Hujan turun rintik-rintik di luar jendela kamar rumah sakit, mengetuk kaca dengan ritme yang monoton dan mengantuk. Jarum jam dinding menunjuk ke angka sebelas malam. Ruang rawat kelas tiga itu telah tenggelam dalam kesunyian, menyisakan dengung mesin pendingin ruangan dan napas teratur dari ranjang-ranjang pasien di sekitarnya yang dibatasi tirai kain berwarna hijau pudar.
Di atas meja nakas di samping ranjang Nara, sebuah cangkir takar plastik kecil berukuran lima belas mililiter tergeletak. Di dalamnya berisi cairan sirop berwarna merah muda—obat radang dan antibiotik sisa jadwal minum malam ini yang sengaja belum Ratih berikan. Suster Dina meninggalkannya setengah jam yang lalu setelah memeriksa suhu tubuh Nara yang sudah kembali ke angka 36,5 derajat Celcius. Suhu yang sempurna. Suhu yang mengancam tiket kepulangan mereka besok lusa.
Ratih duduk mematung di kursinya, matanya terpaku pada cangkir plastik kecil itu. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah botol kecil berwarna cokelat gelap. Botol itu bukan milik rumah sakit. Itu adalah obat penurun tekanan darah dan pelemas otot dosis tinggi milik mendiang ibunya yang secara tak sengaja selalu terbawa di dasar tas tangannya selama berbulan-bulan.
Ruangan terasa dingin, namun setitik peluh meluncur turun dari pelipis Ratih. Jantungnya berdetak lambat, namun memukul dadanya dengan kekuatan yang menyakitkan.
Ia memutar tutup botol cokelat itu. Krek. Segel plastiknya yang sudah usang terlepas. Ratih menuangkan satu butir pil putih ke telapak tangannya.
Ia menatap pil itu lama. Pil yang begitu kecil, ringan, dan terlihat tidak berbahaya. Namun Ratih tahu efeknya. Dulu, ibunya sering mengeluh pusing hebat, berkeringat dingin, dan mual muntah jika tak sengaja meminum pil ini dengan perut kosong. Untuk orang dewasa yang sakit, obat ini bisa membuat lemas tak berdaya. Untuk anak berusia tujuh tahun yang baru saja pulih dari infeksi pernapasan... efeknya pasti akan jauh lebih dramatis.
Sebuah suara di kepalanya menjerit, memanggilnya monster. Apa yang sedang kamu lakukan, Ratih? Dia darah dagingmu. Dia baru saja bisa tersenyum tadi sore.
Ratih memejamkan mata erat-erat, menepis suara itu dengan sekuat tenaga. Ia bukan monster. Ia adalah ibu yang sedang terdesak. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma karbol dan antiseptik, membiarkan realitas rumah sakit ini meresap ke dalam pori-porinya.
Dokter Hermawan terlalu terburu-buru, Ratih mulai menenun rasionalisasinya sendiri. Ia membuka matanya dan menatap Nara yang tertidur lelap. Rumah sakit ini hanya ingin mengusir pasien miskin seperti kita untuk memberikan tempat bagi pasien yang lebih menguntungkan. Bagaimana kalau Nara tiba-tiba kolaps di rumah? Di kontrakan pengap yang bocor itu? Tidak ada tabung oksigen di sana. Tidak ada perawat. Aku tidak punya kendaraan untuk membawanya ke UGD.
Logika itu terasa bengkok, namun di dalam kepalanya yang tengah dimabuk oleh atensi, logika itu tersusun menjadi sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.
Ia melirik ke arah buku tabungannya yang menyembul dari dalam tas. Seratus empat puluh dua juta rupiah. Uang itu baru bisa menjamin hidup mereka untuk satu atau dua tahun ke depan. Bagaimana dengan masa depan Nara? Bagaimana dengan biaya sekolahnya nanti? Bagaimana jika simpati netizen terputus malam ini, tepat saat dokter menyatakan Nara sembuh total?
Ini bukan menyakiti, Ratih berbisik dalam hati, meremas pil di tangannya. Ini adalah cara agar dokter tetap memberikan perhatian penuh. Biar dokter cepat tanggap. Jika kondisinya sedikit menurun, mereka akan melakukan observasi lebih lanjut. Mereka akan menahan kita di sini. Hanya di sini Nara bisa benar-benar aman. Hanya di sini... kita berharga.
"Cuma sedikit," Ratih menggumamkan kata-kata itu ke udara kosong, seolah meminta persetujuan dari malaikat pencatat amal di sudut ruangan. "Cuma sedikit, untuk menahan kita di sini."
Dengan gerakan yang cepat dan kaku, seakan takut kehilangan keberaniannya sendiri, Ratih mengambil sendok logam dari piring bekas makan malam Nara. Ia meletakkan pil putih itu di atas tisu, lalu menekannya dengan bagian belakang sendok. Bunyi gemeretak pelan terdengar saat pil itu hancur menjadi bubuk putih yang halus.
Tangan Ratih gemetar saat ia memungut tisu tersebut. Ia menaburkan bubuk itu ke dalam cangkir plastik berisi sirop merah muda. Dengan ujung sendok, ia mengaduknya perlahan. Bubuk itu larut, menghilang ke dalam cairan kental tersebut tanpa meninggalkan jejak warna atau bau yang mencurigakan. Racikan itu tampak persis seperti obat yang dibawa perawat.
Ratih meletakkan cangkir itu kembali ke nakas. Ia menatap tangannya yang kini berkeringat dingin. Tidak ada jalan kembali sekarang.
Ia berjalan mendekati ranjang, mencondongkan tubuhnya ke arah putrinya. "Nara... Sayang..." Ratih mengusap pipi Nara dengan kelembutan yang menyesakkan dada. "Bangun sebentar, Nak. Waktunya minum obat malam."
Nara mengerang pelan. Kelopak matanya yang berat terbuka perlahan. Ia menatap ibunya dengan pandangan setengah sadar. "Nara ngantuk, Ma..."
"Iya, Mama tahu. Minum obat dulu sebentar biar besok bangunnya badannya enak," Ratih mengambil cangkir plastik itu dan mendekatkannya ke bibir Nara. Ia menyelipkan satu tangannya ke belakang leher putrinya, mengangkat kepalanya sedikit.
Mata Ratih menatap langsung ke dalam mata Nara yang polos dan penuh kepercayaan. Tidak ada penolakan di sana. Tidak ada kecurigaan. Bagi Nara, tangan yang memegang obat itu adalah tangan yang sama yang selalu membelainya saat ia menangis. Tangan ibunya adalah tempat paling aman di dunia.
Nara membuka mulutnya. Ratih memiringkan cangkir itu. Cairan merah muda itu mengalir masuk.
Nara menelannya dengan susah payah, lalu wajahnya mengernyit hebat. "Pahit banget, Ma... Beda rasanya..." ia terbatuk kecil, mencoba mendorong sisa rasa pahit dengan lidahnya.
"Itu obat baru dari Dokter Hermawan, Sayang. Biar kuman-kumannya mati semua," dusta Ratih mengalir begitu mulus, nyaris tanpa jeda. Ia segera menyodorkan segelas air putih. "Minum airnya, cepat."
Setelah meminum air, Nara kembali merebahkan kepalanya di bantal. Matanya langsung terpejam. "Nara tidur lagi ya, Ma."
"Iya, Sayang. Mimpi indah. Mama selalu ada di sini jaga Nara," Ratih mengecup kening putrinya cukup lama. Bibirnya terasa dingin menempel di kulit Nara yang hangat.
Ratih mundur selangkah, lalu duduk kembali di kursinya. Ia meletakkan cangkir plastik yang sudah kosong itu ke sudut meja. Bukti telah lenyap. Semuanya sudah selesai. Sekarang, ia hanya perlu menunggu.
Sepuluh menit berlalu. Tidak ada yang terjadi. Nara bernapas senormal biasanya.
Dua puluh menit berlalu. Ratih mulai menggigit kuku ibu jarinya. Apakah dosisnya terlalu kecil? Apakah obat ibunya sudah kedaluwarsa dan kehilangan khasiatnya? Ada secercah rasa lega yang aneh bercampur dengan kekecewaan di dadanya. Mungkin alam semesta menolak kejahatannya. Mungkin rencananya gagal dan besok mereka tetap harus pulang.
Namun, memasuki menit ketiga puluh lima, suasana di ranjang itu berubah.
Nara mulai gelisah dalam tidurnya. Kepalanya berguling ke kiri dan ke kanan. Napasnya yang tadi teratur kini mulai memburu dan dangkal.
Ratih mencondongkan tubuhnya, mengamati dengan saksama.
Tiba-tiba, Nara membuka matanya lebar-lebar. Bola matanya bergerak liar, tidak fokus. Dadanya naik turun dengan cepat. "Ma... Ma..." panggilnya dengan suara tercekik.
Ratih segera berdiri. "Nara? Kenapa, Sayang?"
"Pusing... Ma, ruangan muter..." Nara memegang kepalanya dengan kedua tangan kecilnya. Tubuhnya mulai berkeringat hebat, membasahi kerah baju rumah sakitnya dalam hitungan detik. Wajahnya yang tadi sore sudah merona, kini berubah menjadi seputih kertas HVS.
Lalu, hal itu terjadi. Tubuh Nara tersentak ke depan. Mulutnya terbuka dan ia memuntahkan seluruh isi perutnya—bubur ayam, susu, dan air—ke atas seprai, mengenai baju dan selimutnya. Muntahan itu berwarna kekuningan, diiringi suara batuk yang sangat keras dan menyakitkan.
Tit... Tit... Tit!
Oksimeter yang terpasang di jari telunjuk Nara mulai berbunyi dengan nada peringatan. Angka saturasi oksigennya merosot turun dari 98 ke 92. Detak jantungnya melonjak di atas 130 denyut per menit.
Nara kembali tersentak, kali ini seluruh tubuhnya kaku. Otot-ototnya menegang. Ia tidak sedang kejang penuh, namun tremor hebat melanda sekujur tubuhnya. Mulutnya mengeluarkan busa tipis bercampur muntahan, dan matanya berputar ke atas.
Ratih terbelalak. Darahnya terasa membeku di dalam pembuluh nadinya.
Ia tidak menduga ini. Ia sama sekali tidak menduga reaksinya akan sebrutal ini! Ia hanya berharap Nara demam sedikit, atau mual biasa yang akan membuat dokter khawatir. Tapi melihat putrinya menggelepar dengan bibir yang mulai membiru, dinding realitas Ratih runtuh seketika.
Itu bukan sekadar akting. Itu bukan manipulasi. Itu adalah kematian yang sedang mengetuk pintu.
"Nara! Astaghfirullah, Nara!" Ratih menjerit, kali ini kepanikannya bukan sandiwara. Rasa takut yang murni, primitif, dan nyata mencengkeram lehernya. Ia meraih handuk kecil dan mencoba membersihkan mulut Nara agar anak itu tidak tersedak muntahannya sendiri. "Sayang, sadar Nak! Jangan tutup matanya!"
Tubuh Nara terasa dingin dan licin oleh keringat. Napasnya terdengar seperti rintihan panjang yang menyayat hati. Gadis kecil itu tidak merespons panggilan ibunya.
Apa yang sudah kulakukan? Apa yang sudah kulakukan?! Jerit batin Ratih. Rasa bersalah menghantamnya seperti godam. Ia telah meracuni anaknya sendiri. Ia adalah pembunuh.
Insting keibuannya mengambil alih secara brutal. Ia harus memanggil bantuan. Ia harus menghentikan ini sebelum terlambat.
Ratih membalikkan badannya dengan kasar hingga kursinya terguling ke belakang dengan bunyi berdebam keras. Ia menerjang maju ke arah dinding di atas kepala ranjang. Di sana, sebuah tombol merah menyala terang: NURSE CALL - EMERGENCY.
Napas Ratih tersengal-sengal, air mata kepanikan mengalir deras di pipinya. "Bertahan, Sayang, Mama panggil dokter sekarang!"
Tangannya terulur dengan gemetar, jari telunjuknya sudah berjarak kurang dari satu sentimeter dari tombol merah itu. Ia siap menekannya keras-keras.
Namun, sebelum kulit jarinya menyentuh plastik merah itu, sebuah cahaya berpendar dari pinggir meja nakas.
Layar ponselnya menyala di tengah kegelapan ruangan.
Itu bukan sekadar notifikasi biasa. Itu adalah banner pemberitahuan dari Instagram. Seseorang baru saja menandai akunnya dalam sebuah unggahan dengan jumlah pengikut jutaan. Teks di notifikasi itu terbaca jelas: "Mari kita kawal terus kesembuhan Dek Nara. Ibu Ratih butuh kita malam ini."
Diikuti dengan getaran kedua. Notifikasi dari aplikasi m-banking.
Transfer Masuk: Rp 10.000.000 - Dari: Yayasan Amal Bakti.
Waktu serasa berhenti berdetak. Ruangan yang tadinya dipenuhi suara alarm mesin dan rintihan Nara yang mengerikan, tiba-tiba menjadi hening secara surealis di dalam kepala Ratih.
Jari telunjuknya yang siap menekan tombol Emergency menggantung di udara. Membeku.
Ratih menoleh perlahan ke arah ranjang. Ia melihat Nara. Putrinya sedang meringkuk kesakitan, terengah-engah mencari udara di antara sisa muntahan, dengan selang infus yang tertarik paksa hingga darah merembes keluar dari punggung tangannya. Penderitaan itu bergema di seluruh sudut ruangan. Ini bukan lagi tangisan buatan yang harus diulang tiga kali agar terlihat pas. Ini adalah penderitaan yang mentah, asli, dan tak terbantahkan.
Jika ia memencet tombol merah itu sekarang, perawat akan datang. Mereka akan sibuk, ia akan diusir ke lorong. Momen ini akan lewat begitu saja di bawah pengawasan medis.
Tapi jika ia merekamnya...
Ratih menatap tombol merah. Lalu menatap ponselnya. Sepuluh juta rupiah baru saja masuk hanya karena orang-orang mengingat cerita mereka. Berapa miliar yang akan ia dapatkan jika ia mengunggah video Nara dalam kondisi setragis ini? Video seorang ibu yang histeris dan sendirian menghadapi anak yang sekarat di tengah malam?
Rasa bersalah yang tadi sempat mencekiknya, kini menguap, digantikan oleh dorongan adrenalin yang gelap dan memabukkan. Ratih meyakinkan dirinya sendiri dalam sepersekian detik: Dokter bisa menunggu satu menit lagi. Hanya satu menit.
Perlahan, Ratih menarik tangannya menjauhi tombol merah.
Dengan gerakan lambat yang nyaris seperti orang terhipnotis, ia meraih ponselnya dari atas nakas. Layarnya yang terang memantulkan senyum tipis di wajah Ratih yang basah oleh air mata.
Ia menggeser layar untuk membuka kunci. Ia membuka aplikasi kamera. Ia mengarahkan lensa itu ke arah tubuh mungil anaknya yang sedang meregang nyawa, dan jarinya menekan tombol rekam.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar