Layar ponsel itu menampilkan antarmuka biru dari aplikasi perbankan m-banking. Di tengah layar, sebuah ikon lingkaran kecil berputar selama dua detik sebelum akhirnya berhenti, memuat ulang halaman utama. Ratih menahan napas. Matanya yang dihiasi kantung hitam tipis terpaku pada deretan angka yang baru saja diperbarui.

Saldo Efektif: Rp 142.550.000,00

Ratih mengerjap. Ia menekan tombol refresh sekali lagi. Angkanya berubah, bertambah lima ratus ribu rupiah.

Ia meletakkan ponsel itu di atas pangkuannya dan menutupi mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan pekikan histeris yang nyaris meledak dari tenggorokannya. Seratus empat puluh dua juta. Kemarin pagi, saldo di rekening itu hanya tersisa seratus lima belas ribu rupiah—uang yang bahkan tidak cukup untuk membeli susu formula Nara untuk tiga hari. Kini, angka itu memiliki sembilan digit. Ratih belum pernah melihat uang sebanyak itu seumur hidupnya, bahkan dalam mimpi paling liarnya sekalipun.

Ini bukan sekadar uang. Ini adalah mukjizat yang diunduh langsung dari surga melalui jaringan Wi-Fi rumah sakit.

Namun, mukjizat itu tidak hanya datang dalam bentuk angka digital. Sejak video tangisan Nara yang diunggahnya kemarin luruh ke dalam algoritma media sosial dan dibagikan oleh berbagai akun gosip berkedok portal berita, ruang rawat kelas tiga itu telah berubah wujud.

Pintu kamar berderit terbuka. Seorang perawat—Suster Dina, yang biasanya menatap Ratih dengan sebelah mata karena sering terlambat menebus resep apotek—kini masuk dengan senyum ramah yang terlihat sangat dipaksakan. Di belakangnya, seorang petugas keamanan rumah sakit membawa dua buket bunga lili putih yang besar dan tiga keranjang parsel buah-buahan impor.

"Bu Ratih, ada titipan lagi dari lobi," ucap Suster Dina dengan nada suara yang dua oktaf lebih lembut dari biasanya. "Ini dari... sebentar saya baca catatannya. Dari Fans Club artis siapa ini, dan dari ibu-ibu pengajian Al-Hidayah."

Ratih segera bangkit, menampilkan raut wajah lelah yang anggun. "Ya Allah, repot-repot sekali. Tolong taruh di meja situ saja, Sus. Maaf ya, bikin suster jadi repot bolak-balik."

"Oh, sama sekali nggak repot, Bu. Memang sudah tugas kami," Suster Dina menyahut cepat, matanya melirik sekilas ke arah kamera ponsel Ratih yang tergeletak di meja, seolah memastikan bahwa jika ia terekam, ia akan terlihat seperti malaikat berwujud tenaga medis. "Banyak sekali yang sayang sama Dik Nara ya, Bu. Oh ya, dokter jaga berpesan, kalau Ibu butuh pindah ke kamar VIP supaya lebih tenang, administrasinya bisa diurus siang ini. Mengingat... yah, donasinya sepertinya sudah sangat mencukupi."

Kamar VIP. Tiga hari yang lalu, Ratih bahkan harus memohon-mohon kepada bagian administrasi agar diizinkan mencicil biaya kamar kelas tiga ini. Sekarang, pihak rumah sakit yang menawarinya ruang naratama. Ratih merasakan sebuah kekuatan baru mengalir di pembuluh darahnya. Ini adalah rasa hormat. Ini adalah privilese yang selama ini hanya bisa ia tonton di televisi.

"Nanti saya pikirkan dulu, Sus. Saya masih fokus ke kesembuhan Nara," jawab Ratih bijak. Suster Dina mengangguk hormat sebelum undur diri.

Setelah pintu tertutup, Ratih berdiri di tengah ruangan yang kini terasa sempit karena tumpukan kardus susu mahal, pampers premium, kotak-kotak mainan, dan bunga. Wangi lili dan apel fuji menutupi bau karbol yang murahan.

Nara sedang duduk bersandar di ranjangnya, memeluk sebuah boneka beruang raksasa berwarna cokelat yang harganya mungkin setara dengan sewa kontrakan Ratih sebulan. Wajah gadis kecil itu masih pucat, namun matanya berbinar melihat tumpukan barang di sekelilingnya.

"Ma, ini buat Nara semua?" tanyanya takjub, mengelus bulu halus boneka itu.

"Iya, Sayang. Ini semua dari orang-orang baik yang mau lihat Nara sembuh," Ratih tersenyum. Namun, pikirannya sudah tidak lagi berada di ruangan itu. Otaknya sedang bekerja, berputar dengan kecepatan tinggi.

Ini bukan lagi kebetulan. Ini bukan sekadar simpati sesaat. Ini adalah sebuah industri kecil di mana penderitaan adalah produk utamanya, dan Ratih baru saja menemukan cara untuk memproduksinya secara massal.

Ratih berjalan menuju nakas, mengambil sebuah buku tulis bersampul tebal yang baru ia beli dari minimarket di lantai dasar. Ia juga mengambil pulpen hitam. Ia duduk di kursi, menyingkirkan sisa bungkus roti, dan membuka halaman pertama buku tersebut.

Dengan tulisan tangan yang rapi dan ditekan kuat, ia mulai membuat kolom-kolom.

Tanggal. Nama Donatur. Nominal. Keterangan/Sumber.

Ia membuka riwayat mutasi di aplikasi perbankannya dan mulai menyalin data tersebut ke dalam buku. Jemarinya bergerak lincah. 10 April - Hamba Allah - Rp 1.000.000. 10 April - Komunitas Bunda Peduli - Rp 5.000.000. Setiap kali ia mencatat sebuah angka, ada sensasi memabukkan di kepalanya. Ratih mulai berpikir sistematis. Ia membagi uang tersebut dalam kepalanya: tiga puluh persen untuk biaya rumah sakit dan obat, sepuluh persen untuk biaya makan sehari-hari, dan sisanya—enam puluh persen yang jumlahnya nyaris seratus juta rupiah—akan ia simpan. Untuk masa depan Nara, tentu saja. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa ia bukan pencuri. Ia adalah manajer keuangan bagi nyawa anaknya sendiri.

Namun, naluri bisnis barunya mulai membaca pola. Donasi paling deras masuk pada rentang waktu tiga jam setelah ia mengunggah video Nara yang menangis. Setelah itu, grafiknya menurun. Jika ia hanya mengunggah foto Nara tidur atau makan, jumlah likes tetap banyak, tapi notifikasi transfer perbankan berkurang drastis.

Netizen memiliki rentang perhatian yang pendek. Mereka cepat berempati, tapi mereka juga cepat bosan. Mereka butuh asupan penderitaan yang segar, update dramatis, dan bukti bahwa uang yang mereka sumbangkan disalurkan kepada pihak yang benar-benar berada di ambang kehancuran. Jika penderitaan itu mereda, maka cerita pun usai. Panggung akan ditutup.

Ratih berhenti menulis. Ujung pulpennya menekan kertas terlalu kuat hingga meninggalkan bekas lekukan hitam.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu memecah konsentrasinya. Dr. Hermawan, dokter spesialis anak yang merawat Nara, melangkah masuk diiringi seorang asisten perawat. Wajah dokter paruh baya itu tampak cerah.

"Selamat pagi, Ibu Ratih. Pagi, Nara jagoan," sapa Dr. Hermawan sambil mengambil rekam medis dari ujung ranjang. Ia memeriksa mata Nara, mendengarkan detak jantung dan paru-parunya melalui stetoskop.

"Pagi, Dok," sahut Ratih, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Bukan karena cemas, melainkan karena firasat yang aneh.

"Puji Tuhan, Ibu," Dr. Hermawan menurunkan stetoskopnya dan tersenyum lebar. "Hasil lab darah pagi ini sangat bagus. Leukositnya sudah turun drastis, mendekati normal. Suara napasnya juga sudah bersih, tidak ada mengi lagi. Infeksinya sudah teratasi dengan baik berkat antibiotik yang masuk."

Ratih merasa lantai di bawah kakinya bergoyang. "Jadi... maksud Dokter?"

"Nara anak yang kuat. Respons tubuhnya terhadap obat sangat cepat. Kalau kondisinya stabil seperti ini terus, besok siang infus sudah bisa dilepas, dan lusa Nara sudah bisa rawat jalan dari rumah," jelas Dr. Hermawan dengan nada bangga. "Selamat ya, Bu. Ibu luar biasa sabar merawatnya."

Kata "pulang" seharusnya menjadi alunan musik terindah bagi telinga seorang ibu yang anaknya dirawat di rumah sakit. Tiga hari lalu, Ratih akan menangis sujud syukur mendengar kabar ini.

Tapi hari ini, detik ini, kata "pulang" terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis kebangkrutan.

"Pulang... lusa, Dok?" Ratih mengulangi kata-kata itu dengan suara hampa.

"Betul. Tentu saja nanti tetap harus kontrol rutin seminggu sekali untuk memastikan pemulihannya total. Tapi masa krisisnya sudah lewat," Dr. Hermawan menepuk pelan bahu Nara. "Nara pintar makannya ya, biar cepat pulang dan main lagi."

Setelah memberikan beberapa instruksi kepada perawat, Dr. Hermawan keluar dari ruangan. Ratih masih berdiri mematung di tempatnya.

Ia menatap Nara. Anak itu sedang tersenyum cerah ke arahnya. Rona merah sudah kembali di pipi pucat gadis itu. Bibirnya tidak lagi kering dan pecah-pecah. Nara tampak... sehat.

Nara sembuh. Cerita ini selesai.

Ratih menatap sekeliling ruangan. Menatap tumpukan parsel mahal, buket bunga, dan buku tabungan yang terbuka di atas meja. Di luar sana, ada ratusan ribu orang yang mengira Nara sedang berada di ambang maut. Mereka sedang berdoa, menangis, dan mentransfer uang. Jika besok Ratih mengumumkan bahwa Nara sudah sembuh dan diperbolehkan pulang, apa yang akan terjadi?

Arus uang akan berhenti. Sorotan lampu akan padam. Suster Dina mungkin akan kembali menatapnya dengan sinis jika ia datang kontrol. Ia akan kembali ke rumah kontrakannya yang bocor, kembali menjadi janda yang terlupakan, kembali hidup dalam ketakutan finansial yang menggerogoti kewarasannya.

Ratih melangkah pelan mendekati ranjang. Ia berdiri di sisi Nara, menatap putrinya lekat-lekat.

"Mama... Nara lusa bisa pulang?" tanya Nara, matanya berbinar penuh harap. "Nara bisa makan es krim yang Om Gojek anterin tadi?"

Ratih tersenyum. Sebuah senyuman kosong yang tidak mencapai matanya. Tangannya yang dingin terulur, mengusap pipi Nara yang kini terasa hangat. "Tentu, Sayang. Nanti kita makan es krim."

Tapi di dalam kepalanya, sebuah kalkulasi yang gelap dan dingin sedang dilakukan. Ia menatap selang infus di punggung tangan Nara. Ia melihat obat-obatan yang tertata rapi di nampan perawat yang ditinggalkan di atas meja. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: batas antara sehat dan sakit ternyata bisa dimanipulasi dengan sangat mudah.

Sebuah keluhan saja tidak akan cukup lagi. Kemarin, ia memaksakan air mata Nara, dan ia mendapatkan ratusan juta. Tapi dr. Hermawan mengandalkan data medis, bukan air mata. Netizen yang kritis di luar sana—yang mungkin mulai mempertanyakan mengapa tidak ada update kondisi—membutuhkan bukti yang lebih kuat dari sekadar wajah sedih.

Ratih mengambil ponselnya. Ia membuka kamera. Ia menyorot Nara yang sedang tersenyum memeluk beruangnya. Di layar, Nara sama sekali tidak terlihat memelas. Tidak ada nilai jual dalam senyum itu. Tidak ada simpati untuk anak yang sudah sehat.

Ratih menurunkan ponselnya perlahan. Ia menatap layar yang kini gelap, memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Matanya terlihat tajam, penuh perhitungan.

"Kalau cuma dari cerita dan air mata, mereka akan cepat lupa," gumam Ratih nyaris tanpa suara, berbicara kepada bayangannya sendiri. Jemarinya tanpa sadar menyentuh penutup salah satu tabung obat cairan di atas nampan.

Matanya menyipit, membayangkan bingkai kamera yang sempurna untuk video berikutnya. Ia menatap putrinya, lalu kembali menatap peralatan medis di sekelilingnya.

"Kalau orang lihat lebih jelas…" Ratih berkata pelan, nadanya sedingin keramik rumah sakit, "…mereka bakal bantu lebih banyak."