Pukul sepuluh pagi di Komplek Rancamaya Indah biasanya sunyi, kecuali suara tukang sayur yang adu mulut dengan ibu-ibu soal harga cabai. Namun di dapur Hani, suasananya seperti medan perang. Hani sedang berjibaku dengan adonan croissant yang gagal mengembang.

"Aduh, ini ragi apa pengangguran sih? Kagak mau kerja banget!" omel Hani sambil menusuk-nusuk adonan tak berdosa itu.

Ponselnya bergetar di atas meja tepung. Nama "Juned Cafe" muncul di layar.

"Halo, Ned? Apaan? Roti pesanan buat jam makan siang? Lho, bukannya besok?" Hani menjepit ponsel di antara telinga dan bahu, tangannya sibuk mengelap sisa mentega di daster.

"Besok matamu, Han! Hari ini ada rapat direksi dari perusahaan sebelah. Mereka mau artisan bread lo yang katanya 'bikin mood naik' itu. Cepetan ke sini atau gue ganti supplier ke toko sebelah!" cerocos Juned dari seberang telepon.

"Eh, jangan dong! Oke, oke, setengah jam lagi gue meluncur!"

Hani panik. Dia melirik stok roti "stok lama" yang sebenarnya baru dibuat tadi pagiβ€”setengah gosong di pinggir tapi masih layak makan. Dengan gerakan kilat khas emak-emak mengejar diskon, Hani memasukkan roti-roti itu ke dalam kotak kayu estetik, mengganti dasternya dengan kaos oblong kedodoran dan celana jins, lalu menyambar kunci motor matic-nya.

Satu hal yang dia lupa: menghapus noda tepung yang menghiasi hidung dan pipi kirinya.


Sementara itu, di Cafe Juned, suasana jauh lebih tenang. Di pojok ruangan yang paling privat, seorang pria duduk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Jam tangan peraknya berkilauan terkena cahaya lampu gantung.

Ardiwinata. Di usia 40 tahun, Ardi adalah definisi dari "makin tua makin jadi". Wajahnya tegas, dengan sedikit kerutan halus di sudut mata yang justru menambah kesan bijaksana. Dia sedang menunggu Miguel, manajer kepercayaannya, yang katanya terlambat karena "urusan mendadak" (yang Ardi tahu pasti urusan Noe).

BRAK!

Pintu kafe terbuka dengan tenaga berlebih. Hani masuk dengan napas terengah-engah, menenteng dua kotak kayu besar.

"NED! I’M HERE! MANA DIREKSINYA? SURUH MEREKA MAKAN INI SEBELUM GUE BERUBAH MOOD!" teriak Hani tanpa malu.

Juned, pemilik kafe yang bergaya hipster, menepuk jidatnya. "Hani... kecilin dikit suara lo. Itu calon big boss gue lagi duduk di sana."

Hani menoleh ke arah yang ditunjuk Juned. Matanya bertemu dengan mata tajam Ardiwinata. Ardi tidak marah, dia justru menaikkan sebelah alisnya, memperhatikan gadis di depannya yang terlihat seperti habis bergulat dengan karung terigu.

"Oh... itu bosnya?" bisik Hani, mendadak ciut tapi tetap nyolot. "Ganteng sih, tapi mukanya kayak butuh asupan karbohidrat biar nggak kaku banget."

Hani berjalan mendekat ke meja Ardi untuk meletakkan sampel roti. "Ini Pak, silakan dicoba. Namanya 'Roti Anti-Stress'. Kalau Bapak makan ini, kerutan di dahi Bapak mungkin berkurang satu mili."

Ardi terdiam. Miguel yang baru saja masuk ke kafe hampir tersedak ludahnya sendiri melihat Hani berani bicara begitu pada bosnya.

"Hani? Lo ngapain di sini?" tanya Miguel panik.

"Eh, Miguel! Sayangku, cintaku, masa depan hancurku!" Hani langsung berubah mode jadi bucin. "Aku lagi nganter roti. Kamu kok di sini? Sama Pak Tua ini?"

Ardiwinata terkekeh rendah. Suaranya berat dan maskulin. "Pak Tua? Saya rasa saya belum setua itu sampai harus dipanggil begitu, Nona...?"

"Hani. Panggil aja Hani. Kalau Pak Tua kemudaan, panggil aja Om," jawab Hani asal ceplos.

Miguel menarik lengan Hani menjauh. "Han, jaga mulut lo. Ini Pak Ardi, CEO tempat gue kerja. Pak Ardi, maaf, ini Hani... tetangga saya di Rancamaya. Orangnya memang agak... unik."

Ardi mengambil sepotong roti dari kotak Hani, menggigitnya pelan. Matanya sedikit melebar. "Teksturnya kasar, penampilannya berantakan, tapi rasanya... jujur. Saya suka."

Ardi menatap Hani lekat-lekat. "Saya ambil semua rotinya untuk rapat nanti. Dan Miguel, mulai besok, saya mau roti ini ada di meja saya setiap jam sembilan pagi."

Hani melongo. "Hah? Bapak mau saya anter ke kantor? Jauh Pak! Saya males kena macet kalau nggak lagi pengen!"

"Saya bayar tiga kali lipat dari harga Juned," ucap Ardi tenang sambil memberikan kartu namanya.

Hani terdiam sejenak. Otaknya yang biasanya berisi resep roti kini menghitung angka nol. "Oke, deal! Demi kesejahteraan rakyat Rancamaya Indah!"


Sore harinya di Komplek Rancamaya Indah, sebuah mobil travel mewah berhenti di depan rumah Vernon.

Vernon yang sedang mencuci motor sport-nya bersama Haikal (yang sedang berusaha memperbaiki spion truknya dengan selotip) langsung menoleh. Seorang pria turun dengan gaya perlente. Kemeja linen putih, kacamata hitam, dan senyum yang sangat "eropa".

"Bung Vernon! Apa kabar, Adikku yang paling galak?"

Vernon menjatuhkan sponsnya. "Bang Dika?"

Haikal bersiul panjang. "Wuih, Si Abang pulang! Makin mirip aktor Belanda lo, Bang!"

Dika tertawa, memeluk adiknya yang kaku itu. Namun, pandangan Dika langsung beralih ke rumah sebelahβ€”rumah Soela.

"Soela... masih tinggal di sebelah?" tanya Dika dengan nada suara yang berubah drastis. Ada kerinduan yang dalam di sana.

Vernon mengetatkan rahangnya. "Masih. Tapi dia sibuk, Bang. Jangan diganggu dulu."

Tepat saat itu, mobil Soela masuk ke garasi. Soela turun, membawa beberapa kantong belanjaan. Saat ia menoleh dan melihat Dika berdiri di depan pagar, kantong belanjaannya jatuh berhamburan ke aspal. Jeruk-jeruk menggelinding ke arah kaki Dika.

"Dika?" bisik Soela. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca-kaca.

Dari kejauhan, Aleya yang baru pulang kerja hanya berdiri di depan rumahnya, mengamati adegan itu dengan tatapan datar. Dia menghela napas panjang.

"Haikal," panggil Aleya pelan.

"Ya, Ayang Aleya?" Haikal menoleh semangat.

"Siapkan popcorn. Komplek ini akan jadi lebih berisik dari biasanya. Dan tolong, bantu Soela ambil jeruknya. Dia sedang mengalami shock kardiogenik ringan karena melihat mantan," ucap Aleya telak.

Haikal langsung lari menolong Soela, sementara Vernon hanya bisa menatap punggung Dika dengan penuh kebencian. Di sisi lain, Hani sedang guling-guling di kasurnya sambil memandangi kartu nama Ardiwinata, bingung kenapa jantungnya berdebar, padahal dia kan naksirnya Miguel.