Aku tidak tahu pernikahan bisa terjadi di ruang kerja — tanpa pelaminan, tanpa keluarga, tanpa cinta. Tapi sore itu, di antara meja kayu jati yang besar dan tumpukan dokumen perusahaan, aku mengucapkan ijab kabul kepada pria yang bahkan tidak mau menatap mataku.
Namaku Kinanti Ayu Pratiwi. Dua puluh tiga tahun. Yatim piatu. Dua tahun terakhir bekerja sebagai pelayan di kediaman keluarga Hartawijaya — keluarga konglomerat yang namanya tertulis di gedung-gedung tinggi Jakarta. Dan hari ini, di hadapan seorang penghulu yang bahkan tidak aku kenal namanya, aku resmi menjadi istri kedua dari putra sulung mereka.
Ruang kerja itu dingin. AC dipasang terlalu rendah, atau mungkin tubuhku saja yang tidak bisa berhenti gemetar. Aku duduk di kursi yang biasa kupakai untuk membersihkan debu-debunya. Tapi sekarang aku bukan pelayan. Sekarang aku — kata mereka — adalah "Nyonya Muda Kedua."
Gelar yang terdengar seperti olok-olok.
"Saya terima nikahnya, kawinnya, Kinanti Ayu Pratiwi binti Sumarno…"
Suara Arsenio Hartawijaya datar seperti membaca laporan keuangan. Tidak ada gemetar. Tidak ada haru. Tidak ada apa-apa, kecuali kehampaan yang membuatku merasa lebih sendirian daripada saat kuburkan ibuku dua tahun lalu. Aku menundukkan kepala. Membiarkan air mata yang sudah lama aku tahan, jatuh diam-diam ke pangkuan baju kebaya hitam yang dipinjamkan padaku — bahkan baju pengantinnya pun bukan milikku.
Ijab kabul selesai dalam empat menit lima belas detik. Aku menghitungnya. Karena di luar ruangan itu, di sudut paling dekat pintu, jam dinding antik milik Pak Hartawan berdetak tajam, seperti palu yang memaku peti mati.
"Sah," ujar penghulu pelan.
"Sah," sahut dua saksi.
"Sah," kataku, dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Arsenio bangkit dari kursinya tanpa menunggu salaman. Tanpa menatapku sekali pun. Tubuhnya yang tinggi melewati meja, dan dia berhenti tepat di sampingku — bukan untuk menggandeng tanganku, bukan untuk memasangkan cincin, tapi untuk membungkuk sedikit dan berkata pelan ke telingaku, dengan suara yang dingin seperti es:
"Jangan pernah memanggilku suami. Aku tidak akan pernah menyentuhmu."
Lalu dia pergi.
Pintu ruang kerja itu menutup dengan suara berat. Seperti penutup sebuah bab yang aku tidak pernah ingin tulis.
Aku tidak menangis. Aku tidak punya hak untuk menangis. Bukan di ruangan itu, tidak di hadapan Bu Halimah — ibu mertuaku — yang duduk di sudut ruangan dengan ekspresi seperti orang yang baru saja menyelesaikan transaksi properti. Dan tentu saja tidak di hadapan Vania.
Vania Adristi. Istri pertama Arsenio. Wanita yang seharusnya, menurut buku-buku drama yang pernah aku baca, hancur karena suaminya menikah lagi.
Tapi Vania tidak hancur.
Vania, dalam gaun sutra biru muda yang harganya mungkin setara dengan gaji setahunku dulu, menatapku dari sudut ruangan dengan senyum yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Senyum yang tidak menjangkau matanya. Senyum yang seperti predator yang baru saja melihat mangsanya masuk ke kandang.
"Selamat ya, Mbak Kinanti," dia bicara, suaranya lembut. Dia mendekat, mengusap pipiku dengan jari berkuteks merah darah. "Selamat datang di keluarga kami."
Aku mencium parfumnya. Wangi mawar yang membuat perutku mual.
"Terima kasih, Bu," jawabku, masih dengan posisi sebagai pelayan — masih memanggilnya "Bu," masih tidak berani menatap matanya.
Vania tertawa kecil, seperti aku baru saja melontarkan lelucon paling lucu di dunia. "Bu? Sayang, aku ini madu kamu sekarang. Kita selevel." Senyumnya melebar. "Atau... mungkin tidak selevel juga, ya."
Bu Halimah, dari sudut ruangan, terbatuk pelan. Tanda Vania harus berhenti. Vania menjauh dengan anggun, kembali ke kursinya, dan duduk seperti ratu di atas singgasana.
Aku menarik napas. Pelan. Hati-hati. Seperti mengisi bensin di tangki yang sudah mau bocor.
Bu Halimah berdiri. Wanita itu tinggi, tegap, rambutnya disanggul rapi dengan sedikit uban di kanan dan kiri. Wajahnya cantik untuk usianya yang hampir enam puluh — tapi cantik yang mengingatkanku pada patung marmer di museum. Indah, tapi tidak hidup.
"Kinanti," panggilnya. Suaranya mengalun pelan.
Aku menegakkan punggung. "Iya, Bu."
"Mulai malam ini, kamu pindah ke kamar utama wing barat. Kamarmu yang lama akan dibersihkan oleh pelayan baru."
Aku mengangguk.
"Pakaianmu yang lama, simpan di koper. Boleh, kalau kamu mau bawa pulang ke kampung — nanti, ketika semua sudah selesai." Beliau berjalan pelan ke arahku, dan berhenti tepat di depanku. Aku bisa mencium parfum mahal beliau — bercampur dengan tembakau yang samar. Pak Hartawan suka merokok cerutu di ruangan ini. "Pakaian baru sudah disiapkan di lemari kamar barumu. Sepatu juga. Perhiasan. Semua sudah ada."
"Terima kasih, Bu."
Beliau menatapku lama. Seperti menilai. "Dan satu hal lagi, Nak."
Aku menelan ludah. Bu Halimah hanya memanggilku "Nak" kalau ada pesan penting yang akan beliau sampaikan.
"Kamu punya waktu enam bulan untuk hamil," beliau berkata, suaranya datar seperti menyebut menu makan malam. "Kalau lewat, kontrakmu bisa diputus. Kamu paham, kan, apa konsekuensinya?"
Aku paham. Terlalu paham.
Konsekuensinya adalah utang biaya rumah sakit ibuku — yang menurut catatan Bu Halimah, total dengan bunga sudah mencapai delapan ratus juta rupiah. Angka yang tidak akan pernah bisa aku lunasi seumur hidup, bahkan kalau aku bekerja sebagai pelayan sampai lima puluh turunan.
Konsekuensinya adalah ancaman pengadilan dengan tuduhan pencurian — tuduhan rekayasa, dengan bukti rekayasa, yang akan disiapkan oleh pengacara terbaik keluarga ini.
Konsekuensinya adalah, aku akan masuk penjara. Atau lebih buruk, aku akan hilang. Karena keluarga seperti Hartawijaya tidak meninggalkan jejak ketika mereka ingin sesuatu hilang.
"Saya paham, Bu," jawabku.
Bu Halimah mengangguk puas. "Bagus. Selamat malam, Kinanti."
Beliau keluar. Vania mengikuti, tidak lupa melempar senyum predator-nya satu kali lagi ke arahku. Penghulu mengangguk dan keluar. Saksi-saksi mengangguk dan keluar. Pak Hartawan, yang sejak ijab tadi diam di kursi paling pojok, juga bangkit. Tapi sebelum keluar, beliau berhenti sebentar di sampingku.
Aku menundukkan kepala, siap menerima kata-kata dingin lain.
Tapi yang Pak Hartawan lakukan adalah... menatapku.
Lama.
Sangat lama.
Bukan tatapan benci. Bukan tatapan nafsu. Bukan tatapan apa-apa yang bisa aku jelaskan. Tatapan beliau seperti orang yang sedang melihat hantu masa lalunya. Mata tua itu, di balik kacamata bingkai emas, tampak basah.
"Kamu… mirip seseorang yang dulu pernah aku sakiti," beliau bergumam. Pelan. Seperti pengakuan dosa di kamar tidur.
Aku terdiam. Tidak mengerti.
Pak Hartawan menggelengkan kepala, seolah-olah menyadari telah berkata sesuatu yang tidak seharusnya. Lalu beliau pergi, meninggalkan aku sendirian di ruang kerja yang dingin itu.
Sendirian, dengan cincin sederhana di jariku — cincin yang Arsenio bahkan tidak mau memasangkan sendiri, dan harus dipasangkan oleh Bu Halimah seperti memasangkan label harga di pakaian.
Sendirian, dengan tubuh yang bukan lagi milikku.
Aku duduk di kursi itu lama. Sangat lama. Sampai langit di luar jendela berubah jingga, lalu ungu, lalu hitam. Sampai lampu-lampu mansion satu per satu menyala. Sampai aku mendengar langkah seseorang di luar pintu, dan suara salah satu pelayan — Bu Inah, yang dulu sering memberiku nasi sisa kalau aku belum makan — berkata pelan, "Nyonya Muda... kamarnya sudah siap."
Nyonya Muda.
Bu Inah. Yang dulu memanggilku "Nanti." Yang dulu mengajakku makan bareng di dapur belakang. Yang dulu memelukku ketika ibuku meninggal.
Sekarang memanggilku Nyonya Muda. Dengan nada yang aku tidak bisa baca — apakah itu sopan, atau jijik, atau kasihan.
Aku berdiri. Mengusap air mata yang sudah mulai mengering di pipi. Lalu aku berjalan pelan, membuka pintu ruang kerja, dan keluar — bukan sebagai Kinanti si pelayan, tapi sebagai Kinanti si "Nyonya Muda Kedua."
Kamar baruku ada di lantai dua wing barat. Besar. Lebih besar dari rumah ibuku di kampung. Tempat tidur berukir, kelambu sutra, lampu kristal, lemari pakaian yang lebih tinggi dari aku. Aku berdiri di tengah ruangan itu, masih dengan kebaya hitam yang dipinjamkan, dan untuk pertama kalinya sejak ijab tadi sore — aku menangis.
Bukan menangis pelan. Tapi menangis yang membuat seluruh tubuhku bergetar. Yang membuat lutut aku tidak bisa menahan badan. Aku jatuh duduk di lantai marmer dingin, memeluk lutut, dan menangis seperti anak kecil yang baru kehilangan ibunya — padahal aku sudah lama kehilangan ibuku.
Aku menangisi diriku sendiri. Yang bodoh. Yang lemah. Yang terjebak.
Aku menangisi ibuku. Yang sudah meninggal, dan sekarang aku tidak bisa lagi memeluknya.
Aku menangisi gadis kecil bernama Kinanti, yang dulu di kampung punya mimpi sederhana — punya warung kecil, suami yang baik hati, dua anak, rumah dengan kebun bunga melati. Mimpi yang sekarang dikubur dalam-dalam, di bawah marmer dingin sebuah mansion mewah.
Setelah aku tidak bisa menangis lagi, setelah air mata sudah tidak mau keluar lagi, aku berjalan pelan ke kamar mandi. Membasuh wajah dengan air dingin. Menatap diriku di cermin.
Mata aku merah. Pipi aku bengkak. Bibir aku gemetar.
Tapi di mata aku — di balik semua air mata itu — aku melihat sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
Aku melihat keputusan.
"Kinanti," aku berbicara pada diriku sendiri di cermin. Suaraku serak. "Kamu masuk ke sini hidup-hidup. Kamu akan keluar dari sini hidup-hidup. Kamu akan bertahan. Kamu akan melahirkan anak ini. Lalu kamu akan pergi, dan kamu akan membangun hidupmu lagi. Tidak peduli apa pun yang terjadi."
Aku mengangguk pada bayanganku sendiri.
"Bu, doakan Kinanti, ya," bisikku ke langit-langit. Bisikan untuk ibuku. "Doakan Kinanti kuat."
Aku belum tahu, malam itu, bahwa enam bulan ke depan akan jadi bulan-bulan paling berbahaya dalam hidupku. Aku belum tahu bahwa Vania, yang tampak seperti predator, ternyata adalah dalang yang jauh lebih busuk dari yang aku bayangkan. Aku belum tahu bahwa pria yang baru saja memperistri aku tanpa cinta, akan menjadi pria yang nantinya memohon-mohon di kakiku. Aku belum tahu bahwa kata-kata terakhir Pak Hartawan — "kamu mirip seseorang yang dulu pernah aku sakiti" — adalah pintu pertama menuju kebenaran tentang siapa diriku sebenarnya.
Yang aku tahu, malam itu, hanyalah satu hal:
Aku, Kinanti Ayu Pratiwi, gadis pelayan dari kampung, sekarang resmi menjadi madu di singgasana emas keluarga Hartawijaya.
Dan aku belum tahu — belum bisa tahu — bahwa singgasana emas itu, suatu hari nanti, akan menjadi milikku sendiri.
Tapi malam itu, di kamar besar yang asing, dengan kebaya hitam yang dipinjamkan dan cincin sederhana yang tidak aku pilih, aku hanya seorang gadis yang ketakutan.
Seorang gadis yang sedang meminta restu pada langit, sebelum perang yang akan dia hadapi sendirian.
Lalu, di tengah keheningan malam itu, terdengar ketukan pelan di pintu kamarku.
Tiga ketukan. Tegas. Tapi pelan.
Aku menahan napas. Menatap pintu dengan jantung yang berdegup kencang.
Siapa?
Vania? Dia tidak akan mengetuk — dia akan membuka pintu seenaknya.
Bu Halimah? Beliau sudah selesai memberi pesan tadi.
Pak Hartawan? Tidak mungkin di jam segini.
Lalu, di balik pintu itu, terdengar suara yang membuat seluruh tubuhku membeku.
Suara Arsenio.
"Buka pintunya, Kinanti."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar