Ada beberapa kalimat di dunia ini yang sanggup membuat seluruh ruangan diam mendadak. Salah satunya adalah "Saya hamil di luar nikah." Yang lainnya adalah "Pak, mobil Bapak saya senggol." Tapi yang baru saja diucapkan Selvi—"calon ibu baru Langit"—bisa masuk top tiga, persis di bawah dua tadi.
Kayla, yang baru saja dipeluk ibu Arsen, masih berdiri di tengah ruang tamu seperti patung Pancoran versi rendahan.
Arsen, yang masih menutupi wajahnya, sekarang menurunkan tangan dengan ekspresi yang cuma bisa dideskripsikan sebagai "saya pengen ditelan bumi tapi bumi tolak."
Ibu Arsen, yang barusan masih bahagia, memutar tubuhnya pelan ke arah Selvi—dan dari sudut Kayla yang berdiri, terlihat jelas alis beliau naik satu sentimeter. Cuma satu sentimeter. Tapi cukup untuk membuat Kayla yakin: Ibu ini nggak suka Selvi.
"Selvi," ibu Arsen tersenyum manis. Terlalu manis. Senyum yang Kayla kenal dari ibu kos waktu uang sewa telat tiga hari. "Sayang, kamu kan tadi pamit pulang jam dua belas."
"Saya... sebentar lagi, Tante. Saya cuma mau jemput Langit dari sekolah, ternyata Langit udah sampai—"
"Langit sampai dianter Mama Kayla," potong Langit, masih digendong Arsen, dengan suara kecil tapi jelas. "Bukan sama Tante Selvi."
Sunyi.
Sunyi yang bahkan AC ruangan ikut menahan napas.
"Langit," Selvi mengeluarkan tawa kecil yang dipaksa, "sayang, jangan gitu. Tante Selvi kan udah sering jemput kamu—"
"Tante Selvi pernah sekali, terus aku ditinggal di pos satpam dua jam karena Tante lupa."
Kayla menutup mulutnya. Tidak boleh ketawa. Tidak boleh ketawa.
Arsen, di sebelahnya, bahunya bergerak halus. Mungkin batuk. Mungkin tertawa. Kayla tidak akan menanyakan.
"Yaudah," ibu Arsen menepuk tangan dengan riang yang dipaksa, "Selvi, kamu kayaknya lagi capek ya? Pulang aja dulu. Kita ngobrolnya nanti. Kayla, sayang, ayo masuk—Mbak Yati, tolong siapin meja makan!"
"Tante—"
"Selvi." Ibu Arsen tersenyum. Senyum yang sama. "Mama Arsen lagi pengen quality time sama menantu favorit. Kamu ngerti kan, sayang?"
Menantu favorit.
Kayla nyaris tersedak udara.
Selvi menatap Kayla dari kepala sampai kaki—dan di tatapan itu ada kalkulasi cepat, seperti orang sedang menghitung saham yang baru saja anjlok. Lalu, dengan senyum yang dipoles ulang, dia berkata:
"Tentu saja, Tante. Saya pulang dulu. Kayla—nanti kita ngobrol ya, kapan-kapan. Ada banyak yang perlu kamu tahu tentang Arsen."
Kayla tersenyum sopan. "Tentu."
"Tentang mantan-mantannya."
"Hm-hm."
"Tentang anak-anaknya yang lain."
Sunyi lagi.
Arsen yang tadinya cuma berdiri sekarang melotot ke arah Selvi. "Selvi, jangan main—"
"Bercanda," Selvi tertawa renyah sambil mengambil tasnya. "Kayla, welcome to the family. Hati-hati ya, di keluarga ini banyak rahasia."
Pintu tertutup.
Tiga detik.
Lima detik.
"Dia siapa sih," Kayla akhirnya bersuara, "sebenarnya?"
"Anak temennya Mama," ibu Arsen menjawab cepat. "Yang dipaksa-paksain ke Arsen. Ndak penting. Ayo makan."
"Mama, jangan dibilang gitu—"
"Sen, kamu diam aja. Kayla, sini sayang."
Kayla diseret—secara harfiah, tangannya digenggam erat oleh ibu Arsen—ke ruang makan. Di mejanya ada ayam goreng, sayur asem, sambal terasi, tempe orek, dan satu hal yang membuat Kayla diam-diam bergidik: nasi yang bentuknya hati.
"Mbak Yati yang bikin," ibu Arsen tersenyum bangga. "Tadi pagi Mama suruh, "Mbak, hari ini Arsen mau bawa pacarnya, bikin yang romantis ya.""
"Mama, dia bukan—"
"Kayla, kamu suka pedes nggak? Mama bikinin sambal mentah sebentar."
"Tante—"
"Panggil Mama aja. Kita kan udah kayak keluarga."
"Kita baru ketemu satu jam yang lalu."
"Pernikahan mama sama papa Arsen dimulai dari ketemu satu menit, sayang. Satu jam itu lama."
Kayla menatap Arsen, meminta bantuan—dan Arsen, pengkhianat brengsek, cuma mengangkat bahu seolah berkata "udah, ikutin aja, dia memang gitu."
Langit, yang sekarang sudah duduk di kursi tinggi dengan tampilan jauh lebih segar dari dua jam lalu, menatap Kayla dari seberang meja. Mata cokelatnya berbinar untuk pertama kalinya.
"Mama Kayla suka ayam goreng?"
"Suka, sayang."
"Aku juga."
"Bagus dong, kita sama."
"Mama yang dulu nggak suka ayam goreng. Katanya bikin gemuk."
Kayla berhenti mengunyah.
Ibu Arsen, dari kursi sebelah, menepuk lengan Kayla pelan.
"Makan dulu, sayang," beliau berkata, suaranya tiba-tiba lembut. Beda dari yang tadi. "Nanti kita ngobrol pelan-pelan."
Kayla mengangguk.
Tapi di kepalanya, dia mulai menghitung.
Mama Langit—mantan istri Arsen—nggak suka ayam goreng karena bikin gemuk.
Mama Langit pergi waktu Langit umur tiga tahun.
Mama Langit yang pernah bilang ke Langit: "Mama nggak sanggup punya anak kayak kamu."
Dan sekarang, di rumah yang sama, ada perempuan asing bernama Selvi yang baru saja menyebut dirinya calon ibu baru.
Pacar baru? Atau ada yang lebih dari itu?
Kayla mengunyah pelan.
"Tante—Mama," dia memperbaiki cepat, melihat ekspresi ibu Arsen yang siap protes. "Selvi tadi... maksudnya gimana? Calon ibu baru?"
"Aaah," ibu Arsen melambaikan tangan, "lupakan dia. Anak itu suka mengkhayal."
"Tapi dia bilang—"
"Kayla, sayang," ibu Arsen menghela napas, "ada yang kamu perlu tahu. Tapi ini bukan tempat dan waktu yang tepat. Habis makan, kamu ikut Mama ke teras ya? Mama mau cerita."
Kayla mengangguk pelan.
Arsen, di seberang meja, menatap ibunya dengan ekspresi panik. "Ma, jangan—"
"Arsen, kalau kamu nggak mau cerita sendiri, biar Mama yang cerita."
"Tapi ini bukan urusan—"
"Ini urusan Mama. Karena yang bayar tagihan rumah sakit Langit waktu dia masuk ICU dua tahun lalu juga Mama. Dan yang nyariin terapis Langit juga Mama. Jadi, ya. Ini urusan Mama."
Kayla berhenti makan.
ICU.
Dua tahun lalu.
Langit menggumam pelan dari kursinya, "Aku boleh minta ayam lagi?"
Mbak Yati buru-buru mengambilkan.
Dan Kayla, yang sebenarnya datang ke rumah ini cuma karena merasa kasihan pada anak kecil yang pingsan di sekolah, sekarang merasa dirinya tenggelam pelan ke dalam sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar pertemuan kembali dengan mantan.
Setelah makan, ibu Arsen membawanya ke teras belakang. Lampu kuning, kursi rotan, secangkir teh melati. Rumah itu sunyi—Langit sudah dibawa Arsen ke kamar untuk istirahat, dan Mbak Yati menghilang ke dapur.
"Kayla," ibu Arsen mulai, "kamu pacaran sama Arsen waktu kuliah, ya?"
"Iya, Bu."
"Mama."
"...Mama."
"Lima tahun."
"Empat tahun delapan bulan."
Ibu Arsen tersenyum kecil. "Kamu hitung."
"Saya... ingat."
"Arsen ninggalin kamu mendadak. Nggak ada kabar."
Kayla menggenggam cangkir tehnya. "Iya."
"Kamu mau dengar kenapa?"
Kayla menarik napas. Dia datang ke rumah ini bukan untuk ini. Dia datang karena Langit. Dia tidak siap untuk yang ini. Tapi—
"Iya."
Ibu Arsen mengangguk pelan. Lalu, dari saku jaketnya, beliau mengeluarkan sebuah amplop. Tua. Pinggirannya sobek di sana-sini, kertasnya menguning.
Di depan amplop itu, dengan tulisan tangan yang Kayla kenal—Arsen, tulisan jeleknya yang khas itu—tertulis:
"Untuk Kayla. Tolong sampaikan jika sesuatu terjadi padaku."
Kayla menatap amplop itu.
Tangannya bergetar.
"Surat ini," ibu Arsen berkata pelan, "Arsen tulis enam tahun lalu. Sehari sebelum dia pergi. Dia titip ke Mama."
"...Kenapa Mama nggak kasih ke saya?"
Ibu Arsen menatap Kayla. Lama. Dan untuk pertama kalinya, senyum perempuan itu hilang sama sekali.
"Karena," ibu Arsen berkata, "Arsen bilang sama Mama: 'Kalau aku selamat, jangan kasih. Tapi kalau aku mati, kasih ke Kayla.'"
Kayla mendongak. "Selamat dari apa?"
Dari arah dalam rumah, terdengar suara pintu terbuka.
Arsen muncul di teras, wajah pucat, ekspresinya melihat amplop di tangan ibunya seperti orang melihat bom.
"Ma," suaranya bergetar, "jangan."
Tapi ibu Arsen sudah memberikan amplop itu ke tangan Kayla.
"Buka, sayang."
Kayla menatap amplop di tangannya.
Lalu menatap Arsen.
Dan Arsen, untuk pertama kalinya sejak enam tahun yang lalu, menatap Kayla dengan air mata yang tertahan di sudut mata.
"Kay, jangan dibuka di sini. Tolong."
Kayla menelan ludah.
Tangannya bergerak ke pinggiran amplop.
"Kayla—"
Sret.
Bunyi kertas robek pelan memenuhi teras yang sunyi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar