Matahari mulai meninggi, menyapu kabut fajar dengan hawa panas yang mulai menyengat kulit. Aruna masih berada di teras rumah Pak Hermawan, menatap pria tua itu yang kini sudah tampak lebih tenang setelah meminum obatnya. Namun, kata-kata Pak Hermawan barusan masih berdengung di telinga Aruna seperti lebah yang tak mau pergi.
Jangan biarkan Gavin hancur sendirian.
Bagaimana mungkin ia, seorang gadis yang bahkan tak mampu membela dirinya sendiri di depan adiknya, bisa menyelamatkan orang lain? Terlebih lagi orang itu adalah Gavin.
Baru saja Aruna hendak berpamitan untuk kembali ke kedai kopi, suara raungan mesin motor yang kasar memecah keheningan jalanan. Sebuah motor sport hitam melesat masuk ke halaman rumah, meninggalkan jejak ban di atas kerikil yang berhamburan.
Gavin turun dari motornya tanpa melepas helm dengan segera. Jaket kulitnya beraroma campuran antara asap rokok, aspal, dan parfum maskulin yang tajam. Saat ia melepas helm, rambutnya yang sedikit gondrong berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan malam panjang yang tidak dihabiskan untuk tidur.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Gavin dingin, matanya menatap Aruna lalu beralih ke ayahnya yang duduk lemas di sofa.
"Bapakmu jatuh tadi, Vin. Untung Aruna dengar," sahut Pak Hermawan dengan nada kecewa yang kental.
Gavin terdiam sejenak. Ada kilatan rasa bersalah yang melintas di matanya, namun dengan cepat tertutup oleh topeng ketidakpedulian yang biasa ia kenakan. Ia melemparkan kunci motornya ke atas meja kayu, menimbulkan bunyi brak yang membuat Aruna terlonjak.
"Aku sudah bilang, sewa perawat saja. Jangan merepotkan tetangga," ucap Gavin datar.
"Aruna bukan sekadar tetangga, Vin! Dia temanmu sejak kecil. Dan dia punya hati, tidak seperti kau yang lebih sayang pada aspal jalanan daripada orang tuamu sendiri!" suara Pak Hermawan meninggi, memicu batuk kering yang membuatnya sesak.
Aruna segera mendekat untuk mengusap punggung Pak Hermawan. "Sudah, Pak. Jangan emosi, nanti kambuh lagi." Ia kemudian menatap Gavin dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa harga dirinya. "Vin, tidak ada salahnya bicara baik-baik. Bapak cuma khawatir."
Gavin tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan amplas. "Khawatir? Atau malu karena punya anak yang tidak bisa jadi kebanggaan seperti Liana, adikmu itu?" Gavin melangkah mendekat, mempersempit jarak antara mereka hingga Aruna bisa mencium aroma alkohol yang samar dari napasnya. "Pulanglah, Aruna. Jangan jadi pahlawan di rumah yang sudah hancur."
Aruna mundur selangkah, merasa terintimidasi namun juga merasa kasihan. Ia melihat Gavin bukan sebagai pria berandalan yang ditakuti warga, melainkan sebagai anak kecil yang kehilangan kompas sejak ibunya tiada. Tanpa berkata-kata lagi, Aruna mengambil tasnya dan berjalan keluar.
Sepanjang jalan menuju kedai, pikiran Aruna bercabang. Sesampainya di kedai, ia menemukan ibunya, Bu Aminah, sudah menunggunya dengan wajah cemas yang tidak biasa.
"Aruna, kenapa lama sekali? Tadi ada Pak Yudi mencarimu," kata ibunya menyebut nama ayah mereka.
"Ada apa, Bu? Ayah tidak apa-apa kan?"
"Ayahmu tidak apa-apa, tapi... Pak Hermawan tadi menelepon Ayah." Bu Aminah menarik Aruna duduk di kursi kayu kedai yang sudah mulai usang. "Dia bilang ingin melamarmu untuk Gavin."
Jantung Aruna serasa berhenti berdetak. "Apa? Tapi, Bu... Gavin dan aku... kami tidak..."
"Ibu tahu," potong Bu Aminah cepat. "Gavin itu anak nakal, tidak jelas masa depannya. Tapi Pak Hermawan menjanjikan sesuatu pada Ayahmu. Dia tahu kita sedang kesulitan membayar hutang biaya kuliah Liana yang tertunggak. Dia bilang, jika kamu bersedia menikah dengan Gavin dan membimbingnya, dia akan menganggap semua beban keluarga kita selesai."
Aruna merasa dunianya runtuh seketika. Ternyata, kebaikan yang ia berikan pagi tadi justru menjadi jerat bagi dirinya sendiri. Ia merasa seperti barang dagangan yang ditukarkan demi kenyamanan Liana dan nama baik keluarga.
"Kenapa harus aku, Bu? Kenapa bukan Liana saja yang mereka incar?" tanya Aruna dengan suara parau.
"Liana punya masa depan cerah, Aruna. Dia sedang meniti karier di kota besar. Kamu tahu sendiri bagaimana ambisinya. Sedangkan kamu..." Bu Aminah menggantung kalimatnya, namun Aruna tahu lanjutannya: Sedangkan kamu hanya pelayan kedai kopi yang bisa dikorbankan.
Malam itu, Aruna tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di meja kecil di sudut kamarnya, membuka buku catatannya. Di sana, ia menuliskan sebuah kalimat yang menjadi inti dari kegelisahannya: Kita seringkali dipaksa menjadi lilin, membakar diri sendiri hanya untuk menerangi ruangan yang sebenarnya tidak menginginkan kehadiran kita.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia tahu siapa pemiliknya dari gaya bicaranya yang ketus.
Jangan setuju, Aruna. Aku tidak butuh pengasuh, apalagi istri sepertimu. Jangan hancurkan hidupmu hanya karena rasa kasihan orang tuaku.
Itu dari Gavin.
Aruna menatap layar ponselnya lama. Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki kesamaan dengan Gavin: mereka berdua sama-sama sedang dipaksa oleh keadaan untuk memerankan lakon yang tidak mereka inginkan. Namun, bayangan wajah ayahnya yang lelah dan tuntutan adiknya yang tak pernah usai membuat jemari Aruna gemetar saat hendak membalas pesan itu.
Ia tidak membalas. Ia hanya mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menelan air mata yang akhirnya jatuh juga. Di luar sana, suara motor Gavin kembali menderu, membelah malam seolah ingin lari dari kenyataan yang sama pahitnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar