Malam itu, rumah kecil Aruna terasa lebih sempit dari biasanya. Oksigen seolah berebut dengan aroma pekat minyak jelantah dan asap rokok murahan yang mengepul dari asbak di depan Pak Yudi. Di atas meja kayu yang permukaannya sudah melengkung dimakan usia, hidangan ala kadarnya tersajiβ€”tempe goreng yang sudah mendingin dan sayur bening yang layu. Namun, suasana di sana jauh dari kata hambar; ada ketegangan yang lebih tajam dari aroma terasi.

Pak Yudi berdehem, suara seraknya memecah keheningan yang menyakitkan. Di sampingnya, Bu Aminah terus-menerus meremas ujung daster luarnya, matanya tak berani menatap Aruna.

"Bapak sudah bicara lagi dengan Pak Hermawan tadi sore," ujar Pak Yudi tanpa pendahuluan. "Beliau serius, Nduk. Sangat serius."

Aruna yang sedang menyuap nasi, merasakan butirannya mendadak berubah menjadi kerikil di tenggorokan. Ia meletakkan sendoknya perlahan, berusaha menjaga tangannya agar tidak gemetar. "Serius untuk apa, Pak? Menjadikan Aruna perawat bayaran? Kalau itu, Aruna bersedia. Aruna bisa bagi waktu dengan sif di kedai."

Pak Yudi menggeleng perlahan, matanya yang mulai mengeruh menatap Aruna dengan rasa bersalah yang dalam. "Bukan perawat, Aruna. Pak Hermawan ingin kamu menjadi bagian dari keluarganya. Menjadi istri Gavin."

"Pak, Gavin itu..." Aruna menjeda, mencari kata yang tidak terlalu kasar. "Gavin tidak menginginkan ini. Aruna juga tidak. Kami seperti minyak dan air."

"Tapi keluarga kita butuh bantuan, Nduk," potong Bu Aminah dengan suara yang nyaris pecah. "Hutang kuliah Liana... pinjaman untuk modal gerobak tempo hari... semuanya menumpuk. Pihak bank sudah mulai datang menagih. Kalau tidak ada suntikan dana, bulan depan rumah ini bisa disita."

Aruna menatap ibunya. Ada rasa sakit yang luar biasa setiap kali nama Liana menjadi alasan di balik beban yang harus ia pikul. "Kenapa selalu Aruna yang harus membayar harga untuk kemewahan Liana, Bu?" bisiknya parau.

"Bukan begitu, Aruna..." Pak Yudi mencoba menenangkan. "Pak Hermawan itu orang baik. Dia menjamin masa depanmu. Dia tahu kamu anak yang shalihah, sabar. Dia hanya percaya padamu untuk membawa Gavin kembali ke rumah. Gavin itu sebenarnya anak baik, dia hanya kehilangan arah sejak ibunya meninggal."

Aruna tertawa hambar, sebuah tawa yang hanya sampai di tenggorokan. "Anak baik tidak pulang mabuk setiap malam, Pak. Anak baik tidak balapan liar di jalanan sampai hampir menabrak orang."

"Justru karena itu dia butuh kamu!" suara Pak Yudi sedikit meninggi, bukan karena marah pada Aruna, tapi karena rasa putus asa yang memuncak. "Pak Hermawan bilang, jika kalian menikah, dia akan melunasi semua hutang kita. Bahkan, dia akan membiayai pengobatan kakimu yang dulu sempat tertunda."

Aruna terdiam. Ia menyentuh pergelangan kakinya yang sedikit pincang jika ia terlalu lama berdiriβ€”sebuah cedera lama saat ia bekerja terlalu keras di masa remaja demi membantu sekolah Liana. Tawaran itu bukan lagi sekadar bantuan, itu adalah penyuapan terhadap takdirnya.

Di sudut ruangan, ponsel Aruna bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi menulis tempatnya bernaung secara anonim muncul.

Pembaca Baru: "Gavin_R" baru saja menyukai bab terbaru ceritamu.

Aruna tertegun sejenak. Ia tahu itu bukan Gavin yang ia kenalβ€”Gavin yang ia tahu bahkan mungkin tidak tahu cara mengeja kata 'literasi'. Namun, sinkronisasi nama itu terasa seperti ejekan dari semesta.

"Nduk?" panggil Pak Yudi lagi.

Aruna mendongak. Ia melihat gurat-gurat kelelahan di wajah ayahnya, ketakutan di mata ibunya, dan bayangan kemiskinan yang siap menelan mereka bulat-bulat. Di kepalanya, ia membayangkan wajah Liana yang mungkin sedang tertawa di restoran mewah di Surabaya, tanpa tahu kakaknya sedang dilelang di meja makan.

"Beri Aruna waktu satu malam lagi, Pak," ucap Aruna akhirnya.

Ia berdiri, meninggalkan makanannya yang masih separuh. Ia berjalan menuju teras belakang, menatap langit yang tertutup polusi dan mendung. Tiba-tiba, suara knalpot yang sangat ia kenal menderu di kejauhan. Tak lama kemudian, motor sport hitam itu melintas di gang samping rumahnya.

Gavin tidak berhenti. Ia hanya melirik sekilas ke arah rumah Aruna, sorot matanya yang tajam terpantul dari balik kaca helm yang terbuka sedikit. Ada kemarahan di sana, tapi juga ada permohonan yang tak terucap agar Aruna menolak.

Aruna kembali masuk ke kamarnya, menyalakan laptop tua yang layarnya sudah bergaris-garis. Ia mulai mengetik, jemarinya menari dengan liar di atas keyboard.

"Hari ini, aku tidak sedang menulis cerita tentang orang lain. Aku sedang menulis nisan untuk kebebasanku sendiri. Mereka menyebutnya pernikahan, tapi bagiku, ini adalah transaksi di mana air mataku adalah maharnya."

Ia menekan tombol publish. Tanpa ia sadari, di sebuah bar remang-remang di pinggir kota, seorang pria dengan jaket kulit hitam sedang menatap layar ponselnya, membaca barisan kalimat itu dengan napas yang tertahan.

Gavin tahu itu Aruna. Dan Aruna tidak tahu bahwa pria yang ia anggap berandalan itu adalah satu-satunya orang yang benar-benar membaca jiwanya.