"Ada tiga aturan dalam rumah ini," ujar Vania sambil menyesap teh herbalnya dengan anggun. "Satu: aku tetap nyonya utama. Dua: kamu tidak boleh muncul di acara keluarga. Tiga: setelah anak lahir, kamu pergi tanpa membawa apa-apa, termasuk anak itu."
Aku duduk di seberangnya di taman sarapan kaca — ruangan kecil dengan dinding kaca yang menghadap kolam ikan koi. Pukul tujuh pagi. Aku baru tidur dua jam. Mata aku perih, tapi aku tidak boleh menunjukkannya.
Vania, sebaliknya, terlihat sempurna. Gaun pagi berwarna salem yang pas di tubuhnya. Rambut yang baru dicuci, masih basah sedikit, dibiarkan tergerai. Tidak ada riasan, tapi kulitnya bersinar seperti dia tidur dua belas jam tadi malam.
Tentu saja. Wanita yang merencanakan keadaan tidak akan kehilangan tidur karenanya.
"Saya... mengerti, Mbak Vania," jawabku, masih menahan diri untuk tidak memanggilnya "Bu" atau "Nyonya."
"Mbak?" Vania mengangkat alis. "Kita selevel sekarang, sayang. Atau kamu mau aku panggil 'Ibu' juga?"
Dia tertawa kecil. Tawa yang lembut tapi membuat perutku mengeras.
Aku tidak menjawab. Mengangkat sendok di hadapanku, mengaduk teh tawar yang sudah dingin. Aku tidak punya nafsu makan. Toast yang ada di piringku belum aku sentuh.
"Kenapa tidak makan?" Vania bertanya dengan nada keibuan yang dipaksakan. "Kamu harus banyak makan. Tubuhmu sekarang adalah... bagaimana ya menyebutnya... aset bersama keluarga."
Aset.
Kata itu mengiris lebih dalam dari pisau.
Aku menelan ludah, mengangkat sepotong toast, menggigitnya kecil. Roti panggang yang seharusnya enak terasa seperti pasir di lidahku.
"Bagus." Vania tersenyum puas. "Oh ya, satu hal lagi yang aku lupa. Aturan keempat — meskipun ini lebih ke saran daripada aturan."
Aku menatapnya.
"Hati-hati dengan Arsenio." Senyumnya tetap di bibirnya, tapi matanya menjadi dingin. "Dia memang tampak baik kadang-kadang. Suka bawa kotak P3K kalau ada yang sakit. Suka bertanya keadaan orang. Tapi itu hanya kebiasaan lama yang... katakanlah, sudah aku ajarkan untuk dia."
Aku membeku. Sendok di tanganku berhenti bergerak.
Bagaimana Vania tahu tentang kotak P3K?
Lalu aku ingat. Kamera-kamera itu. Tiga kamera yang masih aku tutupi dengan handuk di kamar. Vania pasti yang memantau. Atau setidaknya, tahu siapa yang memantau.
"Saya tidak mengerti maksud Mbak," jawabku dengan suara setenang mungkin.
"Maksud aku sederhana, sayang." Vania bersandar di kursinya, menyilangkan kaki dengan elegan. "Arsenio itu sudah dijinakkan. Selama lima tahun pernikahan kami. Dia mungkin akan bersikap baik di awal — mungkin akan mencoba mendekatimu — tapi pada akhirnya, dia akan kembali padaku. Selalu."
Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. Suara dijatuhkan.
"Dan kalau kamu cukup pintar, kamu akan tahu posisimu. Yang membuat madu bertahan lama bukanlah cinta. Tapi tahu kapan harus diam, kapan harus pergi, dan kapan harus tidak banyak berharap."
Aku menatap mata cokelatnya. Mata yang cantik. Tapi kosong, seperti boneka porselen mahal yang tidak pernah dipakai bermain.
"Saya tidak mengharapkan apa pun, Mbak Vania," jawabku akhirnya. Pelan. Tapi tegas.
Vania tertawa kecil. "Bagus. Pintar. Aku suka madu yang pintar."
Dia bangkit dari kursinya, mengusap rambutnya yang sudah hampir kering.
"Oh, satu hal lagi." Dia berbalik di ambang pintu. "Pengacara muda itu — Reza Adyatma. Kamu kenal dia, kan?"
Jantungku langsung berdegup tiga kali lebih cepat. Bagaimana dia tahu?
"Dia... pernah saya temui sekali di lobi, Mbak."
"Hmm." Vania tersenyum lagi. Senyum yang sama yang aku lihat kemarin di ruang kerja. Senyum predator. "Lain kali kalau ketemu dia, jangan lama-lama bicara, ya. Pelayan baru di rumah ini suka cerita ke aku tentang siapa yang berbicara dengan siapa. Dan beberapa orang di rumah ini bisa salah paham — bisa berpikir Arsenio belum cukup memuaskan kamu, makanya kamu mencari pria lain."
Vania berkedip sekali. "Itu akan jadi masalah besar, kan? Untuk kamu, maksudku."
Dia keluar dari ruangan tanpa menunggu jawabanku.
Aku terduduk diam di kursi. Toast di piringku sudah dingin. Tehku sudah terlalu pahit. Dan jantungku berdegup begitu kencang sampai aku merasa seluruh tubuhku akan meledak.
Vania tahu Reza akan datang.
Atau setidaknya, dia tahu kami pernah bertemu.
Berarti pengawasannya bukan hanya melalui kamera. Ada pelayan yang menjadi mata-matanya.
Aku bangkit dari kursi pelan. Berjalan menuju koridor utama. Tangan aku gemetar, tapi aku berusaha berjalan biasa. Para pelayan yang berpapasan denganku menundukkan kepala — bukan karena hormat, tapi karena tidak ingin mata mereka bertemu dengan mataku. Aku sudah bukan rekan kerja mereka. Aku adalah orang asing yang tiba-tiba naik ke tempat tinggi yang tidak pantas aku duduki.
Aku berbelok ke koridor kecil menuju ruang baca, tempat yang biasanya sepi pagi-pagi seperti ini. Aku perlu sendirian. Aku perlu berpikir.
Tapi saat aku membuka pintu ruang baca, aku menabrak seseorang.
Pak Hartawan.
Cangkir kopi di tangannya terjatuh ke karpet Persia mahal di lantai. Cairan hitam itu menyebar di atas pola merah dan emas, menciptakan noda yang besar. Pak Hartawan tidak bergerak untuk memungutnya. Beliau tidak bergerak untuk apa pun.
Beliau hanya berdiri di sana, menatapku.
Lebih tepatnya, menatap ke kalung tipis yang muncul dari balik kerah bajuku — kalung kecil dengan medali kecil berukir di belakangnya. Medali yang aku temukan di kotak peninggalan ibuku setahun lalu. Medali yang baru tadi pagi aku pakai, karena aku merasa butuh "jimat" sebelum bertemu Vania.
"Pak..." aku langsung berlutut, mau memungut cangkir yang jatuh. "Maaf, saya akan—"
"Tunggu."
Suara Pak Hartawan parau. Seperti orang yang lupa cara bicara.
Aku terhenti di posisi setengah berlutut. Menatap ke atas, ke wajahnya. Wajah pria tua berusia hampir tujuh puluh tahun itu, untuk pertama kali dalam dua tahun aku bekerja di rumah ini, tampak benar-benar pucat.
"Kalung itu..." beliau menunjuk dengan jari yang gemetar. "Dari mana kamu mendapatkannya?"
Aku reflek menutup kalung itu dengan tangan. "Dari ibu saya, Pak. Sebelum beliau meninggal."
"Ibumu... siapa nama ibumu?"
"Sutiarni, Pak. Sutiarni Pratiwi."
Pak Hartawan menutup matanya.
Beliau menutup matanya seperti orang yang baru saja menerima kabar duka cita yang sudah lama dia takutkan. Bibirnya bergetar pelan, dan beliau berpegangan pada tembok di belakangnya seakan-akan kakinya tiba-tiba kehilangan tenaga.
"Pak Hartawan, apakah Bapak baik-baik saja?" Aku berdiri, panik. "Saya panggil dokter, ya?"
"Tidak."
Suaranya tegas, meskipun pelan.
"Tidak, jangan panggil siapa pun." Beliau membuka mata. Dan mata tua itu — mata yang biasanya dingin dan jauh — sekarang basah. "Ikut Bapak."
"Ke mana, Pak?"
"Ruang kerja Bapak. Sekarang."
Beliau berbalik, melangkah pelan tapi terburu-buru. Aku mengikutinya, hati berdegup kencang, tidak tahu apa yang akan terjadi.
Ruang kerja Pak Hartawan — ruangan yang sama tempat ijab kabul aku dilakukan kemarin sore. Beliau menutup pintu setelah aku masuk. Mengunci. Lalu berjalan ke jendela, memastikan tirai tertutup rapat.
Beliau berbalik. Menatapku dari ujung ruangan.
"Lepas kalung itu. Berikan ke Bapak."
Aku ragu. Kalung itu satu-satunya warisan ibuku.
"Tolong," ujar Pak Hartawan. Suaranya melembut. Hampir memohon. "Bapak tidak akan mengambilnya. Bapak hanya ingin... lihat."
Aku melepasnya pelan. Menyerahkannya.
Pak Hartawan menerima dengan tangan gemetar. Membalik medali itu. Menatap ukiran di belakangnya. Ukiran nama yang selama ini aku kira nama saudara — "Bramantyo."
Pak Hartawan tertawa.
Tapi bukan tawa bahagia. Tawa pahit, seperti orang yang baru menyadari kalau seluruh hidupnya ternyata adalah lelucon.
"Dua puluh tiga tahun," beliau bergumam. "Dua puluh tiga tahun Bapak mencari ini. Dan ternyata... ternyata ada di leher pelayan rumah Bapak sendiri."
Aku berdiri membeku. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Pak..." suaraku mengecil. "Apa hubungannya... medali ini... dengan—"
"Duduk, Kinanti." Pak Hartawan menunjuk kursi di hadapan mejanya. "Ada yang harus Bapak ceritakan. Tapi sebelum itu—" beliau menatapku tajam, "—berjanjilah. Berjanjilah pada Bapak, kamu tidak akan menceritakan ini pada siapa pun. Tidak Arsenio. Tidak Bu Halimah. Tidak Vania. Belum."
"Saya berjanji, Pak."
Pak Hartawan menarik napas dalam. Membuka laci paling bawah meja kerjanya. Mengeluarkan sebuah amplop kuning besar yang sudah lusuh karena umur. Beliau menatapnya lama, seperti menatap bom yang sudah lama dia simpan.
Lalu beliau menyerahkannya padaku.
"Buka."
Aku membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, foto-foto lama. Foto hitam putih. Foto-foto seorang pria muda yang... gantengnya seperti Arsenio, tapi bukan Arsenio.
Pria yang tersenyum di tepi pantai dengan istri yang sedang hamil tua. Pria yang berdiri di depan pabrik dengan papan nama "Pratiwa Group." Pria yang tertawa dengan dua bayi kembar di pangkuan — anak laki-laki dan perempuan, dengan tahun tertulis di pojok foto: 1987.
Tapi bukan foto-foto itu yang membuat napasku tertahan.
Di foto terakhir, di amplop kuning itu, ada foto yang membuat tangan aku gemetar.
Foto seorang wanita muda. Tersenyum. Memakai kalung kecil dengan medali yang sama dengan medali yang baru saja aku berikan ke Pak Hartawan. Wanita itu — wajahnya — mirip aku. Sangat mirip aku.
Tapi bukan aku.
Itu ibuku. Sutiarni. Saat masih muda. Saat masih cantik. Saat matanya masih berbinar.
Dan di balik foto itu, dengan tulisan tangan yang aku tidak kenali, tertulis:
Sutiarni & Bramantyo. Pernikahan kedua. 1995.
"Pak..." suaraku gemetar. "Siapa pria di foto ini?"
Pak Hartawan menatapku lama. Lama sekali.
"Pria itu," ujarnya akhirnya, "adalah ayah kandungmu, Kinanti. Bramantyo Pratiwa. Sahabat baik Bapak. Saudara Bapak."
Beliau berhenti sebentar. Menelan ludah.
"Pria yang Bapak hancurkan dua puluh tiga tahun yang lalu."
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk diam di kursi itu, dengan foto di tangan, dengan dunia di sekelilingku berputar tanpa aku rasakan. Pak Hartawan tidak memburu aku. Beliau hanya duduk di kursinya sendiri, menutup mata, seperti pria yang akhirnya melepas beban yang sudah terlalu lama dia pikul.
Akhirnya, aku menemukan suaraku.
"Apa... apa maksud Bapak?"
"Bapak akan ceritakan semuanya, Kinanti. Tapi tidak hari ini. Tidak sekarang." Pak Hartawan membuka mata. "Hari ini, kamu cukup tahu satu hal: kamu bukan pelayan. Kamu tidak pernah benar-benar pelayan. Kamu adalah putri keluarga Pratiwa — keluarga yang dulu lebih kaya dari Hartawijaya. Keluarga yang Bapak..."
Beliau berhenti.
"...keluarga yang Bapak hancurkan, demi keserakahan dan rasa cemburu yang seharusnya tidak Bapak biarkan tumbuh."
Aku membuka mulut, mau bertanya seribu pertanyaan. Tapi tepat di saat itu, terdengar ketukan di pintu ruang kerja.
"Pak Hartawan?" suara seorang pelayan dari luar. "Ada Pak Reza Adyatma yang datang. Beliau bilang ada janji konsultasi dengan Pak Hartawan jam sembilan."
Pak Hartawan dan aku saling tatap.
Reza tidak punya janji dengan Pak Hartawan. Reza datang untukku.
Tapi aku tidak akan mengatakannya. Belum.
"Suruh tunggu di ruang tamu," jawab Pak Hartawan, suaranya kembali tegas. "Bapak akan turun lima menit lagi."
"Baik, Pak."
Langkah pelayan itu menjauh. Pak Hartawan menatapku.
"Kinanti, dengarkan Bapak baik-baik." Beliau memegang tanganku — pertama kali dalam dua tahun. Tangan beliau tua, dingin, dan gemetar. "Apa pun yang Bapak ceritakan tadi, jangan kamu bawa keluar dari ruangan ini. Tidak ke Reza Adyatma. Tidak ke siapa pun."
"Tapi, Pak—"
"Vania, Bu Halimah, dan beberapa orang lain di rumah ini punya rencana yang Bapak belum sepenuhnya tahu. Tapi Bapak tahu satu hal — kalau identitasmu terbongkar sekarang, kamu dalam bahaya yang jauh lebih besar daripada hanya jadi madu. Ada orang yang akan ingin kamu... hilang. Kamu mengerti?"
Aku mengangguk, meskipun aku tidak benar-benar mengerti.
"Bagus." Pak Hartawan menyerahkan medali itu kembali padaku. "Pakai kembali. Tapi simpan di balik baju. Jangan tampak. Dan kalung ini—" beliau menatap medali itu sekali lagi, "—ini bukti kamu Pratiwa yang sebenarnya. Jaga baik-baik."
Aku memakai kembali kalung itu. Memasukkan medalinya ke balik kerah baju.
Pak Hartawan bangkit dari kursinya. "Sekarang turun. Temui Reza Adyatma kalau dia memang datang untukmu. Bapak akan ke ruang tamu sebentar, lalu kembali ke kantor pusat. Bapak butuh menelepon seseorang."
"Siapa, Pak?"
Pak Hartawan menatapku dari pintu.
"Seorang pria yang Bapak kira sudah meninggal dua puluh tiga tahun yang lalu," jawabnya pelan. "Sekarang Bapak harus tahu... apakah dia benar-benar mati."
Beliau keluar dari ruang kerja.
Aku berdiri sendirian di tengah ruangan. Memegang medali di balik bajuku. Menatap foto-foto yang masih tergeletak di meja — foto pria yang bernama Bramantyo, foto ibuku saat masih muda, foto dua bayi kembar di tahun 1987.
Tunggu.
Dua bayi kembar.
Tahun 1987.
Aku lahir tahun 2002. Tapi di foto itu, ibuku sudah punya dua bayi kembar lima belas tahun sebelum aku lahir.
Aku mengambil foto itu dengan tangan gemetar. Membaliknya.
Di belakang foto, dengan tulisan tangan ibuku — tulisan tangan yang aku kenali sangat baik karena dia yang mengajariku menulis — tertulis:
Adit & Adita. Anak-anak Bramantyo & Yuliana. 1987.
Yuliana.
Bukan Sutiarni.
Berarti... ibuku bukan istri pertama Bramantyo. Ibuku adalah istri kedua. Dan ada dua anak — kembar — dari pernikahan pertama.
Yang berarti...
Aku punya saudara.
Dua saudara. Yang kalau masih hidup, sekarang berusia tiga puluh sembilan tahun. Adit dan Adita.
Kepalaku mau pecah. Dunia berputar terlalu cepat. Aku duduk lagi di kursi, memegangi kepalaku, mencoba memproses semua informasi ini dalam waktu singkat sebelum aku harus turun ke ruang tamu menemui Reza.
Tapi sebelum aku sempat menarik napas, pintu ruang kerja terbuka.
Bukan Pak Hartawan. Bukan pelayan.
Vania.
Yang berdiri di ambang pintu dengan senyum yang tidak menjangkau matanya, menatap aku yang masih duduk dengan foto-foto berserakan di meja Pak Hartawan.
"Wah, sayang..." suaranya menyeringai pelan. "Apa yang kamu lakukan di ruang kerja Pak Hartawan sendirian?"
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar