Suara pecah itu tidak hanya berasal dari porselen yang menghantam lantai ubin yang dingin, tetapi juga dari ketenangan pagi yang baru saja Aruna bangun. Di luar, langit masih berwarna ungu pekat, sisa malam yang enggan beranjak. Aruna baru saja selesai menata botol-botol saus di gerobak nasi uduk ibunya ketika teriakan melengking dari dalam rumah merobek kesunyian.

"Aruna! Di mana kau letakkan sepatu kerjaku?!"

Itu suara Liana. Suara yang selalu menuntut, selalu merasa dunianya adalah pusat semesta. Aruna menghela napas, menyeka keringat di dahinya dengan ujung hijab yang sudah mulai pudar warnanya. Ia melangkah masuk, melewati pintu kayu yang sudah rayapan. Di ruang tengah, ia melihat Liana berdiri dengan napas memburu, dikelilingi oleh tumpukan kertas dan barang-barang yang berserakan.

"Aku sudah menaruhnya di rak bawah, Li. Kamu saja yang tidak teliti," sahut Aruna lembut, berusaha tidak memicu api.

"Rak bawah itu kotor! Kau sengaja ingin merusak penampilanku di depan klien hari ini?" Liana melangkah maju, matanya menyipit penuh kebencian. "Kau tidak tahu rasanya berjuang di gedung tinggi, Aruna. Kau hanya tahu cara mengaduk nasi dan mencuci piring. Hidupmu statis, dan kau ingin aku ikut jatuh bersamamu?"

Kalimat itu bukan hal baru. Aruna sudah kenyang dengan cacian yang mengerdilkan keberadaannya. Sejak kecil, ia adalah "anak yang mengalah". Ketika Liana dikirim ke sekolah swasta terbaik dengan hutang yang menumpuk, Aruna cukup puas dengan madrasah pinggiran yang bangunannya nyaris roboh. Baginya, pendidikan bukan tentang gengsi, tapi tentang bagaimana ia bisa membantu meringankan beban punggung ayahnya yang kini bekerja sebagai petugas keamanan malam.


Aruna terpaku menatap lantai kamar yang kini tampak seperti medan perang. Novel-novel kesayangannyaβ€”satu-satunya pelarian dari dunia yang menyesakkanβ€”berserakan dengan halaman yang terlipat. Buku harian yang berisi gema pikirannya selama bertahun-tahun kini terbuka lebar, memamerkan tulisan tangannya yang rapi kepada sosok yang paling tidak menghargainya.


"Liana, apa yang kamu lakukan?" suara Aruna bergetar, bukan karena amarah yang meledak, melainkan karena rasa perih yang terbiasa ia telan.


Liana, yang berdiri dengan piyama sutra mahalnya, hanya mendengus. "Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan sampai lupa membangunkan aku? Hari ini aku ada jadwal penting ke Surabaya, Aruna! Setengah jam lagi travel jemput, dan aku bahkan belum menyentuh air mandi!" 


"Aku sudah terjaga sejak pukul tiga pagi, Li. Aku membantu Ibu menyiapkan gerobak nasi uduk di depan," jawab Aruna tenang, meski dadanya berdenyut. "Aku pikir kamu sudah menyetel alarm di ponsel canggihmu itu."


"Alarm itu tidak berguna kalau kakaknya sendiri sengaja ingin menjatuhkan adiknya!" Liana melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya memenuhi ruangan kecil yang pengap itu. "Kamu pikir aku ini pengangguran sepertimu? Yang hidupnya hanya seputar mencuci beras dan menunggu pembeli? Aku ini tulang punggung, Aruna! Kalau aku telat dan presentasiku kacau, siapa yang akan membayar cicilan rumah ini? Kamu? Dengan gaji kasir kedai kopimu yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu pasang sepatuku?" 


Kalimat itu menghantam Aruna tepat di ulu hati. Di rumah ini, keberadaan Aruna memang diukur dari seberapa banyak nominal yang bisa ia setor ke meja makan. Sejak kecil, Liana adalah permata. Anak kedua yang dianggap sebagai penyelamat ekonomi keluarga, dikirim ke sekolah swasta terbaik meski orang tua mereka harus berhutang ke sana kemari. Sementara Aruna? Ia cukup dengan madrasah di pinggir kota yang ijazahnya kini hanya tertumpuk di laci bawah, kalah saing dengan tuntutan zaman.


"Sudah, sudah! Masih gelap begini sudah ribut!" Bu Aminah masuk ke kamar dengan wajah lelah, sisa uap dari masakan nasi uduknya masih menempel di kain hijabnya. "Malu didengar tetangga!" 


"Ibu, Aruna tidak mau membangunkanku!" rengek Liana, seketika berubah menjadi gadis kecil yang teraniaya.


Bu Aminah menatap Aruna, tatapan yang selalu sama: penuh tuntutan untuk mengalah. "Aruna, bantu adikmu menyiapkan barang-barangnya. Cepat mandi, Liana. Jangan sampai travelnya menunggu." 


"Tapi, Bu, aku harus piket di kedai pukul setengah enam pagi," Aruna mencoba membela haknya yang tersisa.


"Kalau kamu telat, itu tidak penting!" potong Liana tajam sambil menyambar handuknya. "Paling hanya ditegur pemilik kedai tua itu. Tapi kalau aku, ini masalah profesionalitas!" 


Aruna terdiam. Ia menatap ibunya, berharap ada pembelaan, namun Bu Aminah justru memalingkan wajah dan kembali ke dapur. Beginilah hidup Aruna di usia dua puluh empat tahun; menjadi bayang-bayang di rumah sendiri, dianggap ada hanya saat tenaganya dibutuhkan untuk melayani sang 'ratu'.


Dengan tangan gemetar, Aruna mulai memunguti buku-bukunya. Ia merapikan pakaian Liana, memasukkannya ke dalam koper dengan telaten, seolah-olah ia adalah pelayan pribadi dan bukan kakak kandung. Setelah Liana berangkat dengan taksi travel yang menderu angkuh di depan pagar, Aruna segera menyambar tas kanvasnya.


Ia melangkah cepat menyusuri jalanan perumahan yang masih berselimut kabut fajar. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat sekelompok pemuda berkumpul di dekat gerbang. Mereka adalah anak-anak muda yang sering menghabiskan malam dengan deru motor, berencana melakukan perjalanan jauh ke perbatasan kota. Aruna menundukkan kepala dalam-dalam, menarik hijab hitamnya agar lebih menutupi wajah. Ia tahu, gadis sepertinya tak akan pernah menarik perhatian siapapun di sana. Berbeda dengan Liana yang jika lewat pasti akan disambut siulan kagum.


"Telat lagi, Aruna?" 


Suara berat itu menghentikan langkahnya. Aruna mendongak sedikit. Di atas motor sport hitam yang tampak gahar, duduk seorang pria dengan helm yang dipeluk di atas tangki. Wajahnya tegas, dengan sorot mata yang sulit dibaca. Gavinβ€”atau biasa dipanggil Vin. Teman masa kecil yang dulu sering berlari bersamanya di bawah guyuran hujan, namun kini terasa seperti orang asing yang berasal dari planet berbeda.


"Iya, Vin," sahut Aruna singkat, lalu bergegas pergi sebelum percakapan itu menjadi lebih canggung.


Dulu, Gavin adalah pelindungnya saat Liana atau teman-teman lain merundungnya. Namun, sejak kematian ibu Gavin beberapa tahun lalu, pria itu berubah. Ia menarik diri, terjebak dalam pergaulan yang dianggap warga sekitar sebagai 'jalan sesat', dan perlahan persahabatan mereka hanya menyisakan sapaan basi di pinggir jalan.


Aruna terus berjalan menuju kedai kopi tua tempatnya bekerja. Di sana, di antara aroma biji kopi yang dipanggang secara manual, ia menemukan kedamaiannya yang rapuh. Sambil menunggu pelanggan yang jarang datang di jam-jam awal, ia sering membuka ponselnya, mengetikkan barisan kalimat fiksiβ€”sebuah dunia di mana ia bisa menjadi siapapun, di mana ia tidak harus selalu mengalah.


Namun, ketenangan itu terusik saat pukul dua siang. Ketika ia baru saja hendak mengunci pintu kedai, sebuah rintihan dari rumah besar di sebelah kedai itu terdengar. Rumah itu adalah milik Pak Hermawan, ayah Gavin.


"To-tolong..." 


Tanpa berpikir panjang, Aruna berlari menuju pagar yang tak terkunci. Ia menemukan Pak Hermawan terkulai lemas di lantai ruang tengah, dikelilingi serpihan gelas yang pecah. Pria tua yang dulu gagah itu kini tampak begitu rapuh dimakan penyakit.


"Ya Allah, Pak Hermawan!" Aruna berjongkok, dengan hati-hati menghindari pecahan kaca. Ia membantu pria itu bersandar pada sofa, memberinya air minum dengan tangan yang masih gemetar karena panik.


Pak Hermawan menatap Aruna dengan mata sayu yang berkaca-kaca. "Terima kasih, Aruna. Kau selalu ada di saat yang tepat," bisiknya parau. "Gavin... dia belum pulang. Dia lebih suka di jalanan daripada melihat ayahnya yang sekarat ini." 


Aruna terdiam, merasa tidak berhak menghakimi Gavin meski ia tahu pria itu memang sudah lama kehilangan arah.


"Nduk," Pak Hermawan meraih tangan Aruna dengan sisa tenaganya. "Bapak punya satu permintaan. Hanya padamu Bapak berani memohon. Tolong... jangan biarkan Gavin hancur sendirian. Temani dia, bantu dia menemukan jalannya kembali." 


Aruna terpaku. Permintaan itu terdengar seperti sebuah wasiat yang berat. Di satu sisi, ia ingin lari dari segala beban yang menimpanya, namun di sisi lain, ia melihat ketulusan di mata pria tua itu.


"Akan saya usahakan, Pak," jawab Aruna lirih, tanpa menyadari bahwa janji itu akan mengubah seluruh peta hidupnya di masa depan.