Seminggu berlalu seperti mimpi buruk yang diputar dengan kecepatan tinggi. Aruna merasa dirinya seperti boneka porselen yang dipindahkan dari satu rak ke rak lainnya. Tidak ada gaun putih mewah yang mekar seperti impian gadis-gadis pada umumnya. Atas permintaan Gavin yang ketus—dan disetujui Pak Hermawan demi menjaga kesehatan pria tua itu—pernikahan dilaksanakan secara sederhana di kantor urusan agama, dilanjutkan syukuran kecil di kediaman Pak Hermawan.

Pagi itu, hujan turun rintik-rintik, membasahi aspal di depan rumah Aruna. Ia menatap cermin kusam di kamarnya untuk terakhir kali sebagai seorang gadis lajang. Hijab putih bersih melilit kepalanya, dipadukan dengan gamis senada yang sederhana namun anggun. Tak ada perhiasan mencolok, hanya sebuah bros kecil pemberian mendiang neneknya.

"Nduk, maafkan Bapak," bisik Pak Yudi saat mereka hendak berangkat. Tangannya yang kasar menggenggam jemari Aruna. "Bapak gagal menjadi pelindungmu, malah kamu yang harus melindungi kami."

Aruna tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. "Tidak apa-apa, Pak. Mungkin ini jalan Aruna untuk berbakti."

Di sisi lain kota, Gavin duduk di tepi tempat tidurnya, menatap kemeja putih yang disiapkan ayahnya dengan tatapan muak. Ia baru saja kembali dua jam yang lalu setelah menghabiskan malam dengan memacu motornya di jalur lingkar kota, mencoba membunuh rasa sesak di dadanya.

"Kau tidak bisa lari lagi, Gavin," ujar Pak Hermawan yang muncul di ambang pintu dengan kursi rodanya. "Hari ini kau mengambil tanggung jawab seorang pria. Jangan permalukan namamu sendiri."

"Tanggung jawab atau transaksi, Yah?" sahut Gavin tajam. "Jangan sebut ini pernikahan kalau isinya hanya pertukaran cek dengan kebebasan orang lain."

Akad nikah berlangsung singkat dan dingin. Saat Gavin mengucapkan kalimat kabul, suaranya terdengar datar, nyaris tanpa nyawa. Aruna hanya menunduk, menatap ujung jemarinya yang dingin. Ketika tiba saatnya bersalaman, tangan Gavin terasa kasar dan panas, seolah-olah menyentuh Aruna adalah beban yang menyakitkan baginya.

Sepulangnya ke rumah besar milik Pak Hermawan—yang kini juga menjadi rumahnya—Aruna langsung dihadapkan pada kenyataan pahit. Setelah acara syukuran yang hanya dihadiri keluarga inti dan beberapa tetangga dekat, Gavin langsung menghilang.

Malam pertama yang seharusnya sakral bagi sepasang pengantin baru, justru dihabiskan Aruna sendirian di kamar tamu yang luas dan sunyi. Gavin tidak masuk ke sana. Dari balik jendela, Aruna mendengar deru motor yang sangat ia kenal menjauh dari halaman rumah.

Aruna menghela napas panjang. Ia melepas riasan tipisnya, lalu membuka tas kanvasnya yang berisi harta paling berharga: laptop tua dan buku catatan. Ia duduk di meja rias, mencoba mencari pelarian di dunia kata-kata.

Namun, sebelum jemarinya menyentuh keyboard, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.

Gavin_R: "Selamat atas bab baru hidupmu. Terkadang, penjara yang paling mewah pun tetaplah sebuah penjara. Jangan biarkan mereka mematahkan penamu."

Jantung Aruna berdegup kencang. Siapa sebenarnya "Gavin_R" ini? Mengapa setiap kali ia merasa berada di titik terendah, orang asing ini selalu muncul dengan kata-kata yang seolah bisa membaca jiwanya?

Aruna memberanikan diri untuk membalas. "Terima kasih. Tapi bagaimana kau bisa tahu ini adalah bab baru bagiku?"

Hening cukup lama. Aruna menunggu dengan napas tertahan.

Gavin_R: "Karena aku mengenal suaramu di antara ribuan tulisan lain. Tidurlah. Malam ini cukup dingin untuk seseorang yang sedang merasa sendirian."

Aruna terpaku. Di kejauhan, ia mendengar suara petir menyambar. Ia tidak tahu bahwa di sebuah warung remang-remang di pinggir waduk, Gavin sedang menyesap kopi hitamnya, menatap layar ponsel dengan sorot mata yang tak lagi tajam, melainkan penuh kerinduan yang terselubung.

Gavin membenci pernikahan ini, ia membenci ayahnya yang memaksanya, dan ia membenci dirinya sendiri. Namun, entah mengapa, ia tidak bisa berhenti membaca tulisan Aruna—gadis yang kini sah menjadi istrinya, namun tetap terasa bermil-mil jauhnya.