Aku selalu mengira surat dari orang mati hanya ada di novel-novel lama yang aku baca diam-diam di dapur saat ibuku masih hidup. Aku tidak pernah berpikir akan menerima satu — apalagi dari pria yang darahnya mengalir di tubuhku, di siang hari yang terik, di kamar mansion mewah yang asing.

Pintu kamarku aku kunci dari dalam.

Aku duduk di lantai marmer, di sudut yang aku kira tidak terjangkau kamera — di belakang lemari pakaian besar, di pojok yang dipisahkan oleh tirai jendela panjang. Tempat satu-satunya di kamar ini di mana aku merasa bisa bernapas tanpa diawasi.

Map plastik dari Reza aku letakkan di pangkuan. Pulpen perekamnya sudah aku letakkan di atas meja rias — agar dia bisa merekam frekuensi sinyal kamera selama lima menit, seperti petunjuk Reza.

Sekarang aku tinggal membuka amplop coklat itu.

Tanganku gemetar saat membuka segelnya. Di dalamnya, hanya satu lembar surat — kertas tebal, berkualitas tinggi, dengan tulisan tangan yang sama dengan yang ada di amplop depan. Tulisan tangan yang tegas, miring sedikit ke kanan, seperti tulisan tangan yang biasa menulis dokumen-dokumen penting.

Aku mulai membaca.

Kinanti.
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Dua puluh tiga tahun aku menyiapkan kalimat pertama untuk surat ini, dan ketika saatnya datang, aku malah menulis namamu seakan-akan kita pernah bertemu.
Kita memang pernah bertemu, sebenarnya. Saat kamu masih dalam kandungan ibumu. Aku masih ingat bagaimana ibumu — Sutiarni — meletakkan tangan aku di perutnya pada bulan kedelapan, dan kamu menendang. Tendangan kuat. Aku berkata padanya saat itu, "Anak ini akan jadi perempuan yang tidak mudah dijatuhkan." Aku tidak salah.
Aku adalah Bramantyo Pratiwa. Ayahmu. Aku selamat dari kebakaran pabrik tahun 2002 — selamat dengan luka bakar di tujuh puluh persen tubuh dan paru-paru yang permanen rusak. Tapi yang lebih sakit dari luka bakar adalah ketika aku sadar — orang yang membakar pabrik itu, orang yang menyuap polisi untuk menyatakan aku mati, orang yang merampas perusahaan dan rumah dan reputasi keluargaku — adalah saudara aku sendiri. Hartawan Hartawijaya.
Aku sembunyi di Singapura selama dua puluh tiga tahun. Membangun ulang dari nol dengan identitas baru. Anakku, yang belum pernah kamu temui, berusia tiga puluh sembilan tahun sekarang — dua orang, kembar, dari pernikahan pertamaku dengan Yuliana. Mereka sekarang sudah tahu tentangmu. Mereka menunggu, sama seperti aku.
Aku tidak akan menyentuh kehidupanmu sekarang, Kinanti. Belum. Karena kalau aku muncul terlalu cepat, kamu akan dalam bahaya yang jauh lebih besar daripada sekadar pernikahan paksa. Vania Adristi — istri pertama Arsenio — bukan hanya sosialita biasa. Ada nama lain di balik nama Vania, nama yang membuat aku menahan diri selama lima tahun terakhir agar tidak masuk ke Indonesia.
Aku tidak akan mengatakannya sekarang. Belum aman. Tapi waspadai dia. Dia bukan hanya istri Arsenio. Dia adalah anak buah seseorang yang ingin Hartawijaya jatuh — tapi bukan untuk balas dendam keluarga kita, melainkan untuk kepentingan orang ketiga.
Apa yang harus kamu lakukan sekarang: bertahan. Diam. Pakai kepintaran ibumu — kamu mewarisinya. Pak Hartawan, meskipun pria yang menghancurkanku, sekarang adalah aliansi terbaikmu di rumah itu. Dia menyimpan rasa bersalah selama dua puluh tiga tahun, dan rasa bersalah itu sekarang adalah perlindunganmu.
Aku akan menghubungi kamu lagi. Mungkin minggu depan. Mungkin bulan depan. Tergantung situasi. Tapi sebelum itu — aku ingin kamu tahu satu hal.
Aku tidak meninggalkan ibumu, Kinanti. Aku dipaksa pergi. Dan ibumu — Sutiarni — tahu aku masih hidup. Dialah yang memintaku tetap "mati" demi keselamatanmu. Aku tidak pernah berhenti mengirim uang, mengirim kabar lewat perantara, sampai dia meninggal dua tahun lalu. Biaya rumah sakitnya — yang katanya dibayar Bu Halimah — sebenarnya aku yang bayar. Bu Halimah hanya jadi perantara, dan dia menggunakannya untuk menjebakmu.
Bakar surat ini setelah kamu baca. Jangan simpan apa pun yang bisa dijejaki. Aku mencintaimu, anakku. Bertahanlah. Aku akan datang.
— Ayahmu, Bramantyo Pratiwa.

Aku membaca surat itu tiga kali.

Tiga kali, dan setiap kali aku membacanya, ada bagian baru yang menusuk dada — seperti pisau yang tertarik perlahan dan dicelupkan kembali.

Biaya rumah sakit ibumu — sebenarnya aku yang bayar.

Berarti utang delapan ratus juta rupiah yang Bu Halimah pakai untuk menjebakku — utang yang katanya membuat aku harus menikahi Arsenio sebagai "kompensasi" — adalah utang palsu. Ibuku tidak pernah berutang pada keluarga Hartawijaya.

Aku duduk di lantai marmer dengan kertas itu di tangan, dan untuk pertama kalinya sejak ijab kabul kemarin sore, aku tidak menangis.

Aku tertawa.

Tawa pendek. Pelan. Pahit. Tapi tawa.

Karena akhirnya, akhirnya, aku punya senjata.

Aku tahu utangnya palsu. Aku tahu pernikahan ini tidak punya dasar legal yang adil. Aku tahu orang yang seharusnya jadi penolong (Bu Halimah) sebenarnya adalah pemerasnya. Aku tahu istri pertama (Vania) adalah anak buah orang ketiga yang tujuannya tidak hanya jadi Nyonya Utama. Aku tahu ayah biologisku masih hidup, kaya, dan menungguku.

Senjata.

Tapi seperti senjata pada umumnya — kalau aku menggunakannya terlalu cepat, akulah yang akan terkena pelurunya sendiri.

Aku berdiri pelan. Berjalan ke kamar mandi. Menutup pintu rapat-rapat. Menyalakan air keran di wastafel — agar suaranya menutupi suara apa pun yang aku lakukan.

Lalu aku membuka surat itu satu kali lagi. Membacanya untuk yang terakhir kali, menghafalkan setiap kalimat, setiap nama, setiap petunjuk. Ketika aku yakin sudah hafal di luar kepala, aku menyalakan korek api yang aku ambil diam-diam dari laci dapur tadi pagi — kebiasaan pelayan, selalu siap dengan korek di saku.

Aku membakar surat itu di atas wastafel.

Api menjilat kertas tebal itu pelan, mengubahnya jadi abu hitam. Aku menyiramnya dengan air mengalir, membiarkan abunya hanyut ke saluran. Tidak ada sisa. Tidak ada bukti.

Saat aku keluar dari kamar mandi, jam menunjukkan pukul setengah satu siang.

Sudah tiga jam sejak aku menerima surat itu. Tiga jam aku terkunci di kamar.

Dan tepat saat aku berpikir tentang itu, terdengar ketukan keras di pintu.

"Kinanti! Buka pintunya!"

Suara Bu Halimah.

Aku merapikan pakaian, memastikan kalung medali tetap tersembunyi di balik baju, lalu membuka pintu.

Bu Halimah berdiri di koridor dengan ekspresi yang sudah aku kenali — ekspresi nyonya rumah yang sedang merasa diabaikan oleh menantunya.

"Saya panggil dari tadi! Kamu ke mana saja?" tanya beliau, masuk ke kamar tanpa permisi.

Aku mundur memberinya jalan. "Saya tidur sebentar, Bu. Kepala saya pusing."

"Tidur? Di tengah hari? Sehari setelah pernikahan?" Bu Halimah berdiri di tengah ruangan, melihat kanan-kiri seperti memeriksa apakah ada yang berubah. "Bagaimana kamu mau hamil kalau kamu tidur sepanjang waktu, sayang? Hamil itu butuh stamina."

Mata beliau bergerak — ke meja rias, di mana pulpen perekam Reza tergeletak. Tangan aku otomatis ingin bergerak menutupinya, tapi aku menahan diri. Bergerak terlalu cepat justru akan menarik perhatian.

"Saya akan ke dapur sebentar lagi, Bu," aku menjawab dengan nada serendah mungkin. "Mau bantu menyiapkan makan siang."

"Bantu menyiapkan?" Bu Halimah tertawa. "Sayang, kamu Nyonya Muda Kedua. Bukan pelayan lagi. Berhenti merendahkan diri kamu sendiri di hadapan staf — itu memalukan keluarga."

Aku menundukkan kepala. "Maaf, Bu. Saya akan turun untuk makan siang saja."

"Bagus. Dan satu hal—" Bu Halimah berbalik di pintu, "—malam ini ada makan malam keluarga. Pak Hartawan, saya, Vania, Arsenio, dan kamu. Pakai gaun yang sudah saya siapkan di lemari. Yang biru tua. Bukan baju kebaya kampung kamu yang kemarin. Kamu sudah jadi keluarga Hartawijaya — penampilan harus sesuai dengan posisi."

"Baik, Bu."

"Dan Kinanti."

"Iya, Bu?"

Bu Halimah menatapku dengan tatapan yang dingin. "Diam selama makan malam. Jawab kalau ditanya. Jangan banyak ulah. Jangan ada drama. Vania sudah berbaik hati menerima kehadiranmu di meja keluarga — jangan kamu salahgunakan kebaikannya."

Aku mengangguk.

Bu Halimah keluar.

Aku menutup pintu, menguncinya kembali, lalu — akhirnya — bersandar di pintu sambil menarik napas panjang.

Pulpen perekam Reza masih berkedip kecil di meja rias. Tugasnya selesai. Aku mengambilnya, memutar bagian atasnya untuk mematikan, dan menyimpannya kembali di map plastik.

Sekarang aku punya satu bukti pengawasan terhadap diriku. Satu langkah lebih dekat ke perang.

Tapi sebelum perang itu, aku harus bertahan dulu di makan malam keluarga malam ini.


Gaun biru tua yang Bu Halimah siapkan ternyata terlalu pas di tubuhku. Bahan satin yang berat, potongan yang menonjolkan pinggang, dengan leher yang sedikit terbuka — bukan gaya yang aku terbiasa pakai. Tapi aku memakainya. Aku tidak punya pilihan. Aku menyisir rambut, mengikatnya rapi ke belakang, lalu memakai sedikit gincu warna bata yang juga sudah disiapkan.

Aku menatap diriku di cermin.

Wanita yang menatap balik dari cermin itu... bukan Kinanti pelayan kampung. Bukan juga Kinanti yang menangis di lantai marmer tadi malam.

Wanita itu adalah seseorang yang baru.

Dan aku, untuk sesaat, hampir tidak mengenalinya.

Aku turun ke ruang makan utama. Pukul tujuh malam tepat. Meja sudah disiapkan dengan empat piring porselen mewah — tunggu. Empat? Bukan lima?

Aku berhenti di ambang pintu.

Pak Hartawan duduk di kepala meja. Bu Halimah di kanan beliau. Vania di kiri beliau. Dan kursi di sebelah Vania — tempat yang seharusnya untuk Arsenio — kosong.

Tempat untuk aku ada di seberang Bu Halimah, di sisi Vania, di kursi paling jauh dari Pak Hartawan.

"Selamat malam," aku menyapa pelan.

"Duduk, Kinanti." Pak Hartawan menjawab tanpa menatapku — kembali ke nada formal seperti hari-hari ketika aku masih pelayan. Ini taktik beliau — supaya Vania dan Bu Halimah tidak curiga ada hubungan baru di antara kami.

Aku duduk. Vania mengusap rambutku dengan jari pelan, gerakan keibuan yang penuh racun.

"Cantik sekali kamu malam ini, sayang," ujarnya. "Ternyata gaun memang membuat orang berbeda, ya? Aku hampir tidak mengenali kamu."

"Terima kasih, Mbak Vania."

"Arsenio mana?" tanya Bu Halimah.

"Masih di kantor," Pak Hartawan menjawab. "Ada urusan mendadak. Beliau bilang menyusul kalau sempat."

"Sudah lima hari Arsen pulang larut," Vania berkomentar dengan nada cemberut yang sengaja dipalsukan. "Sebagai istri, aku jadi sedih. Tapi ya, bisnis dia memang sedang sibuk."

Aku menatap Vania sekilas. Wanita itu pintar bermain peran — bahkan dengan ekspresi sedih yang dipalsukan, dia terlihat sempurna. Seperti aktris yang sudah bertahun-tahun mengasah kemampuannya.

Pelayan datang, membawa hidangan pertama. Sup krim jagung dengan udang. Aku menatap mangkuk porselen di hadapanku, dan tiba-tiba aku ingat — ini sup yang sama yang kemarin sore aku tumpahkan di gaun Vania. Sup yang menjadi alasan Bu Halimah menamparku.

Vania menatapku dengan senyum kecil. "Coba, sayang. Kali ini, jangan tumpahkan, ya?"

Aku mengangkat sendok. Tanganku tidak gemetar. Dua puluh empat jam yang lalu, mungkin aku akan gemetar. Tapi sekarang aku punya senjata.

Aku mulai makan dengan tenang.

Pak Hartawan dan Bu Halimah berbicara tentang acara amal akhir pekan. Vania sesekali menyela dengan komentar manis. Aku diam, makan dengan tata krama yang aku pelajari dari menonton — dua tahun jadi pelayan yang melayani makan malam keluarga Hartawijaya mengajarkan banyak hal.

Lalu, di tengah hidangan utama — daging panggang yang dibumbui rosemary — Bu Halimah meletakkan pisaunya pelan di atas piring.

"Kinanti," beliau memanggil.

"Iya, Bu?"

"Saya dengar kamu terima paket pagi tadi. Dari pengirim anonim."

Suasana di meja makan tiba-tiba terasa dingin. Aku merasakan tatapan Vania dan Pak Hartawan padaku — Vania dengan rasa ingin tahu yang lapar, Pak Hartawan dengan kekhawatiran yang tersembunyi.

"Iya, Bu."

"Dari siapa?"

Aku mengangkat wajah, menatap Bu Halimah tepat di mata. Tenang. Tidak gemetar.

"Dari notaris keluarga ibu saya, Bu. Yang masih menyimpan beberapa dokumen lama. Surat warisan tambahan."

Bu Halimah menatapku lama.

"Kenapa anonim?"

"Mungkin agar tidak jadi masalah dengan keluarga di kampung, Bu. Beberapa saudara ibu masih sengketa soal warisan. Notaris itu tidak mau jadi pihak ketiga."

"Hmm." Bu Halimah mengangguk pelan. Tapi dia tidak tampak puas. "Saya boleh lihat suratnya, Kinanti?"

Aku tersenyum kecil. "Sudah saya bakar setelah baca, Bu. Notaris itu meminta begitu — setelah saya baca, surat dibakar agar tidak tersebar."

"Dibakar?" Bu Halimah mengerutkan dahi.

"Iya, Bu."

Hening.

Lalu, dengan kecepatan yang tidak aku duga sama sekali, Bu Halimah bangkit dari kursinya, berjalan mengelilingi meja, dan — dengan tangan kiri — menampar aku.

Keras.

Pipi kiriku, yang sudah hampir sembuh dari tamparan kemarin, kembali terbakar.

Sendok dan pisau aku jatuh ke piring dengan suara nyaring. Vania tersenyum kecil — senyum yang penuh kepuasan, yang dia coba sembunyikan tapi tidak berhasil. Pak Hartawan menutup matanya, seperti menahan sesuatu.

"Saya tidak suka pembohong di rumah ini, Kinanti," ujar Bu Halimah dengan suara yang tenang tapi tajam. "Dan saya tahu kamu berbohong. Lain kali — pikirkan baik-baik sebelum membuat keputusan apa pun yang melibatkan dokumen, paket, atau surat yang masuk ke rumah ini. Karena di rumah ini, tidak ada yang luput dari mata saya."

Aku mengusap pipi yang panas. Tapi aku tidak menangis. Aku tidak menundukkan kepala.

Aku menatap Bu Halimah balik. Tepat di mata.

"Saya mengerti, Bu," jawab aku. Dengan suara yang stabil. Dengan tatapan yang dingin.

Bu Halimah tampak terkejut sejenak. Mungkin selama dua tahun aku jadi pelayan, beliau tidak pernah melihat aku menatap balik seperti ini.

Beliau berbalik, kembali ke kursinya. "Lanjutkan makan."

Aku mengangkat sendok kembali. Melanjutkan makan dengan tenang. Pipi kiri masih panas, tapi aku tidak peduli. Karena di kepalaku, satu kalimat dari surat ayah biologisku terus bergema:

Kamu mewarisi kepintaran ibumu.

Pintu ruang makan terbuka tiba-tiba.

Arsenio masuk. Masih dalam setelan bisnis lengkap, tas kantor di tangan kanan, jas yang masih terpasang. Beliau berhenti di ambang pintu, melihat seluruh meja makan — ayahnya yang tegang, ibunya yang berdiri di posisi yang aneh, Vania yang tersenyum, dan aku — dengan pipi kiri merah dan jejak tamparan yang masih jelas.

Arsenio menatap pipiku.

Lalu dia menatap ibunya.

Lalu — pertama kali aku lihat dalam dua tahun aku mengamati pria ini diam-diam — ekspresi Arsenio berubah jadi sesuatu yang membuat seluruh ruangan ikut membeku.

Dia marah.

Sungguh-sungguh marah.

"Bu," ujarnya pelan. Tapi suara yang pelan itu membawa berat yang lebih dari teriakan. "Bisa kita bicara berdua. Sekarang."