Ada banyak cara membunuh seseorang. Aku baru tahu salah satunya adalah dengan memberinya kemewahan yang tidak dia inginkan, di tempat yang dia benci, bersama orang-orang yang ingin dia hancur.

Tiga ketukan itu masih bergema di telingaku. Tegas. Pelan. Tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhku membeku di tengah kamar utama wing barat.

"Buka pintunya, Kinanti."

Suara Arsenio. Aku tidak salah dengar.

Aku menatap pintu kayu jati besar di hadapanku, jantungku berdegup kencang seperti genderang. Tadi sore — empat jam yang lalu — pria yang sama berkata di telingaku, "Jangan pernah memanggilku suami. Aku tidak akan pernah menyentuhmu." Sekarang dia mengetuk pintu kamarku tengah malam, memintaku membuka.

Apa yang berubah?

Atau apa yang dia mau?

Tanganku gemetar saat menggapai gagang pintu. Aku masih memakai kebaya hitam yang dipinjamkan — belum sempat berganti, belum sempat membuka pakaian, karena aku terlalu lelah untuk melakukan apa pun selain menangis di lantai marmer dingin.

Aku menarik napas. Membuka pintu.

Arsenio berdiri di sana.

Tapi bukan Arsenio yang aku lihat empat jam yang lalu. Bukan Arsenio dengan setelan jas hitam mahal yang melewati ijab kabul tanpa menatap mataku. Bukan Arsenio dengan suara dingin yang menusuk telinga.

Pria yang berdiri di depanku sekarang masih memakai kemeja putih yang sama, tapi sudah dibuka dua kancing teratasnya. Rambut hitamnya yang tadi rapi, sekarang sedikit berantakan. Mata coklat tuanya... merah. Bukan merah karena marah. Lebih seperti orang yang baru saja minum berlebihan, atau orang yang baru saja berpikir terlalu lama sampai matanya lelah.

Di tangan kanannya, dia memegang sebuah kotak putih kecil. Kotak P3K.

"Pipimu bengkak," dia berkata.

Aku terdiam. Bengkak?

Tanganku otomatis menyentuh pipi kananku. Dan di situ aku merasakannya — sedikit panas, sedikit nyeri. Tamparan Bu Halimah tadi sore di meja makan, ketika aku "tidak sengaja" menumpahkan sup ke gaun Vania. Aku hampir lupa.

"Saya... tidak apa-apa, Pak," jawabku pelan, masih terbiasa memanggil "Pak."

Arsenio mengernyitkan dahi. Sesuatu yang seperti rasa sakit melintas di matanya selama setengah detik, lalu hilang.

"Buka pintunya lebih lebar," ujarnya. "Aku tidak mau bicara di koridor."

Aku membuka pintu, mundur selangkah. Arsenio masuk, tapi tidak melewati ambang ruangan. Dia hanya berdiri di sana, di antara koridor dan kamar — seolah-olah dia juga tidak yakin apa yang sedang dia lakukan.

Dia menyodorkan kotak P3K itu kepadaku.

"Kompres dingin di dalamnya. Pakai sebelum tidur. Kalau bengkaknya turun, jangan lupa pakai salep ini—" dia menunjuk salah satu tabung kecil di kotak, "—tiga kali sehari. Akan kering dalam dua hari."

Aku menerima kotak itu dengan tangan yang masih gemetar. "Te... terima kasih, Pak."

"Arsenio."

"Maaf?"

"Namaku Arsenio." Dia menatapku, tatapan yang sulit aku baca. "Bukan Pak. Kalau memanggil 'suami' kamu tidak nyaman, panggil namaku saja."

Aku mengangguk pelan, tidak berani bicara apa-apa.

Hening sejenak. Hanya terdengar detak jam dinding di kamar dan suara samar AC.

Aku pikir Arsenio akan langsung pergi setelah memberikan kotak P3K. Tapi dia tidak. Dia berdiri di sana, di ambang pintu, seakan-akan ada sesuatu lain yang ingin dia katakan tapi tidak bisa keluar.

Akhirnya, dia membuka mulut.

"Kinanti."

"Iya?"

"Aku..." Dia berhenti. Mengusap wajahnya dengan tangan kiri. "Aku tidak tahu apa yang terjadi sore tadi. Maksudku — aku tahu. Aku menikahimu. Tapi aku tidak..." Dia menggelengkan kepala, frustrasi pada dirinya sendiri. "Lupakan."

Dia berbalik, akan pergi.

"Pak — Arsenio." Suaraku keluar tanpa aku sadari.

Dia berhenti. Tidak menoleh, tapi berhenti.

"Saya..." aku menelan ludah. "Saya juga tidak ingin pernikahan ini terjadi."

Bahuku Arsenio menegang. Dia menoleh perlahan. Tatapannya yang tadi dingin, sekarang berubah jadi sesuatu yang lebih kompleks — seperti orang yang tiba-tiba menyadari dia mungkin salah menilai sesuatu.

"Kamu juga tidak ingin?"

"Tidak, Pak — Arsenio."

"Lalu kenapa kamu setuju?"

Aku menundukkan kepala. Pertanyaan itu terlalu rumit untuk aku jawab tengah malam ini, dengan pria yang baru saja menjadi suamiku tapi tidak akan pernah menyentuhku, di kamar yang bukan milikku, di rumah yang seperti penjara emas.

"Karena saya tidak punya pilihan," jawabku akhirnya. Pelan. Jujur.

Arsenio menatapku lama. Sangat lama. Sampai aku merasa tatapannya menembus tulang.

Lalu dia mengangguk. Sekali. Pelan.

"Aku juga tidak punya pilihan, Kinanti," dia bergumam. "Tapi aku akan mencari tahu siapa yang sebenarnya membuat keputusan ini. Dan kalau aku menemukan kebenarannya, aku akan—"

Dia berhenti. Seakan-akan menyadari dia berkata terlalu banyak.

"Selamat malam," ujarnya pendek. Lalu pergi.

Pintu kamar kututup pelan. Aku berdiri di sana, memegang kotak P3K putih itu seperti memegang harta karun.

Apa-apaan tadi?

Aku duduk di tepi tempat tidur. Membuka kotak itu. Di dalamnya: kompres dingin instan, salep memar, beberapa plester, dan — di sudut — sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan.

Kalau ada yang menyakitimu di rumah ini, beritahu aku. Bukan ibuku. Bukan Vania. Aku.

Aku menatap catatan itu lama. Tulisan tangannya tegas, miring ke kanan, dengan sapuan yang terburu-buru. Seakan-akan ditulis dalam beberapa detik sebelum dia memutuskan mengetuk pintuku.

Aku tidak tahu apa yang harus aku rasakan.

Marah? Karena ini terlalu sedikit dan terlambat?

Bersyukur? Karena setidaknya satu orang di rumah ini tidak ingin aku mati?

Atau curiga? Karena di film-film drama yang pernah aku tonton di dapur, suami-suami yang kelihatan baik di awal biasanya yang paling berbahaya di akhir?

Aku menyimpan catatan itu di antara halaman buku doa milik ibuku — satu-satunya buku yang aku bawa dari kampung. Lalu aku berganti pakaian. Mencuci muka. Memakai kompres dingin di pipi. Dan akhirnya, jam dua pagi, aku berbaring di tempat tidur ukir yang terlalu besar untuk satu orang.

Aku tidak bisa tidur.

Bukan karena kasurnya tidak nyaman — kasur ini mungkin yang paling nyaman yang pernah aku tiduri seumur hidup. Tapi karena pikiranku berputar-putar seperti gasing.

Kenapa Arsenio mengatakan dia juga tidak punya pilihan?

Kalau bukan dia yang memutuskan menikahiku, lalu siapa?

Bu Halimah? Mungkin. Tapi kalau iya, kenapa Arsenio bilang dia akan "mencari tahu"? Bukankah ibunya sendiri akan menjadi tersangka pertama yang dia curigai?

Pak Hartawan? Mata tua itu, yang menatapku dengan tatapan seperti melihat hantu masa lalunya. "Kamu mirip seseorang yang dulu pernah aku sakiti." Apa maksudnya?

Atau... Vania?

Tapi tidak masuk akal. Vania adalah istri pertama. Untuk apa dia memilih madu sendiri? Mana ada wanita yang sukarela mendatangkan saingan ke rumahnya?

Aku menggelengkan kepala. Terlalu rumit. Aku terlalu lelah.

Aku menutup mata, mencoba memejamkannya. Tapi tepat saat aku mulai mengantuk, aku merasakan sesuatu yang janggal.

Sesuatu yang... mengawasi.

Aku membuka mata. Menatap langit-langit. Lampu kamar sudah aku matikan, hanya lampu tidur kecil di nakas yang menyala. Bayangan-bayangan jatuh di langit-langit dari ukiran kaki tempat tidur.

Tapi ada satu titik di sudut kamar — di dekat pendingin ruangan — yang tampak janggal. Seperti ada cahaya kecil. Sangat kecil. Berkedip pelan, hijau samar.

Aku duduk. Menyalakan lampu nakas.

Mendekati sudut itu pelan-pelan.

Dan di sana — diselipkan di antara grill AC dan tembok, dengan posisi yang sengaja diatur agar mengarah ke tempat tidur — aku menemukannya.

Sebuah kamera kecil. Sebesar kancing. Dengan lampu LED hijau yang berkedip pelan.

Tanganku gemetar. Aku menyentuhnya pelan, hampir tidak percaya. Tapi tidak — itu nyata. Kamera. Hidup. Sedang merekam.

Seseorang sedang mengawasi aku.

Aku langsung menutup kamera itu dengan kain handuk yang aku ambil dari kamar mandi. Berdiri di tengah kamar, jantungku berdegup tiga kali lebih cepat dari biasanya.

Siapa?

Arsenio? Tidak — kalau dia, dia tidak akan repot-repot mengetuk pintu malam ini hanya untuk mengantarkan kotak P3K.

Bu Halimah? Mungkin. Untuk memantau "investasinya" — memastikan aku benar-benar hamil.

Atau Vania?

Aku berkeliling kamar pelan. Memeriksa semua sudut. Di balik cermin besar — tidak ada. Di belakang lukisan — tidak ada. Di bawah meja rias — kosong. Tapi kemudian, di balik pot bunga anggrek di sudut lain, aku menemukan kamera kedua.

Dan di balik bingkai foto kosong di atas meja kerja kecil, kamera ketiga.

Tiga kamera.

Tiga sudut. Mengawasi tempat tidur, mengawasi pintu kamar mandi, mengawasi meja rias — tempat aku biasanya melepas pakaian.

Aku berlutut di lantai marmer, memegangi perutku. Mau muntah. Bukan karena fisik. Tapi karena rasa ngeri yang menjalari seluruh tubuhku.

Ini bukan hanya pemantauan, ini... ini eksploitasi.

Siapa pun yang memasang ini, mereka tidak hanya ingin tahu apakah aku hamil. Mereka ingin merekam aku — dalam keadaan paling rentan.

Aku menutup ketiga kamera dengan handuk, kain, dan apa pun yang bisa aku temukan. Lalu aku duduk di lantai, di tengah kamar, memeluk lutut, dan untuk pertama kali sejak ijab tadi sore — aku merasakan sesuatu yang baru.

Bukan sedih.

Bukan takut.

Tapi marah.

Marah yang dingin. Marah yang tenang. Marah yang membuat pikiranku jernih.

Mereka pikir aku hanya pelayan kampung yang tidak akan menyadari kamera tersembunyi. Mereka pikir aku terlalu bodoh untuk melawan. Mereka pikir aku akan menerima saja semua perlakuan ini sampai aku melahirkan, lalu pergi dengan amplop uang.

Mereka salah.

Aku mengeluarkan ponsel lipat lama yang masih aku simpan dari saku kebaya hitamku — ponsel sederhana dengan kartu prabayar yang aku bayar sendiri dari uang gaji pelayan dulu. Aku mencari satu nomor di kontaknya. Nomor yang baru beberapa hari ini aku simpan, setelah pertemuan tak terduga di lobi mansion.

Reza Adyatma.

Pengacara muda yang dulu sering main bersamaku saat masih kecil di kampung. Yang sekarang — entah karena takdir, entah karena kebetulan — bekerja di firma hukum yang menangani keluarga Hartawijaya.

Aku mengetik pesan dengan tangan gemetar:

Reza, ini Kinanti. Aku butuh bantuanmu. Besok pagi, bisakah kamu datang ke mansion dengan alasan konsultasi hukum apapun? Aku perlu bicara berdua. Penting.

Aku menatap pesan itu lama. Apakah aku terlalu cepat? Apakah ini bahaya?

Tapi kemudian aku ingat catatan tulisan tangan Arsenio di kotak P3K: "Kalau ada yang menyakitimu di rumah ini, beritahu aku. Bukan ibuku. Bukan Vania. Aku."

Tidak. Aku belum bisa percaya pada Arsenio. Belum.

Aku belum bisa percaya pada siapa pun di rumah ini.

Aku kirim pesan ke Reza.

Tiga detik kemudian, ponselku bergetar.

Pagi jam 9. Aku akan ada di sana. Hati-hati. Jangan percaya siapa pun sampai aku tiba.

Aku mengembuskan napas. Pelan.

Memasukkan ponsel kembali ke saku. Berjalan ke tempat tidur. Berbaring dengan mata terbuka.

Di balik handuk-handuk yang menutupi kamera, aku tahu — siapapun yang sedang menonton, mereka melihat aku berbaring tanpa gerakan. Tampak menyerah.

Tapi di dalam kepalaku, perang sudah dimulai.

Mereka tidak tahu — belum tahu — bahwa gadis pelayan yang mereka kira lemah ini, baru saja memutuskan satu hal yang akan mengubah seluruh permainan:

Aku akan keluar dari sini hidup-hidup. Tapi sebelum aku keluar, aku akan tahu siapa kalian sebenarnya. Dan kalau ada yang harus jatuh, aku akan pastikan mereka jatuh sendiri di lubang yang mereka gali.

Di luar jendela, langit Jakarta mulai berubah ungu. Pagi datang.

Pagi pertama aku sebagai Nyonya Muda Kedua.

Pagi pertama dari perang yang akan berlangsung jauh, jauh lebih lama dari yang aku — atau siapa pun di rumah ini — bisa bayangkan.

Dan saat aku akhirnya tertidur, dengan jam menunjukkan pukul lima pagi, aku tidak tahu satu hal:

Bahwa Arsenio, di kamarnya sendiri di seberang wing rumah, juga tidak bisa tidur. Dia duduk di meja kerjanya, menatap layar laptop yang terbuka pada satu file rahasia — file yang baru tadi malam dia minta dari kepala keamanan pribadinya.

File berjudul: "Kinanti Ayu Pratiwi — Rekam Lengkap."

Dan di dalam file itu, ada sesuatu yang tidak masuk akal.

Sesuatu tentang ibu kandung Kinanti — Sutiarni — yang menurut catatan resmi meninggal dunia karena penyakit ginjal dua tahun lalu.

Tapi di file rahasia itu, ada catatan kaki kecil yang tidak ada di catatan resmi. Catatan kaki yang membuat Arsenio mengernyitkan dahi sampai larut malam.

Sutiarni — istri Bramantyo Pratiwa? Kasus 2002. Belum ditelusuri lebih lanjut.

Bramantyo Pratiwa.

Nama yang Arsenio tidak pernah dengar.

Tapi nama yang, kalau dia menanyakannya kepada ayahnya keesokan harinya, akan membuat Pak Hartawan menumpahkan kopinya untuk pertama kali dalam tiga puluh tahun.