Cahaya kebiruan dari layar ponsel mencetak bayangan tajam di wajah Ratih. Di ruang rawat inap kelas tiga yang temaram itu, hanya suara detak jarum jam dinding dan dengung rendah mesin pendingin ruangan tua yang menemani malamnya. Namun, di dalam genggaman tangannya, sebuah dunia yang riuh tengah berpusar, memanggil-manggil namanya dengan puja-puji yang memabukkan.
Ratih menggulir layar dengan ibu jarinya, gerakannya pelan, seolah takut jika ia bergerak terlalu cepat, keajaiban ini akan menghilang. Matanya terpaku pada satu baris kalimat yang baru saja muncul di kolom komentar, bersinar lebih terang dari ratusan komentar lainnya.
“Aku nangis lihat kamu… kamu ibu luar biasa. Tolong jangan menyerah, Kak. Anakmu beruntung punya malaikat sepertimu.”
Ratih membaca kalimat itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Pada putaran keempat, dadanya terasa sesak oleh kehangatan yang asing. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas layar ponselnya, mengaburkan kata "malaikat". Ia tidak segera mengusapnya. Ia membiarkan air mata itu di sana, sebagai saksi bahwa ia akhirnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, diakui.
Sebuah isakan pelan lolos dari bibirnya. Isakan itu bukan untuk Nara yang terbaring lemah dengan jarum infus di punggung tangannya. Isakan itu adalah untuk dirinya sendiri. Untuk Ratih.
Ibu luar biasa. Malaikat.
Kata-kata itu bergema di kepalanya, memukul mundur kenangan-kenangan pahit yang selama ini menjadi penghuni tetap di otaknya. Ratih tidak pernah menjadi siapa-siapa. Sepanjang usianya yang menginjak angka tiga puluh empat, ia hanyalah figuran dalam kehidupannya sendiri. Di masa remajanya, ia adalah anak tengah yang tidak terlalu pintar dan tidak terlalu cantik, yang eksistensinya sering kali dilupakan oleh orang tuanya yang sibuk bertengkar.
Lalu datanglah pernikahan. Sebuah institusi yang ia pikir akan menjadi tempat pelariannya, yang ternyata menjelma menjadi penjara kesunyian yang baru. Mantan suaminya, seorang pria dengan ego sebesar gunung namun nyali sekecil kerikil, meninggalkannya tiga tahun lalu. Pria itu pergi begitu saja, meninggalkan Ratih dengan setumpuk utang dan seorang anak yang mulai sering keluar-masuk rumah sakit.
“Kamu itu membosankan, Ratih. Nggak ada gunanya. Hidup sama kamu bikin aku mati pelan-pelan,” itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan mantan suaminya sebelum membanting pintu.
Selama tiga tahun terakhir, Ratih menelan kalimat itu mentah-mentah. Ia percaya bahwa dirinya memang tidak berguna. Ia bekerja serabutan, dari menjadi buruh cuci hingga membantu di warung makan, hanya untuk menutupi biaya hidup yang mencekik. Ia menundukkan kepala saat berpapasan dengan tetangga, tahu betul bahwa tatapan mereka penuh dengan rasa kasihan yang merendahkan. Itu lho, si Ratih, janda yang anaknya sakit-sakitan. Ia tidak terlihat. Ia hanyalah bayangan abu-abu di sudut jalan yang kumuh.
Tapi malam ini… malam ini semuanya berubah. Dunia sedang menatapnya. Puluhan ribu pasang mata virtual tertuju padanya. Ribuan jari mengetik doa untuknya. Malam ini, ia bukan sekadar janda miskin dari pinggiran kota. Ia adalah simbol ketabahan. Ia adalah martir.
Jari Ratih yang sedikit gemetar mulai menyentuh layar. Ia memutuskan untuk tidak lagi hanya menjadi penonton diam dalam panggung kemegahannya ini. Ia harus merawat panggung ini. Ia harus memastikan penontonnya tidak beranjak pergi.
Ia menekan tombol ‘Balas’ pada komentar yang memujinya sebagai malaikat tadi.
“Terima kasih, Orang Baik,” ketiknya pelan. “Saya hanya seorang ibu biasa yang mencoba bertahan demi malaikat kecil saya. Air mata saya sudah kering, tapi dukungan dari kalian memberi saya napas baru. Mohon doanya untuk Nara ya…”
Ia menatap draf balasan itu. Ia menghapus kata “Air mata saya sudah kering” karena dirasa terlalu putus asa. Ia ingin terlihat rapuh, namun tetap memiliki kekuatan yang elegan. Ia menggantinya menjadi: “Saya tidak akan pernah lelah berjuang untuk Nara, walau kadang dunia terasa begitu berat.”
Sempurna. Ratih menekan tombol kirim.
Jantungnya berdebar menunggu reaksi. Hanya butuh kurang dari satu menit, balasan itu langsung mendapatkan puluhan likes dan balasan baru.
“MasyaAllah, Ibu Ratih kuat banget! Kami di sini dukung Ibu terus!”
“Udah open donasi belum, Bu? Saya mau nyisihin sedikit rezeki.”
Melihat respons itu, ada semacam tuas di dalam kepala Ratih yang tiba-tiba bergeser. Ini bukan lagi sekadar rasa haru karena simpati acak. Ini adalah sebuah sistem. Sebuah mekanisme sebab-akibat. Ia menunjukkan penderitaan yang mulia, dan dunia memberinya validasi—dan uang.
Ia mulai membalas komentar-komentar lain. Ia memilih dengan hati-hati mana yang harus dibalas untuk membentuk narasi yang utuh. Kepada mereka yang menawarkan bantuan, ia membalas dengan kerendahan hati yang memilukan, “Ya Allah, terima kasih atas niat baiknya. Saya tidak berani meminta, tapi jika memang rezeki Nara, saya akan sangat bersyukur.” Kepada mereka yang bertanya tentang penyakit Nara, ia memberikan detail yang dramatis namun dibumbui dengan ketidaktahuan medis yang wajar untuk seorang ibu awam, “Dokter bilang ada masalah di paru dan sarafnya, Mbak. Saya kurang paham bahasa medisnya, saya cuma tahu hati saya hancur setiap lihat dia kejang.”
Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Ruang rumah sakit itu semakin dingin, namun wajah Ratih terasa hangat. Ia tidak merasa mengantuk sedikit pun. Dopamin membanjiri sirkuit saraf di otaknya, mengusir rasa lelah yang telah menumpuk selama bertahun-tahun. Ini adalah bentuk kekuasaan. Dari balik layar kaca berukuran enam inci ini, ia memegang kendali atas emosi ribuan orang. Ia bisa membuat mereka menangis, ia bisa membuat mereka berdoa, ia bisa membuat mereka membuka dompet.
Ia merasa... penting. Ia merasa memiliki tujuan.
Aku melakukan ini untuk Nara, Ratih berbisik dalam hati, menyulam rasionalisasi di atas kain kebohongannya yang mulai dirajut. Kalau aku punya uang dari donasi ini, Nara bisa dirawat dengan lebih baik. Kalau aku dapat perhatian ini, dokter-dokter di sini pasti akan merawat Nara dengan lebih sungguh-sungguh. Mereka tidak akan meremehkan kami lagi.
Alasan itu terasa begitu masuk akal, begitu suci, hingga Ratih sendiri memercayainya seratus persen. Ia bukan manipulator; ia adalah ibu yang cerdik yang memanfaatkan keadaan demi kelangsungan hidup anaknya.
Menjelang pukul empat pagi, hiruk-pikuk di dunia maya mulai mereda. Algoritma media sosial memiliki jam biologisnya sendiri. Orang-orang mulai tertidur, notifikasi yang tadinya bertubi-tubi seperti hujan badai kini menyisakan gerimis kecil. Satu notifikasi setiap lima menit. Lalu sepuluh menit. Lalu hening.
Kesunyian kembali merayap, mencekik ruang rawat itu. Layar ponsel Ratih meredup, lalu mati, memantulkan bayangan wajahnya yang kembali menjadi wanita kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata.
Rasa dingin tiba-tiba menyergapnya. Kekosongan itu kembali menganga. Panggungnya perlahan gelap. Penontonnya pulang.
Kepanikan kecil mulai menggerogoti ulu hatinya. Apakah sudah selesai? Apakah mereka sudah melupakanku? Besok pagi, apakah akan ada tren baru yang menggantikan penderitaanku?
Ratih menoleh ke arah ranjang. Nara tertidur sangat pulas. Efek obat penenang yang disuntikkan perawat beberapa jam lalu bekerja dengan sangat baik. Napas bocah tujuh tahun itu teratur. Dadanya naik turun dengan ritme yang tenang. Wajahnya yang pucat terlihat damai, terbebas dari rasa sakit. Sensor saturasi oksigen di jarinya menunjukkan angka 98%. Stabil. Normal.
Seharusnya, pemandangan itu membuat hati seorang ibu lega. Seharusnya, Ratih bisa ikut menutup mata dan beristirahat.
Namun, yang dirasakan Ratih saat melihat putrinya yang tertidur damai justru sebuah kekecewaan yang ganjil. Sebuah kegelisahan yang merayap di tengkuknya.
Nara yang tenang, Nara yang stabil, Nara yang tidak kejang... adalah Nara yang tidak bisa menghasilkan simpati. Anak yang tidur nyenyak tidak akan membuat orang-orang menangis di kolom komentar. Anak yang normal akan membuat Ratih kembali menjadi janda miskin yang tak terlihat.
Ratih berdiri perlahan dari kursi kayunya yang berderit pelan. Ia melangkah mendekati ranjang, menatap lekat-lekat wajah putrinya. Kamar itu begitu sepi. Dunia sedang menunggu kelanjutan ceritanya, update terbaru dari "Ibu Paling Tabah". Penonton butuh asupan emosi untuk sarapan pagi mereka.
Ratih mengangkat ponselnya. Jarinya yang tadi mahir merangkai kata-kata rendah hati, kini dengan mantap membuka aplikasi kamera.
Ia tidak menyalakan lampu kamar agar suasana tetap terlihat muram dan menyedihkan. Ia memosisikan lensa tepat di atas wajah Nara. Namun, angle itu terasa kurang dramatis. Nara terlihat terlalu nyenyak.
Dengan sangat pelan, tangan kiri Ratih menjulur. Jari-jarinya yang dingin menyentuh selang oksigen yang melingkar di hidung kecil putrinya. Ia mencabutnya sedikit—hanya sedikit, tidak sampai lepas sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat posisi selang itu tampak berantakan seolah-olah Nara baru saja meronta-ronta menahan sakit. Ia juga menyingkap separuh selimut tipis rumah sakit, mengekspos lengan Nara yang kurus dengan jarum infus yang menancap di sana.
Ratih menahan napasnya sendiri, menekan tombol rekam.
Di layar, ia bukan sedang merekam seorang anak yang sedang tertidur lelap. Melalui filter abu-abu yang sengaja ia pilih, ia sedang menciptakan sebuah karya seni tentang keputusasaan.
Ia tidak sedang mencari pertolongan. Ia sedang memproduksi konten. Dan kamera terus berputar, merekam kesunyian yang ia rancang sendiri.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar