"BU GURUUU! ADA ANAK NAIK POHON MANGGAAA!"
Kayla baru saja menulis namanya di papan tulis—huruf K-nya belum kering—ketika Pak Bondan, satpam sekolah yang tubuhnya mirip lemari es dua pintu, ngos-ngosan di pintu kelas seperti baru lari maraton dari pos jaga ke gedung utama yang jaraknya dua puluh meter.
"Anak siapa, Pak?"
"Anak Bu Kayla!"
"Saya belum punya anak, Pak."
"Maksud saya MURIDNYA Bu Kayla! Yang baru daftar kemarin! Yang rambutnya dikuncir dua itu, lho—"
Kayla menjatuhkan spidol. Spidolnya menggelinding ke kaki seorang murid laki-laki yang langsung berseru, "Ya Allah, Bu Guru udah jatuhin barang aja hari pertama," dengan nada bapak-bapak komplek yang kompornya meledak.
Tiga puluh detik kemudian, Kayla sudah berlari di lapangan dengan rok kerja yang nyaris sobek di lutut, sambil memikirkan dua hal:
Pertama, kenapa hari pertama tahun ajaran baru selalu kayak episode sinetron.
Kedua, anak umur enam tahun itu kuat juga ya naik pohon.
Pohon mangga di pojok lapangan SD Tunas Bangsa adalah legenda lokal. Tingginya tiga setengah meter, batangnya licin, dan satu-satunya yang pernah berhasil memanjatnya adalah Pak Karyo, tukang kebun, itu pun karena beliau dulu pernah jadi tentara dan sekarang masih bisa push-up lima puluh kali tanpa istirahat.
Tapi sekarang, di cabang ketiga dari bawah, duduklah seorang gadis kecil berseragam putih-merah, kuncir dua, dengan tatapan datar yang membuat Kayla lupa cara bernapas sejenak.
Anak itu tidak menangis.
Tidak teriak minta tolong.
Hanya duduk—seperti seekor kucing yang sedang mempertimbangkan apakah dunia ini layak untuk dituruni atau tidak.
"Sayang," Kayla mendongak, mencoba senyum yang biasanya works untuk anak TK. "Ayo turun, ya? Ibu bantu."
Anak itu menatapnya. Lalu mengalihkan pandangan ke awan.
"Halo? Sayang? Ibu Kayla nih, wali kelasmu yang baru—"
Anak itu memetik daun mangga.
Memandanginya.
Lalu menjatuhkannya tepat di kepala Kayla.
Plok.
"Wuanjir—" Kayla refleks, sebelum sadar dia di sekolah, di hari pertama, di depan Pak Bondan dan sekitar dua belas wali murid yang entah dari mana sudah berkumpul membentuk setengah lingkaran seperti penonton tinju amatir.
"Bu Guru bilang apa tadi?" salah satu ibu-ibu berbisik.
"Kayaknya 'Wuah, anjay'."
"Astaga, guru sekarang bahasanya."
Kayla menelan ludah, mengganti ekspresi jadi seprofesional mungkin. "Maksud saya, wah hai sayang, yuk turun."
Anak itu memetik daun lagi.
Kayla mundur dua langkah.
Oke. Plan B.
"Pak Bondan, panjang tangga ada nggak?"
"Tangganya dipinjem Bu Kantin buat ganti lampu, Bu."
"Pak Karyo?"
"Lagi cuti, mantu beliau lahiran."
"Damkar?"
"Bu Kayla, ini anak naik pohon mangga, bukan kucing nyangkut di tiang listrik."
Kayla menutup matanya. Menarik napas. Mengingat semua training jadi guru yang dia ikuti selama empat tahun. Pendekatan emosional. Bahasa anak. Empati.
"Sayang," dia berlutut di bawah pohon, suaranya lembut. "Kamu naik ke atas karena... pengen sendiri ya?"
Untuk pertama kalinya, anak itu menoleh.
Menatap Kayla.
Lama.
Mata bulatnya cokelat tua, seperti karamel yang nyaris gosong—indah dan getir di waktu yang sama. Pipinya tembam, hidungnya kecil, dan ada bekas air mata yang sudah mengering di bawah mata kiri.
"Mama nggak suka aku."
Suara anak itu pelan. Tapi cukup keras untuk membuat semua wali murid di belakang Kayla diam.
"...Mamamu?"
"Iya. Mama bilang aku berisik. Makanya aku diem aja sekarang."
Kayla merasa dadanya seperti diremas.
"Sayang, kamu nggak berisik. Kamu—"
"Aku Langit," anak itu memotong. Datar. "Aku nggak mau sekolah."
"Kenapa nggak mau sekolah?"
"Karena Mama nggak akan jemput aku."
Kayla terdiam.
Di belakang, ibu-ibu mulai berbisik "aduh kasian" dengan nada yang Kayla tahu sebenarnya 60% kasihan, 40% gosip mentah yang siap diolah di grup WhatsApp.
"Langit," Kayla mengulurkan tangan ke atas, "kalau Ibu janji jemput kamu setiap hari kalau Mama nggak datang, kamu mau turun?"
"Bohong."
"Beneran."
"Semua orang bohong."
"Ibu enggak."
"Buktinya mana?"
Kayla membuka mulut. Menutup. Membuka lagi.
Otaknya yang biasanya jago debat sama mantan dan tetangga kos sekarang mendadak kosong, kalah sama anak umur enam tahun yang logikanya lebih tajam dari pisau dapur.
"Eh—em—gimana kalau gini," Kayla berpikir cepat, "Ibu naik ke atas. Ibu duduk sebelah kamu. Sampai kamu siap turun."
"Ibu bisa manjat?"
"...Ibu pernah manjat tembok kos waktu kuncinya ketinggalan. Pohon mangga harusnya bisa."
Anak itu—Langit—mengernyit. Lalu, untuk pertama kalinya sejak Kayla melihatnya, sudut bibirnya naik. Seperempat senyum. Tapi itu cukup.
"Boleh."
Lima menit kemudian, dengan rok kerja yang sudah resmi sobek di lutut, sepatu pantofel yang menggantung di tangan Pak Bondan, dan harga diri yang menggelinding bersama spidol tadi, Kayla berhasil duduk di cabang pohon mangga, di samping muridnya yang baru.
"Bu Guru," kata Langit pelan, sambil memandangi wali murid yang masih berkumpul di bawah seperti penonton sirkus.
"Hm?"
"Kalau aku panggil Ibu 'Mama', boleh nggak?"
Kayla nyaris jatuh dari pohon.
"Ee—itu—Langit, sayang, Ibu kan bukan—"
"Cuma di sekolah aja. Biar kayak temen-temen lain yang ada mamanya jemput."
Kayla melihat ke wajah kecil itu. Dan sesuatu di dalam dadanya retak pelan—suara halus seperti kaca yang baru tergores, belum pecah, tapi tidak akan pernah utuh lagi.
"...Boleh."
"MAMAAA!" Langit tiba-tiba berseru, kencang, ke arah lapangan, sambil melambai dengan seluruh tenaganya. "MAMA, AKU DI SINI!"
Dua belas wali murid menengok ke atas serempak.
Pak Bondan menjatuhkan sepatu pantofel Kayla.
Dan dari arah gerbang, terdengar suara mobil rem mendadak.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria turun—jaket hitam, rambut berantakan seperti baru bangun tidur tapi entah kenapa tetap proper, tinggi, dan dengan ekspresi yang Kayla kenal terlalu baik. Ekspresi panik bercampur lelah yang khas orang tua tunggal.
Pria itu berlari masuk ke lapangan.
"LANGIT! Papa udah bilang jangan—"
Suaranya berhenti.
Tepat ketika dia mendongak.
Tepat ketika matanya bertemu mata Kayla.
Mata yang sama yang dulu Kayla tatap di perpustakaan kampus saat usianya dua puluh dua, di kafe murah dekat asrama saat usianya dua puluh tiga, dan di bandara Soekarno-Hatta saat usianya dua puluh empat—saat pria itu pamit "sebentar aja, sayang, nanti aku balik" dan tidak pernah balik selama enam tahun.
Arsen Wijaya.
Berdiri di bawah pohon mangga, dengan mulut menganga setengah inci, di hari pertama tahun ajaran baru, di sekolah tempat Kayla mengajar.
"...Kayla?"
Kayla memegang cabang pohon erat-erat.
Kalau jatuh sekarang, mungkin lebih baik.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar