Pagi itu, aroma kopi di kedai tempat Aruna bekerja terasa lebih pahit dari biasanya. Ia berdiri di balik mesin espreso tua, menatap uap yang membubung dengan mata yang sembap. Keputusan sudah diambil. Tadi malam, saat semua orang tertidur, Aruna hanya bisa bersimpuh di atas sajadah, menyerahkan sisa harga dirinya pada takdir yang ia rasa tidak adil.
"Nduk, Pak Hermawan dan rombongan akan datang jam tujuh malam ini," suara Pak Yudi terdengar pelan saat menjemput Aruna sore harinya. "Ibumu sudah menyiapkan ruang tamu. Liana... dia juga baru pulang dari Surabaya."
Aruna hanya mengangguk. Ia tidak bertanya mengapa Liana tiba-tiba pulang. Ia tahu adiknya itu memiliki radar yang sangat kuat jika mencium bau uang atau peluang.
Sesampainya di rumah, suasana terasa begitu asing. Ibunya memakai kebaya terbaiknya yang sudah tersimpan lama di lemari, sementara Liana tampak mencolok dengan gaun bermerek dan riasan wajah yang tebal. Liana menatap Aruna dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan saat kakaknya itu masuk lewat pintu dapur.
"Jadi, si pelayan kedai ini akan jadi menantu orang kaya?" cibir Liana sambil mengikir kukunya. "Hebat juga taktikmu, Aruna. Pura-pura jadi pahlawan saat orang tua itu jatuh, lalu memanen hasilnya sekarang."
"Ini bukan taktik, Li. Ini pengorbanan," jawab Aruna datar tanpa menoleh.
"Pengorbanan? Jangan naif. Kita semua tahu Gavin itu seperti apa. Dia sampah jalanan. Tapi hei, sampahnya berlapis emas, kan? Jadi jangan berpura-pura sedih."
Aruna memilih diam. Ia masuk ke kamar, mencuci wajahnya, dan mengenakan gamis sederhana berwarna abu-abu pemberian ayahnya tahun lalu. Tak ada riasan, hanya bedak tipis dan keberanian yang dipaksakan.
Tepat pukul tujuh, sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan rumah mereka yang sempit. Pak Hermawan turun perlahan, dibantu oleh seorang asisten. Dan di belakangnya, berdiri Gavin.
Pria itu tampak sangat tidak nyaman dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Tatapannya liar, seolah mencari celah untuk melarikan diri. Saat matanya bertemu dengan mata Aruna, Gavin mendengus kecil, lalu membuang muka.
Pertemuan itu berlangsung formal dan kaku. Pak Hermawan mengutarakan niatnya dengan sangat santun, sementara Pak Yudi menyambutnya dengan rasa syukur yang berlebihanβpemandangan yang membuat hati Aruna perih.
"Saya ingin pernikahan ini dilaksanakan minggu depan," ujar Pak Hermawan tenang. "Semua biaya, persiapan, dan masa depan Aruna akan menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Termasuk hutang-hutang keluarga ini, besok asisten saya akan menyelesaikannya."
Bu Aminah dan Pak Yudi bernapas lega, seolah beban seberat gunung baru saja diangkat dari pundak mereka. Namun, di tengah kelegaan itu, suara Gavin memecah suasana.
"Apa aku tidak punya hak bicara di sini?" tanya Gavin tajam. Ia menatap ayahnya, lalu beralih ke Aruna. "Kau... Aruna. Apa kau benar-benar seyakin itu bisa 'mengasuhku'? Kau pikir dengan menikahiku, kau bisa mengubahku jadi anak manis yang duduk di balik meja kantor?"
Aruna mendongak, menatap langsung ke dalam mata Gavin yang berkilat penuh amarah. "Aku tidak pernah berniat mengubahmu, Vin. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan agar orang tuaku bisa tidur nyenyak malam ini."
"Bagus," Gavin menyeringai, sebuah senyum yang lebih mirip sebuah tantangan. "Kalau begitu, bersiaplah untuk hidup di neraka. Karena aku tidak akan menjadi suami yang baik untukmu."
"Gavin!" tegur Pak Hermawan keras, namun pria tua itu segera batuk-batuk hebat.
Aruna segera berdiri, secara refleks mengambilkan segelas air dan memberikannya pada Pak Hermawan. Tindakan sederhana itu membuat Pak Hermawan tersenyum tipis. "Lihat, Vin. Dia punya apa yang tidak pernah kau miliki: empati."
Liana, yang sedari tadi diam memperhatikan, tiba-tiba angkat bicara. "Wah, sangat mengharukan. Selamat ya, Kak Aruna. Semoga kakinya yang pincang itu tidak mengganggu saat berjalan menuju pelaminan mewah nanti."
Kalimat Liana membuat suasana seketika membeku. Pak Yudi menatap Liana dengan tajam, namun Liana hanya mengedikkan bahu tanpa rasa bersalah.
Di sudut ruangan, Gavin menatap Aruna dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia baru menyadari hal ituβfakta bahwa Aruna memiliki cacat fisik yang selama ini disembunyikan dengan cara berjalan yang sangat hati-hati. Ada sesuatu yang berdenyut di hati Gavin, sebuah rasa yang belum ia kenali namanya, namun dengan cepat ia menepisnya.
"Minggu depan," Gavin berdiri, tidak menunggu ayahnya selesai bicara. "Jangan harap ada pesta mewah dariku. Kau hanyalah orang asing yang dibayar ayahku untuk tinggal di rumah kami."
Gavin melangkah keluar, deru motornya sesaat kemudian terdengar memekakkan telinga, meninggalkan debu yang berterbangan di depan rumah Aruna yang kini terasa semakin sunyi.
Aruna menatap sisa air di gelas Pak Hermawan. Ia tahu, mulai malam ini, namanya bukan lagi miliknya sendiri. Ia adalah mahar yang dibayarkan untuk sebuah kebebasan yang bukan miliknya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar