan pergi begitu saja.
Malam harinya, kelima sahabat itu berkumpul di pos ronda komplek (karena Hani sedang malas menjamu mereka di rumah). Aleya sedang sibuk dengan tabletnya, menghitung sesuatu.
"Jadi, kesimpulannya," Aleya bicara tiba-tiba, membuat Haikal yang sedang asyik makan kacang hampir tersedak.
"Apa, Ayang Aleya?" tanya Haikal.
"Hani sedang didekati pria berumur dengan gangguan penglihatan karena suka sama cewek berantakan seperti Hani," Aleya melirik Hani. "Lalu Soela sedang terjebak nostalgia masa lalu yang berisiko merusak kesehatan mentalnya. Dan Vernon..." Aleya menatap Vernon datar, "Vernon sedang membuang energinya untuk menjadi satpam perasaan orang lain."
"Terus solusi lo apa, Al?" tanya Haikal penasaran.
Aleya menyesap teh kotak-nya. "Solusinya adalah... kita harus bikin pesta kebun minggu depan. Kita undang Miguel, Noe, Dika, dan... siapa tadi nama bosmu, Han? Pak Ardi?"
"Ardiwinata," jawab Hani otomatis.
"Ya, ajak dia. Kita letakkan semua masalah di satu meja. Biarkan mereka saling bertabrakan, dan kita lihat siapa yang akan bertahan," ucap Aleya dengan nada tenang yang mengerikan.
Haikal bertepuk tangan. "Gila! Aleya memang jenius! Gue bagian logistik, gue bakal jemput mereka semua pake bus sekolah biar barengan!"
Hani menatap langit malam Rancamaya Indah. Perasaannya campur aduk. Ada Miguel yang dia puja, ada Ardi yang membuatnya bingung, dan ada sahabat-sahabatnya yang kelakuannya ajaib.
Pesta kebun ya? Ini bakal jadi bencana atau jawaban? batin Hani.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar