"Coba bilang lagi… pelan ya… tatap kameranya, Sayang."

Suara Ratih selembut beledu, mengalun penuh kasih sayang di tengah udara kamar rumah sakit yang berbau obat dan bubur hambar. Tangan kanannya memegang ponsel pintar pada sudut yang sedikit merunduk—sebuah presisi yang ia pelajari dari puluhan video viral yang ia tonton semalaman.

Di atas ranjang, Nara mengerjap. Kelopak mata gadis kecil itu tampak bengkak, efek dari tangisan semalam dan obat-obatan yang mengalir di pembuluh darahnya. Ia menatap ibunya dengan dahi berkerut, sebuah kebingungan polos yang tergambar jelas di wajahnya yang pucat.

"Bilang apa, Ma?" suara Nara serak, nyaris menyerupai bisikan.

"Bilang yang tadi, Sayang. Yang bilang dada Nara sakit kalau buat napas," Ratih mencondongkan tubuhnya ke depan. Jari telunjuk kirinya dengan lembut menyelipkan seuntai rambut Nara yang lepek karena keringat ke belakang telinga, memastikan wajah putrinya tidak tertutup apa pun. Ekspresi menderita harus terlihat utuh tanpa halangan.

Nara menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Dada Nara... sakit, Ma."

Ratih menghela napas pendek. Ia menekan ikon kotak merah di layar ponselnya, menghentikan rekaman. Senyum tipis, senyum keibuan yang selalu berhasil menenangkan Nara, tersungging di bibirnya. Namun, di balik senyum itu, ada ketidakpuasan yang bergejolak.

"Pintar anak Mama," Ratih mengusap pipi Nara. "Tapi, Nara tadi bilangnya sambil lihat Mama. Coba sekarang Nara lihatnya ke sini." Ratih mengetuk pelan lensa kamera di bagian belakang ponselnya. "Anggap ini mata Tante dan Om yang baik hati di internet. Mereka yang mau bantu bayar obat Nara biar Nara cepat sembuh dan bisa pulang. Nara mau pulang, kan?"

Mata bundar Nara membesar saat mendengar kata 'pulang'. Sudah dua hari ia terkurung di ruangan berpendar putih ini, ditusuk jarum, dan dipaksa menelan cairan pahit. Ia mengangguk cepat. "Mau, Ma."

"Kalau begitu, Nara harus minta tolong sama mereka. Coba bilang lagi, ya? Bilangnya pelan-pelan saja. Nggak usah ditahan kalau mau nangis. Biar mereka tahu Nara lagi kesakitan."

Ratih kembali menekan tombol rekam.

"Dada... dada Nara sakit..." Nara bergumam, matanya yang lelah menatap lensa hitam sekecil kacang hijau itu. Karena ia memang merasa tidak nyaman, dan karena ibunya menyuruhnya untuk tidak menahan diri, setitik air mata menggenang di pelupuk matanya. "Sakit buat napas..."

Ratih menahan napasnya sendiri. Sempurna, batinnya. Namun, tiba-tiba tangan kecil Nara terangkat, mengusap hidungnya yang gatal, menutupi sebagian wajahnya dari sorotan kamera.

"Bagus, Sayang, bagus sekali. Tapi tangannya jangan naik ke muka ya," Ratih menurunkan ponselnya lagi. Layar kembali menunjukkan durasi nol. "Kita ulang sekali lagi, ya? Tangannya di bawah saja, pegang selimut."

Kebingungan di wajah Nara semakin pekat. Ia anak yang penurut, sangat penurut, namun rutinitas baru ini terasa ganjil baginya. Ia terbiasa dirawat, dipeluk saat menangis, dan ditenangkan saat kesakitan. Sebelumnya, jika ia mengeluh sakit, ibunya akan panik mencari dokter atau memeluknya erat-erat. Ia belum pernah diminta untuk mengulang keluhannya di depan sebuah benda mati.

"Tapi Ma... udah sakit beneran," cicit Nara pelan. Tangannya meremas ujung selimut rumah sakit yang berwarna hijau pudar.

Ratih terdiam sejenak. Ada sebuah denyut kecil di nuraninya, sebuah bisikan lemah yang mempertanyakan apa yang sedang ia lakukan. Anaknya sedang sakit. Mengapa ia menyuruhnya mengulang keluhan seperti burung beo sirkus? Mengapa ia tidak segera memanggil perawat jika Nara memang merasa dadanya sakit?

Namun, memori tentang ratusan komentar empati dan notifikasi transfer yang menderas semalam dengan cepat membungkam bisikan itu. Realitas menampar Ratih dengan keras: kasih sayang dan pelukan ibu tidak bisa membayar tagihan rumah sakit. Doa yang dipanjatkan diam-diam di sepertiga malam tidak bisa membeli obat antibiotik impor yang mahal.

Dunia ini brutal bagi janda miskin sepertinya. Jika ia harus menggunakan air mata anaknya sebagai alat tawar untuk bertahan hidup, bukankah itu harga yang pantas? Ratih meyakinkan dirinya bahwa ia melakukan ini justru karena ia sangat mencintai Nara. Ia sedang membukakan jalan keselamatan untuk mereka berdua. Orang-orang di luar sana punya banyak uang, dan mereka suka merasa menjadi pahlawan. Ratih hanya memberikan mereka panggung untuk itu.

"Mama tahu, Sayang. Mama tahu Nara sakit," suara Ratih sedikit bergetar, kini memancarkan manipulasi emosional yang jauh lebih halus. Matanya ikut berkaca-kaca. "Nara pikir Mama nggak sakit lihat Nara begini? Mama hancur, Nak. Mama nggak punya uang buat beli obat Nara yang mahal. Kalau Nara nggak mau bantu Mama minta tolong sama Om dan Tante di internet... Mama nggak tahu harus bayar pakai apa."

Mendengar suara ibunya yang serak dan melihat air mata yang mengancam akan tumpah dari mata ibunya, rasa bersalah seketika menghantam dada sempit Nara. Rasa sakit di dadanya tiba-tiba tergantikan oleh ketakutan yang jauh lebih besar: ketakutan melihat ibunya sedih. Di usianya yang baru tujuh tahun, Nara telah belajar bahwa ibunya adalah pusat semestanya. Jika ibunya menangis, maka dunia Nara runtuh.

Ia menginternalisasi keluhan ibunya. Ini salahku. Aku yang bikin Mama sedih karena aku sakit.

"Maafin Nara, Ma," Nara buru-buru menyahut, suaranya mulai bergetar menahan tangis. "Nara mau bantu Mama. Nara ulang lagi, ya?"

Ratih mengangguk pelan, menyeka sudut matanya dengan dramatis. "Iya, Sayang. Anak pintar. Demi Mama, ya?"

"Demi Mama," ulang Nara lirih.

Ratih kembali mengangkat ponselnya. Jari telunjuknya menekan tombol merah.

Kali ini, yang terekam bukan sekadar keluhan fisik. Nara menatap kamera dengan tatapan putus asa, bibir bawahnya bergetar hebat. Air mata yang keluar bukan lagi karena rasa tidak nyaman di dadanya, melainkan karena beban emosional untuk menyelamatkan ibunya dari kesedihan.

"Om... Tante..." suara Nara pecah, napasnya sedikit tersengal. "Dada Nara sakit... tolong bantu Mama... biar Nara bisa sembuh..."

Satu tetes air mata jatuh melewati pangkal hidungnya, meluncur turun ke pipinya yang tirus. Nara tidak mengusapnya. Ia membiarkan air mata itu mengalir, tangannya tetap diam meremas selimut sesuai instruksi ibunya. Ia menahan sesenggukan di tenggorokannya, memberikan penampilan seorang penderita yang begitu pasrah, begitu ikhlas.

Di balik ponsel, Ratih tersenyum puas. Jantungnya berdebar kencang. Ia baru saja menemukan sebuah rahasia besar, sebuah celah dalam realitas.

Emosi ternyata bukanlah sesuatu yang saklek. Kesedihan, rasa sakit, dan simpati… semuanya bisa direkayasa. Momen-momen natural yang tak terduga memang bagus, tapi momen yang "dibentuk" dan "diarahkan" bisa menjadi seratus kali lipat lebih mematikan dampaknya.

Ini adalah titik balik bagi Ratih. Di ruang rawat yang sempit itu, ia bukan lagi seorang ibu yang meratapi nasib. Ia bermutasi menjadi seorang sutradara atas penderitaannya sendiri. Jika video semalam—yang diambil secara spontan—saja bisa menghasilkan puluhan juta rupiah dalam hitungan jam, apalagi video yang disusun dengan narasi yang sempurna?

Ia menekan tombol stop.

"Pintar sekali anak Mama," Ratih langsung meletakkan ponselnya dan memeluk Nara erat-erat. Ia mengecup dahi, pipi, dan rambut putrinya bertubi-tubi. "Terima kasih, Sayang. Mama sayang banget sama Nara. Nara istirahat sekarang, ya."

Nara membalas pelukan ibunya dengan tenaga tersisa. Ada kelegaan yang luar biasa mengalir di sekujur tubuh kecilnya. Ia berhasil membuat ibunya tersenyum lagi. Rasa sakit di dadanya kini tak lagi terasa seperti hukuman, melainkan sebuah pengorbanan yang manis. Jika dengan pura-pura lebih menderita atau mengulang tangisannya ia bisa mendapatkan pelukan hangat ini, Nara rela melakukannya ribuan kali.

Beberapa menit kemudian, perawat masuk membawakan sarapan dan memeriksa cairan infus. Nara menelan beberapa suap bubur dengan patuh sebelum akhirnya jatuh tertidur lagi, kelelahan oleh emosi yang baru saja diperas dari tubuh ringkihnya.

Ruangan kembali sepi. Ratih duduk di kursinya, menyilangkan kaki. Suara bising dari jalan raya di luar sayup-sayup terdengar, tapi fokus Ratih sepenuhnya tersedot ke layar segi empat di tangannya.

Ia membuka galeri video. Terdapat tiga rekaman baru dari sesi pagi ini.

Ratih memutar video pertama. Berdurasi dua belas detik. Terlalu kaku. Nara mengusap hidungnya di detik kedelapan, merusak ilusi tentang penderitaan yang pasrah. Ratih mendecak pelan. Dihapus.

Ia memutar video kedua. Berdurasi lima belas detik. Nara terlihat terlalu datar. Ucapannya dihafal, tidak ada jiwa di dalamnya. Tidak akan ada yang menangis melihat ini. Dihapus.

Kemudian, ia memutar video ketiga.

Layar menampilkan wajah Nara yang pucat pasi, dihiasi mata bulat yang menatap langsung ke lensa seolah menembus jiwa siapa pun yang menontonnya. Bibir kecil yang gemetar. Kalimat yang terputus-putus. "Om... Tante... Dada Nara sakit... tolong bantu Mama..." Dan klimaksnya: satu tetes air mata yang jatuh menuruni pipi dengan presisi seorang aktor watak yang memenangkan piala.

Ratih menontonnya berulang kali. Setiap kali video itu berakhir dan kembali ke awal, Ratih merasakan sengatan kepuasan di perutnya. Ini dia. Ini mahakaryanya.

Ia mulai mengetikkan takarir untuk video tersebut di Instagram. Ia menggunakan huruf kapital pada kata-kata tertentu untuk memberikan penekanan emosional. Ia menambahkan tagar. Ia menautkan nomor rekening di bio profilnya, menaruhnya tepat di bagian paling atas agar tidak ada yang terlewat.

Jarinya melayang di atas tombol Bagikan. Ia menatap layar itu, melihat wajah putrinya yang membeku dalam penderitaan artifisial yang sempurna.

Ratih tidak sedang menolong anaknya. Ia sedang menjualnya. Dan bagian terburuknya adalah, saat ia menekan tombol Bagikan, ia tidak merasakan penyesalan sama sekali.